Kamis, 03 Desember 2015

Ajari aku move on


Oke, cerita AAMO ini aku buat dengan persetujuan Anggi, dan ada beberapa nama yang disamarkan demi kenyamanan privasinya. Cerita ini disetujui Anggi dalam keadaan sadar dan belum terpotong-potong *eh? Karena cerita memang khusus dia, untuk dia. Salah satu sahabatku yang… nun jauh disana, diujung dunia… *nyanyi , eeh kok malah nyanyi. Abaikan ah… ya buat sahabatku yang di sini *Ambil peta Indonesia, nunjuk Sulawesi tengah, kemudian ambil atlas, buka Sulawesi tengah dan nunjuk Luwuk*, huhuhu…
 
Ajari aku move on
“Sekarang kita berasa kayak orang asing aja…”

            Oke. Aku lagi berjalan melewati para fans-fansku. Hueek, sok artis banget. Aku sudah menjadi artis papan tulis sekarang, eeh maksudku artis papan atas. Dan sedang berjalan menuju lokasi konserku “Syiiif....” eeh ada yang memanggilku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu siapa yang memanggilku. “Syiiif...” ya, dia memanggilku lagi. Aku semakin pusing dan... aaargh “Syiiif...” suara itu menyadarkanku dari khayalan yang hanya setahun sekali (?), Anggi sudah ada dimejaku dan memamerkan senyum pepsodentnya dengan saus yang masih menempel di giginya (?). Ya, dia Anggi teman seperjuanganku sampai titik penghabisan, “Syifa...” dia memanggilku lagi. Dia senang memanggilku Syifa “Kenapa lagi sih?” “Aku dah putus ama dia” jawabnya.
            “WHAT!!? Beneran? Kamu putus ama dia?” Tanyaku. Hmm untuk kenyamanan privasi seseorang (Apaan seh, sok jenius banget kata-katanya), sebut saja Pacar Anggi yang udah putus itu Benn. Hahah, “Iya. Aku udah putus ama Benn.” Jawabnya “Kok kamu gak sedih? Kan dulu kamu ngejar-ngejar dia mulu ampe-ampe kesungkur di tangga gara-gara ngejar dia.” Hahah, aku mengungkit masa lalu yang mengada-ngada “Shit! Kapan aku kayak gitu *masang wajah bete*, Hmm tapi aku masih sayang ama dia syif.. tapi kok aku gak bisa nangis. Dan aku hanya bisa pasrah waktu kita putus” jelasnya panjang lebar. Aku mengambil aqua dan menyemburkan ke mukanya “tuh... dah ada air matanya. Hahahah...” dia hanya bisa ngelus dada. Aku dan dia emang agak gesrek. Kalau bersatu, yaa berasa kayak di RSJ. Tapi hari ini dia lagi gak gila
“Emang yang mutusin siapa sih?” tanyaku “Aku”, duuh pengen aku ketok tuh kepalanya. Minta putus tapi masih sayang “Hmm, dia kok gak minta balikan ya?” “Dia mungkin masih menyesal Anggi..” ujarku, tiba-tiba matanya berbinar-binar “Menyesal karena dah buat aku bete ya?” Tanyanya “Menyesal dah terima lu. Hahahah”, refleks dia ngambil sepatunya dan melemparnya. Dan aku bisa menghindar. Unfortunately, sepatu itu melayang ke arah kepsek yang kebetulan lewat. Mengetahui hal itu, aku dan Anggi disuruh habisin makanan dikantin, eeh maksudku mungutin sampah di sekolah sampai bersih.
“Okay, i’m sorry. Karena aku, kamu juga di hukum. But, inilah kita.” Ujarnya terlihat seperti pemulung yang merutuki nasibnya “You must got this punnishment! Not me!” aku ngambek, aku ingin melarikan diri. Tapi dia malah menarikku... “Let it go!!” , dia tetap menarikku “Let it go!!!!”, dia masih tetap menarikku “LET IT GOOO!!!”, dia mulai kesal “Lu mau aku lepasin atau lu mau jadi princess Elsa sih! Ribut banget!” dia melepaskanku tiba-tiba dan aku terjatuh. Dan dia membiarkanku terduduk di lapangan dengan tampang memprihatinkan. Ouuuh...
Keesokan harinya... “syif! Ajarin aku move on! Aku udah mencoba tapi gak berhasil” ujarnya “Emang apa yang udah kamu lakukan untuk move on?” tanyaku “Aku sudah menghapus nomornya. Menghapus semua foto-fotonya. Dan meng-unfollow semua akun yang dia punya.” Jelasnya “Trus?” tanyaku singkat “Hasilnya sia-sia, nomornya masih kuhapal. Voice notenya masih terngiang dan belum sempat kuhapus. Aku udah meng-unfoll semua akunya, tapi tetap saja aku stalk. Dan aku sudah menghapus foto-fotonya. Dan shitnya, foto-fotonya masih tersimpan di laptopku dan bahkan jadi wallpaper di laptopku.” Ujarnya. Wew, seperti itukah? Sungguh malang nasibmu
“Trus kamu sudah mengganti wallpaper laptopmu?” tanyaku dan dia mengangguk “Foto apa?” tanyaku “Fotoku dan dia” jawabnya. Njirrr, gesreknya mulai muncul dan ketidak connect-an pikirannya itu udah mulai muncul. “Oke... kenapa tidak minta balikan aja ke dia?” tanyaku “Kok aku sih? Harga diri aku ditaruh dimana?” tanyanya “Emang punya” jawabku kemudian memeletkan lidahku ke dia “Lu kayak anjing kalo gitu” “Heeh... species sendiri jangan disebutin” ujarku “SHIT!” umpatnya “Eh.. tuh Dani sana. Samperin tuh! Trus suruh dia narik tangan kamu” suruhku. Dan dengan kepolosan yang di sok-sok-an itu (Hah?), dia menghampiri Benn. Oke, dia mau juga dibodoh-bodohi.
Dia menyuruh Benn menarik tangannya. Tapi dia tidak mau. Dengan terpaksa, Anggilah yang menarik tangannya. Kemudian,  “Benn! Buruan ajak aku balikan! Buruan! Aku mau nangis nih!”, trus mantannya hanya menatapnya dengan pandangan yang terheran-heran. Aku hanya bisa ngakak melihat itu “Ayo! Gak usah malu-malu” ujar Anggi, dan si Benn menatapnya lagi kemudian pergi meninggalkannya begitu saja “SHIT!” umpat Anggi. “ckckck... ada juga ya, yang mau dibodoh-bodohi” ujarku sambil ngakak. Dan dia menatapku horor. Kemudian dunia menggelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku terbangun.. dan aku tersadar aku tidak lagi mengenakan seragam sekolahku. Apaan-apaan ini. Apa yang dia lakukan terhadapku! Oh My Ghost! Aku dipakaikan pakaian wanita dan didandani layaknya cewek. Its a nightmare. “Oh.. udah bangun ya? Jadi ceritanya lu nyamar trus pura-pura kamu mau ganggu aku, trus aku teriak minta tolong dan minta tolong ke Benn buat tolongin aku. Gimana?” tanyanya “Hmm… tapi kenapa harus dandan kayak perempuan sih -_- malu-maluin.” Jawabku “Tapi kamu cantik kayak gitu syif…” “Uuh Shut up!” aku kesal,iih mama... bagaimana nasib anakmu ini maaa… “Okelah. Aku mau” kitapun deal. Tirai 2 pun dibuka (Laah, emang Super deal apa!?), Kitapun bersiap-siap.
Anggipun naik ke atas, dan tak lama aku yang dengan penampilan layaknya bidadari turun dari surga.. Hm lebih tepatnya kayak pelacur hina -___- menyusul Anggi ke atas (Oke, Karena kelasnya dan kelas Benn ada di tingkat dua). Akupun menarik jilbab Anggi. Dan… “Heh! Kamu jadi perempuan jangan sok gatal dong!” ujarku “Apa-apaan sih! Heh! Tante, lu siapa sih?” Anggipun ber-acting “Heh! Emang kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sering sekali menggoda pelangganku!?” aku mulai menghayati peranku “Emang pelanggan tante siapa? Emang ada yang mau sama tante-tante kayak lu? Yang ada mereka jijik tau” Dan akupun mulai menarik-narik rambut Anggi.
Oke, ini absurd banget. Dan kebetulan Benn lewat, “Benn! Itu dia! Dia pelangganku!” Aku menunjuk kearah Benn yang menatapku terheran-heran “Benn! Tolong aku Benn! Tolong aku! Tante-tante ini akan menyakitiku Benn!” Ujar Anggi yang hanya dibiarkan berlalu saja oleh Benn. Benn dengan cueknya masuk ke kelas dan membiarkan aku dan Anggi yang berkelahi layaknya Julia perez dan Dewi persik. Aargh its so awkward. Aku dan Anggipun lari.
“Udah deh! Move on aja. Gak usah berharap-harap. Malu-maluin banget. Apalagi yang kayak tadi” aku mulai kesal “Nih! Caranya move on… kamu harus mencoba mencari kesibukan.” Ujarku “Kamu harus mencoba mencari dunia yang baru Anggi…” tambahku lagi “Kalau gak… kamu harus membuatnya membencimu. Kalau dia membencimu, pasti kamu akan termotivasi buat move on dari dia dengan sendirinya” tambahku lagi “Tapi gimana syiiif?” tanyanya. Hm, aku terdiam. Entahlah, lagi gak mood gesrek-gesrekan nih.
“Kamu pasti bisa move on. Dan aku tahu. Kita itu akan move on sendirinya, jadi tidak usah pikirkan apapun cara untuk move on. Karena semakin kau memikirkan move on mu. Secara tidak langsung kamu memikirkan Benn. Dan kamu pasti semakin baper dan makin gak rela  buat lepasin. Jadi apa gunanya kalau gitu?” jelasku lagi. Dia hanya terdiam. Akupun menuju ke aula, dan kemudian keluar dari pintu samping aula yang membawa kita ke sesuatu yang aku juga gak tahu apa. Untuk membuat kalian tidak pusing, sebut aja Koridor (Aku juga gak yakin). Dan kemudian duduk di atas dinding pembatas koridor itu yang membuatku dapat melihat lapangan sekolahku yang luas yang dipenuhi murid-murid dengan aktivitasnya sendiri.
Aku menarik nafasku perlahan dan mengeluarkannya dari mulut. Dan sekilas melihat ke bawah. Aku hanya bisa memasang senyuman tumpul yang seakan-akan ingin mengatakan kalau aku baik-baik saja, tetapi senyuman tumpul itu tidak akan bisa meyakinkan seseorang. Aku menatap Anggi dalam. Anggi menahan tanganku “Aku yang gagal move on syiif… aku yang patah hati syiif… aku yang udah gak punya semangat hidup… kok malah kamu yang mau bunuh diri!?” tanyanya. Dan aku menatapnya horror, lebih horror dari wajah mantan. Aku menatapnya tajam, lebih tajam dari sindiran mantan. Hahah… bercanda.
“Siapa yang mau bunuh diri? Aku emang kayak gini kalau galau. Kok lu mikirnya sampai situ sih. Yaudah, lu aja yang bunuh diri!” akupun mendorongnya untuk melakukan apa yang tadi dia lakukan. Tapi dia tidak mau. Dan terjadilah adegan aku pemaksaan dan Benn yang kebetulan lewat di bawah melihat ke arah kami yang di atas kemudian tersenyum. “Aaww.. Syif? Apa yang terjadi? Kenapa dia senyum padaku?” tanyanya “Karena dia sadar kalau mantannya yang satu ini ternyata benar…” ucapku “benar apa?” tanyanya dengan mata berbinar-binar “Benar-benar gilanya. Hahahah” ucapku sambil tertawa lepas. Diapun ngambek.
“Aku sudah tak yakin harus berbuat apa lagi.” Ujar Anggi “Emang kamu udah ngelakuin apa aja? Gak ada! Lebih baik hapus kenanganmu bersama Benn!” seruku ke dia. Diapun mengangguk. “Nanti akan kucoba” ujarnya. “Yuuk makan” kita berduapun pergi ke kantin bersama-sama. Aku mencoba untuk membuatnya melupakan mantannya itu.
Beberapa hari kemudian… “Oke! Anggi… kita harus cari cara untuk membuat dia membencimu!” ujarku berapi-api dan dengan kilatan mata yang menggelegar (?). akupun browsing di google tentang itu. “Eeh Anggi! Nih liat. Keren-keren tuh cara-caranya. Ada yang bikin artwork di mobilnya mantan. Ada yang merobohkan rumah mantannya…” “Itu terlalu berbahaya syif! Apalagi itu rumah orang tuanya, bukan rumahnya sendiri” ujar anggi “Hm, terus ada yang jual mantannya di Bukalapak.com hahah… tertarik gak?” tanyaku ke dia “Hahah… gak nyangka gimana ekspresi Benn kalau tahu dia aku jual.” Jawabnya dengan mengepal-ngepalkan temannya.
“atau kita datangi sebuah klub malam, dan menjualnya disitu. Hahahah…” tambah Anggi “Yaa… terserah kamulah. Yang penting kamu senang. Heheheh…” ujarku, dan kuliat di keala Anggi ada 2 tanduk iblis tumbuh. Wew, akupun mulai merasa nuansa horror menyelimuti kelas. Anggipun keluar kelas sambil loncat-loncatan *eh? Abaikan. Akupun membuka facebook ku, dan lagi-lagi dapat komen dari teman-teman karena terlalu banyak update status. Hmhmhm, they just know my name. Not about my story. So, they judge me like that! F*ck them all. Aku cuek aja. Aku mah gitu orangnya.
Oke, bicara tentang Benn. Benn ini adik kelasku dengan Anggi. Ingatlah Benn, kau juniorku! Benn ini pacar kedua Anggi. Oops, salah. MANTAN kedua Anggi. Dan waktu Anggi putus ama yang pertama, Dia juga susah move on. Udah ah, gak usah dibahas. Menurut Anggi, Benn agak mirip ama Fandy Christian. Aku aja bingung darimana miripnya. Aku dari jauh sampai dekat bahkan dekatnya sambil pakai kacamata min, masih belum bisa melihat kesamaannya LOL. Benn itu biasanya kalau pulang…. Ah sudahlah. Itu aib dan aku gak suka membongkar aib. Walau itu kadang buat aku tersenyum puas. Wahahahah… Dulu aku punya teman yang suka sama Benn, tapi udah nyerah. Benn gak peka-peka. Benn emang payah. Benn mah gitu orangnya.
Oke. Sekarang Anggi lagi termenung sambil menatap keluar jendela kelas, tempat merembesnya cahaya matahari yang sangat menyehatkan. Dia murung lagi, padahal barusan dah aku hilangin galaunya “Hey! Whats wrong with you? Anggi! You must stop it!” ujarku “I know. I try to stop it. But I can’t. I can’t move on. Barusan, aku berpapasan ama dia di tangga. Dan aku teringat waktu aku sering berpapasan ama dia waktu pacaran. Dia pasti langsung ngasih jalan buat aku. But, he has changed’ jelasnya. Akupun menyeka air matanya dengan tisu toilet yang aku ambil buat persediaan kalau makan di kantin nanti “Udah Anggi. Sabar” ujarku sambil menepuk-nepuk pundaknya “Sekarang kita berasa kayak orang asing aja. Berpapasan trus mata saling pandang, dia gak mau lagi ngasih jalan buat aku. Malah tadi dia labrak aku karena ngehalang jalannya katanya.” Anggipun mencoba untuk tenang. Dan aku membantunya. Semua memang perlu waktu. Aku rindu saat dia dulu sering makan upil. Eeh… kapan ya? Ohiya baru sadar… itu kan hobinya kalian yang lagi baca ini. Udah ah, ntar malah dibacok ama readers. Hmhmhm…
“Bentar tanggal 10 syif… annivfailedku dengan Benn. Aku jadi keingat dia lagi kalau ingat itu. Ohiya, bukannya itu annivfailedmu juga dengan si…” “Udah. Gak usah dibahas. Masa lalu tuh” aku langsung memotong ucapannya. Bukannya malas bahas mantan. Tapi aku malas aja kalau dia udah bahas masa lalu ku. Huhuhu… masa lalu biarlah masa lalu… jangan kau ungkit jangan ingatkan aku.. Kok malah nyanyi seeh -_- abaikan. Aku mengingat kalau aku udah gak lama di Luwuk, ini mungkin beberapa bulan terakhir di Luwuk. Aku gak tahu apa aku bisa meninggalkan mereka. Tapi mau tak mau, yaa aku harus meninggalkan mereka.
“Kalau nanti kamu pergi… kamu pasti bakal dapat teman baru” Ujarnya. Oke, dia mulai membahas masalahku “Iya ya. Tapi tetap aja, susah dapat teman gila seperti kamu. Teman seperjuangan sampai titik darah penghabisan” ujarku “Aku bakal rindu kegilaannmu” dia mulai berkaca-kaca “Aku juga. Ntar gak ada teman yang bisa makan upil lagi dong” ujarku “Sejak kapan aku makan upil -___- au ah” ujarnya. Kitapun menyanyi lagu When I’m gone yang jadi soundtrack di pitch perfect 1 & 2. Okelah, aku malah baper trus mewek.
Beberapa bulan kemudian…
“Syif?” SMS masuk di HPku, dan itu dari Anggi. Duh aku rindu dia. Rindu banget. Heheheh… btw, Anggi aku mau ngomong sesuatu. Gantungan kunci yang mau kamu kirim ke kita, sampai sekarang gak nyampe-nyampe. Oke, abaikan. “Ya? Kenapa?” akupun membalas SMSnya. Dan ternyata dia udah mengikuti saranku. Dia harus mempunyai orang baru. Dia harus mencoba berpacaran dengan seseorang, dan menaruh perasaan padanya. Karena lama-kelamaan perasaan pada mantannya itu akan hilang. Heheheh…
Aku senang saat tahu Anggi sudah mencoba. Ya, dia setidaknya bisa untuk bersikap lebih dewasa sedikit. Dan aku harap dia bisa move on secepatnya. Anggi pacaran dengan… Hmm demi kenyamanan privasi, sebut saja namanya Refa. Dia berpacaran dengan Refa dan mencoba untuk menyayanginya. Aku yakin kok kalau aku pasti bisa. Dan sekarang tinggallah aku disini yang belum bisa move on, karena hubunganku dengannya berakhir beberapa saat sebelum aku pindah. OH MY GHOOOOST!!!
Bersambung
TBC part 2


