Jumat, 21 November 2014

~Between Summer And Winter~ : Monolog Sedih Hanyalah Milikku





Cerita terakhir dari seri “Between Summer and Winter”… cerita yang masih se-genre, yaitu kesedihan dan airmata. Dimana diantara Musim panas dan Musim dingin, ada musim gugur. Musim dimana daun berjatuhan. Bukan Cuma daun, musim dimana airmata berjatuhan, ketika kenangan indah di musim panas akan berlalu dengan cepat. Tinggallah kehampaan di musim gugur. Oke, di cerita ini, ada kata MONOLOG. Monolog itu sendiri kalau menurut gue… Drama sendiri. Semacam sebuah perkataan panjang dengan pengekspresian dan penghayatan yang nyata, dan pembawaannya lebih seperti drama. Kalau kata teman gue, niru orang gila -,- bicara sendiri #Whattefuck?

*** Lampupun di ruangan itupun mati…. Satu lampu pijar menyala, dan mengarah ke seorang gadis yang masih bernyanyi…

“Jikalau nanti diriku menghilang…
Tempat inipun ‘kan menjadi sepi….”

Semua lampupun menyala seketika

“Yang dulu sla~lu terdengar itulah…
Diriku si serangga langit yang jauh…”

Suara khas cewek itu makin mengundang tepuk tangan dan sorak-sorakan dari penonton di ruangan itu***

MONOLOG SEDIH HANYALAH MILIKKU


“Perkenalkan… nama aku Yuli dari kelas IX A. Suka Theater, Musik dan juga Sastra. Tau sedikit tentang alat music seperti piano dsb. Bisa acting dan tertarik sedikit sama dunia sastra” Ujar cewek bernama yuli tersebut pada sebuah pertemuan ekskul theater. Yuli merupakan siswi kelas 9 yang ikut ekskul Theater. Dia sangat pandai menguasai peran. Dan dia juga punya teman bernama Farid.

Farid adalah teman atau bisa dibilang juga sahabat yuli. Mereka berdua selalu bersama seperti kakak dan adik “Yul? SMS dari siapa? Kok nyengir kayak gitu?” Tanya Farid melihat Yuli yang senyum-senyum sendiri dari tadi “Nggak kok… kakak aku kirimin konsep lucu banget” Ujar Yuli berbohong “Ahh… kamu! Bohongnya ketahuan banget! Sejak kapan kamu punya kakak! Hayo… pasti cowoknya!” “Iyadeh.. aku nyerah!” Ujar Yuli sambil melambaikan bendera putih, tanda damai. Faridpun mengacak-ngacak rambut Yuli.

‘Hmm… kode terbalikku berhasil’ Batin Yuli dalam hati. “Kami masih dengan cowokmu itu ya?” Tanya Farid “Udah putus…” Jawab Yuli singkat “Kenapa bisa?” Tanya Farid lagi “Hmm.. gak tau tuh dia. Katanya mau fokus belajar. Padahal aku masih mau dengan dia” Ujar Yuli dengan mata berkaca-kaca ‘Bagus… Skenario B pun selesai!’ batin Yuli lagi dalam hati “Hmm… gitu yah? Aku turun berdukacita ya…” Jawab Farid ‘Kau bahkan tak ada reaksi senang sama sekali. Apakah kau memang tak ada rasa? Kamu tau gak sih? Aku mutusin cowokku hanya Karena kamu. Peka dikit napa sih’ batin Yuli lagi dalam hati.

“Hey!!! Kok melamun! Udah masuk nih! Yuk ke kelas!” Ajak Farid ke Yuli “Aaah *tersadar* ohiyaiya” Jawab Yuli kemudian langsung menuju ke kelas bersama Farid. Merekapun masuk ke kelas sebelum akhirnya Bu Diana, guru kesenian, masuk ke kelas. Materi yang diajarkan kali ini ialah tentang Monolog. Bu Dianapun menjelaskan tentang Monolog. Yuli yang sangat jago berMonologpun semangat untuk belajar.

“Bu! Aku bisa bermonolog!” Ujar Yuli sambil berdiri
“Oh ya? Coba tunjukkan! Ayo maju ke depan kelas!” Jawab Bu Diana

“Aku suka kepada dirimu…
Aku suka kepada dirimu…
Tapi kau bahkan tak menyadarinya
Kaupun terlihat sangat jauh

Aku menyadari kehadiranmu…
Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kau bahkan tak menyadari cintaku?
Entah apa lagi yang harus kuperbuat

Aku mulai merasa lelah
Sangat tak adil!
Aku selalu mencintaimu
Sedangkan kamu, hanya santai saja!

Seperti mimpi, aku bisa bertemu denganmu
Tapi aku tak bisa menyentuhmu…
Satu yang ingin kutanyakan sekarang…
Apakah kau menyadarinya???”

Monolog dari Yulipun berakhir dan disambut oleh tepuk tangan dari teman sekelas “Bagus, Yuli! Awal yang bagus!” Bu Diana memuji penampilan Yuli. Yuli hanya bisa tersenyum dan kembali ke tempat duduknya “Kamu tadi bagus…” Ujar Farid “Makasih…” Jawab Yuli dengan muka yang memerah ‘Monolog tadi itu untukmu loh. Seandainya kau sadar!’ batin Yuli dalam hati
 “Sayang yaa… cowok kamu gak bisa lihat monolog kamu tadi yang ternyata tertuju untuknya” ujar Farid “Ah iya” Jawab Yuli datar ‘sama sekali gak peka. Payah’ Batin Yuli dalam hati. Bu Dianapun menunjuk Yuli untuk latihan Monolog untuk tampil pada perpisahan kakak kelasnya minggu hari sabtu nanti. Kebetulan Bu Diana dan Yuli sangat dekat, karena Yuli merupakan murid kesayangan Bu Diana. Merekapun bersiap-siap untuk latihan monolog. Dan monologpun dibuat sendiri oleh Yuli.

“Bu? Bisa gak? Kalau nanti tampilnya… abis monolog aku sambung nyanyi” Tanya Yuli “Boleh sih. Kamu udah punya ide untuk monolog?” Tanya Bu Diana “Hmm… tentang cinta-cintaan boleh gak bu?” Yuli balik bertanya “Boleh… ceritanya seperti apa?” Tanya Bu Diana “Seorang cewek yang suka kepada seorang cowok. Tapi cowo tuh gak pernah peka, gak pernah ngerti. Sampai akhirnya si cewek merasa lelah untuk mencintai, tapi dia tidak boleh menyerah. Boleh gak, Bu?” Jelas Yuli “Oh… cinta tak terbalas. Tentu saja boleh!” Jawab Bu Diana.

Tentang perasaanku, aku tak tahu
Tak tahu harus kuadukan ke siapa
Bulanpun enggan bersinar
Seranggapun enggan Berbunyi

“Yul! Aku suka Kamu!” Ujar Farid

Tak ada yang mengerti!

“Aaah… lagi-lagi hanya khayalan! Bisa gak sih? Sehari saja, gak pikirin kamu! Aku lagi butuh ide untuk monolog -_- aaargh you make me very very angry!” Umpat Yuli disaat pikirannya terganggu dengan sosok Farid “Tapi… apakah aku bisa menyelesaikannya? Pasti aku bisa!”  Ujar Yuli dengan nada bersemangat.

Tak ada yang mengerti!
Untuk apa aku hidup?
Jika disampingku tak ada kamu
Satu-satunya yang ku cintai!

“Aku tak bisa hidup tanpamu!” Ujar Farid

Hidupku akan terasa hampa

“Aku harus menemuinya!” Ujarnya ketika menyerah. Dipikirannya hanya ada Farid dan Farid. Diapun menemui Farid di kantin, “Lihat ini!!! *Sambil menyodorkan kertas berisi monolog tadi*” Seru Yuli ke Farid “Apaan nih?” Tanya Farid bingung “Ini kertas monolog aku!” Jawab Yuli singkat “Tentang perasaanku, aku tak tahu, Tak tahu harus kuadukan ke siapa, Bulanpun enggan bersinar, Seranggapun enggan Berbunyi… Tak ada yang mengerti!, Untuk apa aku hidup?, Jika disampingku tak ada kamu, Satu-satunya yang ku cintai!... Hidupku akan terasa hampa…” Farid membaca isi monolog itu “Hubungannya ama aku apa?” Tanya Farid “Aku gak bisa berkonsentrasi!” Ujar Yuli “Trus?” Tanya Farid “Itu gara-gara kamu! Enyahlah!” Bentak Yuli sambil pergi meninggalkan Farid. Rasanya ingin menangis…

Yulipun mulai menjauh dari Farid. Yulipun merasa bersalah, seharusnya waktu itu dia tidak terlalu kasar sama Farid. Tapi apa boleh buat, nasi telah berubah jadi bubur. Tukang bubur juga udah naik haji. Jadi ya, gak bisa dibalikin. Dan itu sudah terlanjur terjadi. Yuli masih sayang sama Farid. Tapi dia sudah kelepasan. Dan Yulipun mulai membenci dirinya sendiri. Dan menyesali apa yang telah dia perbuat.

Yulipun makin saat tahu konser perpisahan akan digelar besok. Dia sudah selesai menulis naskahnya. Tinggal membawakannya dan mengekspresikannyalah yang akan dilatih. Dan dibarengkan dengan lagu “cinta serangga” yang akan dibawakan olehnya juga. Yuli berusaha untuk tidak stress dan tetap santai. Dan mencoba untuk menghapalkan liriknya dan menyetarakan lagunya dengan musik dari lagu tersebut.

Yulipun masih harus membayangkan Farid untuk bisa menjiwai peran monolognya tersebut. Supaya bisa kena feelnya, sebagai gadis sedih dengan cinta tak terbalasnya dan perasaan jengkel gadis tersebut. Faridpun sudah tak terlihat disini lagi. Entah dimana… tetapi Yuli sudah tak pernah lagi melihatnya. Dan itu yang membuat Yuli cemas ‘Aku suka kamu Rid! Sekarangpun masih suka!’ batin Yuli dalam hati.

KONSER PERPISAHAAN KELAS IX…



Seorang cewek keluar dari backstage… dan langsung mendapatkan sorakan dan tepuk tangan dari para penonton. Dan memulai monolognya…

“Tentang perasaanku, aku tak tahu
Tak tahu harus kuadukan ke siapa
Bulanpun enggan bersinar
Seranggapun enggan Berbunyi

Tak ada yang mengerti!
Untuk apa aku hidup?
Jika disampingku tak ada kamu
Satu-satunya yang ku cintai!

Hidupku akan terasa hampa
Tanpa dirimu dan tanpa cintamu
Dan aku akan menghilang
Lenyap tanpa kenangan

Aku akan menghilang karena aku telah lelah
Kamu sama sekali gak pernah memerhatikanku
Bahkan untuk melirikku 5 detik, itu mustahil rasanya
Dan yang terlebih menyakitkan, kau bahkan tak pernah peka

Dibawah sinar bulan yang mulai tenggelam
Aku tetap menantimu disini!
Hei! Jangan bercanda!
Aku telah menghabiskan waktuku untuk menantimu

Kenapa aku harus merasakan ini?
Kenapa aku harus menyukaimu? Ha?

Aku hanya bisa duduk termenung sekarang
Dan bertanya-tanya dalam hati
Apakah kau mendengar monolog sedihku?
Monolog sedih yang hanyalah milikku?

Apakah kau mendengarnya?
Ataukah kau menyadarinya!
Hei! Jangan bercanda!
Kau yang disana! Jawablah jika kau dengar!

Aku masih disini!
Tak tahukah kamu?
AKu masih menunggu… Sekarangpun aku masih suka!
Dan akan tetap suka.. meskipun ku kan menghilang…”

Musikpun mulai berbunyi… gadis tersebut mulai bernyanyi

“Tempat dimana serangga berbunyi
Apakah engkau mengetahuinya?
Didahan pepohonan taman yang
Mulai berubah menjadi gelap

Diriku yang kau kira hanya teman
Walau menangis disini sendiri
Tidak pernah dirimu sadari
Monolog sedih hanya milikku

Sebelum musim ini usai dan berganti
Ku ‘kan terbang ke suatu tempat
Berada disampingmu membuatku tersiksa
Cinta yang hanya sementara…

Sendiri mungkin… mungkin… mungkin
Oh teramat singkat kehidupan ini
Sendiri mungkin… mungkin… mungkin
Ingatlah kembali pernah ada masa
“Aku suka pada dirimu”
Di summer ke enam belas”

Lampupun di ruangan itupun mati…. Satu lampu pijar menyala, dan mengarah ke seorang gadis yang masih bernyanyi…

“Jikalau nanti diriku menghilang…
Tempat inipun ‘kan menjadi sepi….”

Semua lampupun menyala seketika

“Yang dulu sla~lu terdengar itulah…
Diriku si Serangga langit yang jauh…”

Suara khas cewek itu makin mengundang tepuk tangan dan sorak-sorakan dari penonton di ruangan itu

“Hari esok berbeda dengan hari ini
Akan sela~lu terasa sepi
Dulu aku berharap kau menemukannya
Cinta kecil yang satu arah…

Diriku mungkin… mungkin… mungkin
Tersesat dihutan dalam hati~ini
Diriku mungkin… mungkin… mungkin
Setidaknya tengok dan lihat ke sini
Tak terungkapkan dalam kata
Cinta jangkrik yang semu”

Musikpun berhenti dengan diiringi oleh tepuk tangan penonton. Dan disuatu sudut…
“Bagus Yul! Kamu sudah berjuang! Meskipun itu bukan untukku! Dan hatimu hanya untuk cowok kamu! Tapi aku masih tetap menyukaimu! Tak apa kalau ini tak terbalas! Aku hanya ingin kau merasakan bahwa aku mencintaimu! Meski kau tak bisa jadi milikku” Batin Farid dalam hati.

Yulipun tersenyum pepsodent dan bangga telah menampilkan yang maksimal. Diapun mengatakan bahwa itu semua untuk temannya, yang disukainya. Yang ternyata bernama Farid “Makasih untuk orang yang disana yang membuatku bisa menyelesaikan monolog ini dan membuatku bisa mengekspresikannya dengan bagus. Untuk seseorang disana, aku ingin mengatakan bahwa Aku Cinta Kamu”Jelas Yuli. “Dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal untuk kalian semua. Karena aku akan pindah, ikut orang tua aku ke bandung. Selamat tinggal semua~ makasih!” Tambah Yuli lagi.

3 Bulan kemudian…

“Perlahan-lahan bayangan kita dimakan oleh sang rembulan. Dan kita akan dilupakan seperti yang telah mendahului kita. Dan itu membuatku percaya! Suatu saat akan bisa bertemu dengannya!” Ujar Yuli saat sedang menulis status di facebooknya, “Kau harus menungguku!” Komen dari Farid langsung menjadi komen pertama di status itu.

Faridpun menelponnya “Kau dimana?” “Aku di ada diruang keluarga!” “Ohya? Coba lihat ada apa dibalik dibalik Rak buku di ruang keluarga situ!” “Ada apa emangnya?” Telponpun mati. Yuli yang penasaranpun segera melihat ada apa dibalik Rak Buku

“Peek-a-boo!” Sapa Farid mengagetkan Yuli saat Yuli melewatinya. “Farid?” Tanya Yuli “Ya! Ini aku!” Ujar Farid “Ini aku!” Tambah Farid “Ini aku Yul! Farid!” Tambah Farid lagi. Yulipun hanya bisa terisak dan memeluk sesosok pria yang dirindunya itu dengan kasih sayang. Dan kini jam dindingpun berhenti, Diberhentikan oleh kekuatan cinta. Kekuatan yang indah tapi membawa kemudharatan juga.



####

Tidak ada komentar: