Cinta Pertama, atau yang biasanya disebut dengan “First Love”. Biasanya, sangat menyedihkan atau bahkan ada yang tragis. Cinta pertama beda dengan pacar pertama. Cinta pertama sangat susah untuk dilupakan, kata orang banyak. Oke, tidak usah berlama-lama… simak aja ceritanya
“UNREPLIED LOVE”
Aku berlari menuju sekolah, aku buru-buru ke sekolah. Karena akan ada seleksi anggota theater. Aku salah satu panitia penyeleksi, dan harus datang. Drama yang akan mereka tampilkan yaitu “Air mata kesendirian”. Aku yang menulis sendiri naskah dramanya. Mengisahkan tentang seorang pemuda yang lagi jatuh cinta. Tetapi cintanya itu seakan bertepuk sebelah tangan, atau tak terbalas. Tetapi dia selalu menjalaninya dengan ceria tanpa ada kelu kesah. Sampai akhirnya, orang yang disukainya itu harus pindah ke luar kota. Dan meninggalkan pemuda itu dengan perasaan yang masih berharap padanya.
Disitu aku melihat adik kelasku yang ikut audisi. Dia sangat jago acting dan sangat jago mendalami perannya. Aku takjub kepadanya. Tapi sayang, aku belum sempat berkenalan dengannya. Dan tentu saja dia lulus seleksi karena kejagoannya itu. mungkin kenalannya lain kali aja ya? Batinku. Akhirnya seleksi anggota theaterpun selesai. Aku senang, seleksinya lancar.
Dan kebetulan waktu itu… aku ikut kegiatan ekskul nyanyi. Dan waktu itu lagi acara battle lagu. Jadi, disini kita harus marah dan menunjukkan emosi kita dengan lagu tersebut. Dan akhirnya aku berpas pasan dengan anak itu. Ternyata namanya Shintia. Battle lagupun berlanjut dengan seru, aku dan dia seakan tidak mau kalah dan bersaing terus. Sampai akhirnya aku kalah. Tetapi aku senang, bisa kenalan dengannya.
Kitapun menjadi sangat dekat semenjak ikut kegiatan ekskul nyanyi. Akupun sempat untuk meminta nomor HPnya. Dan aku selalu SMS dia, meskipun gak sering. Soalnya beda operator, anak gratisan gitu lho. Jadi harus hemat -_- :3 #NgikikKuntilanak #KetawaJahat. Dan akhirnya benih-benih cintapun muncul. Aku mulai merasa kalau aku menyukainya.
Aku mulai tanya ke teman-temannya, dan yang membuat aku hampir putus asa ialah, dia udah punya cowok,Namanya Arifin. Sakitnya tuh disini *Nunjuk hati yang paling dalam yang tidak bisa dilihat pake mata telanjang*. Tapi aku tetap mencoba dan mencoba. Aku masih tetap SMS dia, dan begitupun juga dengannya. Tetapi aku masih menyembunyikan perasaanku ini.
Tetapi makin lama aku merasa bahwa cinta tak terbalas itu hanya milikku. Aku sekarang hanya bisa melihat Shintia dengan cowoknya lagi apel. Tapi aku fun-fun aja. Aku senang melihat dia bahagia. Emang sih, rasanya tuh sakit. Tapi apa boleh buat. Aku harus menahannya. Tetapi, lama kelamaan aku mulai gerah dengan semuanya, aku ingin menghembuskan rasa gelisah yang ada di dada ini. Menghembuskannya dengan nafasku. Dan aku bertanya kepada awan putih.
Aku butuh keberanian untuk mengungkapkan perasaan. Sebenarnya sih mudah. Dan akupun mencobanya. Mungkin sudah ada temannya yang ngasih tau dia kalau aku tuh suka dia. Tapi rasanya kurang gentle kalau gak bilang langsung. Akupun menulis SMS untuk dia
“Shintia? Mungkin aku tahu kamu sudah tahu tentang hal ini. Tapi aku merasa kurang nyaman kalau tidak mengungkapkannya secara langsung. Dan aku rasa aku harus mengungkapkannya. Aku juga tau kamu sudah punya cowok. Tapi aku menyukaimu. Biarlah kalau kamu gak membalas cintaku. Bukan itu juga yang aku harapkan”
Dan balasannya adalah
“Hmm… maaf ya Ka Dule. Mungkin aja ini bukan keberuntungan ka Dule. Karena aku udah punya cowok. Maaf ya, tapi aku mau ka Dule dan aku berteman. Dan aku juga mau tanya, kenapa ka Dule bisa suka aku?”
Aku hanya menjawab
“Cinta tak perlu alasan. Hanya anak kecil lah yang pacaran pakai alasan. Tapi karena kamu meminta, aku mencintaimu bukan seperti mereka yang sekedar “Aku suka kamu, soalnya kamu cantik!”. Aku menyukaimu tulus. Entah apa yang bisa membuatku jadi suka sama kamu. Dan juga aku merasa nyaman bisa ada disampingmu”
Balasannya gak panjang
“Makasih ka Dule. Aku suka kata-kata ka Dule. Tapi maaf, mungkin sebatas teman yang lebih baik untuk kita”
Ya… sebatas TEMAN saja, batinku. Hmm… dan yang lebih parah lagi yang membalas SMS itu adalah cowoknya Shintia sendiri. Dan itu yang membuatku panik. Karena aku takut menjadi orang yang ketiga. Atau PHO…!!!
Aku punya teman namanya Alina. Dia dan aku cukup akrablah setelah sekelas. Dia ternyata menyukai adik kelasnya yang bernama Daniel. Orangnya sih agak gimana gitu #Abaikan #GakBisaMenilai. Tapi ya, lumayanlah #ApaSih. Dan dia akan mencoba untuk mendapatkannya.
Tetapi, kandas di tengah jalan. Waktu tau, ternyata si Daniel balikan dengan pacarnya yang namanya tuh Finny. Sakitnya tuh disini… Si Alina juga gak mau jadi PHO. Entahlah, tetapi nasib kita sama. Ingin mendapatkan, tapi takut dibilang PHO. Sampai akhirnya, Daniel mendapatkan nomornya Alina. #Ceileh….
Aku menjalani hari-hariku yang menyedihkan dengan ceria. Keep SMILE!!! Tapi aku harus menelan kenyataan pahit. Saat tahu Shintia bakal pindah minggu ini. Aku hanya bisa mengelus dada. Kenapa harus begini? Apakah aku harus kehilangan orang yang ku sayang? Dan ternyata Shintia berangkatnya besok. Aku harus tabah. Tapi tetap gak bisa.
Dan aku sempat baca SMS Daniel ke Alina, yang bunyinya itu “Gue juga suka ama lo. Cuma, gue udah punya pacar. Kalau lo gak percaya sih, gak papa! Yang penting gue udah jujur. Percaya atau nggak, gak papa!” Cielah Alina. Hati-hati, biasa itu Cuma untuk nyenengin loe doang. PHP gitu …. Tapi gak tau juga sih. Semoga aja gak. Be careful!
Keesokan harinya… Akupun berada di peron kereta. Mengikuti Shintia yang harus pergi. Aku mengikutinya diam-diam. Dan tidak ingin dia tahu. TEMENAN, batinku dalam hati. Dan itu masih teringat.
Shintiapun berjalan didepan mataku… Hujan mengguyur deras. Ingin rasanya aku menangis. Dia berjalan didepan mataku. Bahkan sama sekali tak melihat kearahku. Rintik hujan tetap juga turun. Aku hanya bisa melihatnya dari tempatku. Dia mungkin hanya menganggapku sebagai ilusi dan dia harus meninggalkanku.
Dia sama sekali tak melihat ke arahku dan melewatiku. Meskipun aku pakai payung, pipiku tetap basah. Karena air mata ini. Aku sungguh tak tahan dengan semua ini. Hanya ingin ucap SELAMAT TINGGAL, SHINTIA. Aku akan selalu mengingatmu.! Jangan lupa makan, minum, sholat dan Belajar!, batinku dalam hati mengutip kata-kata yang selalu kuucapkan di SMS untuknya.
Akupun pergi dari tempat itu….
Hujan rintik rintik yang mulai turun
Akupun menutup layar kisah ini
Bagai menurunkan layar warna perak
Itulah cinta pertama diriku
***