Jumat, 30 Oktober 2015

The Truth... :"Tapi aku suka dia..."

Ini cerita terakhir dari serial The truth. Akhirnya serial the truth kelar juga. Heheheh… sempat break karena banyak tugas. Oke, cerita ini merupakan ide dari Indah. Idenya sebenarnya panjang banget tapi aku usahain supaya bisa pendek. Dan akhirnya jadi, meskipun formatnya 8 halaman -___- But, its okay. sampai ketemu di serial tahun depan. Ohiya, silahkan dibaca ceritanya…



8 tahun yang lalu…“itu kan boneka aku, ze.” Batin seorang cewek dalam hati yang melihat bonekanya diambil oleh temannya “Zeze!!! Ayo pulang!” teriak seorang wanita paruh baya dari luar “Gak mau ma. Zeze masih mau main.” Jawab seorang cewek dari dalam yang ternyata bernama zeze “ze! Seharusnya kamu pulang saja. Tuh ibumu sudah panggil kamu.” Ujar seorang cewek tadi yang masih tidak senang melihat bonekanya diambil temannya “Gak mau Rere. Aku mau main dulu.” Jawab Zeze “Tapi kan mama kamu udah nyariin kamu.” Ujar cewek yang tadi yang bernama Rere “yaudah..” Zezepun pulang sambil membawa boneka Rere “Itu kan boneka aku, ze!” ujar Rere yang tidak didengar oleh Zeze “Boneka kesayanganku,” batin Rere dalam hati sambil melihat Zeze pergi membawa bonekanya
Tapi  aku suka  dia…
“Gimana hubungan kamu sama Vino, ze?” tanya Rere ke Zeze “Tau ah. Gak jelas. Udah gak ada komunikasi. Anggaplah udah putus” Jawab Zeze cuek “Kok bisa?” Tanya Rere “au ah. Malas bahas dia. Aku cabut dulu ya. Mau ngerjain PR.” Ujar Zeze kemudian pergi meninggalkan Rere. Rerepun berjalan sendirian di koridor kelas IPA. Ya. Dia anak IPA, begitu juga dengan Zeze. Hanya saja, Rere XI Ipa 1 sedangkan Zeze XI Ipa 3. Rere memang pintar ketimbang Zeze. Zeze bisa ada di XI Ipa 3 saja, berkat bantuan Rere yang membantunya belajar. Dan Rere sangat ingin kalau bisa sekelas sama Zeze. Jadi dia berusaha untuk membuat Zeze bisa sekelas dengannya.
Rere dan Zeze adalah sepasang sahabat. Mereka bersahabat dari kecil. Mereka selalu bersama-sama, gak pernah mau terpisah. Bahkan saking gak maunya terpisah, Zeze selalu mengajak keluarga Rere liburan bersama keluarganya. Dia bahkan sempat mogok makan waktu tau dia mau liburan tanpa keluarga Rere. Kebetulan keluarga mereka memang sangat dekat. Ohiya, Vino? Vino adalah pacar Zeze. Mereka pacaran saat kelas X. Mereka saling kenal karena kebetulan mereka sekelas. Vino dan Zeze akhir-akhir ini hubungannya memang sudah tidak jelas lagi. Padahal dulu Vino dan Zeze dimana-mana nempel terus. Tapi tidak lagi sekarang. Dan setiap Rere menanyakan tentang Vino kepada Zeze, pasti Zeze tidak mau membicarakannya.
‘Aku gak tau.. sampai kapan aku harus mencintai dia secara diam-diam. Kenapa? Kenapa harus aku yang merasakan ini? Dan juga dari milyaran atau bahkan triliunan lebih lelaki di dunia ini, kenapa harus dia? Aku suka sama dia. Tapi itu tak bisa terucapkan. Karena akan ada yang terluka.’ Batin Rere dalam hati ‘Aku juga gak boleh menuruti egoku saja. Karena ego itu hanya sesaat’ batinnya lagi dan…  ‘BRUKK!!’ Rere menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan buku. Dan otomatis buku itu jatuh ke bawah. “Eh sorry sorry, aku gak…” ucap Rere terpotong saat tahu siapa yang dia tabrak. “Vino?” Eh Rere.. jadi kamu yang nabrak aku. Aku kirain siapa.” Ujar Vino “Kamu gak apa-apa, kan?” Tanya Rere “Aku gak papa kok. Bukunya yang gak papa.” Jawab Vino sambil membereskan buku-buku yang dibawanya tadi yang jatuh di lantai “Sini aku bantu..” Rerepun membantu Vino membereskan buku-buku tersebut “Makasih.” Ucap Vino setelah semua beres kemudian pergi meninggalkan Rere.
‘Apa aku harus merelakan perasaanku? Tapi aku suka dia… ya! Aku suka dia. Aku suka Vino. Alvino Malvin.’  batinnya dalam hati  ’Apa aku salah mencintai dia? Mencintai pacar sahabatku sendiri? Mencintai pacar dari sahabatku sendiri yang sudah lama bersama-sama? Mungkin aku harus melupakannya! Oke, aku akan melupakan Vino, mungkin ini saatnya..’ Rerepun membuang jauh-jauh pikirannya tentang Vino ‘Hm… tapi kan mereka udah gak ada komunikasi lagi. Berarti itu bisa jadi peluang’ Gumam Rere dalam hati ‘Peluang? Apa aku akan mengkhianati Zeze?’  Wajah Vinopun terbayang di pikiran Rere ‘Ah! Aku pasti gila!’ umpatnya dalam hati.
Rerepun masuk ke kelas dan mencoba untuk melupakan pikiran yang menurutnya sangatlah gila itu. Dan yang terjadi dia malah memikirkannya terus “Re?” “Rere?” sapa seseorang yang tidak didengarkan oleh Rere ‘BYARR!’ “Huaaa… bocor-bocor!” ujar Rere yang tersadar dari lamunannya saat Vino menyemburkan air di aqua kelas ke mukanya. Sontak semua yang ada di kelas tertawa melihat Rere “Kamu apaan sih, Vin!!!” “Kamu sih.. dipanggilin malah asik melamun sambil cengengesan sendiri gak jelas” ujar Vino kesal “Up to you.” Rere ngambek “Hahahah… biasa aja kalee. Gak usah segitunya.” Vino ketawa lihat Rere ngambek “Ntar Rereku gak cantik loh!” ujar Vino dengan membesarkan suaranya yang kemudian diikuti oleh suara “KYAAAA!” dari beberapa teman kelasnya. Bagaimana tidak? Vino termasuk salah satu cowok idola di kelasnya. Anak basket yang juga merupakan vokalis band cowok di sekolah mereka itu wajahnya bukan wajah yang biasa-biasa saja. Dia tampan dan dia juga cool. Dan banyak cewek yang mendekatinya tapi dia tidak menanggapinya.
Vino menatap Rere terus. Rere yang sadar kalau dilihat-lihat dari tadi, merasa risih “Kamu mau apa?” tanya Rere “Hm.. gak kok” jawabnya “Trus?” “jalan yuk!” ujarnya. Rere membelalakkan matanya, “Apa?” “Iya… jalan-jalan. Kenapa? Kamu gak bisa?” Tanya Vino. ‘Oh My God. Ini gak mungkin. Dia kan cowoknya Zeze. Gak mungkin lah gue jalan ama dia.’ Gumamnya dalam hati ‘Mungkin gak papa ya. Mereka kan udah gak jelas hubungannya’. “Yaudah. Bentar malam ya!” aku akhirnya mau. “Oke. Aku tunggu kamu di taman kota.” Diapun tersenyum kemudian pergi keluar kelas. Dan gilanya, Rere malah blushing, Pipinya jadi memerah seperti kepiting rebus. “Oh my God. Ini nggak mungkin… ini nggak mungkin.” Ujar Zeze kemudian mencoba untuk tertidur di tempatnya.

“Kamu dimana?” tanya Vino, dia menelpon Rere “Aku udah di taman. Kalau kamu dimana?” terdengar suara Rere dari seberang “Ooh… aku juga. Dibagian mana? Aku kesitu ya…” … “Oh oke.” Vinopun mengakhiri panggilannya. Kemudian pergi ke tempat Rere. “Hai! Yuk jalan… ohiya, Grand Queen lagi ada wahana-wahana keren. Yuuk!!!” ajak Vino ke Rere kemudian memacu motornya menuju Grand Queen. Dan hanya memerlukan waktu 5 menit untuk sampai kesana. “Waw…” Rere terkagum melihat wahana-wahana yang ada disana “Heheheh… kamu mau naik apa?” tanya Vino “Bianglala aja deh.” Jawab Rere “Tapi aku mau makan gulali dulu.” Tambah Rere. Vinopun menemani Rere membeli gulali. “Aaah enaknya…” ujar Rere kemudian tersenyum yang kemudian membuat matanya menyipit. Dia memang sangat suka Gulali. “Kamu harus coba!” ujar Rere kemudian mencomot kecil gulalinya dan menyuapi Vino. Ekspresi Vino sama dengan ekspresi Rere ketika mencoba gulali tersebut. Bukan. Bukan karena dia suka. Tapi karena gulali itu terlalu manis baginya. Oke, merekapun akan naik bianglala.
‘Oke. Aku jadi deg degan didekat Vino terus’ batin Rere setelah keluar dari wahana bianglala. “Mau makan? Yuk kita ke café.” Ajak Vino “Oh ya. Kebetulan aku lapar.” Jawab Rere. Merekapun pergi ke kafe andalan Vino. “Spaghettinya dua. Orange juicenya satu, Moccha lattenya satu.” Pesan Vino pada waiter yang menulis menunya. Rere sedang menatap langit “Kamu kenapa?” Tanya Vino “Gak kok. Aku suka aja liat langit. Karena itu membuatku nyaman.” Jawab Rere “ooh… aku juga suka melihat langit kok.” Sambung Vino “Oh ya? Kita sama ya…” “Iya…” Merekapun memakan makanan pesanan mereka. Dan setelah itu Vino mengantar Rere pulang.
“Makasih ya…” Ujar Rere saat Vino mengantarnya sampai rumah “Iya. Sama-sama.” Jawabnya. Dan lagi-lagi muka Rere memerah, untungnya lampu di pagar rumah Rere tidak menyala. Sehingga mukanya yang memerah tidak terlihat oleh Vino “Hati-hati dijalan, Vin!” ujarku kemudian melambaikan tangan pada Vino. Rerepun masuk ke rumahnya, ibu dan ayahnya belum pulang. Mereka masih bekerja, dan itu yang membuat Rere kesal. Diapun naik ke kamarnya. Dia mematikan lampu dikamarnya, dia memeluk boneka kesukaannya dan menatap ke langit melalui jendela kamarnya “Ya Allah…… aku suka dia. Ya! Aku suka dia. Tapi, dia pacar sahabatku. Meskipun begitu, mereka udah gak ada komunikasi lagi. Jadi… apa aku salah? Dia pacar sahabatku, ya Allah. Tapi aku suka dia… aku juga pantas untuk menyukai seseorang” yap. Bulir-bulir air mata Rere mulai jatuh. Dia kemudian membaringkan dirinya di kasur dan mencoba untuk tidur “Kuharap perasaan ini akan lebih baik keesokannya.” Ujarnya kemudian menutup matanya.

***
“Iya sayang… senang banget bisa begini lagi sama kamu” Ujar Zeze yang sedang duduk di bangku di taman sekolahnya “Iya. Heheheh… kamu masih belum berubah ya. Masih manja. Gak ada yang berubah” Vino memegang tangan Zeze. Rere yang ada disamping mereka hanya seperti obat nyamuk ‘Apa-apaan sih ini. Mereka balikan lagi?’ Rere hanya diam sejak tadi “Re? Kok diam aja?” tanya Zeze “Ah.. ngh… mmmh.. gak kok.” Jawab Rere kemudian tersenyum “Mungkin Rere lagi banyak pikiran sayang.” Ujar  Vino kemudian mengecup pipi Zeze “Iiih sayang aah. Malu tau diliat orang.” Zeze malu kemudian menyembunyikan mukanya di dada Vino “Aah kamu…” Vino gemes melihat Zeze yang malu-malu.
Rere kemudian berdiri dari bangku tersebut. Dia ingin pergi. Rasanya dia tak mampu lagi melihat kemesraan Zeze dengan Vino. Dia kemudian berjalan sambil melamun. Dan… ‘BRUK!!!’ dia terjatuh ke lantai dan pingsan. Seorang cowokpun berlari kearahnya dan kemudian membawa dia ke UKS. Dia menunggu Rere sadar dari pingsannya. 15 menit lamanya dia menunggu “Hey… hey… apa kamu baik-baik saja?” tanya cowok tersebut. Rere sudah setengah sadar. Dia sudah bisa mendengar suara orang tersebut. Tapi belum bisa membuka matanya “Hey… aku minta maaf ya. Karena bola yang kulempar tadi. Kamu bisa pingsan kayak gini.” Tanya cowok tersebut lagi “Hey!!! Kamu masih belum sadar ya?” tanya cowok tersebut “Ayo bangun!!!” Cowok tersebut mengguncang guncangkan badannya. “Hey!!! Ayo bangun!!!” “RERE!!! AYO BANGUN!!! KAMU MAU PERGI SEKOLAH ATAU TIDAK!!??” Suara cowok tersebut kemudian berubah menjadi suara mamanya. Rere kemudian membuka matanya “KAMU INI!? Mau pergi sekolah jam berapa sih!” Mama Rere tampak kesal kemudian pergi dari kamar Rere ‘Untung cuma mimpi’ Rere menghela lega.
***
“Hai, re!” sapa Vino “Hai juga.” Rere mencoba untuk bersikap dingin “kantin yuk!” Rere menggeleng, dia menolak ajakan Vino. Dia mencoba untuk mengalah pada perasaannya “Oh yaudah” dia tersenyum tapi seperti kecewa mendengar jawaban Rere. Diapun meninggalkan Rere yang masih duduk di bangku kelasnya. Tapi dia berbalik dan menghampiri Rere lagi, “Aku mau ngomong sesuatu, Re!” “Ngomong apa, Vin?” tanya Rere “Gak jadi deh. Eh, kamu gak mau ke kantin?” tanya Vino lagi dengan muka memelas “Gak. Kamu aja. Aku lagi malas keluar.” Jawab Rere singkat yang membuat senyum di muka Vino memudar seketika “Yaudah. Aku pergi ya.” Ujar Vino pamit kemudian hanya dibalas dengan anggukan oleh Rere.
‘Kok malah gak jadi sih?’ gumam Vino ‘Gue harus bisa! Oke, gue harus balik’ gumam Vino kemudian berbalik arah dan menghampiri Rere kembali “RERE!!!” Vino berteriak dari kejauhan “ada apa lagi sih?” Tanya Rere “Hm… aku ingin ngomong sesuatu. Dan kali ini aku serius nih.” Ujar Vino “Mau ngomong apa sih?” Tanya Rere “Tapi jangan disini” Vinopun menarik Rere. Dia membawa Rere ke belakang sekolah. Tempat yang sepi karena dikatakan angker. Pemandangan disitu sangat indah. Hanya Vino yang sering kesana, diapun mengatakan ke teman-temannya kalau disitu angker, sehingga tidak ada yang berani kesana selain dia. “Kamu mau ngomong apa, Vin?” tanya Rere. Vino hanya terdiam dan menatap Rere penuh arti.
“Sebenarnya…” “Sebenarnya apa?” tanya Rere penasaran “Sebenarnya aku… ummm, sebenarnya aku suka sama kamu.” Ujarnya yang membuat mata Rere membelalak karena kaget “Gak! Gak mungkin!” jawab Rere “Kamu tuh pacar Zeze. Aku gak boleh mengkhianati sahabat aku.” Tambahnya lagi “Aku juga tahu kok kalau kamu suka sama aku” jelas Vino lagi yang membuat Rere tambah kaget. “Aku tahu kalau kamu suka aku. Jadi ayo buat ini terlihat begitu mudah dengan menjadi pacarku” tambah Vino lagi “ini tidak bisa semudah itu. aku tidak bisa! Maaf!” Ujar Rere kemudian pergi dari tempat itu.
‘Oke, Re! Kenapa kamu begitu? Bukankah kamu menyukainya? Bukannya kamu menginginkan ini?’ Batinnya dalam hati ‘Aku tau aku menginginkannya. Tapi aku tidak bisa. Aku lebih ingin melihatnya bersama sahabatku dan membuat Zeze bahagia’ batinnya lagi ‘Kenapa ini menyiksaku? Cobaan apa ini? Aku tidak menginginkan ini! Ya Tuhan… kutarik kata-kataku!’ gumamnya lagi dan membuat air matanya terjatuh. Yap, Rere menangis sekarang. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ tanyanya lagi
“Rere!!!” seseorang memanggilnya, dia menoleh. Dan itu adalah orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. “Hai, Zeze!” ujar Rere kemudian tersenyum “Loh, kok nangis? Kenapa?” tanya Zeze “Gak kok.” Jawabnya singkat “Ohia, aku pingin deh balikan sama Vino. Aku ingin baikan lagi. Aku ingin hubungan kita jelas lagi kayak dulu” ujar Zeze yang tanpa disadari menusuk hati Rere ‘Apa lagi ini?’ tanya Rere “Oh ya? Hmm itu bagus. Aku senang deh, akhirnya kamu mau baikan lagi sama Vino. Syukurlah” Rere hanya bisa berpura-pura. Dia tau mungkin ini sangat menyenangkan baginya kalau sahabatnya ingin baikan dengan pacarnya. Tapi dia malah menderita, karena dia sebenarnya orang yang tak diundang yang malah masuk ke dalam hubungan seseorang.
“Aku mohon sama kamu yaa… pliss buat aku sama dia baikan lagi” dan DUARRRR!!!! Hati Rere hancur seketika ‘Pliss jangan siksa aku lagi. Aku sudah tidak tahan’ batin Rere “Iya. Aku bakal buat kamu baikan lagi dengan dia. Bagaimanapun caranya. Heheheh…” ujar Rere yang mencoba untuk tenang. “Aku cabut dulu ya…” Pamitnya ke Zeze. Dan setelah menerima anggukan dari Zeze, diapun langsung pergi. Dia pergi ke atap sekolah. Oke, anggaplah sekolah mereka seperti sekolah-sekolah di korea yang layaknya gedung, yang memiliki atap datar. “Aku tak tahan… aku harus bagaimana…” dia menangis sekencang-kencangnya. “Ya Tuhan… bantu aku. Rasanya aku tak mampu lagi berdiri. Ini menyiksaku dan membunuhku secara perlahan…” isaknya kemudian hujan turun. Dia tetap berdiri disana dan akhirnya pingsan.
*Flashback on* “Ma! Zeze gak bangun-bangun, ma!” ujar Rere yang sedang panik “Tenanglah, re! Zeze pasti gak kenapa-kenapa” mamanya mencoba menenangkannya “Aku tidak mau kehilangan Zeze, ma!” Ujar Rere lagi. Air mata sudah mengalir melewati pipinya. “Ya Tuhan… jangan ambil Zeze. Ambil saja aku, Ya Tuhan…” Rere menggucang-guncangkan badan Zeze “Huush, Zeze! Kamu ngomong apaan sih!” Mama Rere memarahinya. Rere memeluk Zeze seerat-eratnya. Dan ajaibnya, tangan Zeze mulai bergerak. Zeze mulai membuka matanya, dan dia menangis “Rere…” ucapnya yang membuat Rere bergetar. Zeze sudah sadar dari komanya. “Makasih sudah ada di sampingku dan menjadi sahabatku” tambah Zeze lagi. “Makasih juga Zeze, masih bisa bertahan dan bersama denganku disini.” ‘Tuhan, buat penyakit Zeze hilang. Jangan ambil dia. Ambil saja aku.’ *Flashback off*
‘Ambil saja aku, Tuhan!’

