“Kamu
kenapa?” Tanya seorang anak laki-laki kecil yang melihat seorang anak perempuan
menangis “Mama dan Papa aku mau cerai. Aku tak mau. Jadi aku kabur dari rumah.”
Jawab anak perempuan itu “Kasian ya… Sudah! Gak usah menangis.” Anak laki-laki
itu menenangkannya “Bagaimana aku gak nangis disaat orang tua aku ingin pisah.”
Ujar anak perempuan tersebut “Iyaiya. Aku mengerti! Nama aku Felix. Nama kamu
siapa?” Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Felix “Nama aku Ang…”
Jawabnya terpotong karena ada suara
orang lain “Felix! Kamu dimana nak? Ayo kita pulang!” Begitulah suara yang
terdengar “Itu mama aku. Aku harus pulang. Kamu yang sabar ya. Aku pulang dulu.
Dadah~” Ujar Felix sambil meninggalkan anak perempuan itu.
Ingatan itu…
“Lo tau kan? Dia orangnya sok sok an
banget. Sombong banget lagi. Padahal dia itu masih kecil, eeh malah pandang
enteng seniornya. Kayak yang gak ada sopan santun gitu.” Ujar seorang cowok
kepada temannya sambil berjalan “Orang tuanya siapa sih? Punya anak kayak yang
gak pernah diajar. Trus suka banget ngehina orang. Emangnya dia sudah sempurna
ya? Sampai ngehina-hina orang” Ujarnya lagi “Orangtuanya juga udah dipanggil
panggil ama bidang kesiswaan. Tapi gak datang-datang” Ujarnya lagi “Felix! Udah
deh! Gak usah ngomongin orang.” Ujar temannya dengan nada kesal “Gue tau Fa’iz!
Tapi kan…” ujar cowok tersebut menggantung yang ternyata bernama Felix “Tapi
apa?” Tanua temannya yang ternyata bernama Fa’iz “sudahlah. Lupakan saja! Gue
mau ke ruang guru. Gue baru ingat kalo gue dipanggil bu Desy tadi. Gue cabut
dulu ya…” ujar Felix “Oke!” jawab Fa’iz singkat.
Felixpun meninggalkan Fa’iz yang mau ke
kantin dan berbalik arah berlari menuju ruang guru. Saking buru-burunya diapun
menabrak seorang cewek “Aduh! Sorry ya! Gue gak sengaja!” Felix meminta maaf
sama cewek itu “Iyaiya. Gue gak papa. Lain kali, pake tu mata *Nunjuk mata*”
ujar cewek itu “Iyaiya.” Jawab Felix singkat “Hmm,, sebenarnya gue gak mau
bilang ini, tapi gue sengan bertemu dengan lo. Lo mau gak jadi teman gue?”
tanya Felix ke cewek tersebut “Gue? Jadi teman lo? Lo pikir gue apaan sih?”
Jawab cewek tersebut sambil memasang muka sangar “Tapi… kalau dipikir-pikir,
gue gak keberatan kok kalau berteman dengan lo” ujarnya lagi dengan pipi yang
memerah “Gue felix”, Felix memberitahu namanya.
“Hn, gue… Anggun” cewek tersebut memberitahu
namanya juga sambil menarik tangan Felix, “Lo ngapain sih pegang-pegang!!!
Emang gue apaan?” Felix marah saat tangannya dipegang Anggun “Ke-ge’er-an
banget sih lo jadi cowok! Gue Cuma mau jabat tangan lo. Kan kalau berkenalan
harus jabat tangan. Emang gue terlihat semurah itu? Sampai harus
memegang-megang tanganmu sembarangan. Sorry ya! Gue bukan gadis seperti itu.”
jelas Anggun kemudian pergi meninggalkan Felix.
“Itu cewek kenapa sih? Lagi dapet mungkin…
Mukanya kalau sangar bikin takut orang. Trus kata-katanya juga pedas. Cih!!!
Apaan tuh? Tadi bilang kalau gak mau jadi teman gue. Eeeh langsung berubah
pikiran trus pipinya Blushing lagi. Mau dia Anggun kek! Anggi kek! Anggraini
kek! Anggaran Negara kek! Gue gak peduli.” Ujar Felix kesal sambil terus
berlari menuju ruang guru “Tapi kenapa yah, dada gue kayak berat banget waktu
ketemu dia tadi” gumamnya.
‘Rese’
banget tuh cowok!’ umpat
Anggun dalam hati “Anggun!!!” seseorang memanggil Anggun dari kejauhan. Anggun
mencari darimana asal suara tersebut. Dan ternyata itu gurunya yang bernama Bu
Desy “Kenapa bu?” tanya Anggun “Kamu ikut ibu ke ruang guru ya… ada yang ibu
mau kasih tau.” Kata ibu Desy “Ohiya ibu.” Anggun mengiyakan dan mengikuti ibu
Desy ke ruang guru.
Sesampainya di ruang guru, Anggun melihat
Felix “Ngapain lo disini!?” Tanya Anggun “Gue yang seharusnya tanya, ngapain lo
disini!” Felix bertanya balik “Udah ah! Kok malah berantem! Jadi kalian sudah
saling kenal ya? Aduuh… syukurlah. Karena kalian berdua dipilih menjadi
Pasangan putra putri sekolah kita.” Ujar Bu Desy “APA!? Pasangan Putra Putri!?”
Tanya mereka kompak “Iya. Jadi kalian berdua akan jadi Image penting sekolah
kita.” Tambah Bu Desy “Kenapa harus dia!?” Tanya Anggun “Iya bu! Kenapa harus
dia? Apa gak ada yang lebih cantik lagi?” Tanya Felix “Yang lebih cantik?
Hello… gue yang paling cantik disini. Tapi kenapa harus lo sih? Ibu? Apa gak ada yang lebih macho? Kok malah milih
yang cerewet gitu?” Mereka saling beradu mulut “Pokoknya ibu tidak mau tau. Kalian
harus bisa saling mengerti. Dan karena kalian adalah pasangan putra putri di
sekolah kita, kalian harus memberikan contoh yang baik bagi siswa lain. Dan
kalian berdua harus akur. Lebih bagusnya lagi, kalian berdua harus saling
memberi perhatian” jelas Bu Desy kepada mereka berdua.
“Gue pasti gila!” Umpat Anggun pada dirinya
sendiri sambil berjalan di koridor “Ya! Lo memang gila! Syukur deh, kalau lo
sadar. Gue kira lo gak bakal nyadar. Gue masih heran, kenapa gue harus terpilih
hal-hal yang konyol kayak gini sih?” Pekik Rio dengan nada kesal “Dan yang
lebih gue heran, kenapa harus lo sih! Kenapa bukan Cindy? Atau Dea? Atau
Andini? Kenapa harus kamu?” Tanya Rio “Cerewet banget sih! Bisa diam gak! Lo
mau mati ya?” Anggun yang jengkel dengan kelakuan Riopun menjauhi Rio ‘Emang dia kira dia sehebat apa? Sampai
harus ngerendahin gue!’ batin Anggun dalam hati.
Keesokan harinya… “Heh! Anggun! Kita
dipanggilin bu Desy tuh!” Ujar Felix “Gak mau ah.” Anggun menolak “Gue punya
firasat buruk nih.” Ujar Anggun “Tapi kan, kita dipanggil.” Felix memaksa “Tapi
kan, gue gak mau” Anggun masih tidak mau “Katanya ada sesuatu yang mau dia
bilang ke kita” “yaudah deh” Akhirnya Anggun mau. Merekapun pergi menuju ruang
guru untuk menghadap Bu Desy “Lo jangan ngapa-ngapain gue ya!” Ujar Anggun ke
Felix “Enak aja! Emang siapa yang mau ngapa-ngapain lo? Lo pikir gue cowok
apaan? Yang nafsu sama cewek seperti lo! Gak sederajat!” Cibir Felix ke Anggun “Apa
lo bilang? Gak salah? Gue kan cewek tercantik di sekolah! Sedangkan lo? Cowok dengan
mulut terlebar di sekolah. Alias cerewet” Anggun tak senang saat dianggap remeh
oleh Felix.
Sesampai di ruang guru… “Akhirnya kalian
datang juga! Ada yang ibu mau bilang nih!” Ujar Bu Desy “Ada apaan sih bu?” Tanya
Felix “Iya nih bu. Gue lagi sibuk skali. Tapi karna ibu panggil, jadi gue
datang aja.” Ujar Anggun “Oh ya? Aduh kalau gitu kamu balik saja dulu. Ibu jadi
gak enak” Ujar Bu Desy “Bu!!! Jangan percaya bu! Dia gak sibuk. Dia tadi Cuma nyantai-nyantai
doang” jelas Felix ke ibu Desy. Anggun menatap taja Felix “Kenapa lo?” Tanya
Felix yang merasa tak nyaman dengan tatapan Anggun “Oke! Lupakan saja. Ini hari
kalian akan diperkenalkan kepada semua murid-murid. Bahwa kalian adalah putra
dan putri sekolah kita!” Ujar ibu Desy “APA!!!???” Pekik mereka kompak “Are you
fucking kidding me, ma’am?” Tanya Anggun ke ibu Desy “can you shut up
Motherfucker!” Seru Felix “Aduh… gue bisa gila!” Umpat Anggun “Gue gak mau bu”
Ujar Anggun ke Bu Desy “Gue juga gak mau”
Felix juga tidak mau. “GAK ADA PILIHAN LAIN!!! CEPAT SANA SIAP-SIAP!” Seru Bu
Desy dengan tampang sangarnya.
“Itu kan! Gue bilang juga apa, gue punya
firasat buruk.” Ujar Anggun kesal “Kan gue gak tau!” Jawab Felix singkat “Yaudah,
kalau lo marah ke gue, gue minta maaf deh!” Ujar Felix “Sebenarnya gue anti
banget minta maaf, tapi kali ini entah kenapa, kayaknya gue harus minta maaf.”
Ujar Felix lagi “Yaudah deh. Gue maafin. Udah gak ada gunanya lagi kok. Semua udah
terjadi.” Ujar Anggun “Lo nangis ya?” Tanya Felix “Gak! Gue gak nangis!” ujar
Anggun samba menghapus air matanya “Gak usah bohong deh. Gue minta maaf ya.”
Ujar Felix “Gue nangis bukan karna itu kok. Gue nangis karna hal lain.
Entahlah.” Ujar Anggun “Sudahlah… gak usah nangis!” Felix menenangkan “Gimana
gue gak nangis? Hati gue kayak mau copot. Gue kayak gak tahan banget” ujar
Anggun ‘Ni anak punya perasaan juga ya. Gue
kira nggak.’ Gumam Felix dalam hati ‘Tapi
kok, kata-kata itu… eh?’ Felix teringat sesuatu ‘Gak mungkin! Perasaan apa ini?’ Gumam Felix lagi.
Keesokan harinya… Anggun duduk di taman. Sambil
menenangkan pikirannya. HP Anggunpun bergetar. Dia mengambil HP dari saku
bajunya, dan ternyata itu pangilan dari mamanya “Kenapa sih?” tanya Anggun
“Mama mau ngapain kemari?” tanya Anggun “Mama mau bawa gue ke Amerika?” Tanya
Anggun lagi “Iya Anggun. Mama mau
kesitu.” Jawab Mamanya dari telepon “Gak! Mama gak boleh! Anggun mau hidup
sama papa! Anggun gak suka mama! Anggun benci mama! Mama jahat!” Umpat Anggun.
Dan air mata Anggunpun menetes dia sebenarnya sangat sayang sama mamanya. Tapi
Mamanya ninggalin papanya karena dia mendapat pria yang lebih bagus dari papa Anggun “Kamu sudah berani ya sama mama!
Dasar kurang ajar…” umpat mama dari telepon “Masa bodoh. Emang gue pikirin”
ujar Anggun sambil mematikan panggilan itu.
‘Mama
jahat!’ Batin Anggun ‘Aku benci mama’ batinnya lagi dalam
hati sambil terisak *Flashback on*
“Sayang! Gue minta cerai! Gue bakal pergi ke amerika dengan laki-laki yang
lebih ganteng, lebih kaya, dan lebih memuaskan dari kamu!” Ujar Mamanya Anggun
sambil mendorong suaminya itu. Anggun yang masih kecil waktu itu, tak bisa
berbuat apa-apa “Mama! Kalau mama pergi nanti yang urus aku siapa?” tanya
Anggun sambil menahan mamanya “Emang mama pikirin!” ujar mamanya “gimana kalau
cari aja mama baru! Gue udah gak betah hidup sama kalian” ujar mamanya lagi
“Mama!!!” Anggunpun menahan kakinya mamanya “Udah ah!” ujar mamanya sambil
melepas kakinya yang ditahan Anggun *Flashback off* Anggunpun masih menangis.
“Lo ngapain?” Tanya Felix yang heran
ngeliat Anggun menangis “Lo gak bisa liat? Kan jelas-jelas gue lagi nangis”
Ujar Anggun “Lo bisa nangis juga ya? Gue kira nggak. Soalnya orang-orang kayak
lo itu, biasanya gak punya hati. Jadi gak bisa nangis. Eeh ternyata bisa nangis
juga” Ujar Felix “Cerewet banget!” Umpat Anggun “Biarin aja. So what gitu?
Anyway, lo kenapa bisa nangis sih? Waduh… kayak sebuah fenomena alam deh kalau
lihat lo nangis” Tanya Felix ke Anggun “Mama dan papa aku sebenarnya cerai 8
tahun lalu.” Jawab Anggun “What? Are you serious? Lo gak bercanda kan? Trus lo
tinggal sama siapa? Papa lo ya?” Tanya Felix ke anggun “Iya. Aku tinggal sama
papa aku. Dan tadi mama aku nelpon, katanya dia mau bawa aku ke Amerika, trus
ninggalin papa sendiri.” Jelas Anggun “Trus gimana dengan papa lo?” Tanya Felix
“Itu yang jadi masalahnya” jawab Anggun. ‘Jangan bilang… Cinta pertama gue yang
8 tahun lalu itu…’ Batin Felix dalam hati.
Malam harinya… “Gak mungkin!” umpatnya *Flashback on* “Kamu kenapa?” Tanya seorang anak laki-laki
kecil yang melihat seorang anak perempuan menangis “Mama dan Papa aku mau
cerai. Aku tak mau. Jadi aku kabur dari rumah.” Jawab anak perempuan itu
“Kasian ya… Sudah! Gak usah menangis.” Anak laki-laki itu menenangkannya
“Bagaimana aku gak nangis disaat orang tua aku ingin pisah.” Ujar anak
perempuan tersebut “Iyaiya. Aku mengerti! Nama aku Felix. Nama kamu siapa?”
Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Felix “Nama aku Ang…” Jawabnya
terpotong karena ada suara orang lain
“Felix! Kamu dimana nak? Ayo kita pulang!” Begitulah suara yang terdengar “Itu
mama aku. Aku harus pulang. Kamu yang sabar ya. Aku pulang dulu. Dadah~” Ujar
Felix sambil meninggalkan anak perempuan itu. *Flashback off* “Anggun cinta pertama gue?” tanya Felix ke
dirinya sendiri “Entahlah… cewek yang udah gue tunggu selama 8 tahu itu, adalah
dia?” Tanyanya lagi “Apa dia lupa gue ya?” Tanyanya lagi “Apa yang harus gue
lakukan? Apa gue harus mengatakannya?”.
Keesokan
harinya… Felixpun berjalan menuju sekolahnya. Dari kejauhan, dia melihat
seorang perempuan yang dipaksa untuk masuk kedalam mobil. Diapun menyadari
kalau perempuan itu adalah Anggun. Diapun berlari mendekati mereka. Diapun menarik
Anggun untuk keluar dari mobil itu “Gue gak bakal membiarkan lo pergi!” Ujar
Felix. Diapun menyerang orang-orang yang memaksa Anggun untuk pergi. Dan ternyata
orang-orang itu adalah suruhan Mamanya Anggun. Felix mengira orang yang harus
dilawannya adalah 3 orang yang disitu saja. Tetapi setelah mereka bertiga
ambruk dihajar Felix, 5 orang lagi datang. Tapi dia tidak takut dia menghajar 5
orang itu sampai mereka kesakitan. Banyak yang melihat kejadian itu, tapi Felix
hanya cuek kemudian membawa Anggun lari.
Merekapun lari
bersama-sama menjauhi tempat tadi. “Anggun? Gue mau bilang sesuatu.” Ujar Felix
“Mau bilang apaan sih?” Tanya Anggun “Gue mau bilang kalau sebenarnya… gue… gue
suka sama lo… dari 8 tahun yang lalu!” Ujar Felix “Apa?” Tanya Anggun heran “Jangan
bilang…” Ujar Anggun terpotong “Iya gue orang yang menenangkanmu 8 tahun yang
lalu. Dan pada saat itu aku suka sama kamu. Dan sampai aku sekarang masih
menunggunya.” Ujar Felix “Felix… maafin
gue ya.” Ujar Anggun “Jadi, lo masih ingat hal itu?” Tanya Felix “Gue masih
ingat. Tapi gue kira itu bukan felix kamu… dan ternyata itu kamu.” Ujar Anggun “Jadi…
lo mau gak jadi pacar gue?” Tanya Felix “Sebenarnya gue gak suka bilang ini…
tapi aku harus jujur. Sebenarnya gue suka sama kamu. Karena kamu itu cerewet. Jadi
aku rasa lucu. Dan gue suka lo dari waktu kita ditunjuk jadi putra dan putrid sekolah”
Jelas Anggun.
“Jadi lo mau gak?” Tanya Felix “Gue mau kok…”
Ujar Anggun dengan pipi yang memerah. Merekapun berpacaran semenjak saat itu.
hubungan felix dan Anggun sudah ditau oleh papanya Anggun. Dan dia merestuinya.
Tiap hari Felix selalu ke rumah Anggun menemaninya kalau Felix lagi gak sibuk.
Dan mamanya Felix sudah tak ada kabar lagi semenjak kejadian itu. Dan suatu
hari dibawah pepohonan… “Hey! Aku punya
sesuatu buat kamu sayang!” Ujar Felix ke Anggun “Apaan yang?” tanya Anggun “ini”
ujarnya kemudian mencium bibir Anggun “Heheheh…” Felixpun tertawa kemudian lari
“Hey! Kamu jahat!!! Awas ya!!!” Anggunpun mengejar Felix untuk memukulnya “Aku
belum siap tadi!” Ujar Anggun kemudian mereka tertawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar