Selasa, 23 Juni 2015

Yang tak sewajarnya...

Seorang cewek sedang duduk di bangku kelasnya. Dia sedang melamun. Di kelas, tinggl dia sendiri. Teman-temannya sudah pulang semua *Flashback on* “Aku cinta kamu, Fika. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya seorang cewek sambil mengutarakan perasaannya. “Tapi kan… kita sama-sama perempuan.” Jawab cewek yang satunya yang bernama Fika “Aku tau kok, ini gak wajar. Tapi cinta kan buta. Jadi gak mandang gender, usia, status sosial, jarak dan hal seperti itu.” Jelas cewek yang mengutarakan perasaannya tadi “Tapi Shalsa…” Fika masih ragu “Aku janji, aku akan melindungimu. Dan akan mencintaimu selamanya.” Cewek yang ternyata bernama Shalsa itupun berjanji. Fikapun mengangguk. Shalsapun memeluknya dengan erat. *Flashback off*  “Sudah 5 bulan kita berpacaran…” Gumam Shalsa

“Sayang! Kok kamu belum pulang?” Tanya Fika yang melihat Shalsa sendirian dalam kelas “Gak kok. Gak kenapa-kenapa.” Jawab Shalsa “Kita ke rumahmu ya sayang…” Ujar Fika dan Shalsa mengangguk kepadanya sambil tersenyum. Merekapun menuju ke rumah Shalsa yang berdekatan dengan sekolah mereka. Fikapun memegang tangan Shalsa “Jangan! Ini kan dimuka umum.” Protes Shalsa “Ayolah sayang. Kalau sama-sama cewek yang pegangan tangan, dianggap wajar kok.” Fika menenangkan Shalsa.

Sesampai dirumah Shalsa, Shalsa langsung membuka pintu dan masuk ke rumahnya “Ma! Aku pulang!” Teriak Shalsa “Ya!” Saut Mamanya dari dalam dapur. Merekapun melepas sepatu mereka dan naik ke tingkat dua. Karena kamar Shalsa ada di tingkat dua. Mereka berduapun masuk ke kamar Shalsa. “Sayang?” Tanya Fika “Ya sayang?” Tanya Shalsa balik “Gak ada yang tau tentang hubungan kita kan?” Tanya Fika ke Shalsa sambil menggemgam erat tangan Shalsa “Iya. Gak ada.” Jawab Shalsa “Yakin?” tanya Fika lagi kemudian mendekatkan mukanya dengan muka Shalsa “Iya” jawab Shalsa kemudian memejamkan matanya. Fikapun mencium bibirnya.

            Setelah itu mereka mengobrol dengan sangat lama. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Fikapun pamit pulang. Setelah Fika pergi, Mama Shalsa naik ke kamar Shalsa “Shalsa!!” Seru Mamanya “Ya Ma? Kenapa?” Tanya Shalsa “Lo ada hubungan apa sih dengan si Fika?” Tanya Mamanya “Gak ada Mama. Mama apaan sih, Gak mungkin gue pacaran dengan dia. Kan sama-sama cewek.” Ujar Shalsa mencoba tenang. Mamanyapun pergi dari kamar Shalsa ‘ada apaan sih ini? Apa mama curiga?’ tanya Shalsa dalam hati. Shalsapun mencoba untuk menenangkan pikirannya. ‘Maafkan aku Ma. Aku tau ini salah.’ Gumamnya dalam hati.

            Keesokan harinya, mereka berdua janjian di taman sekolah “Hai sayang!” sapa Fika “Hai juga sayang…” jawab Shalsa “Kok muka lo kusut gitu?” tanya Fika “Gak papa kok.” Jawab Shalsa “Ntar aku ke rumah kamu lagi ya,” ujar Fika “Terserah kamu sayang” jawab Shalsa dan Fikapun tersenyum padanya. “I love you Shalsa. You are the one baby…” ujar Fika ke Shalsa dan si Shalsa mencium pipi Fika.

            Setelah sepulang sekolah, merekapun ke rumah Shalsa lagi dan langsung naik ke kamar. Fikapun mendekati Shalsa “Shalsa…” ujar Fika dengan nada yang agak menggoda “Kamu kenapa sayang?” tanya Shalsa “Shalsa…” ujar Fika lagi kemudian mendekatkan mukanya ke muka Shalsa “perang bibir yuuukk…” ujarnya lagi kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Shalsa. Shalsa tercengang melihat hal itu. dia tak tau harus berbuat apa. Dia hanya bisa terdiam. Fikapun mulai melumat bibir Shalsa dengan lembut. Dan si Shalsa mulai terbiasa dengan lumatan di bibirnya dan mencoba untuk membalas. Dan akhirnya lumatan lembut itu menjadi ciuman ganas dan bergairah. Tanpa mereka ketahui, ternyata mamanya Shalsa sedang mengintip lewat lobang kunci di pintu kamar Shalsa


            Fikapun menuntun tangan Shalsa menuju gunung-gunung indah miliknya itu “Remas itu sayang!” seru Fika dan kemudian melanjutkan ciuman mereka. Shalsapun meremas gunung-gunung milik Fika. Fikapun mengerang “aaargh… enak sayangku.” Kemudian Fika membaringkan Shalsa dan menindihnya. Fikapun menggoyang-goyangkan badannya. Fikapun mulai melepas kancingnya satu persatu. Dan tiba-tiba Shalsa melepaskan ciumannya dan menghindari Fika. “Maaf. Aku gak bisa” ujar Shalsa “Kenapa sayang?” tanya Fika sambil mencium pipinya “Aku takut.” Jawab Shalsa. Fikapun menurutinya. “Maaf ya…” Fika merasa bersalah “Iya. Gak papa.” Jawab Shalsa sambil tersenyum “Aku pulang dulu ya…” Ujar Fika pamit ke Shalsa dan Shalsapun mengangguk. Kemudian mengantar Fika sampai pintu gerbang.

            Shalsapun masuk ke kamarnya. Dia gelisah, dia takut kalau mamanya mengetahui hal itu. Dia tau mamanya akan marah besar kalau tahu hal itu. Dia yakin mamanya akan menuju ke kamarnya. Tapi mamanya tak kunjung datang untuk memarahi Shalsa. Malam harinya, dia mencari mamanya. Tapi tak ada dirumah. Diapun tenang dan berpikir mungkin mama tidak ada dirumah. Diapun naik ke kamarnya lagi dan mencoba untuk tertidur.

            Keesokan harinya, Shalsa terbangun dan mendapati dia sudah ada diluar rumahnya. Bersama barang-barang, dan baju-bajunya yang terisi dalam kopernya. Diapun heran, dia mengetuk-ngetuk pintu “Ma! Bukain pintunya Ma! Ini apaan sih?” ujarnya sambil mengetuk-ngetuk pintu “Kamu bukan anak mama. Mama gak punya anak yang lesbi seperti kamu!” teriak mamanya dari dalam. Bagaikan petir, kata-kata dari mamanya barusan, menyambar hati Shalsa. Shalsapun menangis dan pergi meninggalkan rumah.

            Di jalan dia bertemu dengan Fika. “Fika!!” Sapa Shalsa dari kejauhan. Fikapun menoleh kebelakang dan mencari tahu siapa yang memanggilnya “Sayang? Kamu kok gak skolah?” tanya Fika ke Shalsa. Shalsapun memeluk Fika sambil menangis “Yuk kita kabur sayang. Mama aku sudah tau hubungan kita. Dan aku yakin mama aku bakal nyari kamu.” Seru Shalsa ke Fika “Trus kita lari kemana sayang?” tanya Fika “Suatu tempat yang terpencil.” Jawab Shalsa.

            Fikapun mencium bibir Shalsa “Aku tau kemana kita harus pergi.” Ujar Fika “Kemana sayang?” Tanya Shalsa “ikutin saja aku.” Jawab Fika. Fikapun memanggil taxi dan menyebutkan tempat tujuan mereka yang dimaksud Fika. “Semua akan baik-baik saja. Oke? Gak usah nangis. Everything is gonna be oke baby...” Fika menenangkan Shalsa.

            Dan setelah 1 jam 35 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang di maksud Fika. Fikapun menutup mata Shalsa dan menuntun Shalsa ke tempat yang ingin dia kasih lihat. “Jangan dulu dilihat ya sayang...” ujar Fika “Iya sayang.” Jawab Shalsa. Merekapun berjalan beberapa langkah “Sekarang buka mata kamu!” Seru Fika. Shalsapun membuka matanya “Ini... ini kan...”  Shalsa tak bisa berkata apa-apa. Ini adalah Danau yang sangat ingin mereka berdua kunjungi dari dulu “Disini, kita bebas sayang” ujar Fika kemudian memeluk Shalsa erat “I love you Fika” ujar Shalsa “Love you too.” Balas Fika kemudian mereka berciuman.

            Shalsapun melepaskan ciumannya “Apa ini tak boleh?” tanya Shalsa “Apa yang tak boleh Fika sayang?” Fika bertanya balik “Hubungan kita. Apa ini tak boleh Fika?” Tanya Shalsa lagi “Sebenarnya boleh. Tapi tak wajar sayang...” jawab Fika “Fika...” Ujar Shalsa kemudian memeluk Fika dengan sangat erat.

            “Ayolah sayang. Tak ada yang harus dipikirkan. Sekarang tinggal kita berdua disini. Tak akan ada lagi yang menentang.” Ujar Fika “Maafkanlah cinta kita ini yang tak terkabul Tuhan...” Fika berdoa. Merekapun menuju ke tepian danau. Disana ada perahu. “Kita naik perahu yuk sayang!” ujar Fika “Yuk sayang.” Ujar Shalsa sambil mengangguk. Merekapun naik keatas perahu. Fikapun mendayung perahu tersebut “Disini pemandangannya indah ya...” ujar Shalsa “Akhirnya kita bisa mendatangi tempat ini bersama ya sayang” ujarnya lagi “Aku sangat bahagia sayang.” Ujarnya lagi.

            “Kamu pasti capek ya sayang.” Ujar Shalsa, diapun memeluk Fika dari belakang dan tanpa sengaja memegang gunungnya “Maaf sayang. Aku gak sengaja.” Shalsa meminta maaf “Kamu menggodaku ya?” Tanya Fika “Gak sayang. Aku minta maaf.” Ujar Shalsa sambil meminta maaf lagi “Ayo. Remas lagi ini!” ujar Fika sambil menunjuk gunungnya itu “Aku tau kau mau sayang...” ujar Fika “Apa kau mau kita melakukannya disini?” tanya Fika dengan nada mengganggu “jangan sayang. Nanti kita tenggelam.” Jawab Shalsa “Baguslah. Kita buat film Titanic versi kita. Dan sekarang adalah adegan di mobil-mobil.” Ujar Fika lagi “Sayang jangan ah!” seru Shalsa “Aaah iyaiya. Aku Cuma bercanda sayang.” Ujar Fika kemudian mencium bibir Shalsa.

            Merekapun kembali ke daratan. “Ayo kita tidur!” Ajak Fika ke Shalsa “Iya sayang. Aku tau kamu capek. Jadi gak ada goyang goyangan ya..” ujar Shalsa kemudian tidur di karpet yang tersedia di kopernya. “Kamu bisa aja!” ujar Fika. Merekapun mencoba untuk tertidur. ‘Tuhan? Aku tahu ini tak wajar. Tapi sungguh... aku tak bisa dengan orang lain. Apakah ini tak boleh?’ tanya Shalsa dalam hatinya sebelum akhirnya dia tertidur.
           
            Keesokan harinya... mereka terbangun karena suara orang ribut. Dan ternyata itu adalah orang tua mereka sendiri. “Itu pasti salah anak kamu! Pasti anak kamu yang membuat anakku jadi lesbi seperti ini!” Ujar Mamanya Shalsa “Apa? Anak aku? Mungkin saja anakmu yang kegatalan.” Protes Mamanya Fika tak terima senang dengan apa yang dibilang mamanya Shalsa. “Pokoknya saya gak mau tau. Jauhin anak kamu dari anak aku! Dasar keluarga lesbi!” Umpat Mamanya Shalsa ke Mamanya Fika. Mereka saling menuduh dan mengumpat satu sama lain.

            “Hentikan! Ini semua salah aku. Aku lah yang menyukai Shalsa duluan. Dan aku yang membuatnya jadi begini. Dan merayunya untuk bercinta denganku di kamar Shalsa waktu itu.” Fika mengaku salah didepan orangtuanya dan didepan mamanya Shalsa “Cih! Sudah kuduga.” Ujar mamanya Shalsa sambil tersenyum “Apa kamu gila?” Mamanya Fika sama sekali tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh anaknya sendiri.

            “Kamu salah Fika! Itu tidak seperti itu! Akulah yang salah! Seandainya aku tak menerima cintanya. Pasti gak akan jadi seperti ini. Akulah yang salah. Karena aku tak menentangnya meskipun tau ini salah. Dan aku hanya mau-mau saja saat dia mengajakku untuk bercinta” jelas Shalsa “Fika tak salah sedikitpun. Akulah yang salah karena aku melayaninya. Seandainya tidak. Dia pasti bisa menahan nafsunya.” Shalsa membela Fika.
           
            “Sayang?” Fika terharu “Seandainya saja waktu Fika mengutarakan perasaannya padaku, aku menamparnya dan pergi meninggalkannya. Pasti tak akan jadi begini. Jadi sayalah yang salah.” Ujar Shalsa “Maafkan aku sayang...” ujar Shalsa meminta maaf kepada Fika “Aku tau, cinta itu buta. Tidak memperdulikan segalanya. Dan aku juga tau ini tak wajar. Karena melanggar kodrat manusia. Aku tak tau harus berpihak ke yang mana. Aku tak tahu. Aku menyayangi Fika. Dan aku tahu cinta ini tak akan terkabul meski harus memohon seperti apapun juga.” Jelas Shalsa.

            “Apa yang kamu katakan Sa?” Mamanya Shalsa tak tau harus berbuat apa lagi “Seandainya ini tak dilarang, kita pasti bisa terikat dalam ikatan cinta. Tapii sayang, itu hanyalah sebuah mimpi. Nyatanya, cinta ini sampai kapanpun takkan terkabul. Dan kita hanya bisa menyembunyikannya dalam hati. Aku hanya bisa berharap kepada takdir yang kejam ini berserah diri... karena cinta kita ini yang terlarang.” Jelas Shalsa lagi

            “Mama? Terima kasih telah melahirkanku. Terima kasih telah membesarkanku. Terima kasih atas segalanya. Maafkan aku, karena aku membuat mama kecewa. Dan Fika? Maafkan aku. Aku sayang padamu dan kamu juga sayang. Tapi kita tidak akan pernah bisa bersatu. Dan mungkin aku yang seharusnya pergi. Mama, aku mohon jangan menyalahkan Fika lagi. Karna akulah yang salah, maafkan aku Fika.” Ujar Shalsa lagi kemudian mengambil pisau dari dalam kopernya dan membunuh dirinya sendiri dengan menusuk jantungnya.
           
            “Shalsaaa!” Pekik Fika histeris “Anakku!” Mamanya Shalsa tak bisa berkata apa-apa “Maafkan aku.... Ma” ucap Shalsa sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Mamanya Shalsapun memeluk Shalsa yang telah bunuh diri itu. Fika hanya bisa menangis. Fika meminta maaf kepada mamanya Shalsa berulang-ulang kali. Sedangkan Mamanya Fika tak tau harus berbuat apa. Mamanya Shalsapun memaafkan Fika. Dan mereka membawa Shalsa ke rumah sakit. tapi sayangnya itu Shalsa sudah tak tertolong. Mamanya Shalsapun menganggap Fika sebagai anaknya dan hidup tenang dengan keluarga Fika.

“Maafkan aku.... Ma” ucap Shalsa sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Minggu, 07 Juni 2015

Ingatan itu... (Cinta pertamaku... dia?)



“Kamu kenapa?” Tanya seorang anak laki-laki kecil yang melihat seorang anak perempuan menangis “Mama dan Papa aku mau cerai. Aku tak mau. Jadi aku kabur dari rumah.” Jawab anak perempuan itu “Kasian ya… Sudah! Gak usah menangis.” Anak laki-laki itu menenangkannya “Bagaimana aku gak nangis disaat orang tua aku ingin pisah.” Ujar anak perempuan tersebut “Iyaiya. Aku mengerti! Nama aku Felix. Nama kamu siapa?” Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Felix “Nama aku Ang…” Jawabnya terpotong karena ada  suara orang lain “Felix! Kamu dimana nak? Ayo kita pulang!” Begitulah suara yang terdengar “Itu mama aku. Aku harus pulang. Kamu yang sabar ya. Aku pulang dulu. Dadah~” Ujar Felix sambil meninggalkan anak perempuan itu.
Ingatan itu…

“Lo tau kan? Dia orangnya sok sok an banget. Sombong banget lagi. Padahal dia itu masih kecil, eeh malah pandang enteng seniornya. Kayak yang gak ada sopan santun gitu.” Ujar seorang cowok kepada temannya sambil berjalan “Orang tuanya siapa sih? Punya anak kayak yang gak pernah diajar. Trus suka banget ngehina orang. Emangnya dia sudah sempurna ya? Sampai ngehina-hina orang” Ujarnya lagi “Orangtuanya juga udah dipanggil panggil ama bidang kesiswaan. Tapi gak datang-datang” Ujarnya lagi “Felix! Udah deh! Gak usah ngomongin orang.” Ujar temannya dengan nada kesal “Gue tau Fa’iz! Tapi kan…” ujar cowok tersebut menggantung yang ternyata bernama Felix “Tapi apa?” Tanua temannya yang ternyata bernama Fa’iz “sudahlah. Lupakan saja! Gue mau ke ruang guru. Gue baru ingat kalo gue dipanggil bu Desy tadi. Gue cabut dulu ya…” ujar Felix “Oke!” jawab Fa’iz singkat.
Felixpun meninggalkan Fa’iz yang mau ke kantin dan berbalik arah berlari menuju ruang guru. Saking buru-burunya diapun menabrak seorang cewek “Aduh! Sorry ya! Gue gak sengaja!” Felix meminta maaf sama cewek itu “Iyaiya. Gue gak papa. Lain kali, pake tu mata *Nunjuk mata*” ujar cewek itu “Iyaiya.” Jawab Felix singkat “Hmm,, sebenarnya gue gak mau bilang ini, tapi gue sengan bertemu dengan lo. Lo mau gak jadi teman gue?” tanya Felix ke cewek tersebut “Gue? Jadi teman lo? Lo pikir gue apaan sih?” Jawab cewek tersebut sambil memasang muka sangar “Tapi… kalau dipikir-pikir, gue gak keberatan kok kalau berteman dengan lo” ujarnya lagi dengan pipi yang memerah “Gue felix”, Felix memberitahu namanya.
“Hn, gue… Anggun” cewek tersebut memberitahu namanya juga sambil menarik tangan Felix, “Lo ngapain sih pegang-pegang!!! Emang gue apaan?” Felix marah saat tangannya dipegang Anggun “Ke-ge’er-an banget sih lo jadi cowok! Gue Cuma mau jabat tangan lo. Kan kalau berkenalan harus jabat tangan. Emang gue terlihat semurah itu? Sampai harus memegang-megang tanganmu sembarangan. Sorry ya! Gue bukan gadis seperti itu.” jelas Anggun kemudian pergi meninggalkan Felix.
“Itu cewek kenapa sih? Lagi dapet mungkin… Mukanya kalau sangar bikin takut orang. Trus kata-katanya juga pedas. Cih!!! Apaan tuh? Tadi bilang kalau gak mau jadi teman gue. Eeeh langsung berubah pikiran trus pipinya Blushing lagi. Mau dia Anggun kek! Anggi kek! Anggraini kek! Anggaran Negara kek! Gue gak peduli.” Ujar Felix kesal sambil terus berlari menuju ruang guru “Tapi kenapa yah, dada gue kayak berat banget waktu ketemu dia tadi” gumamnya.
‘Rese’ banget tuh cowok!’ umpat Anggun dalam hati “Anggun!!!” seseorang memanggil Anggun dari kejauhan. Anggun mencari darimana asal suara tersebut. Dan ternyata itu gurunya yang bernama Bu Desy “Kenapa bu?” tanya Anggun “Kamu ikut ibu ke ruang guru ya… ada yang ibu mau kasih tau.” Kata ibu Desy “Ohiya ibu.” Anggun mengiyakan dan mengikuti ibu Desy ke ruang guru.
Sesampainya di ruang guru, Anggun melihat Felix “Ngapain lo disini!?” Tanya Anggun “Gue yang seharusnya tanya, ngapain lo disini!” Felix bertanya balik “Udah ah! Kok malah berantem! Jadi kalian sudah saling kenal ya? Aduuh… syukurlah. Karena kalian berdua dipilih menjadi Pasangan putra putri sekolah kita.” Ujar Bu Desy “APA!? Pasangan Putra Putri!?” Tanya mereka kompak “Iya. Jadi kalian berdua akan jadi Image penting sekolah kita.” Tambah Bu Desy “Kenapa harus dia!?” Tanya Anggun “Iya bu! Kenapa harus dia? Apa gak ada yang lebih cantik lagi?” Tanya Felix “Yang lebih cantik? Hello… gue yang paling cantik disini. Tapi kenapa harus lo sih? Ibu? Apa  gak ada yang lebih macho? Kok malah milih yang cerewet gitu?” Mereka saling beradu mulut “Pokoknya ibu tidak mau tau. Kalian harus bisa saling mengerti. Dan karena kalian adalah pasangan putra putri di sekolah kita, kalian harus memberikan contoh yang baik bagi siswa lain. Dan kalian berdua harus akur. Lebih bagusnya lagi, kalian berdua harus saling memberi perhatian” jelas Bu Desy kepada mereka berdua.
“Gue pasti gila!” Umpat Anggun pada dirinya sendiri sambil berjalan di koridor “Ya! Lo memang gila! Syukur deh, kalau lo sadar. Gue kira lo gak bakal nyadar. Gue masih heran, kenapa gue harus terpilih hal-hal yang konyol kayak gini sih?” Pekik Rio dengan nada kesal “Dan yang lebih gue heran, kenapa harus lo sih! Kenapa bukan Cindy? Atau Dea? Atau Andini? Kenapa harus kamu?” Tanya Rio “Cerewet banget sih! Bisa diam gak! Lo mau mati ya?” Anggun yang jengkel dengan kelakuan Riopun menjauhi Rio ‘Emang dia kira dia sehebat apa? Sampai harus ngerendahin gue!’ batin Anggun dalam hati.
Keesokan harinya… “Heh! Anggun! Kita dipanggilin bu Desy tuh!” Ujar Felix “Gak mau ah.” Anggun menolak “Gue punya firasat buruk nih.” Ujar Anggun “Tapi kan, kita dipanggil.” Felix memaksa “Tapi kan, gue gak mau” Anggun masih tidak mau “Katanya ada sesuatu yang mau dia bilang ke kita” “yaudah deh” Akhirnya Anggun mau. Merekapun pergi menuju ruang guru untuk menghadap Bu Desy “Lo jangan ngapa-ngapain gue ya!” Ujar Anggun ke Felix “Enak aja! Emang siapa yang mau ngapa-ngapain lo? Lo pikir gue cowok apaan? Yang nafsu sama cewek seperti lo! Gak sederajat!” Cibir Felix ke Anggun “Apa lo bilang? Gak salah? Gue kan cewek tercantik di sekolah! Sedangkan lo? Cowok dengan mulut terlebar di sekolah. Alias cerewet” Anggun tak senang saat dianggap remeh oleh Felix.
Sesampai di ruang guru… “Akhirnya kalian datang juga! Ada yang ibu mau bilang nih!” Ujar Bu Desy “Ada apaan sih bu?” Tanya Felix “Iya nih bu. Gue lagi sibuk skali. Tapi karna ibu panggil, jadi gue datang aja.” Ujar Anggun “Oh ya? Aduh kalau gitu kamu balik saja dulu. Ibu jadi gak enak” Ujar Bu Desy “Bu!!! Jangan percaya bu! Dia gak sibuk. Dia tadi Cuma nyantai-nyantai doang” jelas Felix ke ibu Desy. Anggun menatap taja Felix “Kenapa lo?” Tanya Felix yang merasa tak nyaman dengan tatapan Anggun “Oke! Lupakan saja. Ini hari kalian akan diperkenalkan kepada semua murid-murid. Bahwa kalian adalah putra dan putri sekolah kita!” Ujar ibu Desy “APA!!!???” Pekik mereka kompak “Are you fucking kidding me, ma’am?” Tanya Anggun ke ibu Desy “can you shut up Motherfucker!” Seru Felix “Aduh… gue bisa gila!” Umpat Anggun “Gue gak mau bu” Ujar Anggun ke Bu Desy  “Gue juga gak mau” Felix juga tidak mau. “GAK ADA PILIHAN LAIN!!! CEPAT SANA SIAP-SIAP!” Seru Bu Desy dengan tampang sangarnya.
“Itu kan! Gue bilang juga apa, gue punya firasat buruk.” Ujar Anggun kesal “Kan gue gak tau!” Jawab Felix singkat “Yaudah, kalau lo marah ke gue, gue minta maaf deh!” Ujar Felix “Sebenarnya gue anti banget minta maaf, tapi kali ini entah kenapa, kayaknya gue harus minta maaf.” Ujar Felix lagi “Yaudah deh. Gue maafin. Udah gak ada gunanya lagi kok. Semua udah terjadi.” Ujar Anggun “Lo nangis ya?” Tanya Felix “Gak! Gue gak nangis!” ujar Anggun samba menghapus air matanya “Gak usah bohong deh. Gue minta maaf ya.” Ujar Felix “Gue nangis bukan karna itu kok. Gue nangis karna hal lain. Entahlah.” Ujar Anggun “Sudahlah… gak usah nangis!” Felix menenangkan “Gimana gue gak nangis? Hati gue kayak mau copot. Gue kayak gak tahan banget” ujar Anggun ‘Ni anak punya perasaan juga ya. Gue kira nggak.’ Gumam Felix dalam hati ‘Tapi kok, kata-kata itu… eh?’ Felix teringat sesuatu ‘Gak mungkin! Perasaan apa ini?’ Gumam Felix lagi.
Keesokan harinya… Anggun duduk di taman. Sambil menenangkan pikirannya. HP Anggunpun bergetar. Dia mengambil HP dari saku bajunya, dan ternyata itu pangilan dari mamanya “Kenapa sih?” tanya Anggun “Mama mau ngapain kemari?” tanya Anggun “Mama mau bawa gue ke Amerika?” Tanya Anggun lagi “Iya Anggun. Mama mau kesitu.” Jawab Mamanya dari telepon “Gak! Mama gak boleh! Anggun mau hidup sama papa! Anggun gak suka mama! Anggun benci mama! Mama jahat!” Umpat Anggun. Dan air mata Anggunpun menetes dia sebenarnya sangat sayang sama mamanya. Tapi Mamanya ninggalin papanya karena dia mendapat pria yang lebih bagus dari papa Anggun “Kamu sudah berani ya sama mama! Dasar kurang ajar…” umpat mama dari telepon “Masa bodoh. Emang gue pikirin” ujar Anggun sambil mematikan panggilan itu.
‘Mama jahat!’ Batin Anggun ‘Aku benci mama’ batinnya lagi dalam hati sambil terisak *Flashback on* “Sayang! Gue minta cerai! Gue bakal pergi ke amerika dengan laki-laki yang lebih ganteng, lebih kaya, dan lebih memuaskan dari kamu!” Ujar Mamanya Anggun sambil mendorong suaminya itu. Anggun yang masih kecil waktu itu, tak bisa berbuat apa-apa “Mama! Kalau mama pergi nanti yang urus aku siapa?” tanya Anggun sambil menahan mamanya “Emang mama pikirin!” ujar mamanya “gimana kalau cari aja mama baru! Gue udah gak betah hidup sama kalian” ujar mamanya lagi “Mama!!!” Anggunpun menahan kakinya mamanya “Udah ah!” ujar mamanya sambil melepas kakinya yang ditahan Anggun *Flashback off*  Anggunpun masih menangis.
“Lo ngapain?” Tanya Felix yang heran ngeliat Anggun menangis “Lo gak bisa liat? Kan jelas-jelas gue lagi nangis” Ujar Anggun “Lo bisa nangis juga ya? Gue kira nggak. Soalnya orang-orang kayak lo itu, biasanya gak punya hati. Jadi gak bisa nangis. Eeh ternyata bisa nangis juga” Ujar Felix “Cerewet banget!” Umpat Anggun “Biarin aja. So what gitu? Anyway, lo kenapa bisa nangis sih? Waduh… kayak sebuah fenomena alam deh kalau lihat lo nangis” Tanya Felix ke Anggun “Mama dan papa aku sebenarnya cerai 8 tahun lalu.” Jawab Anggun “What? Are you serious? Lo gak bercanda kan? Trus lo tinggal sama siapa? Papa lo ya?” Tanya Felix ke anggun “Iya. Aku tinggal sama papa aku. Dan tadi mama aku nelpon, katanya dia mau bawa aku ke Amerika, trus ninggalin papa sendiri.” Jelas Anggun “Trus gimana dengan papa lo?” Tanya Felix “Itu yang jadi masalahnya” jawab Anggun. ‘Jangan bilang… Cinta pertama gue yang 8 tahun lalu itu…’ Batin Felix dalam hati.
Malam harinya… “Gak mungkin!” umpatnya *Flashback on* “Kamu kenapa?” Tanya seorang anak laki-laki kecil yang melihat seorang anak perempuan menangis “Mama dan Papa aku mau cerai. Aku tak mau. Jadi aku kabur dari rumah.” Jawab anak perempuan itu “Kasian ya… Sudah! Gak usah menangis.” Anak laki-laki itu menenangkannya “Bagaimana aku gak nangis disaat orang tua aku ingin pisah.” Ujar anak perempuan tersebut “Iyaiya. Aku mengerti! Nama aku Felix. Nama kamu siapa?” Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Felix “Nama aku Ang…” Jawabnya terpotong karena ada  suara orang lain “Felix! Kamu dimana nak? Ayo kita pulang!” Begitulah suara yang terdengar “Itu mama aku. Aku harus pulang. Kamu yang sabar ya. Aku pulang dulu. Dadah~” Ujar Felix sambil meninggalkan anak perempuan itu. *Flashback off*  “Anggun cinta pertama gue?” tanya Felix ke dirinya sendiri “Entahlah… cewek yang udah gue tunggu selama 8 tahu itu, adalah dia?” Tanyanya lagi “Apa dia lupa gue ya?” Tanyanya lagi “Apa yang harus gue lakukan? Apa gue harus mengatakannya?”.
Keesokan harinya… Felixpun berjalan menuju sekolahnya. Dari kejauhan, dia melihat seorang perempuan yang dipaksa untuk masuk kedalam mobil. Diapun menyadari kalau perempuan itu adalah Anggun. Diapun berlari mendekati mereka. Diapun menarik Anggun untuk keluar dari mobil itu “Gue gak bakal membiarkan lo pergi!” Ujar Felix. Diapun menyerang orang-orang yang memaksa Anggun untuk pergi. Dan ternyata orang-orang itu adalah suruhan Mamanya Anggun. Felix mengira orang yang harus dilawannya adalah 3 orang yang disitu saja. Tetapi setelah mereka bertiga ambruk dihajar Felix, 5 orang lagi datang. Tapi dia tidak takut dia menghajar 5 orang itu sampai mereka kesakitan. Banyak yang melihat kejadian itu, tapi Felix hanya cuek kemudian membawa Anggun lari.
Merekapun lari bersama-sama menjauhi tempat tadi. “Anggun? Gue mau bilang sesuatu.” Ujar Felix “Mau bilang apaan sih?” Tanya Anggun “Gue mau bilang kalau sebenarnya… gue… gue suka sama lo… dari 8 tahun yang lalu!” Ujar Felix “Apa?” Tanya Anggun heran “Jangan bilang…” Ujar Anggun terpotong “Iya gue orang yang menenangkanmu 8 tahun yang lalu. Dan pada saat itu aku suka sama kamu. Dan sampai aku sekarang masih menunggunya.” Ujar Felix  “Felix… maafin gue ya.” Ujar Anggun “Jadi, lo masih ingat hal itu?” Tanya Felix “Gue masih ingat. Tapi gue kira itu bukan felix kamu… dan ternyata itu kamu.” Ujar Anggun “Jadi… lo mau gak jadi pacar gue?” Tanya Felix “Sebenarnya gue gak suka bilang ini… tapi aku harus jujur. Sebenarnya gue suka sama kamu. Karena kamu itu cerewet. Jadi aku rasa lucu. Dan gue suka lo dari waktu kita ditunjuk jadi putra dan putrid sekolah” Jelas Anggun.
 “Jadi lo mau gak?” Tanya Felix “Gue mau kok…” Ujar Anggun dengan pipi yang memerah. Merekapun berpacaran semenjak saat itu. hubungan felix dan Anggun sudah ditau oleh papanya Anggun. Dan dia merestuinya. Tiap hari Felix selalu ke rumah Anggun menemaninya kalau Felix lagi gak sibuk. Dan mamanya Felix sudah tak ada kabar lagi semenjak kejadian itu. Dan suatu hari dibawah pepohonan…  “Hey! Aku punya sesuatu buat kamu sayang!” Ujar Felix ke Anggun “Apaan yang?” tanya Anggun “ini” ujarnya kemudian mencium bibir Anggun “Heheheh…” Felixpun tertawa kemudian lari “Hey! Kamu jahat!!! Awas ya!!!” Anggunpun mengejar Felix untuk memukulnya “Aku belum siap tadi!” Ujar Anggun kemudian mereka tertawa

Jumat, 05 Juni 2015

Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu (Aku Masih Menyesal) ~Ending



Riopun melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.” Ujar Rio dan kemudian menghilang ‘Ya. Kamu benar, Rio. Aku maafkan kamu kok. Aku tau, aku gak bisa egois. Aku memang suka kamu. Tapi aku gak bisa memaksakan kamu mencintaiku. Dan gak papa kalau kamu tidak bisa. Aku mengerti kok.’ Gumam Riska dalam hati sambil menangis.
Diapun masuk ke kelas… ‘Aku sudah melakukannya. Aku sudah melakukannya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku. Kepada Dia. Aku tau ini akan seperti ini. Tapi aku akan baik-baik saja, Karena aku kuat. Dia tadi memberiku sebuah pelukan. Pelukan hangat sebagai seorang teman. Karena dia hanya menganggapku sebagai teman dan tak lebih. Aku menangis. Aku sedih. Aku telah melakukan hal yang sangat sulit dan sekarang aku harus menghadapi yang akan terjadi. Bagaimanapun itu…’ gumam Riska dalam hati. Entahlah, dia sudah tak pernah lagi melihat senyumannya yang pernah membuat hati Riska berdebar. Tapi Riska harus menjalani hari-hari yang sulit tersebut. “Dan kini, akupun tersadar, aku kehilangan dia” tulisnya di sebuah buku catatannya.

“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”


Riopun melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.” Ujar Rio ‘Maafkan aku. Aku terlalu penakut untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Aku memang suka kamu. Tapi aku gak mau kamu bilang begituan hanya karena kamu tau kalau aku suka sama kamu. Mungkin cuma pelukan istimewa tadi yang bisa kuberikan padamu. Aku sadar kok kalau kamu gak suka aku. Aku akan menghilang dari hidup kamu. Selamat tinggal’ Gumamnya dalam hati.
Dan setelah kejadian itu, Rio sudah tak muncul lagi didepan Riska. Dia selalu bersembunyi dari Riska ‘Aku terlalu payah. Inilah akhir cinta pertamaku’ gumamnya dalam hati “Dan kini, akupun tersadar, kalau aku masih sayang sama dia.” tulisnya di sebuah buku catatannya. Rio terus menerus menghindar dari Riska. Rio merasa kalau dirinya adalah pengecut. Karena  dia tak bisa melakukan hal yang di lakukan oleh Riska waktu itu. Meskipun dia menghindar, dia tak bisa juga membohongi perasaannya sendiri kalau dia benar-benar merindukan Riska.
5 bulan lamanya Rio menghindar dari Riska… Mereka telah lulus SMP dan sudah menjadi murid SMA 1. Rio mendapat peringkat 1 ujian nasional di seluruh sekolah di Indonesia. Terkadang Rio merindukan Riska. Dia masih menyesal, karna tak bias mengungkapkan perasaannya dulu. Dan dia masih menyesal, karna memilih untuk menghindar. Dan saat itu di kantin, Rio melihat Riska duduk sambil memakan makanan yang dipesannya. Riopun ingin menghampiri Riska. Dia merasa udah cukup untuk menghindarinya.
“Hai! Sudah lama ya!” Sapa Rio ke Riska, Riskapun menoleh kearah Rio “Maaf! Lo siapa ya? Apa gue kenal lo?” Tanya Riska “hadeeeh... ternyata gue berubah drastis. Lo aja sampe gak ngenalin gue. Gue Rio” Ujar Rio ke Riska “Apa?” Tanya Riska seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rio yang dulu sangat KUNO dengan rambut acak-acakan dan memakai kacamata, sekarang terlihat COOL dengan gaya rambut yang keren dan tanpa kacamata lagi. Riopun tersenyum melihat Riska yang seakan tak percaya dengan penampilannya. “Sudah lama ya! Udah 5 bulan gue menghindar dari lo!” Rio memecah “Aah.. iyaiya. Lo darimana sih? Kok pake acara-acara menghilang sih!” Tanya Riska “Kenapa? Lo rindu ya sama gue?” Tanya Rio ke Riska “Eeeh ke-PD-an banget. Siapa juga yang rindu ama lo!” Riska sok cuek “Ooh... jadi gitu ya, gak rindu sama gue. Yaudah, gue menghilang lagi ya!” ujar Rio “Jangan dong!!!” Seru Riska ke Rio. Dan mereka berduapun tertawa “Kamu masih lucu kayak dulu!” Rio mengacak-ngacak rambut Riska.
“Seandainya... gue bisa ngeulang waktu” ujar Rio “Gue bakal ulang saat dimana lo ngungkapin perasaan lo!” Ujar Rio lagi “Emangnya kenapa dengan saat itu?” Tanya Riska “Ada sesuatu yang gue sesali sampai saat ini. Dan membuat gue berpikir ‘Kenapa gue gak lakuin hal yang sama dengan yang Riska lakuin?’. Gue waktu itu memang pemalu. Dan gue adalah pengecut, karna gue gak bisa mengungkapkan perasaan gue. Padahal waktu itu, gue udah bertekad untuk mengungkapkan perasaan. Tapi mungkin gue terlalu nervous dan waktu itu gue sedang salting, jadi gak bisa melakukan hal yang sama” Ujar Rio panjang dan lebar “Dan sampai sekarang gue masih menyesalinya” Tambahnya lagi.
“Seandainya...” ujar Rio *Flashback On* Riopun meninggalkan Riska yang masih di kantin, dan tak lama kemudian ada sebuah suara yang membuat Rio berbalik dan mencari sumber suara tersebut “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!”  Dan ternyata itu Riska. Riopun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio. ‘Dia pasti bercanda’ gumamnya dalam hati. Riopun memeluk Riska erat. *Flashback Off*   “Seandainya waktu itu, gue bilang ‘Gue juga suka sama lo Ris!’. Pasti kita bisa bersatu. Tapi itu sudah terlambat. Gue sangat menyesal karna menyia-nyiakan kesempatan itu.” Jelas Rio panjang lebar.
“Lo gak salah kok. Hal seperti itu wajar buat lo. Karna lo masih belum berpengalaman waktu itu. Dan sekarang gue masih menunggu kok. Menunggu lo mengungkapkan perasaanmu. Karna gue masih memberi lo kesempatan.” Ujar Riska ke Rio “Ini cinta. Banyak hal yang tak masuk akal dalam hal percintaan. Karena cinta tak menggunakan logika. Lo gak bisa menggunakan otak lo buat cinta. Tapi lo harus menggunakan ini! *Menunjuk hati* karna ini tentang perasaan. Bukan tentang logika” jelas Riska ke Rio.
“Lo emang bisa menghindar dari gue. Lo emang bisa menjauh. Lo bisa melakukan apa aja. Tapi lo gak bisa membohongi perasaan lo sendiri kalo lo benar-benar sayang.” Jelas Riska. Rio hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan Riska. Riopun memakai kacamatanya lagi “Lo kenapa?” Tanya Riska ke Rio tapi Rio tak menjawab. Riskapun mengambil kacamata Rio dan melihat mata Rio berkaca-kaca “Sorry, Ris. Gue gak bisa tahan. Gue pengen nangis.” Ujar Rio dan air matanyapun jatuh “Menangis saja. Mungkin itu bisa membuatmu tenang.” Riskapun membiarkan Rio menangis.
“Gue tau kalau lo suka sama gue. Waktu itu istirahat. Gue dipanggil teman gue yang di 9A. Trus waktu itu gue liat ada catatan ‘Dan kini, akupun tersadar, kalau aku masih sayang sama dia’ di buku catatan lo. Dan dibawahnya ada tulisan ‘Love you Riska.’. Dari situ gue tau kalau lo suka sama gue. Makanya sampai sekarang gue masih nunggu lo.” Jelas Riska ke Rio. Riopun menenangkan dirinya “Jadi lo sampai sekarang masih nunggu gue? Lo masih ngasih gue kesempatan?” Tanya Rio ke Riska “Iya.” Jawab Riska singkat “Gue gak bakal sia-siain itu.” ujar Rio “Yaudah. Anggap saja lo dan gue belum saling tau perasaan masing-masing. Dan anggap saja gue belum ungkapin perasaan gue. Jadi lo harus cabut karena lo mau ke kelas. Oke?” Jelas Riska “Oke.”
Riopun meninggalkan Riska yang masih di kantin, Riskapun memanggil Rio dari kejauhan “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!”  Riopun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Gue juga Ris. Sebenarnya gue juga suka sama lo.” Ujar Rio. “Jadi, lo mau gak jadi pacar gue?” Tanya Rio ke Riska. Riskapun tersenyum dan mengangguk. Riopun memeluk Riska erat.
Merekapun berpacaran. Riska dan Riopun berpegangan tangan menuju taman. ‘gue ralat deh kata-kata gue yang... Aku terlalu payah. Inilah akhir cinta pertamaku’. Gue tidak payah. Gue sebenarnya kuat. Dan ini bukanlah akhir. Ini barulah permulaan.’ Gumam Rio dalam hati. HP Riopun bergetar... itu adalah panggilan dari Andre “Tunggu sebentar ya..” Ujar Rio ke Riska kemudian mengangkat panggilannya “Halo Andre... Kenapa lo?” Tanya Rio “Gue udah jadian.” Jawab Andre dari seberang “Oh ya? Selamat ya!!! Gue juga udah jadian sama Riska. Lo jadian sama siapa?” Tanya Rio ke Andre “Gue jadian sama Fia.” Jawab Andre dari seberang “Fia? Fia siapa?” Tanya Rio “Lo dimana sekarang?” Tanya Rio “Di kantin.” Jawab Andre dari seberang. Riopun mematikan panggilan itu “Kita kesana yuk!!!” Seru Rio ke Riska.
Rio dan Riskapun menuju ke tempat Andre... Dan Riska sangat terkejut “FIA???” Fia yang sedang duduk dengan Andrepun mencari sumber suara itu dan dia melihat Riska “RISKA!!!” “Jadi kalian saling kenal ya?” Tanya Andre ke Riska dan Fia “Dia sahabat aku sayang. Eeeh Riska! Apa yang lo lakukan dengannya? Jangan bilang kalian jadian?” Tanya Fia ke Riska “Gak! Kita gak pacaran.” Jawab Riska singkat “Tapi kok kalian pegangan tegangan?” Tanya Riska sambil nyengir sendiri “Iyaiya. Kita pacaran. Lo sendiri kok bisa pacaran sama dia?” Riskapun balik tanya ke Fia “Ceritanya panjang.” Jawab Fia “Yaudah. Karena hari ini gue dengan Fia dan Lo *Nunjuk Rio* dengan Riska jadian. Jadi gue traktir kalian.” Ujar Andre. Andrepun mentraktir mereka di kantin karena itu adalah hari jadian mereka ber-empat. Mereka selalu merayakan Anniversary mereka bersamaan. Mereka ber-empat-pun selalu berbawaan, selalu bersama dan mereka ber-empat sangat akur.