***

6 bulan kemudian…
“Iya sayang… senang banget bisa begini lagi sama kamu” Ujar Zeze yang sedang duduk di bangku di taman sekolahnya “Iya. Heheheh… kamu masih belum berubah ya. Masih manja. Gak ada yang berubah” Vino memegang tangan Zeze. Rere yang ada disamping mereka hanya seperti obat nyamuk. Rere hanya diam sejak tadi “Re? Kok diam aja?” tanya Zeze “Ah.. ngh… mmmh.. gak kok.” Jawab Rere kemudian tersenyum “Mungkin Rere lagi banyak pikiran sayang.” Ujar  Vino kemudian mengecup pipi Zeze “Iiih sayang aah. Malu tau diliat orang.” Zeze malu kemudian menyembunyikan mukanya di dada Vino “Aah kamu…” Vino gemes melihat Zeze yang malu-malu.
Setelah Rere sadar dari pingsannya 3 hari itu… dia mencoba untuk melupakan perasaannya pada Vino dan mencoba untuk membuat Zeze dan Vino baikan. Dia sudah ikhlas dan sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Vino. Rere kemudian berdiri dari bangku tersebut. Dia ingin pergi. Dia iri melihat Zeze dan Vino yang bermesraan. Dan dia masih belum mempunyai pasangan. Dia kemudian berjalan sambil melamun. Dan… ‘BRUK!!!’ dia terjatuh ke lantai dan pingsan. Seorang cowokpun berlari kearahnya dan kemudian membawa dia ke UKS. Dia menunggu Rere sadar dari pingsannya. 15 menit lamanya dia menunggu “Hey… hey… apa kamu baik-baik saja?” tanya cowok tersebut. Rere sudah setengah sadar. Dia sudah bisa mendengar suara orang tersebut. Tapi belum bisa membuka matanya “Hey… aku minta maaf ya. Karena bola yang kulempar tadi. Kamu bisa pingsan kayak gini.” Tanya cowok tersebut lagi “Hey!!! Kamu masih belum sadar ya?” tanya cowok tersebut “Ayo bangun!!!” Cowok tersebut mengguncang guncangkan badannya. “Hey!!! Ayo bangun!!!” Rerepun tersadar dari pingsannya “Sudah sadar ya? Gue kira udah pergi kesana.” Ujar cowok tersebut saat Rere sudah sadar. “Aku Govin. Kamu siapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya “Umm, aku Rere.” Jawab Rere kemudian membalas uluran tangan Govin “Kamu cantik”

***
“Jadi kamu sebenarnya suka sama Vino?” tanya Zeze “Iya” jawab Rere singkat “Tapi itu dulu” tambahnya “Loh, trus kenapa kamu malah nyiksa diri kamu. Seharusnya kamu memiliki dia, kan waktu itu aku tidak ada hubungan lagi dengan dia” ujar Zeze “Tapi kalian masih pacaran, belum ada kata putus. Lagipula kamu juga masih suka sama dia.” Ujar Rere “Setidaknya aku melakukan hal yang seharusnya kamu lakuin 8 tahun yang lalu. Aku tidak boleh mengambilnya, meskipun aku suka. Tapi dia bukan milikku. Dia milik orang lain. Apalagi milik sahabatku.” Ujar Rere “Kok malah bahas masalah boneka itu? oke. Aku minta maaf masalah boneka itu. Jujur, waktu itu aku suka banget sama boneka itu. Tapi kamu tidak tahu betapa aku merasa bersalah saat mengambilnya.” Jelas Zeze “Dan itu yang akan aku rasakan saat mengambil Vino saat itu. sudahlah, lupakan. Itu sudah berlalu. Yang penting aku senang ada kau disini” ujar Rere kemudian memeluk Zeze “Aku akan ada untukmu” ujar Rere “Me too” jawab Zeze


###

Minggu, 23 Agustus 2015

The Truth... :"Seandainya..."

Oke… Ini cerita ketiga dari serial the truth. Ini merupakan cerita dari tumpahan ide teman yang bernama Aulia Afifah. Buat Aulia, thanks ya udah ngasih ide. Oke, yang sebelumnya cerita Déjà vu di waktu senja itu, merupakan cerita karangan aku sendiri yang terinspirasi dari Fhira. Jadi buat Fhira makasih ya. Yang sebenarnya cerita itu mau di post bertepatan dengan ulang tahunnya tanggal 23 juli. Tapi gak sempat. Jadi diundur. Oke, ini cerita ketiga. Jadi nanti aka nada cerita terakhir di serial the truth ini. Selamat membaca…



“Kenalin! Dia teman aku. Namanya Rendi. Nah, Rendi… kenalin! Dia teman sekelasku, namanya Gita.” Ujar seorang cewek bernama Fero sambil memperkenalkan temannya yang bernama Rendi ke sahabatnya yang bernama Gita dan sebaliknya. “Halo Gita… salam kenal ya!” ujar Rendi sambil mengulurkan tangannya ke Gita “Halo juga rendi.” Jawab Gita singkat kemudian menjabat tangan Rendi yang dia ulurkan. “Dia satu skolah dengan kita loh! Dia 10 G.” ujar Fero ke Gita “Ooh… pantas. Soalnya mukanya kayak aku kenal.” Jawab Gita “Iya. Kebetulan gue anak basket. Ohiya, lo yang anggota pengurus mading itu kan?” Tanya Rendi ke Gita “Iya. Tau darimana?” Tanya Gita “Gue sering baca artikel lo. Kan disitu tertulis nama lo. Jadi gue tau. Artikel lo keren banget. Gue suka.” Jelas Rendi “Wah, makasih.” Ujar Gita sambil tersenyum senyum “Yaudah. Kita cabut dulu ya.” Ujar Fero pamit ke rendi. Merekapun pergi meninggalkan Rendi.
3 bulan kemudian… Rendi dan Gita semakin dekat. Mereka sering main bareng di sekolah, meskipun mereka tidak sekelas. Mereka sering SMS-an setiap hari. Dan perlahan-lahan Gita mulai nyaman dengan Rendi. Gita mulai menyadari kalau dia memiliki perasaan kepada Rendi. “Ya Tuhan… Kenapa setelah aku mulai merasa nyaman dengan Rendi, aku jadi berharap kepadanya? Apa ini pertanda kalau aku suka sama dia?” Gumamnya dalam hati. “Hy! Sudah lama nih. Kok udah gak ada kabar?” SMS masuk di hp Gita. Diapun teringat kalau dulu dia punya teman curhat namanya Dion. Dan dia udah jarang curhat ke Dion semenjak ada Rendi “Maaf ya. Aku lupa.” Gita membalas SMS Dion itu “Yaudah.” Balas Dion singkat.
“Aku mau curhat nih.” Balas Gita “Yaudah… Kamu kenapa?” Tanya Dion “Entah. Aku rasa aku sedang jatuh cinta sama seseorang.” Jawab Gita “Seseorangnya dekat ama kamu ya? Atau nggak?” Tanya Dion “Lumayan dekat sih.” Jawab Gita “Ooh, berarti cinta kamu dipicu oleh kedekatan kalian. Kamu belum kasih tau ke orangnya?” tanya Dion “Belum. Aku takut, kalau nanti aku kasih tau ke dia. Eeh dianya malah menghindar.” Balas Gita “Yaudah. Kamu tunggu aja waktu yang tepat buat kamu ungkapin. Ingat, perasaan itu kamu harus ungkapin. Dibanding di pendam, lebih baik kamu ungkapin. Kalau kamu ungkapin, masih ada 3 kemungkinan. Dia merasakan hal yang sama, Dia tidak merasakan hal yang sama tapi dia mengerti perasaan kamu. Dan dia malah menjauh. Sedangkan kalau kamu Cuma pendam, kamu akan nanggung sakit itu sendiri, dan kamu tidak jauh beda dari pengecut.” Balas Dion panjang lebar.
Oke thanks ya. Ngomong-ngomong, kamu pernah gak jatuh cinta?” tanya Gita “Pernah. Sekarang aku lagi jatuh cinta.” Balas Dion “Trus trus? Gimana?” Tanya Gita “Entahlah. Mungkin dia rasa kita lebih baik temanan aja. Lagipula dia gak suka sama aku. Dia sukanya sama orang lain.” Jelas Dion “Duuh, kasian yah. Be Strong ya Dion. Kamu pasti kuat.” Dion mencoba menenangkan Dion. Dan percakapan mereka malam itu, terhenti disitu. Dion duduk terdiam di kamarnya. Dia hanya bisa melihat percakapannya dengan Gita ‘Sampai kapan Gita? Aku harus menunggu sampai kapan? Supaya kamu mau melihat ke arahku? Ohia, pasti gak bakal. Tapi apa aku harus mengungkapkan identitasku sebenarnya? Kalau aku sebenarnya Goldi. Ketua pengurus mading yang merekrut kamu di kelompok itu?’ Gumam Dion dalam hati. Dia melihat jadwal besok, besok ada Rapat para pengurus mading. Dia harus bisa menyembunyikan kesedihannya itu. ‘Aku pasti bisa’ gumam Dion dalam hati.
“Besok sepulang sekolah, kita ketemuan yuk!!” SMS dari Rendi masuk “Dimana?” tanya Gita ke Rendi “Kafetaria yang di dekat taman kota.” Balas Rendi “Yaudah. Emangnya kenapa?” Tanya Gita “Ada deh. Pokoknya kamu datang aja.” Balas Rendi “Oke.” Balas Gita mengakhiri percakapan. Dia tersenyum-senyum dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Dan tanpa dia sadar, lamunannya itu membawanya ke dunia mimpi.
Besok sepulang sekolah… “Duh! Macet nih!” Gerutu Gita kesal saat memacu mobilnya di jalan. “Gimana nih kalau si Rendi nantinya duluan nyampe.” Ujar Gita panik. Tanpa pikir panjang, Gita memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya. Dia kemudian berlari menuju kafetaria. “Pokoknya aku harus jadi yang pertama nyampe. Aku gak mau kalau nantinya dia yang menunggu aku. Lebih baik aku yang menunggunya.” Gumamnya dengan semangat yang berkobar-kobar. Setelah 25 menit berlari, Akhirnya dia sampai di Kafetaria yang dimaksud. “Huaa… keringatan nih.” Ujar Gita. Diapun menuju kamar mandi yang ada di kafetaria kemudian melap keringatnya dan menggantinya baju seragamnya dengan baju ganti yang telah dia siapkan.
“Hai! Kamu sudah datang ya!” Sapa Gita ke Rendi yang baru saja muncul “Iya. Duh, udah lama ya?” tanya Rendi ke Gita “Gak kok. Ini juga baru nyampe.” Jawab Gita. Merekapun duduk. Gita tersenyum-senyum kemudian bertanya kepada Rendi “Ada apa?” tanya Gita “Apa?” tanya Rendi “Kan kamu ngajak aku ketemuan disini.” Ujar Gita mulai kesal “Ooh itu, aku mau bilang sesuatu.” Ujar Rendi “Mau bilang apa?” Tanya Gita “Mau bilang apa ya? Duuh… kok lupa sih.” Rendi malah balik nanya “Duh kok lupa sih?” tanya Gita “Maaf-maaf.” Ujar Rendi “Gini Gita… aku mau bilang sama kamu kalau aku sebenarnya…” “Wah… Hujan!!!” ujar Gita memotong pembicaraan Rendi. Diapun melongo’ menatap air-air hujan yang berjatuhan. Diapun sadar kalau Rendi tadi mau ngomong sesuatu “Tadi kamu mau ngomong apaan?” Tanya Gita “Diluar aja yuk!” seru Rendi “Yaudah.” Merekapun berjalan keluar kafe menuju teras depan kafetaria, “Aku mau bilang kalau sebenarnya…” ucap Rendi menggantungkan pembicaraannya “Sebenarnya apa?” tanya Gita “Sebenarnya aku Cuma seorang anak basket…” “Kalau itu aku juga sudah tau!” ujar Gita sambil memukul pundak Rendi“Aku cabut dulu ya. Tuh ada Fero, aku mau ke sekolah. Ada rapat pengurus mading. Bye” Ujar Gita pamit kemudian berlari menuju kearah Fero dan meninggalkan Rendi “Yaah… padahal belum selesai ngomong.” ujar Rendi
Malamnya, “Duuh! Tuh anak tadi malam mau ngomong apa sih sebenarnya?” tanya  Gita ke dirinya sendiri “Apa aku SMS aja ya?” “Rendi?” Gitapun mengirim SMS ke Rendi “Ya? Kenapa gita?” balasnya “Sebenarnya kamu tadi mau ngomong apaan?” tanya Gita “Oh yang tadi? Udah. Lupain aja.” Balas Rendi “Loh kok gitu?” tanya Gita dan sudah Rendi sudah tak membalasnya.
Keesokan harinya, Gita berjalan menuju kelasnya dan dia melihat kalau anak-anak basket lagi latihan. Dan diapun melihat Rendi. Gita ingin menyapanya. Tapi,”BRUKK!!!” “Aww!” pekik Gita saat bola basket terlempar mengenai kepalanya. Diapun jatuh pingsan. Rendi yang melihat kejadian itu langsung mendekati Gita dan mengangkat tubuh Gita yang terkulai lemas itu menuju UKS. Rendi yang melihat Gita terbaring lemas tak berdaya itu, membuatnya tak tahan. “Seandainya kamu tahu, kalau aku sebenarnya…” ucapannya terpotong karena ada yang memanggilnya dari luar. Dan ternyata yang memanggilnya itu Fero.
Rendipun beranjak dari tempatnya dan keluar dari UKS. Rendipun mendekati Fero, “Rendi. Kamu tau gak? Aku suka banget sama kamu. Kamu kok gak pernah melirik aku sama sekali?” tanya Fero “Apa kamu tak bisa mengerti diriku? Kenapa? Apa kamu tak memiliki debaran yang sama dengan yang aku rasakan? Apa kamu tidak merasakan apa-apa? Kalau begitu, tak bisakah kamu mengerti perasaanku?” tanya Fero ke Rendi “Tapi aku gak suka kamu.” Jawab Fero singkat “Kalau begitu, bagaimana caranya untuk membuatmu jatuh cinta padaku?” tanya Fero “Kamu tidak perlu melakukannya.” Jawab Rendi singkat “Tapi Rendi…” Feropun memeluk Rendi dengan eratnya saat itu “Seandainya… aku mati karenamu. Apa kamu akan mengingatku?” tanya Fero lagi “Untuk apa aku harus mengingatmu?” Rendi malah bertanya balik.
Feropun menangis. Dan dari dalam UKS yang pintunya sedikit terbuka, Gita melihat keluar, dan dia sangat terkejut melihat Fero memeluk Rendi sambil menangis. Hatinya terasa sakit melihat hal itu. “Apa ini? Dia menyukai Rendi?” tanya Gita kepada dirinya sendiri “Kenapa harus dia yang menyukai Rendi? Kenapa bukan orang lain?” Tanya Gita lagi “Gak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan meneruskan perasaanku ini, apapun yang terjadi. Toh, dia sendiri yang salah.” Gita mencoba menenangkan dirinya. Dia terpikir-pikir hal itu terus sebelum akhirnya dia tertidur di UKS.
Setelah beberapa lama tertidur, Gita dibangunkan oleh Rendi. Ternyata bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu. “Aku antar pulang ya…” ujar Rendi “Gak. Aku gak mau merepotkan kamu.” Jawab Gita “Anggap saja sebagai perminta maafan dari teman basket aku tadi.” Ujar Rendi “Yaudah deh.” Gitapun menyetujuinya. Rendi dan Gita berjalan menuju tempat parkir dan menaiki motor rendi. Rendipun memacu motornya dengan kecepatan yang maksimum. Merekapun berhenti di Kafetaria tempat mereka ketemuan dulu. Merekapun mengobrol-ngobrol sambil melahap pesanan mereka. Tapi tanpa mereka duga, hujan turun secara tiba-tiba. Merekapun segera menghabiskan pesanan mereka. Mereka berdiri di teras depan kafetaria sambil menunggu hujan yang mendadak itu berhenti.
‘Duh, kenapa aku jadi deg degan kayak gini.’ Gita membatin dalam hati ‘Apa dia merasakan kalau jantungku berdebar dengan cepat? Atau… apa mungkin dia merasakan debaran yang sama? Huuuft… seandainya dia merasakan hal yang sama.’ Batinnya lagi. Rendipun menghadapkan muka Gita ke mukanya. Diapun memegang pipi Gita, dan Gita menepisnya. Dan tangan Rendi jatuh ke dada Gita “Apa ini?” Tanya Rendi yang merasakan debaran yang sangat cepat di dada Gita “Apanya yang apa?” Tanya Gita “Kok jatung kamu berdebar-debar?” Tanya Rendi ‘Gawat!!!’ gumam Gita dalam hati “Ah perasaan kamu aja kali.” Gita mencari alasan “Kamu suka sama aku ya?” tanya Rendi “Loh kok malah nanya kayak gitu? Pede banget kamu.” Jawab Gita spontan “Siapa juga yang suka kamu” Gita berpura-pura. ‘Jadi dia suka sama Rendi ya.’ Gumam seseorang dari kejauhan yang tak lain adalah Fero “Udah ah! Aku mau pulang aja.” Ujar Gita “Gak mau diantar?” Tanya Rendi “Gak usah” jawab Gita singkat.
“Aku sebenarnya Goldi, Git!” SMS dari Dion masuk di HP Gita “Maaf sudah membohongimu. Aku juga tidak tau. Dan aku juga mau bilang kalau sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu” SMS masuk di HPnya tapi Gita tidak membalasnya “Kalau kamu gak balas juga gak papa. Aku memang menyedihkan.” SMS darinya masuk lagi. Gita hanya bisa termenung memikirkan itu. diapun berbaring di kasurnya ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ gumam Gita dalam hati. Banyak SMS masuk dari Goldi dan dia tidak mau membacanya. Dia tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya menyukai Rendi seorang. Dia juga merasa kecewa saat tahu kalau sebenarnya Dion yang menjadi teman curhatnya itu ternyata Rendi. Diapun termenung dikamarnya tanpa sadar diapun terlelap.
Keesokan harinya… “Fero!!!” Sapa Gita tapi Fero tidak menoleh ke arahnya. Dia malah terus berjalan “Kamu kenapa Fero? Cerita dong!” Tanya Gita “Ayo dong Fero. Cerita sama aku.” “Fero! Kita kan teman” ujar Gita lagi “Teman? Emang aku teman kamu?” Tanya Fero ke Gita “Ohh, maaf. Aku kira kamu menganggap aku teman. Padahal nggak, aku memang gak tau diri.” Ujar Gita ke Fero. Dia merasa tertusuk dengan kata-kata Fero tadi “Awalnya kita memang teman Git. Tapi sekarang gak lagi.” Ujar Fero ke gita “Kenapa?” Tanya Gita ke Fero. “Teman itu bukan pengkhianat.” Ujar Fero “Aku kan bukan pengkhianat” jawab Fero “Emang iya? Siapa bilang kamu bukan pengkhianat?” Tanya Fero kemudian terus berjalan meninggalkan Gita. Gita bingung apa yang terjadi pada Fero. Diapun mengalihkan padangannya dari Fero dan dia melihat Goldi ada di tingkat dua sedang memperhatikannya. Tatapan Goldi seakan menjelaskan kalau dia ingin minta maaf. Tapi Gita malah menatapnya tajam, seakan mengatakan “Aku kecewa sama kamu. Jangan muncul dihadapanku dulu!”. Kemudian pergi dari tempat itu.
“Apa dia sudah tahu kalau aku suka sama Rendi ya?” Tanya Gita. Diapun duduk sendirian di bangku di taman sekolahnya “Tapi kan dia sendiri yang salah, siapa suruh ngenalin Rendi ke aku.” “Seandainya dia memang suka sama Rendi, dia seharusnya gak ngenalin orang yang dia suka ke orang lain.” Gita berbicara kepada dirinya sendiri “Lalu, bagaimana dengan Goldi?” Tanya Gita kepada dirinya sendiri “Mungkin lebih baik aku dan dia berteman saja. Tapi aku masih kecewa sama dia. Tapi dia suka aku… apa aku harus melupakan Rendi? Dan menerima cinta Goldi?” Tanya Gita lagi “Aku harus curhat kepada siapa? Hmm…” tanya Gita lagi “Curhat sama aku saja” jawab seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi Gita.
Gitapun melihat keatas, Agak silau karena sinar matahari. Tapi akhirnya dia melihat wajah orang itu. “Rendi!???” Dia kaget saat tahu kalau Rendi, cowok yang dia suka ada didepannya “Kamu sudah daritadi?” Tanya Gita “Iya.” Jawab Rendi singkat “Apa kamu mendengarnya?” Tanya Gita “Tanpa disengaja, iya. Aku mendengar semuanya.” Jawab Rendi. Gitapun menunduk kepalanya. Dia malu karena isi hatinya telah diungkapkan secara tidak langsung “Gak papa kok. Aku juga suka sama kamu.” Ujar Rendi.
“Apa? Beneran?” Tanya Gita yang tak percaya dengan apa yang dia dengar  “Iya. Beneran.” Jawab Rendi “Tapi yang kamu berpelukan dengan Fero itu apa?” Tanya Gita “Ooh kamu melihatnya? Itu aku juga gak tau kalau dia bakal meluk aku. Sudah berapa kali dia memintaku untuk jadi pacarnya. Dan aku menolaknya terus. Karena aku cuma suka sama kamu.” Jelas rendi. Gita hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Rendi “Dan sekarang aku akan melanjutkan perkataanku waktu di kafetaria dulu yang tertunda.” Ujar Rendi “Emang kamu mau ngomong apa?” Tanya Gita “Sebenarnya aku cuma seorang anak basket… sedangkan kamu adalah pengurus mading yang artikelnya menjadi kesukaan para siswa-siswa. Karena itu aku sadar kalau kamu tidak akan suka orang sepertiku. Aku hanya orang yang bisa memantul mantulkan bola dan memasukkannya ke ring yang belum tentu akan masuk terus.”
“Bukan seperti kamu yang bisa menulis nulis artikel dan memasukkannya ke mading dan itu pasti jadi artikel terfavorit. Tapi aku juga punya hati, dan aku bisa menentukan sendiri dengan siapa aku seharusnya jatuh cinta. Dan aku jatuh cintanya sama kamu. Dan kamu juga punya hati. Jadi kamu berhak untuk memilih aku atau tidak. Aku tidak seperti kamu yang bisa merangkai kata-kata yang indah. Jadi aku hanya bisa mengatakan itu. Dan intinya adalah aku suka sama kamu.” Jelas Rendi panjang lebar. Gita hanya bisa terdiam mendengar perkataan rendi. Kemudian mereka berdua terdiam. Rendipun berjalan meninggalkan Gita. Tapi Gita menahannya “Aku mau jadi pacar kamu.” Kata-kata itu langsung keluar begitu saja dari mulut Gita. Rendipun berbalik dan melihatnya, diapun tersenyum.
Mereka berduapun berpacaran dengan sangat lama. Fero tahu kalau mereka pacaran. Dia tambah membenci Gita dan dia tidak pernah muncul lagi dihadapan Gita. Gitapun mulai memaafkan Goldi dan mulai berteman dengannya lagi. Gita sering curhat sama Goldi. Dan Goldi juga sudah punya pacar, adik kelasnya waktu SMP. Mereka menjadi sahabat. Dan Rendi belajar untuk menulis sesuatu sama Gita.

“Gimana?” Tanya Gita “Udah aku kirim sayang. Tinggal tunggu hasil.” Jawab Rendi “Sayang yakin udah gak ada kata-kata yang salah?” Tanya Gita “Iya” jawab Rendi “Sayang yakin mau jadi penulis nih?” tanya Gita “Iya sayang.” Jawab Rendi “Trus basket gimana?” Tanya Gita “Itu bisa jadi hobi sayang. Lagipula orang bisa berubah hanya karena cinta.” Jelas Rendi “Yaudah. Semangat ya sayang. Aku mendukungmu. Aku mau rapat pengurus mading dulu ya sayang.” Ujar Gita pamit “Iyaiya. Jangan nakal ya.” Pesan Rendi “Iya sayang. Emang kayak kamu.” Ucap Gita kemudian menjulurkan lidahnya kemudian pergi meninggalkan Rendi “Dasar. Awas ya, ntar aku gak beliin coklat lagi loh.” Ujar Rendi kemudian tertawa.

####