Oke… Ini cerita ketiga dari serial the truth.
Ini merupakan cerita dari tumpahan ide teman yang bernama Aulia Afifah. Buat
Aulia, thanks ya udah ngasih ide. Oke, yang sebelumnya cerita Déjà vu di waktu
senja itu, merupakan cerita karangan aku sendiri yang terinspirasi dari Fhira.
Jadi buat Fhira makasih ya. Yang sebenarnya cerita itu mau di post bertepatan
dengan ulang tahunnya tanggal 23 juli. Tapi gak sempat. Jadi diundur. Oke, ini
cerita ketiga. Jadi nanti aka nada cerita terakhir di serial the truth ini.
Selamat membaca…
“Kenalin! Dia teman aku. Namanya Rendi.
Nah, Rendi… kenalin! Dia teman sekelasku, namanya Gita.” Ujar seorang cewek
bernama Fero sambil memperkenalkan temannya yang bernama Rendi ke sahabatnya
yang bernama Gita dan sebaliknya. “Halo Gita… salam kenal ya!” ujar Rendi
sambil mengulurkan tangannya ke Gita “Halo juga rendi.” Jawab Gita singkat
kemudian menjabat tangan Rendi yang dia ulurkan. “Dia satu skolah dengan kita
loh! Dia 10 G.” ujar Fero ke Gita “Ooh… pantas. Soalnya mukanya kayak aku
kenal.” Jawab Gita “Iya. Kebetulan gue anak basket. Ohiya, lo yang anggota
pengurus mading itu kan?” Tanya Rendi ke Gita “Iya. Tau darimana?” Tanya Gita
“Gue sering baca artikel lo. Kan disitu tertulis nama lo. Jadi gue tau. Artikel
lo keren banget. Gue suka.” Jelas Rendi “Wah, makasih.” Ujar Gita sambil
tersenyum senyum “Yaudah. Kita cabut dulu ya.” Ujar Fero pamit ke rendi.
Merekapun pergi meninggalkan Rendi.
3 bulan kemudian… Rendi dan Gita semakin
dekat. Mereka sering main bareng di sekolah, meskipun mereka tidak sekelas.
Mereka sering SMS-an setiap hari. Dan perlahan-lahan Gita mulai nyaman dengan
Rendi. Gita mulai menyadari kalau dia memiliki perasaan kepada Rendi. “Ya
Tuhan… Kenapa setelah aku mulai merasa nyaman dengan Rendi, aku jadi berharap
kepadanya? Apa ini pertanda kalau aku suka sama dia?” Gumamnya dalam hati. “Hy!
Sudah lama nih. Kok udah gak ada kabar?” SMS masuk di hp Gita. Diapun teringat
kalau dulu dia punya teman curhat namanya Dion. Dan dia udah jarang curhat ke
Dion semenjak ada Rendi “Maaf ya. Aku lupa.” Gita membalas SMS Dion itu
“Yaudah.” Balas Dion singkat.
“Aku mau curhat nih.” Balas Gita “Yaudah…
Kamu kenapa?” Tanya Dion “Entah. Aku rasa aku sedang jatuh cinta sama
seseorang.” Jawab Gita “Seseorangnya dekat ama kamu ya? Atau nggak?” Tanya Dion
“Lumayan dekat sih.” Jawab Gita “Ooh, berarti cinta kamu dipicu oleh kedekatan
kalian. Kamu belum kasih tau ke orangnya?” tanya Dion “Belum. Aku takut, kalau
nanti aku kasih tau ke dia. Eeh dianya malah menghindar.” Balas Gita “Yaudah.
Kamu tunggu aja waktu yang tepat buat kamu ungkapin. Ingat, perasaan itu kamu
harus ungkapin. Dibanding di pendam, lebih baik kamu ungkapin. Kalau kamu
ungkapin, masih ada 3 kemungkinan. Dia merasakan hal yang sama, Dia tidak
merasakan hal yang sama tapi dia mengerti perasaan kamu. Dan dia malah menjauh.
Sedangkan kalau kamu Cuma pendam, kamu akan nanggung sakit itu sendiri, dan
kamu tidak jauh beda dari pengecut.” Balas Dion panjang lebar.
Oke thanks ya. Ngomong-ngomong, kamu pernah
gak jatuh cinta?” tanya Gita “Pernah. Sekarang aku lagi jatuh cinta.” Balas
Dion “Trus trus? Gimana?” Tanya Gita “Entahlah. Mungkin dia rasa kita lebih
baik temanan aja. Lagipula dia gak suka sama aku. Dia sukanya sama orang lain.”
Jelas Dion “Duuh, kasian yah. Be Strong ya Dion. Kamu pasti kuat.” Dion mencoba
menenangkan Dion. Dan percakapan mereka malam itu, terhenti disitu. Dion duduk
terdiam di kamarnya. Dia hanya bisa melihat percakapannya dengan Gita ‘Sampai kapan Gita? Aku harus menunggu
sampai kapan? Supaya kamu mau melihat ke arahku? Ohia, pasti gak bakal. Tapi
apa aku harus mengungkapkan identitasku sebenarnya? Kalau aku sebenarnya Goldi.
Ketua pengurus mading yang merekrut kamu di kelompok itu?’ Gumam Dion dalam
hati. Dia melihat jadwal besok, besok ada Rapat para pengurus mading. Dia harus
bisa menyembunyikan kesedihannya itu. ‘Aku
pasti bisa’ gumam Dion dalam hati.
“Besok sepulang sekolah, kita ketemuan
yuk!!” SMS dari Rendi masuk “Dimana?” tanya Gita ke Rendi “Kafetaria yang di
dekat taman kota.” Balas Rendi “Yaudah. Emangnya kenapa?” Tanya Gita “Ada deh.
Pokoknya kamu datang aja.” Balas Rendi “Oke.” Balas Gita mengakhiri percakapan.
Dia tersenyum-senyum dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Dan tanpa
dia sadar, lamunannya itu membawanya ke dunia mimpi.
Besok sepulang sekolah… “Duh! Macet nih!”
Gerutu Gita kesal saat memacu mobilnya di jalan. “Gimana nih kalau si Rendi
nantinya duluan nyampe.” Ujar Gita panik. Tanpa pikir panjang, Gita memarkirkan
mobilnya dan turun dari mobilnya. Dia kemudian berlari menuju kafetaria.
“Pokoknya aku harus jadi yang pertama nyampe. Aku gak mau kalau nantinya dia
yang menunggu aku. Lebih baik aku yang menunggunya.” Gumamnya dengan semangat
yang berkobar-kobar. Setelah 25 menit berlari, Akhirnya dia sampai di Kafetaria
yang dimaksud. “Huaa… keringatan nih.” Ujar Gita. Diapun menuju kamar mandi
yang ada di kafetaria kemudian melap keringatnya dan menggantinya baju
seragamnya dengan baju ganti yang telah dia siapkan.
“Hai! Kamu sudah datang ya!” Sapa Gita ke
Rendi yang baru saja muncul “Iya. Duh, udah lama ya?” tanya Rendi ke Gita “Gak
kok. Ini juga baru nyampe.” Jawab Gita. Merekapun duduk. Gita tersenyum-senyum
kemudian bertanya kepada Rendi “Ada apa?” tanya Gita “Apa?” tanya Rendi “Kan
kamu ngajak aku ketemuan disini.” Ujar Gita mulai kesal “Ooh itu, aku mau
bilang sesuatu.” Ujar Rendi “Mau bilang apa?” Tanya Gita “Mau bilang apa ya?
Duuh… kok lupa sih.” Rendi malah balik nanya “Duh kok lupa sih?” tanya Gita
“Maaf-maaf.” Ujar Rendi “Gini Gita… aku mau bilang sama kamu kalau aku
sebenarnya…” “Wah… Hujan!!!” ujar Gita memotong pembicaraan Rendi. Diapun
melongo’ menatap air-air hujan yang berjatuhan. Diapun sadar kalau Rendi tadi
mau ngomong sesuatu “Tadi kamu mau ngomong apaan?” Tanya Gita “Diluar aja yuk!”
seru Rendi “Yaudah.” Merekapun berjalan keluar kafe menuju teras depan
kafetaria, “Aku mau bilang kalau sebenarnya…” ucap Rendi menggantungkan
pembicaraannya “Sebenarnya apa?” tanya Gita “Sebenarnya aku Cuma seorang anak
basket…” “Kalau itu aku juga sudah tau!” ujar Gita sambil memukul pundak
Rendi“Aku cabut dulu ya. Tuh ada Fero, aku mau ke sekolah. Ada rapat pengurus
mading. Bye” Ujar Gita pamit kemudian berlari menuju kearah Fero dan
meninggalkan Rendi “Yaah… padahal belum selesai ngomong.” ujar Rendi
Malamnya, “Duuh! Tuh anak tadi malam mau
ngomong apa sih sebenarnya?” tanya Gita
ke dirinya sendiri “Apa aku SMS aja ya?” “Rendi?” Gitapun mengirim SMS ke Rendi
“Ya? Kenapa gita?” balasnya “Sebenarnya kamu tadi mau ngomong apaan?” tanya
Gita “Oh yang tadi? Udah. Lupain aja.” Balas Rendi “Loh kok gitu?” tanya Gita
dan sudah Rendi sudah tak membalasnya.
Keesokan harinya, Gita berjalan menuju
kelasnya dan dia melihat kalau anak-anak basket lagi latihan. Dan diapun
melihat Rendi. Gita ingin menyapanya. Tapi,”BRUKK!!!” “Aww!” pekik Gita saat
bola basket terlempar mengenai kepalanya. Diapun jatuh pingsan. Rendi yang
melihat kejadian itu langsung mendekati Gita dan mengangkat tubuh Gita yang
terkulai lemas itu menuju UKS. Rendi yang melihat Gita terbaring lemas tak
berdaya itu, membuatnya tak tahan. “Seandainya kamu tahu, kalau aku
sebenarnya…” ucapannya terpotong karena ada yang memanggilnya dari luar. Dan
ternyata yang memanggilnya itu Fero.
Rendipun beranjak dari tempatnya dan keluar
dari UKS. Rendipun mendekati Fero, “Rendi. Kamu tau gak? Aku suka banget sama
kamu. Kamu kok gak pernah melirik aku sama sekali?” tanya Fero “Apa kamu tak
bisa mengerti diriku? Kenapa? Apa kamu tak memiliki debaran yang sama dengan
yang aku rasakan? Apa kamu tidak merasakan apa-apa? Kalau begitu, tak bisakah
kamu mengerti perasaanku?” tanya Fero ke Rendi “Tapi aku gak suka kamu.” Jawab
Fero singkat “Kalau begitu, bagaimana caranya untuk membuatmu jatuh cinta
padaku?” tanya Fero “Kamu tidak perlu melakukannya.” Jawab Rendi singkat “Tapi
Rendi…” Feropun memeluk Rendi dengan eratnya saat itu “Seandainya… aku mati
karenamu. Apa kamu akan mengingatku?” tanya Fero lagi “Untuk apa aku harus
mengingatmu?” Rendi malah bertanya balik.
Feropun menangis. Dan dari dalam UKS yang
pintunya sedikit terbuka, Gita melihat keluar, dan dia sangat terkejut melihat
Fero memeluk Rendi sambil menangis. Hatinya terasa sakit melihat hal itu. “Apa
ini? Dia menyukai Rendi?” tanya Gita kepada dirinya sendiri “Kenapa harus dia
yang menyukai Rendi? Kenapa bukan orang lain?” Tanya Gita lagi “Gak. Aku tidak
akan menyerah. Aku akan meneruskan perasaanku ini, apapun yang terjadi. Toh,
dia sendiri yang salah.” Gita mencoba menenangkan dirinya. Dia terpikir-pikir
hal itu terus sebelum akhirnya dia tertidur di UKS.
Setelah beberapa lama tertidur, Gita
dibangunkan oleh Rendi. Ternyata bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu.
“Aku antar pulang ya…” ujar Rendi “Gak. Aku gak mau merepotkan kamu.” Jawab
Gita “Anggap saja sebagai perminta maafan dari teman basket aku tadi.” Ujar
Rendi “Yaudah deh.” Gitapun menyetujuinya. Rendi dan Gita berjalan menuju
tempat parkir dan menaiki motor rendi. Rendipun memacu motornya dengan
kecepatan yang maksimum. Merekapun berhenti di Kafetaria tempat mereka ketemuan
dulu. Merekapun mengobrol-ngobrol sambil melahap pesanan mereka. Tapi tanpa
mereka duga, hujan turun secara tiba-tiba. Merekapun segera menghabiskan
pesanan mereka. Mereka berdiri di teras depan kafetaria sambil menunggu hujan
yang mendadak itu berhenti.
‘Duh,
kenapa aku jadi deg degan kayak gini.’
Gita membatin dalam hati ‘Apa dia merasakan
kalau jantungku berdebar dengan cepat? Atau… apa mungkin dia merasakan debaran
yang sama? Huuuft… seandainya dia merasakan hal yang sama.’ Batinnya lagi.
Rendipun menghadapkan muka Gita ke mukanya. Diapun memegang pipi Gita, dan Gita
menepisnya. Dan tangan Rendi jatuh ke dada Gita “Apa ini?” Tanya Rendi yang
merasakan debaran yang sangat cepat di dada Gita “Apanya yang apa?” Tanya Gita
“Kok jatung kamu berdebar-debar?” Tanya Rendi ‘Gawat!!!’ gumam Gita dalam hati “Ah perasaan kamu aja kali.” Gita
mencari alasan “Kamu suka sama aku ya?” tanya Rendi “Loh kok malah nanya kayak
gitu? Pede banget kamu.” Jawab Gita spontan “Siapa juga yang suka kamu” Gita
berpura-pura. ‘Jadi dia suka sama Rendi ya.’ Gumam seseorang dari kejauhan yang
tak lain adalah Fero “Udah ah! Aku mau pulang aja.” Ujar Gita “Gak mau
diantar?” Tanya Rendi “Gak usah” jawab Gita singkat.
“Aku sebenarnya Goldi, Git!” SMS dari Dion
masuk di HP Gita “Maaf sudah membohongimu. Aku juga tidak tau. Dan aku juga mau
bilang kalau sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu” SMS masuk di HPnya tapi
Gita tidak membalasnya “Kalau kamu gak balas juga gak papa. Aku memang
menyedihkan.” SMS darinya masuk lagi. Gita hanya bisa termenung memikirkan itu.
diapun berbaring di kasurnya ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ gumam Gita
dalam hati. Banyak SMS masuk dari Goldi dan dia tidak mau membacanya. Dia tidak
tau harus berbuat apa. Dia hanya menyukai Rendi seorang. Dia juga merasa kecewa
saat tahu kalau sebenarnya Dion yang menjadi teman curhatnya itu ternyata
Rendi. Diapun termenung dikamarnya tanpa sadar diapun terlelap.
Keesokan harinya… “Fero!!!” Sapa Gita tapi
Fero tidak menoleh ke arahnya. Dia malah terus berjalan “Kamu kenapa Fero?
Cerita dong!” Tanya Gita “Ayo dong Fero. Cerita sama aku.” “Fero! Kita kan
teman” ujar Gita lagi “Teman? Emang aku teman kamu?” Tanya Fero ke Gita “Ohh,
maaf. Aku kira kamu menganggap aku teman. Padahal nggak, aku memang gak tau
diri.” Ujar Gita ke Fero. Dia merasa tertusuk dengan kata-kata Fero tadi
“Awalnya kita memang teman Git. Tapi sekarang gak lagi.” Ujar Fero ke gita
“Kenapa?” Tanya Gita ke Fero. “Teman itu bukan pengkhianat.” Ujar Fero “Aku kan
bukan pengkhianat” jawab Fero “Emang iya? Siapa bilang kamu bukan pengkhianat?”
Tanya Fero kemudian terus berjalan meninggalkan Gita. Gita bingung apa yang
terjadi pada Fero. Diapun mengalihkan padangannya dari Fero dan dia melihat
Goldi ada di tingkat dua sedang memperhatikannya. Tatapan Goldi seakan
menjelaskan kalau dia ingin minta maaf. Tapi Gita malah menatapnya tajam,
seakan mengatakan “Aku kecewa sama kamu. Jangan muncul dihadapanku dulu!”.
Kemudian pergi dari tempat itu.
“Apa dia sudah tahu kalau aku suka sama
Rendi ya?” Tanya Gita. Diapun duduk sendirian di bangku di taman sekolahnya “Tapi
kan dia sendiri yang salah, siapa suruh ngenalin Rendi ke aku.” “Seandainya dia
memang suka sama Rendi, dia seharusnya gak ngenalin orang yang dia suka ke
orang lain.” Gita berbicara kepada dirinya sendiri “Lalu, bagaimana dengan Goldi?”
Tanya Gita kepada dirinya sendiri “Mungkin lebih baik aku dan dia berteman
saja. Tapi aku masih kecewa sama dia. Tapi dia suka aku… apa aku harus
melupakan Rendi? Dan menerima cinta Goldi?” Tanya Gita lagi “Aku harus curhat
kepada siapa? Hmm…” tanya Gita lagi “Curhat sama aku saja” jawab seseorang yang
suaranya sudah tidak asing lagi bagi Gita.
Gitapun melihat keatas, Agak silau karena
sinar matahari. Tapi akhirnya dia melihat wajah orang itu. “Rendi!???” Dia
kaget saat tahu kalau Rendi, cowok yang dia suka ada didepannya “Kamu sudah
daritadi?” Tanya Gita “Iya.” Jawab Rendi singkat “Apa kamu mendengarnya?” Tanya
Gita “Tanpa disengaja, iya. Aku mendengar semuanya.” Jawab Rendi. Gitapun
menunduk kepalanya. Dia malu karena isi hatinya telah diungkapkan secara tidak
langsung “Gak papa kok. Aku juga suka sama kamu.” Ujar Rendi.
“Apa? Beneran?” Tanya Gita yang tak percaya
dengan apa yang dia dengar “Iya.
Beneran.” Jawab Rendi “Tapi yang kamu berpelukan dengan Fero itu apa?” Tanya
Gita “Ooh kamu melihatnya? Itu aku juga gak tau kalau dia bakal meluk aku. Sudah
berapa kali dia memintaku untuk jadi pacarnya. Dan aku menolaknya terus. Karena
aku cuma suka sama kamu.” Jelas rendi. Gita hanya bisa terdiam mendengar
penjelasan Rendi “Dan sekarang aku akan melanjutkan perkataanku waktu di
kafetaria dulu yang tertunda.” Ujar Rendi “Emang kamu mau ngomong apa?” Tanya
Gita “Sebenarnya aku cuma seorang anak basket… sedangkan kamu adalah pengurus
mading yang artikelnya menjadi kesukaan para siswa-siswa. Karena itu aku sadar kalau
kamu tidak akan suka orang sepertiku. Aku hanya orang yang bisa memantul
mantulkan bola dan memasukkannya ke ring yang belum tentu akan masuk terus.”
“Bukan seperti kamu yang bisa menulis nulis
artikel dan memasukkannya ke mading dan itu pasti jadi artikel terfavorit. Tapi
aku juga punya hati, dan aku bisa menentukan sendiri dengan siapa aku
seharusnya jatuh cinta. Dan aku jatuh cintanya sama kamu. Dan kamu juga punya
hati. Jadi kamu berhak untuk memilih aku atau tidak. Aku tidak seperti kamu
yang bisa merangkai kata-kata yang indah. Jadi aku hanya bisa mengatakan itu.
Dan intinya adalah aku suka sama kamu.” Jelas Rendi panjang lebar. Gita hanya
bisa terdiam mendengar perkataan rendi. Kemudian mereka berdua terdiam.
Rendipun berjalan meninggalkan Gita. Tapi Gita menahannya “Aku mau jadi pacar
kamu.” Kata-kata itu langsung keluar begitu saja dari mulut Gita. Rendipun
berbalik dan melihatnya, diapun tersenyum.
Mereka berduapun berpacaran dengan sangat
lama. Fero tahu kalau mereka pacaran. Dia tambah membenci Gita dan dia tidak
pernah muncul lagi dihadapan Gita. Gitapun mulai memaafkan Goldi dan mulai
berteman dengannya lagi. Gita sering curhat sama Goldi. Dan Goldi juga sudah
punya pacar, adik kelasnya waktu SMP. Mereka menjadi sahabat. Dan Rendi belajar
untuk menulis sesuatu sama Gita.
“Gimana?” Tanya Gita “Udah aku kirim
sayang. Tinggal tunggu hasil.” Jawab Rendi “Sayang yakin udah gak ada kata-kata
yang salah?” Tanya Gita “Iya” jawab Rendi “Sayang yakin mau jadi penulis nih?”
tanya Gita “Iya sayang.” Jawab Rendi “Trus basket gimana?” Tanya Gita “Itu bisa
jadi hobi sayang. Lagipula orang bisa berubah hanya karena cinta.” Jelas Rendi
“Yaudah. Semangat ya sayang. Aku mendukungmu. Aku mau rapat pengurus mading
dulu ya sayang.” Ujar Gita pamit “Iyaiya. Jangan nakal ya.” Pesan Rendi “Iya
sayang. Emang kayak kamu.” Ucap Gita kemudian menjulurkan lidahnya kemudian
pergi meninggalkan Rendi “Dasar. Awas ya, ntar aku gak beliin coklat lagi loh.”
Ujar Rendi kemudian tertawa.
####
