Seorang
cewek sedang duduk di bangku kelasnya. Dia sedang melamun. Di kelas, tinggl dia
sendiri. Teman-temannya sudah pulang semua *Flashback on* “Aku
cinta kamu, Fika. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya seorang cewek sambil mengutarakan
perasaannya. “Tapi kan… kita sama-sama perempuan.” Jawab cewek yang satunya
yang bernama Fika “Aku tau kok, ini gak wajar. Tapi cinta kan buta. Jadi gak
mandang gender, usia, status sosial, jarak dan hal seperti itu.” Jelas cewek
yang mengutarakan perasaannya tadi “Tapi Shalsa…” Fika masih ragu “Aku janji,
aku akan melindungimu. Dan akan mencintaimu selamanya.” Cewek yang ternyata
bernama Shalsa itupun berjanji. Fikapun mengangguk. Shalsapun memeluknya dengan
erat. *Flashback off* “Sudah 5 bulan kita berpacaran…” Gumam Shalsa
“Sayang!
Kok kamu belum pulang?” Tanya Fika yang melihat Shalsa sendirian dalam kelas
“Gak kok. Gak kenapa-kenapa.” Jawab Shalsa “Kita ke rumahmu ya sayang…” Ujar
Fika dan Shalsa mengangguk kepadanya sambil tersenyum. Merekapun menuju ke
rumah Shalsa yang berdekatan dengan sekolah mereka. Fikapun memegang tangan
Shalsa “Jangan! Ini kan dimuka umum.” Protes Shalsa “Ayolah sayang. Kalau
sama-sama cewek yang pegangan tangan, dianggap wajar kok.” Fika menenangkan
Shalsa.
Sesampai
dirumah Shalsa, Shalsa langsung membuka pintu dan masuk ke rumahnya “Ma! Aku
pulang!” Teriak Shalsa “Ya!” Saut Mamanya dari dalam dapur. Merekapun melepas
sepatu mereka dan naik ke tingkat dua. Karena kamar Shalsa ada di tingkat dua.
Mereka berduapun masuk ke kamar Shalsa. “Sayang?” Tanya Fika “Ya sayang?” Tanya
Shalsa balik “Gak ada yang tau tentang hubungan kita kan?” Tanya Fika ke Shalsa
sambil menggemgam erat tangan Shalsa “Iya. Gak ada.” Jawab Shalsa “Yakin?”
tanya Fika lagi kemudian mendekatkan mukanya dengan muka Shalsa “Iya” jawab
Shalsa kemudian memejamkan matanya. Fikapun mencium bibirnya.
Setelah itu mereka mengobrol dengan sangat lama. Waktu sudah menunjukkan jam 4
sore. Fikapun pamit pulang. Setelah Fika pergi, Mama Shalsa naik ke kamar
Shalsa “Shalsa!!” Seru Mamanya “Ya Ma? Kenapa?” Tanya Shalsa “Lo ada hubungan
apa sih dengan si Fika?” Tanya Mamanya “Gak ada Mama. Mama apaan sih, Gak
mungkin gue pacaran dengan dia. Kan sama-sama cewek.” Ujar Shalsa mencoba
tenang. Mamanyapun pergi dari kamar Shalsa ‘ada apaan sih ini?
Apa mama curiga?’ tanya Shalsa dalam hati. Shalsapun mencoba untuk
menenangkan pikirannya. ‘Maafkan aku Ma. Aku
tau ini salah.’ Gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya, mereka berdua janjian di taman sekolah “Hai sayang!” sapa
Fika “Hai juga sayang…” jawab Shalsa “Kok muka lo kusut gitu?” tanya Fika “Gak
papa kok.” Jawab Shalsa “Ntar aku ke rumah kamu lagi ya,” ujar Fika “Terserah
kamu sayang” jawab Shalsa dan Fikapun tersenyum padanya. “I love you Shalsa.
You are the one baby…” ujar Fika ke Shalsa dan si Shalsa mencium pipi Fika.
Setelah sepulang sekolah, merekapun ke rumah Shalsa lagi dan langsung naik ke
kamar. Fikapun mendekati Shalsa “Shalsa…” ujar Fika dengan nada yang agak
menggoda “Kamu kenapa sayang?” tanya Shalsa “Shalsa…” ujar Fika lagi kemudian
mendekatkan mukanya ke muka Shalsa “perang bibir yuuukk…” ujarnya lagi kemudian
menempelkan bibirnya ke bibir Shalsa. Shalsa tercengang melihat hal itu. dia
tak tau harus berbuat apa. Dia hanya bisa terdiam. Fikapun mulai melumat bibir
Shalsa dengan lembut. Dan si Shalsa mulai terbiasa dengan lumatan di bibirnya
dan mencoba untuk membalas. Dan akhirnya lumatan lembut itu menjadi ciuman
ganas dan bergairah. Tanpa
mereka ketahui, ternyata mamanya Shalsa sedang mengintip lewat lobang kunci di
pintu kamar Shalsa
Fikapun menuntun tangan Shalsa menuju gunung-gunung indah miliknya itu “Remas
itu sayang!” seru Fika dan kemudian melanjutkan ciuman mereka. Shalsapun
meremas gunung-gunung milik Fika. Fikapun mengerang “aaargh… enak sayangku.”
Kemudian Fika membaringkan Shalsa dan menindihnya. Fikapun menggoyang-goyangkan
badannya. Fikapun mulai melepas kancingnya satu persatu. Dan tiba-tiba Shalsa
melepaskan ciumannya dan menghindari Fika. “Maaf. Aku gak bisa” ujar Shalsa
“Kenapa sayang?” tanya Fika sambil mencium pipinya “Aku takut.” Jawab Shalsa.
Fikapun menurutinya. “Maaf ya…” Fika merasa bersalah “Iya. Gak papa.” Jawab
Shalsa sambil tersenyum “Aku pulang dulu ya…” Ujar Fika pamit ke Shalsa dan
Shalsapun mengangguk. Kemudian mengantar Fika sampai pintu gerbang.
Shalsapun masuk ke kamarnya. Dia gelisah, dia takut kalau mamanya mengetahui
hal itu. Dia tau mamanya akan marah besar kalau tahu hal itu. Dia yakin mamanya
akan menuju ke kamarnya. Tapi mamanya tak kunjung datang untuk memarahi Shalsa.
Malam harinya, dia mencari mamanya. Tapi tak ada dirumah. Diapun tenang dan
berpikir mungkin mama tidak ada dirumah. Diapun naik ke kamarnya lagi dan
mencoba untuk tertidur.
Keesokan harinya, Shalsa terbangun dan mendapati dia sudah ada diluar rumahnya.
Bersama barang-barang, dan baju-bajunya yang terisi dalam kopernya. Diapun
heran, dia mengetuk-ngetuk pintu “Ma! Bukain pintunya Ma! Ini apaan sih?”
ujarnya sambil mengetuk-ngetuk pintu “Kamu bukan anak mama. Mama gak punya anak
yang lesbi seperti kamu!” teriak mamanya dari dalam. Bagaikan petir, kata-kata
dari mamanya barusan, menyambar hati Shalsa. Shalsapun menangis dan pergi meninggalkan
rumah.
Di jalan dia bertemu dengan Fika. “Fika!!” Sapa Shalsa dari kejauhan. Fikapun
menoleh kebelakang dan mencari tahu siapa yang memanggilnya “Sayang? Kamu kok
gak skolah?” tanya Fika ke Shalsa. Shalsapun memeluk Fika sambil menangis “Yuk
kita kabur sayang. Mama aku sudah tau hubungan kita. Dan aku yakin mama aku
bakal nyari kamu.” Seru Shalsa ke Fika “Trus kita lari kemana sayang?” tanya
Fika “Suatu tempat yang terpencil.” Jawab Shalsa.
Fikapun mencium bibir Shalsa “Aku tau kemana kita harus pergi.” Ujar Fika
“Kemana sayang?” Tanya Shalsa “ikutin saja aku.” Jawab Fika. Fikapun memanggil
taxi dan menyebutkan tempat tujuan mereka yang dimaksud Fika. “Semua akan
baik-baik saja. Oke? Gak usah nangis. Everything is gonna be oke baby...” Fika
menenangkan Shalsa.
Dan setelah 1 jam 35 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang di
maksud Fika. Fikapun menutup mata Shalsa dan menuntun Shalsa ke tempat yang
ingin dia kasih lihat. “Jangan dulu dilihat ya sayang...” ujar Fika “Iya
sayang.” Jawab Shalsa. Merekapun berjalan beberapa langkah “Sekarang buka mata
kamu!” Seru Fika. Shalsapun membuka matanya “Ini... ini kan...” Shalsa
tak bisa berkata apa-apa. Ini adalah Danau yang sangat ingin mereka berdua kunjungi
dari dulu “Disini, kita bebas sayang” ujar Fika kemudian memeluk Shalsa erat “I
love you Fika” ujar Shalsa “Love you too.” Balas Fika kemudian mereka
berciuman.
Shalsapun melepaskan ciumannya “Apa ini tak boleh?” tanya Shalsa “Apa yang tak
boleh Fika sayang?” Fika bertanya balik “Hubungan kita. Apa ini tak boleh
Fika?” Tanya Shalsa lagi “Sebenarnya boleh. Tapi tak wajar sayang...” jawab
Fika “Fika...” Ujar Shalsa kemudian memeluk Fika dengan sangat erat.
“Ayolah sayang. Tak ada yang harus dipikirkan. Sekarang tinggal kita berdua
disini. Tak akan ada lagi yang menentang.” Ujar Fika “Maafkanlah cinta kita ini
yang tak terkabul Tuhan...” Fika berdoa. Merekapun menuju ke tepian danau.
Disana ada perahu. “Kita naik perahu yuk sayang!” ujar Fika “Yuk sayang.” Ujar
Shalsa sambil mengangguk. Merekapun naik keatas perahu. Fikapun mendayung
perahu tersebut “Disini pemandangannya indah ya...” ujar Shalsa “Akhirnya kita
bisa mendatangi tempat ini bersama ya sayang” ujarnya lagi “Aku sangat bahagia
sayang.” Ujarnya lagi.
“Kamu pasti capek ya sayang.” Ujar Shalsa, diapun memeluk Fika dari belakang
dan tanpa sengaja memegang gunungnya “Maaf sayang. Aku gak sengaja.” Shalsa
meminta maaf “Kamu menggodaku ya?” Tanya Fika “Gak sayang. Aku minta maaf.”
Ujar Shalsa sambil meminta maaf lagi “Ayo. Remas lagi ini!” ujar Fika sambil
menunjuk gunungnya itu “Aku tau kau mau sayang...” ujar Fika “Apa kau mau kita
melakukannya disini?” tanya Fika dengan nada mengganggu “jangan sayang. Nanti
kita tenggelam.” Jawab Shalsa “Baguslah. Kita buat film Titanic versi kita. Dan
sekarang adalah adegan di mobil-mobil.” Ujar Fika lagi “Sayang jangan ah!” seru
Shalsa “Aaah iyaiya. Aku Cuma bercanda sayang.” Ujar Fika kemudian mencium
bibir Shalsa.
Merekapun kembali ke daratan. “Ayo kita tidur!” Ajak Fika ke Shalsa “Iya
sayang. Aku tau kamu capek. Jadi gak ada goyang goyangan ya..” ujar Shalsa
kemudian tidur di karpet yang tersedia di kopernya. “Kamu bisa aja!” ujar Fika.
Merekapun mencoba untuk tertidur. ‘Tuhan? Aku tahu ini
tak wajar. Tapi sungguh... aku tak bisa dengan orang lain. Apakah ini tak
boleh?’ tanya Shalsa dalam hatinya sebelum akhirnya dia tertidur.
Keesokan harinya... mereka terbangun karena suara orang ribut. Dan ternyata itu
adalah orang tua mereka sendiri. “Itu pasti salah anak kamu! Pasti anak kamu
yang membuat anakku jadi lesbi seperti ini!” Ujar Mamanya Shalsa “Apa? Anak
aku? Mungkin saja anakmu yang kegatalan.” Protes Mamanya Fika tak terima senang
dengan apa yang dibilang mamanya Shalsa. “Pokoknya saya gak mau tau. Jauhin
anak kamu dari anak aku! Dasar keluarga lesbi!” Umpat Mamanya Shalsa ke Mamanya
Fika. Mereka saling menuduh dan mengumpat satu sama lain.
“Hentikan! Ini semua salah aku. Aku lah yang menyukai Shalsa duluan. Dan aku
yang membuatnya jadi begini. Dan merayunya untuk bercinta denganku di kamar
Shalsa waktu itu.” Fika mengaku salah didepan orangtuanya dan didepan mamanya
Shalsa “Cih! Sudah kuduga.” Ujar mamanya Shalsa sambil tersenyum “Apa kamu
gila?” Mamanya Fika sama sekali tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh
anaknya sendiri.
“Kamu salah Fika! Itu tidak seperti itu! Akulah yang salah! Seandainya aku tak
menerima cintanya. Pasti gak akan jadi seperti ini. Akulah yang salah. Karena
aku tak menentangnya meskipun tau ini salah. Dan aku hanya mau-mau saja saat
dia mengajakku untuk bercinta” jelas Shalsa “Fika tak salah sedikitpun. Akulah
yang salah karena aku melayaninya. Seandainya tidak. Dia pasti bisa menahan
nafsunya.” Shalsa membela Fika.
“Sayang?” Fika terharu “Seandainya saja waktu Fika mengutarakan perasaannya
padaku, aku menamparnya dan pergi meninggalkannya. Pasti tak akan jadi begini.
Jadi sayalah yang salah.” Ujar Shalsa “Maafkan aku sayang...” ujar Shalsa
meminta maaf kepada Fika “Aku tau, cinta itu buta. Tidak memperdulikan
segalanya. Dan aku juga tau ini tak wajar. Karena melanggar kodrat manusia. Aku
tak tau harus berpihak ke yang mana. Aku tak tahu. Aku menyayangi Fika. Dan aku
tahu cinta ini tak akan terkabul meski harus memohon seperti apapun juga.”
Jelas Shalsa.
“Apa yang kamu katakan Sa?” Mamanya Shalsa tak tau harus berbuat apa lagi
“Seandainya ini tak dilarang, kita pasti bisa terikat dalam ikatan cinta. Tapii
sayang, itu hanyalah sebuah mimpi. Nyatanya, cinta ini sampai kapanpun takkan
terkabul. Dan kita hanya bisa menyembunyikannya dalam hati. Aku hanya bisa
berharap kepada takdir yang kejam ini berserah diri... karena cinta kita ini
yang terlarang.” Jelas Shalsa lagi
“Mama? Terima kasih telah melahirkanku. Terima kasih telah membesarkanku.
Terima kasih atas segalanya. Maafkan aku, karena aku membuat mama kecewa. Dan
Fika? Maafkan aku. Aku sayang padamu dan kamu juga sayang. Tapi kita tidak akan
pernah bisa bersatu. Dan mungkin aku yang seharusnya pergi. Mama, aku mohon
jangan menyalahkan Fika lagi. Karna akulah yang salah, maafkan aku Fika.” Ujar
Shalsa lagi kemudian mengambil pisau dari dalam kopernya dan membunuh dirinya
sendiri dengan menusuk jantungnya.
“Shalsaaa!” Pekik Fika histeris “Anakku!” Mamanya Shalsa tak bisa berkata
apa-apa “Maafkan aku.... Ma” ucap Shalsa sebelum akhirnya menghembuskan nafas
terakhirnya. Mamanya Shalsapun memeluk Shalsa yang telah bunuh diri itu. Fika
hanya bisa menangis. Fika meminta maaf kepada mamanya Shalsa berulang-ulang
kali. Sedangkan Mamanya Fika tak tau harus berbuat apa. Mamanya Shalsapun
memaafkan Fika. Dan mereka membawa Shalsa ke rumah sakit. tapi sayangnya itu Shalsa
sudah tak tertolong. Mamanya Shalsapun menganggap Fika sebagai anaknya dan
hidup tenang dengan keluarga Fika.
“Maafkan
aku.... Ma” ucap Shalsa sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.