Minggu, 23 Agustus 2015

The Truth... :"Seandainya..."

Oke… Ini cerita ketiga dari serial the truth. Ini merupakan cerita dari tumpahan ide teman yang bernama Aulia Afifah. Buat Aulia, thanks ya udah ngasih ide. Oke, yang sebelumnya cerita Déjà vu di waktu senja itu, merupakan cerita karangan aku sendiri yang terinspirasi dari Fhira. Jadi buat Fhira makasih ya. Yang sebenarnya cerita itu mau di post bertepatan dengan ulang tahunnya tanggal 23 juli. Tapi gak sempat. Jadi diundur. Oke, ini cerita ketiga. Jadi nanti aka nada cerita terakhir di serial the truth ini. Selamat membaca…



“Kenalin! Dia teman aku. Namanya Rendi. Nah, Rendi… kenalin! Dia teman sekelasku, namanya Gita.” Ujar seorang cewek bernama Fero sambil memperkenalkan temannya yang bernama Rendi ke sahabatnya yang bernama Gita dan sebaliknya. “Halo Gita… salam kenal ya!” ujar Rendi sambil mengulurkan tangannya ke Gita “Halo juga rendi.” Jawab Gita singkat kemudian menjabat tangan Rendi yang dia ulurkan. “Dia satu skolah dengan kita loh! Dia 10 G.” ujar Fero ke Gita “Ooh… pantas. Soalnya mukanya kayak aku kenal.” Jawab Gita “Iya. Kebetulan gue anak basket. Ohiya, lo yang anggota pengurus mading itu kan?” Tanya Rendi ke Gita “Iya. Tau darimana?” Tanya Gita “Gue sering baca artikel lo. Kan disitu tertulis nama lo. Jadi gue tau. Artikel lo keren banget. Gue suka.” Jelas Rendi “Wah, makasih.” Ujar Gita sambil tersenyum senyum “Yaudah. Kita cabut dulu ya.” Ujar Fero pamit ke rendi. Merekapun pergi meninggalkan Rendi.
3 bulan kemudian… Rendi dan Gita semakin dekat. Mereka sering main bareng di sekolah, meskipun mereka tidak sekelas. Mereka sering SMS-an setiap hari. Dan perlahan-lahan Gita mulai nyaman dengan Rendi. Gita mulai menyadari kalau dia memiliki perasaan kepada Rendi. “Ya Tuhan… Kenapa setelah aku mulai merasa nyaman dengan Rendi, aku jadi berharap kepadanya? Apa ini pertanda kalau aku suka sama dia?” Gumamnya dalam hati. “Hy! Sudah lama nih. Kok udah gak ada kabar?” SMS masuk di hp Gita. Diapun teringat kalau dulu dia punya teman curhat namanya Dion. Dan dia udah jarang curhat ke Dion semenjak ada Rendi “Maaf ya. Aku lupa.” Gita membalas SMS Dion itu “Yaudah.” Balas Dion singkat.
“Aku mau curhat nih.” Balas Gita “Yaudah… Kamu kenapa?” Tanya Dion “Entah. Aku rasa aku sedang jatuh cinta sama seseorang.” Jawab Gita “Seseorangnya dekat ama kamu ya? Atau nggak?” Tanya Dion “Lumayan dekat sih.” Jawab Gita “Ooh, berarti cinta kamu dipicu oleh kedekatan kalian. Kamu belum kasih tau ke orangnya?” tanya Dion “Belum. Aku takut, kalau nanti aku kasih tau ke dia. Eeh dianya malah menghindar.” Balas Gita “Yaudah. Kamu tunggu aja waktu yang tepat buat kamu ungkapin. Ingat, perasaan itu kamu harus ungkapin. Dibanding di pendam, lebih baik kamu ungkapin. Kalau kamu ungkapin, masih ada 3 kemungkinan. Dia merasakan hal yang sama, Dia tidak merasakan hal yang sama tapi dia mengerti perasaan kamu. Dan dia malah menjauh. Sedangkan kalau kamu Cuma pendam, kamu akan nanggung sakit itu sendiri, dan kamu tidak jauh beda dari pengecut.” Balas Dion panjang lebar.
Oke thanks ya. Ngomong-ngomong, kamu pernah gak jatuh cinta?” tanya Gita “Pernah. Sekarang aku lagi jatuh cinta.” Balas Dion “Trus trus? Gimana?” Tanya Gita “Entahlah. Mungkin dia rasa kita lebih baik temanan aja. Lagipula dia gak suka sama aku. Dia sukanya sama orang lain.” Jelas Dion “Duuh, kasian yah. Be Strong ya Dion. Kamu pasti kuat.” Dion mencoba menenangkan Dion. Dan percakapan mereka malam itu, terhenti disitu. Dion duduk terdiam di kamarnya. Dia hanya bisa melihat percakapannya dengan Gita ‘Sampai kapan Gita? Aku harus menunggu sampai kapan? Supaya kamu mau melihat ke arahku? Ohia, pasti gak bakal. Tapi apa aku harus mengungkapkan identitasku sebenarnya? Kalau aku sebenarnya Goldi. Ketua pengurus mading yang merekrut kamu di kelompok itu?’ Gumam Dion dalam hati. Dia melihat jadwal besok, besok ada Rapat para pengurus mading. Dia harus bisa menyembunyikan kesedihannya itu. ‘Aku pasti bisa’ gumam Dion dalam hati.
“Besok sepulang sekolah, kita ketemuan yuk!!” SMS dari Rendi masuk “Dimana?” tanya Gita ke Rendi “Kafetaria yang di dekat taman kota.” Balas Rendi “Yaudah. Emangnya kenapa?” Tanya Gita “Ada deh. Pokoknya kamu datang aja.” Balas Rendi “Oke.” Balas Gita mengakhiri percakapan. Dia tersenyum-senyum dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Dan tanpa dia sadar, lamunannya itu membawanya ke dunia mimpi.
Besok sepulang sekolah… “Duh! Macet nih!” Gerutu Gita kesal saat memacu mobilnya di jalan. “Gimana nih kalau si Rendi nantinya duluan nyampe.” Ujar Gita panik. Tanpa pikir panjang, Gita memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya. Dia kemudian berlari menuju kafetaria. “Pokoknya aku harus jadi yang pertama nyampe. Aku gak mau kalau nantinya dia yang menunggu aku. Lebih baik aku yang menunggunya.” Gumamnya dengan semangat yang berkobar-kobar. Setelah 25 menit berlari, Akhirnya dia sampai di Kafetaria yang dimaksud. “Huaa… keringatan nih.” Ujar Gita. Diapun menuju kamar mandi yang ada di kafetaria kemudian melap keringatnya dan menggantinya baju seragamnya dengan baju ganti yang telah dia siapkan.
“Hai! Kamu sudah datang ya!” Sapa Gita ke Rendi yang baru saja muncul “Iya. Duh, udah lama ya?” tanya Rendi ke Gita “Gak kok. Ini juga baru nyampe.” Jawab Gita. Merekapun duduk. Gita tersenyum-senyum kemudian bertanya kepada Rendi “Ada apa?” tanya Gita “Apa?” tanya Rendi “Kan kamu ngajak aku ketemuan disini.” Ujar Gita mulai kesal “Ooh itu, aku mau bilang sesuatu.” Ujar Rendi “Mau bilang apa?” Tanya Gita “Mau bilang apa ya? Duuh… kok lupa sih.” Rendi malah balik nanya “Duh kok lupa sih?” tanya Gita “Maaf-maaf.” Ujar Rendi “Gini Gita… aku mau bilang sama kamu kalau aku sebenarnya…” “Wah… Hujan!!!” ujar Gita memotong pembicaraan Rendi. Diapun melongo’ menatap air-air hujan yang berjatuhan. Diapun sadar kalau Rendi tadi mau ngomong sesuatu “Tadi kamu mau ngomong apaan?” Tanya Gita “Diluar aja yuk!” seru Rendi “Yaudah.” Merekapun berjalan keluar kafe menuju teras depan kafetaria, “Aku mau bilang kalau sebenarnya…” ucap Rendi menggantungkan pembicaraannya “Sebenarnya apa?” tanya Gita “Sebenarnya aku Cuma seorang anak basket…” “Kalau itu aku juga sudah tau!” ujar Gita sambil memukul pundak Rendi“Aku cabut dulu ya. Tuh ada Fero, aku mau ke sekolah. Ada rapat pengurus mading. Bye” Ujar Gita pamit kemudian berlari menuju kearah Fero dan meninggalkan Rendi “Yaah… padahal belum selesai ngomong.” ujar Rendi
Malamnya, “Duuh! Tuh anak tadi malam mau ngomong apa sih sebenarnya?” tanya  Gita ke dirinya sendiri “Apa aku SMS aja ya?” “Rendi?” Gitapun mengirim SMS ke Rendi “Ya? Kenapa gita?” balasnya “Sebenarnya kamu tadi mau ngomong apaan?” tanya Gita “Oh yang tadi? Udah. Lupain aja.” Balas Rendi “Loh kok gitu?” tanya Gita dan sudah Rendi sudah tak membalasnya.
Keesokan harinya, Gita berjalan menuju kelasnya dan dia melihat kalau anak-anak basket lagi latihan. Dan diapun melihat Rendi. Gita ingin menyapanya. Tapi,”BRUKK!!!” “Aww!” pekik Gita saat bola basket terlempar mengenai kepalanya. Diapun jatuh pingsan. Rendi yang melihat kejadian itu langsung mendekati Gita dan mengangkat tubuh Gita yang terkulai lemas itu menuju UKS. Rendi yang melihat Gita terbaring lemas tak berdaya itu, membuatnya tak tahan. “Seandainya kamu tahu, kalau aku sebenarnya…” ucapannya terpotong karena ada yang memanggilnya dari luar. Dan ternyata yang memanggilnya itu Fero.
Rendipun beranjak dari tempatnya dan keluar dari UKS. Rendipun mendekati Fero, “Rendi. Kamu tau gak? Aku suka banget sama kamu. Kamu kok gak pernah melirik aku sama sekali?” tanya Fero “Apa kamu tak bisa mengerti diriku? Kenapa? Apa kamu tak memiliki debaran yang sama dengan yang aku rasakan? Apa kamu tidak merasakan apa-apa? Kalau begitu, tak bisakah kamu mengerti perasaanku?” tanya Fero ke Rendi “Tapi aku gak suka kamu.” Jawab Fero singkat “Kalau begitu, bagaimana caranya untuk membuatmu jatuh cinta padaku?” tanya Fero “Kamu tidak perlu melakukannya.” Jawab Rendi singkat “Tapi Rendi…” Feropun memeluk Rendi dengan eratnya saat itu “Seandainya… aku mati karenamu. Apa kamu akan mengingatku?” tanya Fero lagi “Untuk apa aku harus mengingatmu?” Rendi malah bertanya balik.
Feropun menangis. Dan dari dalam UKS yang pintunya sedikit terbuka, Gita melihat keluar, dan dia sangat terkejut melihat Fero memeluk Rendi sambil menangis. Hatinya terasa sakit melihat hal itu. “Apa ini? Dia menyukai Rendi?” tanya Gita kepada dirinya sendiri “Kenapa harus dia yang menyukai Rendi? Kenapa bukan orang lain?” Tanya Gita lagi “Gak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan meneruskan perasaanku ini, apapun yang terjadi. Toh, dia sendiri yang salah.” Gita mencoba menenangkan dirinya. Dia terpikir-pikir hal itu terus sebelum akhirnya dia tertidur di UKS.
Setelah beberapa lama tertidur, Gita dibangunkan oleh Rendi. Ternyata bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu. “Aku antar pulang ya…” ujar Rendi “Gak. Aku gak mau merepotkan kamu.” Jawab Gita “Anggap saja sebagai perminta maafan dari teman basket aku tadi.” Ujar Rendi “Yaudah deh.” Gitapun menyetujuinya. Rendi dan Gita berjalan menuju tempat parkir dan menaiki motor rendi. Rendipun memacu motornya dengan kecepatan yang maksimum. Merekapun berhenti di Kafetaria tempat mereka ketemuan dulu. Merekapun mengobrol-ngobrol sambil melahap pesanan mereka. Tapi tanpa mereka duga, hujan turun secara tiba-tiba. Merekapun segera menghabiskan pesanan mereka. Mereka berdiri di teras depan kafetaria sambil menunggu hujan yang mendadak itu berhenti.
‘Duh, kenapa aku jadi deg degan kayak gini.’ Gita membatin dalam hati ‘Apa dia merasakan kalau jantungku berdebar dengan cepat? Atau… apa mungkin dia merasakan debaran yang sama? Huuuft… seandainya dia merasakan hal yang sama.’ Batinnya lagi. Rendipun menghadapkan muka Gita ke mukanya. Diapun memegang pipi Gita, dan Gita menepisnya. Dan tangan Rendi jatuh ke dada Gita “Apa ini?” Tanya Rendi yang merasakan debaran yang sangat cepat di dada Gita “Apanya yang apa?” Tanya Gita “Kok jatung kamu berdebar-debar?” Tanya Rendi ‘Gawat!!!’ gumam Gita dalam hati “Ah perasaan kamu aja kali.” Gita mencari alasan “Kamu suka sama aku ya?” tanya Rendi “Loh kok malah nanya kayak gitu? Pede banget kamu.” Jawab Gita spontan “Siapa juga yang suka kamu” Gita berpura-pura. ‘Jadi dia suka sama Rendi ya.’ Gumam seseorang dari kejauhan yang tak lain adalah Fero “Udah ah! Aku mau pulang aja.” Ujar Gita “Gak mau diantar?” Tanya Rendi “Gak usah” jawab Gita singkat.
“Aku sebenarnya Goldi, Git!” SMS dari Dion masuk di HP Gita “Maaf sudah membohongimu. Aku juga tidak tau. Dan aku juga mau bilang kalau sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu” SMS masuk di HPnya tapi Gita tidak membalasnya “Kalau kamu gak balas juga gak papa. Aku memang menyedihkan.” SMS darinya masuk lagi. Gita hanya bisa termenung memikirkan itu. diapun berbaring di kasurnya ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ gumam Gita dalam hati. Banyak SMS masuk dari Goldi dan dia tidak mau membacanya. Dia tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya menyukai Rendi seorang. Dia juga merasa kecewa saat tahu kalau sebenarnya Dion yang menjadi teman curhatnya itu ternyata Rendi. Diapun termenung dikamarnya tanpa sadar diapun terlelap.
Keesokan harinya… “Fero!!!” Sapa Gita tapi Fero tidak menoleh ke arahnya. Dia malah terus berjalan “Kamu kenapa Fero? Cerita dong!” Tanya Gita “Ayo dong Fero. Cerita sama aku.” “Fero! Kita kan teman” ujar Gita lagi “Teman? Emang aku teman kamu?” Tanya Fero ke Gita “Ohh, maaf. Aku kira kamu menganggap aku teman. Padahal nggak, aku memang gak tau diri.” Ujar Gita ke Fero. Dia merasa tertusuk dengan kata-kata Fero tadi “Awalnya kita memang teman Git. Tapi sekarang gak lagi.” Ujar Fero ke gita “Kenapa?” Tanya Gita ke Fero. “Teman itu bukan pengkhianat.” Ujar Fero “Aku kan bukan pengkhianat” jawab Fero “Emang iya? Siapa bilang kamu bukan pengkhianat?” Tanya Fero kemudian terus berjalan meninggalkan Gita. Gita bingung apa yang terjadi pada Fero. Diapun mengalihkan padangannya dari Fero dan dia melihat Goldi ada di tingkat dua sedang memperhatikannya. Tatapan Goldi seakan menjelaskan kalau dia ingin minta maaf. Tapi Gita malah menatapnya tajam, seakan mengatakan “Aku kecewa sama kamu. Jangan muncul dihadapanku dulu!”. Kemudian pergi dari tempat itu.
“Apa dia sudah tahu kalau aku suka sama Rendi ya?” Tanya Gita. Diapun duduk sendirian di bangku di taman sekolahnya “Tapi kan dia sendiri yang salah, siapa suruh ngenalin Rendi ke aku.” “Seandainya dia memang suka sama Rendi, dia seharusnya gak ngenalin orang yang dia suka ke orang lain.” Gita berbicara kepada dirinya sendiri “Lalu, bagaimana dengan Goldi?” Tanya Gita kepada dirinya sendiri “Mungkin lebih baik aku dan dia berteman saja. Tapi aku masih kecewa sama dia. Tapi dia suka aku… apa aku harus melupakan Rendi? Dan menerima cinta Goldi?” Tanya Gita lagi “Aku harus curhat kepada siapa? Hmm…” tanya Gita lagi “Curhat sama aku saja” jawab seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi Gita.
Gitapun melihat keatas, Agak silau karena sinar matahari. Tapi akhirnya dia melihat wajah orang itu. “Rendi!???” Dia kaget saat tahu kalau Rendi, cowok yang dia suka ada didepannya “Kamu sudah daritadi?” Tanya Gita “Iya.” Jawab Rendi singkat “Apa kamu mendengarnya?” Tanya Gita “Tanpa disengaja, iya. Aku mendengar semuanya.” Jawab Rendi. Gitapun menunduk kepalanya. Dia malu karena isi hatinya telah diungkapkan secara tidak langsung “Gak papa kok. Aku juga suka sama kamu.” Ujar Rendi.
“Apa? Beneran?” Tanya Gita yang tak percaya dengan apa yang dia dengar  “Iya. Beneran.” Jawab Rendi “Tapi yang kamu berpelukan dengan Fero itu apa?” Tanya Gita “Ooh kamu melihatnya? Itu aku juga gak tau kalau dia bakal meluk aku. Sudah berapa kali dia memintaku untuk jadi pacarnya. Dan aku menolaknya terus. Karena aku cuma suka sama kamu.” Jelas rendi. Gita hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Rendi “Dan sekarang aku akan melanjutkan perkataanku waktu di kafetaria dulu yang tertunda.” Ujar Rendi “Emang kamu mau ngomong apa?” Tanya Gita “Sebenarnya aku cuma seorang anak basket… sedangkan kamu adalah pengurus mading yang artikelnya menjadi kesukaan para siswa-siswa. Karena itu aku sadar kalau kamu tidak akan suka orang sepertiku. Aku hanya orang yang bisa memantul mantulkan bola dan memasukkannya ke ring yang belum tentu akan masuk terus.”
“Bukan seperti kamu yang bisa menulis nulis artikel dan memasukkannya ke mading dan itu pasti jadi artikel terfavorit. Tapi aku juga punya hati, dan aku bisa menentukan sendiri dengan siapa aku seharusnya jatuh cinta. Dan aku jatuh cintanya sama kamu. Dan kamu juga punya hati. Jadi kamu berhak untuk memilih aku atau tidak. Aku tidak seperti kamu yang bisa merangkai kata-kata yang indah. Jadi aku hanya bisa mengatakan itu. Dan intinya adalah aku suka sama kamu.” Jelas Rendi panjang lebar. Gita hanya bisa terdiam mendengar perkataan rendi. Kemudian mereka berdua terdiam. Rendipun berjalan meninggalkan Gita. Tapi Gita menahannya “Aku mau jadi pacar kamu.” Kata-kata itu langsung keluar begitu saja dari mulut Gita. Rendipun berbalik dan melihatnya, diapun tersenyum.
Mereka berduapun berpacaran dengan sangat lama. Fero tahu kalau mereka pacaran. Dia tambah membenci Gita dan dia tidak pernah muncul lagi dihadapan Gita. Gitapun mulai memaafkan Goldi dan mulai berteman dengannya lagi. Gita sering curhat sama Goldi. Dan Goldi juga sudah punya pacar, adik kelasnya waktu SMP. Mereka menjadi sahabat. Dan Rendi belajar untuk menulis sesuatu sama Gita.

“Gimana?” Tanya Gita “Udah aku kirim sayang. Tinggal tunggu hasil.” Jawab Rendi “Sayang yakin udah gak ada kata-kata yang salah?” Tanya Gita “Iya” jawab Rendi “Sayang yakin mau jadi penulis nih?” tanya Gita “Iya sayang.” Jawab Rendi “Trus basket gimana?” Tanya Gita “Itu bisa jadi hobi sayang. Lagipula orang bisa berubah hanya karena cinta.” Jelas Rendi “Yaudah. Semangat ya sayang. Aku mendukungmu. Aku mau rapat pengurus mading dulu ya sayang.” Ujar Gita pamit “Iyaiya. Jangan nakal ya.” Pesan Rendi “Iya sayang. Emang kayak kamu.” Ucap Gita kemudian menjulurkan lidahnya kemudian pergi meninggalkan Rendi “Dasar. Awas ya, ntar aku gak beliin coklat lagi loh.” Ujar Rendi kemudian tertawa.

####