Jumat, 30 Oktober 2015

The Truth... :"Tapi aku suka dia..."

Ini cerita terakhir dari serial The truth. Akhirnya serial the truth kelar juga. Heheheh… sempat break karena banyak tugas. Oke, cerita ini merupakan ide dari Indah. Idenya sebenarnya panjang banget tapi aku usahain supaya bisa pendek. Dan akhirnya jadi, meskipun formatnya 8 halaman -___- But, its okay. sampai ketemu di serial tahun depan. Ohiya, silahkan dibaca ceritanya…



8 tahun yang lalu…“itu kan boneka aku, ze.” Batin seorang cewek dalam hati yang melihat bonekanya diambil oleh temannya “Zeze!!! Ayo pulang!” teriak seorang wanita paruh baya dari luar “Gak mau ma. Zeze masih mau main.” Jawab seorang cewek dari dalam yang ternyata bernama zeze “ze! Seharusnya kamu pulang saja. Tuh ibumu sudah panggil kamu.” Ujar seorang cewek tadi yang masih tidak senang melihat bonekanya diambil temannya “Gak mau Rere. Aku mau main dulu.” Jawab Zeze “Tapi kan mama kamu udah nyariin kamu.” Ujar cewek yang tadi yang bernama Rere “yaudah..” Zezepun pulang sambil membawa boneka Rere “Itu kan boneka aku, ze!” ujar Rere yang tidak didengar oleh Zeze “Boneka kesayanganku,” batin Rere dalam hati sambil melihat Zeze pergi membawa bonekanya
Tapi  aku suka  dia…
“Gimana hubungan kamu sama Vino, ze?” tanya Rere ke Zeze “Tau ah. Gak jelas. Udah gak ada komunikasi. Anggaplah udah putus” Jawab Zeze cuek “Kok bisa?” Tanya Rere “au ah. Malas bahas dia. Aku cabut dulu ya. Mau ngerjain PR.” Ujar Zeze kemudian pergi meninggalkan Rere. Rerepun berjalan sendirian di koridor kelas IPA. Ya. Dia anak IPA, begitu juga dengan Zeze. Hanya saja, Rere XI Ipa 1 sedangkan Zeze XI Ipa 3. Rere memang pintar ketimbang Zeze. Zeze bisa ada di XI Ipa 3 saja, berkat bantuan Rere yang membantunya belajar. Dan Rere sangat ingin kalau bisa sekelas sama Zeze. Jadi dia berusaha untuk membuat Zeze bisa sekelas dengannya.
Rere dan Zeze adalah sepasang sahabat. Mereka bersahabat dari kecil. Mereka selalu bersama-sama, gak pernah mau terpisah. Bahkan saking gak maunya terpisah, Zeze selalu mengajak keluarga Rere liburan bersama keluarganya. Dia bahkan sempat mogok makan waktu tau dia mau liburan tanpa keluarga Rere. Kebetulan keluarga mereka memang sangat dekat. Ohiya, Vino? Vino adalah pacar Zeze. Mereka pacaran saat kelas X. Mereka saling kenal karena kebetulan mereka sekelas. Vino dan Zeze akhir-akhir ini hubungannya memang sudah tidak jelas lagi. Padahal dulu Vino dan Zeze dimana-mana nempel terus. Tapi tidak lagi sekarang. Dan setiap Rere menanyakan tentang Vino kepada Zeze, pasti Zeze tidak mau membicarakannya.
‘Aku gak tau.. sampai kapan aku harus mencintai dia secara diam-diam. Kenapa? Kenapa harus aku yang merasakan ini? Dan juga dari milyaran atau bahkan triliunan lebih lelaki di dunia ini, kenapa harus dia? Aku suka sama dia. Tapi itu tak bisa terucapkan. Karena akan ada yang terluka.’ Batin Rere dalam hati ‘Aku juga gak boleh menuruti egoku saja. Karena ego itu hanya sesaat’ batinnya lagi dan…  ‘BRUKK!!’ Rere menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan buku. Dan otomatis buku itu jatuh ke bawah. “Eh sorry sorry, aku gak…” ucap Rere terpotong saat tahu siapa yang dia tabrak. “Vino?” Eh Rere.. jadi kamu yang nabrak aku. Aku kirain siapa.” Ujar Vino “Kamu gak apa-apa, kan?” Tanya Rere “Aku gak papa kok. Bukunya yang gak papa.” Jawab Vino sambil membereskan buku-buku yang dibawanya tadi yang jatuh di lantai “Sini aku bantu..” Rerepun membantu Vino membereskan buku-buku tersebut “Makasih.” Ucap Vino setelah semua beres kemudian pergi meninggalkan Rere.
‘Apa aku harus merelakan perasaanku? Tapi aku suka dia… ya! Aku suka dia. Aku suka Vino. Alvino Malvin.’  batinnya dalam hati  ’Apa aku salah mencintai dia? Mencintai pacar sahabatku sendiri? Mencintai pacar dari sahabatku sendiri yang sudah lama bersama-sama? Mungkin aku harus melupakannya! Oke, aku akan melupakan Vino, mungkin ini saatnya..’ Rerepun membuang jauh-jauh pikirannya tentang Vino ‘Hm… tapi kan mereka udah gak ada komunikasi lagi. Berarti itu bisa jadi peluang’ Gumam Rere dalam hati ‘Peluang? Apa aku akan mengkhianati Zeze?’  Wajah Vinopun terbayang di pikiran Rere ‘Ah! Aku pasti gila!’ umpatnya dalam hati.
Rerepun masuk ke kelas dan mencoba untuk melupakan pikiran yang menurutnya sangatlah gila itu. Dan yang terjadi dia malah memikirkannya terus “Re?” “Rere?” sapa seseorang yang tidak didengarkan oleh Rere ‘BYARR!’ “Huaaa… bocor-bocor!” ujar Rere yang tersadar dari lamunannya saat Vino menyemburkan air di aqua kelas ke mukanya. Sontak semua yang ada di kelas tertawa melihat Rere “Kamu apaan sih, Vin!!!” “Kamu sih.. dipanggilin malah asik melamun sambil cengengesan sendiri gak jelas” ujar Vino kesal “Up to you.” Rere ngambek “Hahahah… biasa aja kalee. Gak usah segitunya.” Vino ketawa lihat Rere ngambek “Ntar Rereku gak cantik loh!” ujar Vino dengan membesarkan suaranya yang kemudian diikuti oleh suara “KYAAAA!” dari beberapa teman kelasnya. Bagaimana tidak? Vino termasuk salah satu cowok idola di kelasnya. Anak basket yang juga merupakan vokalis band cowok di sekolah mereka itu wajahnya bukan wajah yang biasa-biasa saja. Dia tampan dan dia juga cool. Dan banyak cewek yang mendekatinya tapi dia tidak menanggapinya.
Vino menatap Rere terus. Rere yang sadar kalau dilihat-lihat dari tadi, merasa risih “Kamu mau apa?” tanya Rere “Hm.. gak kok” jawabnya “Trus?” “jalan yuk!” ujarnya. Rere membelalakkan matanya, “Apa?” “Iya… jalan-jalan. Kenapa? Kamu gak bisa?” Tanya Vino. ‘Oh My God. Ini gak mungkin. Dia kan cowoknya Zeze. Gak mungkin lah gue jalan ama dia.’ Gumamnya dalam hati ‘Mungkin gak papa ya. Mereka kan udah gak jelas hubungannya’. “Yaudah. Bentar malam ya!” aku akhirnya mau. “Oke. Aku tunggu kamu di taman kota.” Diapun tersenyum kemudian pergi keluar kelas. Dan gilanya, Rere malah blushing, Pipinya jadi memerah seperti kepiting rebus. “Oh my God. Ini nggak mungkin… ini nggak mungkin.” Ujar Zeze kemudian mencoba untuk tertidur di tempatnya.

“Kamu dimana?” tanya Vino, dia menelpon Rere “Aku udah di taman. Kalau kamu dimana?” terdengar suara Rere dari seberang “Ooh… aku juga. Dibagian mana? Aku kesitu ya…” … “Oh oke.” Vinopun mengakhiri panggilannya. Kemudian pergi ke tempat Rere. “Hai! Yuk jalan… ohiya, Grand Queen lagi ada wahana-wahana keren. Yuuk!!!” ajak Vino ke Rere kemudian memacu motornya menuju Grand Queen. Dan hanya memerlukan waktu 5 menit untuk sampai kesana. “Waw…” Rere terkagum melihat wahana-wahana yang ada disana “Heheheh… kamu mau naik apa?” tanya Vino “Bianglala aja deh.” Jawab Rere “Tapi aku mau makan gulali dulu.” Tambah Rere. Vinopun menemani Rere membeli gulali. “Aaah enaknya…” ujar Rere kemudian tersenyum yang kemudian membuat matanya menyipit. Dia memang sangat suka Gulali. “Kamu harus coba!” ujar Rere kemudian mencomot kecil gulalinya dan menyuapi Vino. Ekspresi Vino sama dengan ekspresi Rere ketika mencoba gulali tersebut. Bukan. Bukan karena dia suka. Tapi karena gulali itu terlalu manis baginya. Oke, merekapun akan naik bianglala.
‘Oke. Aku jadi deg degan didekat Vino terus’ batin Rere setelah keluar dari wahana bianglala. “Mau makan? Yuk kita ke cafĂ©.” Ajak Vino “Oh ya. Kebetulan aku lapar.” Jawab Rere. Merekapun pergi ke kafe andalan Vino. “Spaghettinya dua. Orange juicenya satu, Moccha lattenya satu.” Pesan Vino pada waiter yang menulis menunya. Rere sedang menatap langit “Kamu kenapa?” Tanya Vino “Gak kok. Aku suka aja liat langit. Karena itu membuatku nyaman.” Jawab Rere “ooh… aku juga suka melihat langit kok.” Sambung Vino “Oh ya? Kita sama ya…” “Iya…” Merekapun memakan makanan pesanan mereka. Dan setelah itu Vino mengantar Rere pulang.
“Makasih ya…” Ujar Rere saat Vino mengantarnya sampai rumah “Iya. Sama-sama.” Jawabnya. Dan lagi-lagi muka Rere memerah, untungnya lampu di pagar rumah Rere tidak menyala. Sehingga mukanya yang memerah tidak terlihat oleh Vino “Hati-hati dijalan, Vin!” ujarku kemudian melambaikan tangan pada Vino. Rerepun masuk ke rumahnya, ibu dan ayahnya belum pulang. Mereka masih bekerja, dan itu yang membuat Rere kesal. Diapun naik ke kamarnya. Dia mematikan lampu dikamarnya, dia memeluk boneka kesukaannya dan menatap ke langit melalui jendela kamarnya “Ya Allah…… aku suka dia. Ya! Aku suka dia. Tapi, dia pacar sahabatku. Meskipun begitu, mereka udah gak ada komunikasi lagi. Jadi… apa aku salah? Dia pacar sahabatku, ya Allah. Tapi aku suka dia… aku juga pantas untuk menyukai seseorang” yap. Bulir-bulir air mata Rere mulai jatuh. Dia kemudian membaringkan dirinya di kasur dan mencoba untuk tidur “Kuharap perasaan ini akan lebih baik keesokannya.” Ujarnya kemudian menutup matanya.

***
“Iya sayang… senang banget bisa begini lagi sama kamu” Ujar Zeze yang sedang duduk di bangku di taman sekolahnya “Iya. Heheheh… kamu masih belum berubah ya. Masih manja. Gak ada yang berubah” Vino memegang tangan Zeze. Rere yang ada disamping mereka hanya seperti obat nyamuk ‘Apa-apaan sih ini. Mereka balikan lagi?’ Rere hanya diam sejak tadi “Re? Kok diam aja?” tanya Zeze “Ah.. ngh… mmmh.. gak kok.” Jawab Rere kemudian tersenyum “Mungkin Rere lagi banyak pikiran sayang.” Ujar  Vino kemudian mengecup pipi Zeze “Iiih sayang aah. Malu tau diliat orang.” Zeze malu kemudian menyembunyikan mukanya di dada Vino “Aah kamu…” Vino gemes melihat Zeze yang malu-malu.
Rere kemudian berdiri dari bangku tersebut. Dia ingin pergi. Rasanya dia tak mampu lagi melihat kemesraan Zeze dengan Vino. Dia kemudian berjalan sambil melamun. Dan… ‘BRUK!!!’ dia terjatuh ke lantai dan pingsan. Seorang cowokpun berlari kearahnya dan kemudian membawa dia ke UKS. Dia menunggu Rere sadar dari pingsannya. 15 menit lamanya dia menunggu “Hey… hey… apa kamu baik-baik saja?” tanya cowok tersebut. Rere sudah setengah sadar. Dia sudah bisa mendengar suara orang tersebut. Tapi belum bisa membuka matanya “Hey… aku minta maaf ya. Karena bola yang kulempar tadi. Kamu bisa pingsan kayak gini.” Tanya cowok tersebut lagi “Hey!!! Kamu masih belum sadar ya?” tanya cowok tersebut “Ayo bangun!!!” Cowok tersebut mengguncang guncangkan badannya. “Hey!!! Ayo bangun!!!” “RERE!!! AYO BANGUN!!! KAMU MAU PERGI SEKOLAH ATAU TIDAK!!??” Suara cowok tersebut kemudian berubah menjadi suara mamanya. Rere kemudian membuka matanya “KAMU INI!? Mau pergi sekolah jam berapa sih!” Mama Rere tampak kesal kemudian pergi dari kamar Rere ‘Untung cuma mimpi’ Rere menghela lega.
***
“Hai, re!” sapa Vino “Hai juga.” Rere mencoba untuk bersikap dingin “kantin yuk!” Rere menggeleng, dia menolak ajakan Vino. Dia mencoba untuk mengalah pada perasaannya “Oh yaudah” dia tersenyum tapi seperti kecewa mendengar jawaban Rere. Diapun meninggalkan Rere yang masih duduk di bangku kelasnya. Tapi dia berbalik dan menghampiri Rere lagi, “Aku mau ngomong sesuatu, Re!” “Ngomong apa, Vin?” tanya Rere “Gak jadi deh. Eh, kamu gak mau ke kantin?” tanya Vino lagi dengan muka memelas “Gak. Kamu aja. Aku lagi malas keluar.” Jawab Rere singkat yang membuat senyum di muka Vino memudar seketika “Yaudah. Aku pergi ya.” Ujar Vino pamit kemudian hanya dibalas dengan anggukan oleh Rere.
‘Kok malah gak jadi sih?’ gumam Vino ‘Gue harus bisa! Oke, gue harus balik’ gumam Vino kemudian berbalik arah dan menghampiri Rere kembali “RERE!!!” Vino berteriak dari kejauhan “ada apa lagi sih?” Tanya Rere “Hm… aku ingin ngomong sesuatu. Dan kali ini aku serius nih.” Ujar Vino “Mau ngomong apa sih?” Tanya Rere “Tapi jangan disini” Vinopun menarik Rere. Dia membawa Rere ke belakang sekolah. Tempat yang sepi karena dikatakan angker. Pemandangan disitu sangat indah. Hanya Vino yang sering kesana, diapun mengatakan ke teman-temannya kalau disitu angker, sehingga tidak ada yang berani kesana selain dia. “Kamu mau ngomong apa, Vin?” tanya Rere. Vino hanya terdiam dan menatap Rere penuh arti.
“Sebenarnya…” “Sebenarnya apa?” tanya Rere penasaran “Sebenarnya aku… ummm, sebenarnya aku suka sama kamu.” Ujarnya yang membuat mata Rere membelalak karena kaget “Gak! Gak mungkin!” jawab Rere “Kamu tuh pacar Zeze. Aku gak boleh mengkhianati sahabat aku.” Tambahnya lagi “Aku juga tahu kok kalau kamu suka sama aku” jelas Vino lagi yang membuat Rere tambah kaget. “Aku tahu kalau kamu suka aku. Jadi ayo buat ini terlihat begitu mudah dengan menjadi pacarku” tambah Vino lagi “ini tidak bisa semudah itu. aku tidak bisa! Maaf!” Ujar Rere kemudian pergi dari tempat itu.
‘Oke, Re! Kenapa kamu begitu? Bukankah kamu menyukainya? Bukannya kamu menginginkan ini?’ Batinnya dalam hati ‘Aku tau aku menginginkannya. Tapi aku tidak bisa. Aku lebih ingin melihatnya bersama sahabatku dan membuat Zeze bahagia’ batinnya lagi ‘Kenapa ini menyiksaku? Cobaan apa ini? Aku tidak menginginkan ini! Ya Tuhan… kutarik kata-kataku!’ gumamnya lagi dan membuat air matanya terjatuh. Yap, Rere menangis sekarang. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ tanyanya lagi
“Rere!!!” seseorang memanggilnya, dia menoleh. Dan itu adalah orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. “Hai, Zeze!” ujar Rere kemudian tersenyum “Loh, kok nangis? Kenapa?” tanya Zeze “Gak kok.” Jawabnya singkat “Ohia, aku pingin deh balikan sama Vino. Aku ingin baikan lagi. Aku ingin hubungan kita jelas lagi kayak dulu” ujar Zeze yang tanpa disadari menusuk hati Rere ‘Apa lagi ini?’ tanya Rere “Oh ya? Hmm itu bagus. Aku senang deh, akhirnya kamu mau baikan lagi sama Vino. Syukurlah” Rere hanya bisa berpura-pura. Dia tau mungkin ini sangat menyenangkan baginya kalau sahabatnya ingin baikan dengan pacarnya. Tapi dia malah menderita, karena dia sebenarnya orang yang tak diundang yang malah masuk ke dalam hubungan seseorang.
“Aku mohon sama kamu yaa… pliss buat aku sama dia baikan lagi” dan DUARRRR!!!! Hati Rere hancur seketika ‘Pliss jangan siksa aku lagi. Aku sudah tidak tahan’ batin Rere “Iya. Aku bakal buat kamu baikan lagi dengan dia. Bagaimanapun caranya. Heheheh…” ujar Rere yang mencoba untuk tenang. “Aku cabut dulu ya…” Pamitnya ke Zeze. Dan setelah menerima anggukan dari Zeze, diapun langsung pergi. Dia pergi ke atap sekolah. Oke, anggaplah sekolah mereka seperti sekolah-sekolah di korea yang layaknya gedung, yang memiliki atap datar. “Aku tak tahan… aku harus bagaimana…” dia menangis sekencang-kencangnya. “Ya Tuhan… bantu aku. Rasanya aku tak mampu lagi berdiri. Ini menyiksaku dan membunuhku secara perlahan…” isaknya kemudian hujan turun. Dia tetap berdiri disana dan akhirnya pingsan.
*Flashback on* “Ma! Zeze gak bangun-bangun, ma!” ujar Rere yang sedang panik “Tenanglah, re! Zeze pasti gak kenapa-kenapa” mamanya mencoba menenangkannya “Aku tidak mau kehilangan Zeze, ma!” Ujar Rere lagi. Air mata sudah mengalir melewati pipinya. “Ya Tuhan… jangan ambil Zeze. Ambil saja aku, Ya Tuhan…” Rere menggucang-guncangkan badan Zeze “Huush, Zeze! Kamu ngomong apaan sih!” Mama Rere memarahinya. Rere memeluk Zeze seerat-eratnya. Dan ajaibnya, tangan Zeze mulai bergerak. Zeze mulai membuka matanya, dan dia menangis “Rere…” ucapnya yang membuat Rere bergetar. Zeze sudah sadar dari komanya. “Makasih sudah ada di sampingku dan menjadi sahabatku” tambah Zeze lagi. “Makasih juga Zeze, masih bisa bertahan dan bersama denganku disini.” ‘Tuhan, buat penyakit Zeze hilang. Jangan ambil dia. Ambil saja aku.’ *Flashback off*
‘Ambil saja aku, Tuhan!’

***

6 bulan kemudian…
“Iya sayang… senang banget bisa begini lagi sama kamu” Ujar Zeze yang sedang duduk di bangku di taman sekolahnya “Iya. Heheheh… kamu masih belum berubah ya. Masih manja. Gak ada yang berubah” Vino memegang tangan Zeze. Rere yang ada disamping mereka hanya seperti obat nyamuk. Rere hanya diam sejak tadi “Re? Kok diam aja?” tanya Zeze “Ah.. ngh… mmmh.. gak kok.” Jawab Rere kemudian tersenyum “Mungkin Rere lagi banyak pikiran sayang.” Ujar  Vino kemudian mengecup pipi Zeze “Iiih sayang aah. Malu tau diliat orang.” Zeze malu kemudian menyembunyikan mukanya di dada Vino “Aah kamu…” Vino gemes melihat Zeze yang malu-malu.
Setelah Rere sadar dari pingsannya 3 hari itu… dia mencoba untuk melupakan perasaannya pada Vino dan mencoba untuk membuat Zeze dan Vino baikan. Dia sudah ikhlas dan sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Vino. Rere kemudian berdiri dari bangku tersebut. Dia ingin pergi. Dia iri melihat Zeze dan Vino yang bermesraan. Dan dia masih belum mempunyai pasangan. Dia kemudian berjalan sambil melamun. Dan… ‘BRUK!!!’ dia terjatuh ke lantai dan pingsan. Seorang cowokpun berlari kearahnya dan kemudian membawa dia ke UKS. Dia menunggu Rere sadar dari pingsannya. 15 menit lamanya dia menunggu “Hey… hey… apa kamu baik-baik saja?” tanya cowok tersebut. Rere sudah setengah sadar. Dia sudah bisa mendengar suara orang tersebut. Tapi belum bisa membuka matanya “Hey… aku minta maaf ya. Karena bola yang kulempar tadi. Kamu bisa pingsan kayak gini.” Tanya cowok tersebut lagi “Hey!!! Kamu masih belum sadar ya?” tanya cowok tersebut “Ayo bangun!!!” Cowok tersebut mengguncang guncangkan badannya. “Hey!!! Ayo bangun!!!” Rerepun tersadar dari pingsannya “Sudah sadar ya? Gue kira udah pergi kesana.” Ujar cowok tersebut saat Rere sudah sadar. “Aku Govin. Kamu siapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya “Umm, aku Rere.” Jawab Rere kemudian membalas uluran tangan Govin “Kamu cantik”

***
“Jadi kamu sebenarnya suka sama Vino?” tanya Zeze “Iya” jawab Rere singkat “Tapi itu dulu” tambahnya “Loh, trus kenapa kamu malah nyiksa diri kamu. Seharusnya kamu memiliki dia, kan waktu itu aku tidak ada hubungan lagi dengan dia” ujar Zeze “Tapi kalian masih pacaran, belum ada kata putus. Lagipula kamu juga masih suka sama dia.” Ujar Rere “Setidaknya aku melakukan hal yang seharusnya kamu lakuin 8 tahun yang lalu. Aku tidak boleh mengambilnya, meskipun aku suka. Tapi dia bukan milikku. Dia milik orang lain. Apalagi milik sahabatku.” Ujar Rere “Kok malah bahas masalah boneka itu? oke. Aku minta maaf masalah boneka itu. Jujur, waktu itu aku suka banget sama boneka itu. Tapi kamu tidak tahu betapa aku merasa bersalah saat mengambilnya.” Jelas Zeze “Dan itu yang akan aku rasakan saat mengambil Vino saat itu. sudahlah, lupakan. Itu sudah berlalu. Yang penting aku senang ada kau disini” ujar Rere kemudian memeluk Zeze “Aku akan ada untukmu” ujar Rere “Me too” jawab Zeze


###

Tidak ada komentar: