Minggu, 07 Juni 2015

Ingatan itu... (Cinta pertamaku... dia?)



“Kamu kenapa?” Tanya seorang anak laki-laki kecil yang melihat seorang anak perempuan menangis “Mama dan Papa aku mau cerai. Aku tak mau. Jadi aku kabur dari rumah.” Jawab anak perempuan itu “Kasian ya… Sudah! Gak usah menangis.” Anak laki-laki itu menenangkannya “Bagaimana aku gak nangis disaat orang tua aku ingin pisah.” Ujar anak perempuan tersebut “Iyaiya. Aku mengerti! Nama aku Felix. Nama kamu siapa?” Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Felix “Nama aku Ang…” Jawabnya terpotong karena ada  suara orang lain “Felix! Kamu dimana nak? Ayo kita pulang!” Begitulah suara yang terdengar “Itu mama aku. Aku harus pulang. Kamu yang sabar ya. Aku pulang dulu. Dadah~” Ujar Felix sambil meninggalkan anak perempuan itu.
Ingatan itu…

“Lo tau kan? Dia orangnya sok sok an banget. Sombong banget lagi. Padahal dia itu masih kecil, eeh malah pandang enteng seniornya. Kayak yang gak ada sopan santun gitu.” Ujar seorang cowok kepada temannya sambil berjalan “Orang tuanya siapa sih? Punya anak kayak yang gak pernah diajar. Trus suka banget ngehina orang. Emangnya dia sudah sempurna ya? Sampai ngehina-hina orang” Ujarnya lagi “Orangtuanya juga udah dipanggil panggil ama bidang kesiswaan. Tapi gak datang-datang” Ujarnya lagi “Felix! Udah deh! Gak usah ngomongin orang.” Ujar temannya dengan nada kesal “Gue tau Fa’iz! Tapi kan…” ujar cowok tersebut menggantung yang ternyata bernama Felix “Tapi apa?” Tanua temannya yang ternyata bernama Fa’iz “sudahlah. Lupakan saja! Gue mau ke ruang guru. Gue baru ingat kalo gue dipanggil bu Desy tadi. Gue cabut dulu ya…” ujar Felix “Oke!” jawab Fa’iz singkat.
Felixpun meninggalkan Fa’iz yang mau ke kantin dan berbalik arah berlari menuju ruang guru. Saking buru-burunya diapun menabrak seorang cewek “Aduh! Sorry ya! Gue gak sengaja!” Felix meminta maaf sama cewek itu “Iyaiya. Gue gak papa. Lain kali, pake tu mata *Nunjuk mata*” ujar cewek itu “Iyaiya.” Jawab Felix singkat “Hmm,, sebenarnya gue gak mau bilang ini, tapi gue sengan bertemu dengan lo. Lo mau gak jadi teman gue?” tanya Felix ke cewek tersebut “Gue? Jadi teman lo? Lo pikir gue apaan sih?” Jawab cewek tersebut sambil memasang muka sangar “Tapi… kalau dipikir-pikir, gue gak keberatan kok kalau berteman dengan lo” ujarnya lagi dengan pipi yang memerah “Gue felix”, Felix memberitahu namanya.
“Hn, gue… Anggun” cewek tersebut memberitahu namanya juga sambil menarik tangan Felix, “Lo ngapain sih pegang-pegang!!! Emang gue apaan?” Felix marah saat tangannya dipegang Anggun “Ke-ge’er-an banget sih lo jadi cowok! Gue Cuma mau jabat tangan lo. Kan kalau berkenalan harus jabat tangan. Emang gue terlihat semurah itu? Sampai harus memegang-megang tanganmu sembarangan. Sorry ya! Gue bukan gadis seperti itu.” jelas Anggun kemudian pergi meninggalkan Felix.
“Itu cewek kenapa sih? Lagi dapet mungkin… Mukanya kalau sangar bikin takut orang. Trus kata-katanya juga pedas. Cih!!! Apaan tuh? Tadi bilang kalau gak mau jadi teman gue. Eeeh langsung berubah pikiran trus pipinya Blushing lagi. Mau dia Anggun kek! Anggi kek! Anggraini kek! Anggaran Negara kek! Gue gak peduli.” Ujar Felix kesal sambil terus berlari menuju ruang guru “Tapi kenapa yah, dada gue kayak berat banget waktu ketemu dia tadi” gumamnya.
‘Rese’ banget tuh cowok!’ umpat Anggun dalam hati “Anggun!!!” seseorang memanggil Anggun dari kejauhan. Anggun mencari darimana asal suara tersebut. Dan ternyata itu gurunya yang bernama Bu Desy “Kenapa bu?” tanya Anggun “Kamu ikut ibu ke ruang guru ya… ada yang ibu mau kasih tau.” Kata ibu Desy “Ohiya ibu.” Anggun mengiyakan dan mengikuti ibu Desy ke ruang guru.
Sesampainya di ruang guru, Anggun melihat Felix “Ngapain lo disini!?” Tanya Anggun “Gue yang seharusnya tanya, ngapain lo disini!” Felix bertanya balik “Udah ah! Kok malah berantem! Jadi kalian sudah saling kenal ya? Aduuh… syukurlah. Karena kalian berdua dipilih menjadi Pasangan putra putri sekolah kita.” Ujar Bu Desy “APA!? Pasangan Putra Putri!?” Tanya mereka kompak “Iya. Jadi kalian berdua akan jadi Image penting sekolah kita.” Tambah Bu Desy “Kenapa harus dia!?” Tanya Anggun “Iya bu! Kenapa harus dia? Apa gak ada yang lebih cantik lagi?” Tanya Felix “Yang lebih cantik? Hello… gue yang paling cantik disini. Tapi kenapa harus lo sih? Ibu? Apa  gak ada yang lebih macho? Kok malah milih yang cerewet gitu?” Mereka saling beradu mulut “Pokoknya ibu tidak mau tau. Kalian harus bisa saling mengerti. Dan karena kalian adalah pasangan putra putri di sekolah kita, kalian harus memberikan contoh yang baik bagi siswa lain. Dan kalian berdua harus akur. Lebih bagusnya lagi, kalian berdua harus saling memberi perhatian” jelas Bu Desy kepada mereka berdua.
“Gue pasti gila!” Umpat Anggun pada dirinya sendiri sambil berjalan di koridor “Ya! Lo memang gila! Syukur deh, kalau lo sadar. Gue kira lo gak bakal nyadar. Gue masih heran, kenapa gue harus terpilih hal-hal yang konyol kayak gini sih?” Pekik Rio dengan nada kesal “Dan yang lebih gue heran, kenapa harus lo sih! Kenapa bukan Cindy? Atau Dea? Atau Andini? Kenapa harus kamu?” Tanya Rio “Cerewet banget sih! Bisa diam gak! Lo mau mati ya?” Anggun yang jengkel dengan kelakuan Riopun menjauhi Rio ‘Emang dia kira dia sehebat apa? Sampai harus ngerendahin gue!’ batin Anggun dalam hati.
Keesokan harinya… “Heh! Anggun! Kita dipanggilin bu Desy tuh!” Ujar Felix “Gak mau ah.” Anggun menolak “Gue punya firasat buruk nih.” Ujar Anggun “Tapi kan, kita dipanggil.” Felix memaksa “Tapi kan, gue gak mau” Anggun masih tidak mau “Katanya ada sesuatu yang mau dia bilang ke kita” “yaudah deh” Akhirnya Anggun mau. Merekapun pergi menuju ruang guru untuk menghadap Bu Desy “Lo jangan ngapa-ngapain gue ya!” Ujar Anggun ke Felix “Enak aja! Emang siapa yang mau ngapa-ngapain lo? Lo pikir gue cowok apaan? Yang nafsu sama cewek seperti lo! Gak sederajat!” Cibir Felix ke Anggun “Apa lo bilang? Gak salah? Gue kan cewek tercantik di sekolah! Sedangkan lo? Cowok dengan mulut terlebar di sekolah. Alias cerewet” Anggun tak senang saat dianggap remeh oleh Felix.
Sesampai di ruang guru… “Akhirnya kalian datang juga! Ada yang ibu mau bilang nih!” Ujar Bu Desy “Ada apaan sih bu?” Tanya Felix “Iya nih bu. Gue lagi sibuk skali. Tapi karna ibu panggil, jadi gue datang aja.” Ujar Anggun “Oh ya? Aduh kalau gitu kamu balik saja dulu. Ibu jadi gak enak” Ujar Bu Desy “Bu!!! Jangan percaya bu! Dia gak sibuk. Dia tadi Cuma nyantai-nyantai doang” jelas Felix ke ibu Desy. Anggun menatap taja Felix “Kenapa lo?” Tanya Felix yang merasa tak nyaman dengan tatapan Anggun “Oke! Lupakan saja. Ini hari kalian akan diperkenalkan kepada semua murid-murid. Bahwa kalian adalah putra dan putri sekolah kita!” Ujar ibu Desy “APA!!!???” Pekik mereka kompak “Are you fucking kidding me, ma’am?” Tanya Anggun ke ibu Desy “can you shut up Motherfucker!” Seru Felix “Aduh… gue bisa gila!” Umpat Anggun “Gue gak mau bu” Ujar Anggun ke Bu Desy  “Gue juga gak mau” Felix juga tidak mau. “GAK ADA PILIHAN LAIN!!! CEPAT SANA SIAP-SIAP!” Seru Bu Desy dengan tampang sangarnya.
“Itu kan! Gue bilang juga apa, gue punya firasat buruk.” Ujar Anggun kesal “Kan gue gak tau!” Jawab Felix singkat “Yaudah, kalau lo marah ke gue, gue minta maaf deh!” Ujar Felix “Sebenarnya gue anti banget minta maaf, tapi kali ini entah kenapa, kayaknya gue harus minta maaf.” Ujar Felix lagi “Yaudah deh. Gue maafin. Udah gak ada gunanya lagi kok. Semua udah terjadi.” Ujar Anggun “Lo nangis ya?” Tanya Felix “Gak! Gue gak nangis!” ujar Anggun samba menghapus air matanya “Gak usah bohong deh. Gue minta maaf ya.” Ujar Felix “Gue nangis bukan karna itu kok. Gue nangis karna hal lain. Entahlah.” Ujar Anggun “Sudahlah… gak usah nangis!” Felix menenangkan “Gimana gue gak nangis? Hati gue kayak mau copot. Gue kayak gak tahan banget” ujar Anggun ‘Ni anak punya perasaan juga ya. Gue kira nggak.’ Gumam Felix dalam hati ‘Tapi kok, kata-kata itu… eh?’ Felix teringat sesuatu ‘Gak mungkin! Perasaan apa ini?’ Gumam Felix lagi.
Keesokan harinya… Anggun duduk di taman. Sambil menenangkan pikirannya. HP Anggunpun bergetar. Dia mengambil HP dari saku bajunya, dan ternyata itu pangilan dari mamanya “Kenapa sih?” tanya Anggun “Mama mau ngapain kemari?” tanya Anggun “Mama mau bawa gue ke Amerika?” Tanya Anggun lagi “Iya Anggun. Mama mau kesitu.” Jawab Mamanya dari telepon “Gak! Mama gak boleh! Anggun mau hidup sama papa! Anggun gak suka mama! Anggun benci mama! Mama jahat!” Umpat Anggun. Dan air mata Anggunpun menetes dia sebenarnya sangat sayang sama mamanya. Tapi Mamanya ninggalin papanya karena dia mendapat pria yang lebih bagus dari papa Anggun “Kamu sudah berani ya sama mama! Dasar kurang ajar…” umpat mama dari telepon “Masa bodoh. Emang gue pikirin” ujar Anggun sambil mematikan panggilan itu.
‘Mama jahat!’ Batin Anggun ‘Aku benci mama’ batinnya lagi dalam hati sambil terisak *Flashback on* “Sayang! Gue minta cerai! Gue bakal pergi ke amerika dengan laki-laki yang lebih ganteng, lebih kaya, dan lebih memuaskan dari kamu!” Ujar Mamanya Anggun sambil mendorong suaminya itu. Anggun yang masih kecil waktu itu, tak bisa berbuat apa-apa “Mama! Kalau mama pergi nanti yang urus aku siapa?” tanya Anggun sambil menahan mamanya “Emang mama pikirin!” ujar mamanya “gimana kalau cari aja mama baru! Gue udah gak betah hidup sama kalian” ujar mamanya lagi “Mama!!!” Anggunpun menahan kakinya mamanya “Udah ah!” ujar mamanya sambil melepas kakinya yang ditahan Anggun *Flashback off*  Anggunpun masih menangis.
“Lo ngapain?” Tanya Felix yang heran ngeliat Anggun menangis “Lo gak bisa liat? Kan jelas-jelas gue lagi nangis” Ujar Anggun “Lo bisa nangis juga ya? Gue kira nggak. Soalnya orang-orang kayak lo itu, biasanya gak punya hati. Jadi gak bisa nangis. Eeh ternyata bisa nangis juga” Ujar Felix “Cerewet banget!” Umpat Anggun “Biarin aja. So what gitu? Anyway, lo kenapa bisa nangis sih? Waduh… kayak sebuah fenomena alam deh kalau lihat lo nangis” Tanya Felix ke Anggun “Mama dan papa aku sebenarnya cerai 8 tahun lalu.” Jawab Anggun “What? Are you serious? Lo gak bercanda kan? Trus lo tinggal sama siapa? Papa lo ya?” Tanya Felix ke anggun “Iya. Aku tinggal sama papa aku. Dan tadi mama aku nelpon, katanya dia mau bawa aku ke Amerika, trus ninggalin papa sendiri.” Jelas Anggun “Trus gimana dengan papa lo?” Tanya Felix “Itu yang jadi masalahnya” jawab Anggun. ‘Jangan bilang… Cinta pertama gue yang 8 tahun lalu itu…’ Batin Felix dalam hati.
Malam harinya… “Gak mungkin!” umpatnya *Flashback on* “Kamu kenapa?” Tanya seorang anak laki-laki kecil yang melihat seorang anak perempuan menangis “Mama dan Papa aku mau cerai. Aku tak mau. Jadi aku kabur dari rumah.” Jawab anak perempuan itu “Kasian ya… Sudah! Gak usah menangis.” Anak laki-laki itu menenangkannya “Bagaimana aku gak nangis disaat orang tua aku ingin pisah.” Ujar anak perempuan tersebut “Iyaiya. Aku mengerti! Nama aku Felix. Nama kamu siapa?” Tanya anak laki-laki itu yang ternyata bernama Felix “Nama aku Ang…” Jawabnya terpotong karena ada  suara orang lain “Felix! Kamu dimana nak? Ayo kita pulang!” Begitulah suara yang terdengar “Itu mama aku. Aku harus pulang. Kamu yang sabar ya. Aku pulang dulu. Dadah~” Ujar Felix sambil meninggalkan anak perempuan itu. *Flashback off*  “Anggun cinta pertama gue?” tanya Felix ke dirinya sendiri “Entahlah… cewek yang udah gue tunggu selama 8 tahu itu, adalah dia?” Tanyanya lagi “Apa dia lupa gue ya?” Tanyanya lagi “Apa yang harus gue lakukan? Apa gue harus mengatakannya?”.
Keesokan harinya… Felixpun berjalan menuju sekolahnya. Dari kejauhan, dia melihat seorang perempuan yang dipaksa untuk masuk kedalam mobil. Diapun menyadari kalau perempuan itu adalah Anggun. Diapun berlari mendekati mereka. Diapun menarik Anggun untuk keluar dari mobil itu “Gue gak bakal membiarkan lo pergi!” Ujar Felix. Diapun menyerang orang-orang yang memaksa Anggun untuk pergi. Dan ternyata orang-orang itu adalah suruhan Mamanya Anggun. Felix mengira orang yang harus dilawannya adalah 3 orang yang disitu saja. Tetapi setelah mereka bertiga ambruk dihajar Felix, 5 orang lagi datang. Tapi dia tidak takut dia menghajar 5 orang itu sampai mereka kesakitan. Banyak yang melihat kejadian itu, tapi Felix hanya cuek kemudian membawa Anggun lari.
Merekapun lari bersama-sama menjauhi tempat tadi. “Anggun? Gue mau bilang sesuatu.” Ujar Felix “Mau bilang apaan sih?” Tanya Anggun “Gue mau bilang kalau sebenarnya… gue… gue suka sama lo… dari 8 tahun yang lalu!” Ujar Felix “Apa?” Tanya Anggun heran “Jangan bilang…” Ujar Anggun terpotong “Iya gue orang yang menenangkanmu 8 tahun yang lalu. Dan pada saat itu aku suka sama kamu. Dan sampai aku sekarang masih menunggunya.” Ujar Felix  “Felix… maafin gue ya.” Ujar Anggun “Jadi, lo masih ingat hal itu?” Tanya Felix “Gue masih ingat. Tapi gue kira itu bukan felix kamu… dan ternyata itu kamu.” Ujar Anggun “Jadi… lo mau gak jadi pacar gue?” Tanya Felix “Sebenarnya gue gak suka bilang ini… tapi aku harus jujur. Sebenarnya gue suka sama kamu. Karena kamu itu cerewet. Jadi aku rasa lucu. Dan gue suka lo dari waktu kita ditunjuk jadi putra dan putrid sekolah” Jelas Anggun.
 “Jadi lo mau gak?” Tanya Felix “Gue mau kok…” Ujar Anggun dengan pipi yang memerah. Merekapun berpacaran semenjak saat itu. hubungan felix dan Anggun sudah ditau oleh papanya Anggun. Dan dia merestuinya. Tiap hari Felix selalu ke rumah Anggun menemaninya kalau Felix lagi gak sibuk. Dan mamanya Felix sudah tak ada kabar lagi semenjak kejadian itu. Dan suatu hari dibawah pepohonan…  “Hey! Aku punya sesuatu buat kamu sayang!” Ujar Felix ke Anggun “Apaan yang?” tanya Anggun “ini” ujarnya kemudian mencium bibir Anggun “Heheheh…” Felixpun tertawa kemudian lari “Hey! Kamu jahat!!! Awas ya!!!” Anggunpun mengejar Felix untuk memukulnya “Aku belum siap tadi!” Ujar Anggun kemudian mereka tertawa

Tidak ada komentar: