Kamis, 28 Mei 2015

[[[ BONUS ]]] Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?

“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”

“Loh! Ini HP siapa?” Tanya seorang cowok sambil melihat HP tersebut “Daripada hilang, lebih baik gue amanin. Ntar aku harus cari pemiliknya” Dia berbicara sendiri sambil memicingkan kacamatanya “Oke! Hari ini aku harus mengerjakan soal tentang teorema phytagoras.” Dia berbicara sendiri lagi sambil mengeluarkan buku-buku matematikanya beserta soal-soal matematikanya. Belum berapa lama dia mengerjakan soal, ada seorang cewek yang berbicara padanya “Hei! Lo!” Ujar cewek tersebut “Aku? Ada apa ya?”Tanya cowok tersebut “Kamu liat HP gue gak?” Tanya cewek tersebut “Oh, jadi ini HP kamu ya?” Ujar cowok tersebut sambil memberikan HP yang dimaksud cewek tersebut “Iyaiya. Makasih ya.” Cewek itu berterima kasih “Tadi ketinggalan di meja. Daripada ada orang ambil. Jadi aku amanin aja.” Jelas cowok tersebut “Ohia… makasih ya. Gue Riska” Cewek itu ternyata bernama Riska “Aku Rio.” Jawab Cowok yang bernama Rio tersebut singkat kemudian mengerjakan kembali soal matematikanya.
“Kok aku gak bisa konsen mengerjakan sih? Malah kepikiran dia terus. Padahal aku gak kenal dia sama sekali” Rio kesal karena Riska selalu dalam pikirannya dan membuat dia tidak konsen mengerjakan matematikanya “Kalau begini, gimana mau ngerjain soal. Huuft, Apa aku pulang aja ya?” Dia berbicara sendiri sambil melihat jam “Udah jam 3 lewat 15.” Ujarnya “Tapi aku harus mengerjakan ini dulu. Karena besok aku udah harus pindah ke materi bilangan berpangkat tak sebenarnya.” Ujarnya lagi. Diapun kembali mengerjakan soal matematikanya “Hasilnya adalah akar pangkat dari 196… jadi panjangnya t sama dengan 14 cm.” ujarnya setelah mendapatkan jawaban nomor 24 “Trus yang ini hasilnya adalah akar pangkat dari 400… jadi panjangnya r sma dengan 20.” Ujarnya lagi saat mendapatkan jawaban nomor 25 “Selesai deh. Aku harus pulang.” Ujarnya sambil mengemasi barang-barangnya.
Malamnya… “Tadi aku ketemu dengan seorang cewek bernama Riska. Dia orangnya cantik. Dia menghampiri aku waktu sehabis pulang les. HPnya hilang dan dia menanyakanku apakah aku melihat HPnya. Dan akupun mengembalikan HPnya yang aku amankan karena aku takut HP itu hilang. Aku baru pertama kali itu melihatnya. Aku merasa kalau aku aneh, jadi aku tak berani menatap mukanya, aku hanya terus melanjutkan soal matematikaku. Dia sangat manis. Dan saat dia pergi, entahlah! Aku selalu kepikiran dia.” Rio menulis itu di buku Diary-nya.
Keesokan harinya… “jadi untuk merasionalkannya harus dikalikan dengan bilanngan sekawan ya…” ujar Rio sambil membaca buku matematika “Huuuft… hari ini agak susah deh kayaknya.” Ujarnya lagi kemudian mulai mengerjakan soal matematikanya “Kalau dilihat-lihat sih susah. Tapi pas dikerjain, ternyata gampang.” Ujarnya ketika telah berhasil mendapatkan jawaban nomor 1. Tanpa tersadar Riopun memikirkan Riska, dan diapun melupakan dengan soal-soal yang sedang dia kerjakan “hei!!! Kok melamun!” Tegur seorang cewek yang ternyata Riska, membuat Rio tersadar dari lamunan “Siapa yang melamun?” Tanya Rio “Emang tadi lo ngapain?” Tanya Riska “Lagi mikir” Jawab Rio singkat “Mikirin apa hayo?” Tanya Riska mulai kepo “Mikirin kamu Ris…” gumamnya dalam hati “Mikirin ini nih! *nunjuk soal matematika* soalnya susah banget!” Jawab Rio “Oooh gitu. gue boleh kan? Duduk disini?” Tanya Riska ke Rio “Boleh. Gak papa. Duduk aja” jawab Rio “Kamu cantik deh. Aku jadi merasa tidak pede kalau ada di dekatmu.” Gumam Rio dalam hati “Hmm… aku lagi punya tugas nih. Tapi aku belum mengerti maksudnya. Bisa bantu aku gak?” Pinta Riska “Tugas apa?” Tanya Rio “IPA.” Jawab Riska singkat “Ooh, IPA ya. Tentang apa?” tanya Rio lagi “Itu tuh! Tentang persilangan-persilangan gitu.” Jawab Riska “Ooh itu ya… gampang tuh.” Batin Rio dalam hati.
“Coba aku lihat?” Rio ingin melihat tugas yang dimaksud Riska tersebut “Oooh itu. jadi bunga merah (MM) disilangkan dengan bunga warna putih (mm). Nah keturunannya dapat bunga warna merah muda (Mm). Trus kalau keturunannya (Mm) itu disilangkan sesamanya (Mm). yang ditanya adalah perbandingan genotipe dan fenotipenya.  maka perbandingan genotipe keturunannya adalah MM : Mm : mm  = 1 : 2 : 1. Sedangkan perbandingan fenotipenya adalah Merah : Merah muda : Putih = 1 : 2 : 1.” Jelas Rio “Ooo gitu yah.” Riska mulai mengerti “Makasih ya” Ujar Riska. “Lo kalau di kelas juara berapa sih?” Tanya Riska lagi “Bukannya sombong ya… tapi karena kamu tanya, aku harus jawab. Aku juara 1 terus.” Jawab Rio “Wow. Hebat banget! Lulus SMP nanti, lo mau masuk mana?” Tanya Riska “Hmm, aku di SMA 1. Kalau kamu?” Rio nanya balik “Aku di SMA 1 juga. Wah, jadi SMA kita ketemu lagi ya.” Ujar Riska “Iyaiya.” Jawab Rio kemudian melanjutkan mengerjakan soal matematikanya. “Jadi kita sama-sama SMA 1 ya. Bertemu lagi deh…” Gumam Rio dalam hati “Tapi dia pasti tidak suka cowok cupu sepertiku.” Gumamnya lagi dalam hati.
“Eeeeh! Gue masuk ke kelas dulu ya!” Pamit Riska “Oh iyaiya.” Jawab Rio singkat. Riskapun balik ke kelasnya. “Kenapa dadaku bergetar saat dia di dekatku? Kenapa aku harus malu saat dia di dekatku? Apa yang terjadi dengan perasaanku? Aku belum pernah merasakan yang kayak gini.” Gumam Rio dalam hati “Ya Tuhan? Apa sebenarnya yang terjadi padaku?” Gumamnya lagi. Riopun terlupa dengan soal Matematikanya. “Hei! Kok malah melamun lo?” Tanya seorang cowok membuyarkan lumanan Rio “Eeeh, Andre. Ada apa, ndre?” Tanya Rio “Seharusnya yang tanya ‘ada apa’ itu gue, bukan lo. Ada apa sih? Kok melamun?” Tanya cowok tersebut yang ternyata bernama Andre “Masalah apa sih? Cerita dong!” Ujar Andre lagi “Masalah cewek.” Jawab Rio singkat “Apa? Cewek? Jadi lo lagi jatuh cinta ya?” Tanya Andre “Nggak. Aku gak lagi jatuh cinta. Hanya saja…” Ucapan Rio terpotong “Itu sama aja Rio! Emang siapa sih orangnya?” Tanya Andre “Riska.” Jawab Rio “Apa? Riska? Lo gak salah? Dia kan salah satu siswa paling cantik di sekolah kita” Pekik Andre “Aku tahu kok” Jawab Rio singkat “Trus? Gimana?” Tanya Andre “Aku sadar kok, dia gak bakal suka orang sepertiku. Jadi lebih baik ku lupakan saja.” Jelas Rio ke Andre “Lo yakin?” Tanya Andre “Kurang yakin sih.” Jawab Rio “Berusaha aja dulu… Biar Cuma sedikit” Ujar Andre “Nanti ku coba deh.” “Gitu dong! Itu baru sahabat gue!” Ujar Andre “Thanks ya, ndre! Aku ke perpustakaan dulu ya?” Ujar Rio ke Andre “Ngapain kesitu?” Tanya Andre “Aku mau minjam buku Fisika.” Jawab Rio “Inilah Albert Einstein di masa depan!” Ujar Andre sambil merangkul Rio “Apaan sih. Masih pintaran dia dibanding aku.” Rio merasa kurang nyaman dengan sebutan ‘Albert Einstein di masa depan’ itu. diapun pergi menuju perpustakaan.
‘Lebih baik kupendam saja rasa ini. Memang sih nyesek… daripada harus ku ungkapkan dan ternyata dia gak suka. Kan lebih nyesek lagi…’ Gumam Rio dalam hatinya ‘Tapi apa aku sanggup? Aku bahkan belum pernah merasakan. Ini baru yang pertama kalinya…’ Gumamnya lagi ‘Dia kan cewek popular. Dan dia gak bakal pernah suka cowok culun sepertiku’ Gumamnya lagi sambil memicingkan kacamatanya. Diapun sampai di perpustakaan sekolahnya… “Buku Fisikanya dimana? Sudah dipindah ya?” Rio bingung saat melihat buku-buku fisika sudah tidak ada lagi di tempat biasa buku fisika. ‘Ini buku apa ya?’ tanyanya dalam hati ‘DUNIA REMAJA??’ tanyanya lagi ‘kok ada buku seperti itu di perpustakaan?’ tanyanya lagi dalam hati hati. Diapun terdiam saat melihat sebuah buku dengan judul ‘Cara Menyembunyikan perasaan’. “Apa aku harus membaca buku ini?” Tanyanya pada dirinya sendiri “Mungkin iya” Jawabnya kemudian keluar dari perpustakaan.
Malamnya… “Apa aku harus membaca ini?.” Rio masih bertanya-tanya sambil memegang buku yang dia pinjam tadi dari perpustakaan “Apa aku harus menyembunyikan perasaanku?” Tanya Rio “Mungkin akan lebih baik kalo aku mencobanya dulu. Aku harus mengungkapkannya” pikirnya “Tapi aku kan orangnya pemalu.” Ujar Rio “Apa ini cobaan buat aku? Jadi ini ya? Rasanya cinta pertama? Selalu berdebar-debar dan membuat hari-hari jadi kacau” ujarnya lagi “Aku harus mencobanya dulu.” Ujar Rio ‘Hmmm… entahlah. Aku tak tau harus menggunkan rumus yang mana yang bisa menyelesaikan persamaan antara aku dan dia. Aku tak tau harus menggabungkan unsur-unsur apa, sehingga bisa membuat sebuah pengakuan cinta. Aku harus memindahkan ruas yang mana? Sehingga aku dan dia bersatu? Aku harus bagaimana?.’ Gumam Rio ‘Apa aku harus melakukan observasi-observasi untuk menyelesaikan rumusan masalah ini? Dan membuat hipotesa dari penelitian cintaku ini? Trus apa yang bisa menjadi kesimpulannya? Aku benar-benar tak tau. Hmm… Riska? Bisakah aku mencontek isi hatimu? Hanya sekali saja. Aku akan menggunakancara apapun hanya untuk itu.’ gumamnya lagi
Keesokan harinya… dia berjalan menuju kantin dan melihat Riska sedang termenung ‘Apakah ini saatnya?’  Riopun menghampiri Riska “Kamu kenapa?” Tanya Rio “Aku boleh duduk disini gak?” Tanyanya lagi sambil memicingkan kacamatanya “*Menoleh kearah Rio* Oh lo ya. Gue kirain siapa. Duduk aja” Jawab Riska “Makasih” Ujar Rio “Sama-sama” Balas Riska sambil tersenyum. Riopun tersenyum “Ohia, tumben!” Riskapun memecah suasana yang hening sesaat “Tumben apaan?” Tanya Rio bingung “Mana buku lo? Biasanya kan, lo ngerjain matematika mulu.” Ujar Riska “Ohia, aku lupa. Soalnya lagi gak mood.”Jawabnya ‘Loh kok malah bilang kayak gitu. kan gak masuk akal’ gumam Rio dalam hati “oooh gitu ya. Emang kalau belajar harus tergantung mood kamu ya?” Tanya Riska “Nggak juga sih. Tapi ini hari, aku ngerasa ada yang lain gitu” Jawab Rio ‘Kok aku jadi salah tingkah kayak gini sih? Lebih baik nanti lain kali aja deh’ gumamnya lagi “ooh gitu…” jawab Riska singkat “Udah ya… aku mau ke kelas. Daaah…” Rio pamit sama Riska “Oke… Daah!” balas Riska
 Riopun meninggalkan Riska yang masih di kantin, dan tak lama kemudian ada sebuah suara yang membuat Rio berbalik dan mencari sumber suara tersebut “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!”  Dan ternyata itu Riska. Riopun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio. ‘Dia pasti bercanda’ gumamnya dalam hati. Riopun memeluk Riska erat. Tapi pelukan itu tak berlangsung lama. Riopun melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.” Ujar Rio ‘Maafkan aku. Aku terlalu penakut untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Aku memang suka kamu. Tapi aku gak mau kamu bilang begituan hanya karena kamu tau kalau aku suka sama kamu. Mungkin cuma pelukan istimewa tadi yang bisa kuberikan padamu. Aku sadar kok kalau kamu gak suka aku. Aku akan menghilang dari hidup kamu. Selamat tinggal’ Gumamnya dalam hati
Dan setelah kejadian itu, Rio sudah tak muncul lagi didepan Riska. Dia selalu bersembunyi dari Riska ‘Aku terlalu payah. Inilah akhir cinta pertamaku’ gumamnya dalam hati “Dan kini, akupun tersadar, kalau aku masih sayang sama dia.” tulisnya di sebuah buku catatannya.

Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?

“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”

“Huaaah! Akhirnya Les-nya selesai!” Seorang cewek menghela nafas lega “Tadi pusing banget. Kenapa sih? Harus ada matematika? Matematika itu kan susah. Huuft” Cewek tersebut menggerutu kesal “Loh? Kok gak ada?” Cewek tersebut panik saat sadar kalau HPnya tidak ada di kelas “Jangan bilang ketinggalan di tempat les tadi! Aaaargh…” Cewek tersebutpun pergi ke tempat les nya tadi. Sesampainya ditempat les-nya… Cewek tersebut melihat seorang cowok culun berkacamata sedang duduk sambil mengerjakan soal-soal matematika tapi dia tidak melihat HPnya di meja tempat dia duduk tadi “Hei! Lo!” Ujar cewek tersebut “Aku? Ada apa ya?”Tanya cowok tersebut “Kamu liat HP gue gak?” Tanya cewek tersebut “Oh, jadi ini HP kamu ya?” Ujar cowok tersebut sambil memberikan HP yang dimaksud cewek tersebut “Iyaiya. Makasih ya.” Cewek itu berterima kasih “Tadi ketinggalan di meja. Daripada ada orang ambil. Jadi aku amanin aja.” Jelas cowok tersebut “Ohia… makasih ya. Gue Riska” Cewek itu ternyata bernama Riska “Aku Rio.” Jawab Cowok tersebut singkat kemudian mengerjakan kembali soal matematikanya.
Di perjalanan pulang ke rumahnya… Riska tak sadar kalau dia sedang memikirkan Rio. Cowok cupu yang dia barusan temui tadi. “Loh! Kok malah mikirin dia sih!” Diapun tersadar kalau dari tadi memikirkan Rio “Padahal dia itu kuno banget. Gak tau style. Ciih… dia hidup zaman berapa sih?” Riska terus mengata-ngatai si Rio “Tapi, sebenarnya dia itu ganteng! Seandainya dia mencukur sedikit rambutnya dan melepaskan kacamatanya” Ujarnya lagi “Loh! Kok malah gini?” dia mulai bingung dengan dirinya sendiri “Dia kan sama sekali tidak keren. Trus bukan tipe idaman gadis-gadis di sekolah” ujarnya “Tapi kok… gue kayak suka sama dia ya?” Dia mulai bingung dengan perasaannya “Aaargh… mungkin hari ini gue gila!” umpatnya kemudian mempercepat langkahnya menuju rumahnya.
Keesokan harinya… “Fiaaaa!!!! Fia!!!” Riska memanggil nama temannya “Apaan sih?” Tanya temannya yang bernama Fia “Kamu tau Rio ya? Yang 9A itu…” Tanya Riska “Rio? Yang 9A? Ooh, tau. Kenapa?” Tanya Fia “Menurut kamu, dia orangnya gimana sih?” Tanya Riska “Kuno! Cupu! Gak keren! Gak gaul! Gak tau style!” jawab Fia “Iya ya! Benar juga!” Riska membenarkan “Kenapa? Kok kamu nanya-nanya tentang dia?”Tanya Fia “Aaah gak kok!” Jawab Riska “Kamu suka dia ya?” Tanya Fia “Apa? Gak mungkin! Aku gak mungkin suka dia” Jawab Riska “Trus kenapa mukamu merah?” Tanya Fia yang membuat Riska tak tau harus bilang apa “Ayo deh! Gak usah bohong!” Ujar Fia “Iyaiya! Aku ngaku. Aku suka dia, cinta pada pandangan yang pertama!” Riskapun mengaku “Apa? CINTA PADA PANDANGAN YANG PERTAMA? Kamu serius? Lo kan salah satu murid tercantik di sekolah kita” Tanya Fia “Iya. Entahlah aku selalu tersenyum-senyum saat memikirkan dia!” Jawab Riska “Dia itu sebenarnya ganteng loh!” Ujar Riska “Kamu bercanda?” Tanya Fia “Nggak! Aku serius. Seandainya kacamatanya dilepasin dan rambutnya dicukur dikit. Bakal ganteng tuh!” Ujar Riska “Trus kamu berani gak? Ngedekatin dia?” Tantang Fia “Beranilah” Ujarnya dengan penuh percaya diri
“Eh! Itu ada Rio.” Ujar Fia “Coba kamu dekatin dia.” Ujarnya lagi “Yaudah. Siapa takut.” Riska gak mau kalah. Riskapun menghampiri Rio yang sedang melamun saat mengerjakan tugas matematika “hei!!! Kok melamun!” Tegurnya, membuat Rio tersadar dari lamunan “Siapa yang melamun?” Tanya Rio “Emang tadi lo ngapain?” Tanya Riska “Lagi mikir” Jawab Rio singkat “Mikirin apa hayo?” Tanya Riska mulai kepo “Mikirin ini nih! *nunjuk soal matematika* soalnya susah banget!” Jawab Rio “Oooh gue kira mikirin aku” Gumam Riska dalam hati “Oooh gitu. gue boleh kan? Duduk disini?” Tanya Riska ke Rio “Boleh. Gak papa. Duduk aja” jawab Rio “Rio? Hari ini aku cantik kan? Ayo puji aku dong.” Gumam Riska dalam hati. Merekapun hanya terdiam “Hmm… aku lagi punya tugas nih. Tapi aku belum mengerti maksudnya. Bisa bantu aku gak?” Pinta Riska sambil memecahkan keheningan “Tugas apa?” Tanya Rio “IPA.” Jawab Riska singkat “Ooh, IPA ya. Tentang apa?” tanya Rio lagi “Itu tuh! Tentang persilangan-persilangan gitu.” Jawab Riska.
“Coba aku lihat?” Rio ingin melihat tugas yang dimaksud Riska tersebut “Oooh itu. jadi bunga merah (MM) disilangkan dengan bunga warna putih (mm). Nah keturunannya dapat bunga warna merah muda (Mm). Trus kalau keturunannya (Mm) itu disilangkan sesamanya (Mm). yang ditanya adalah perbandingan genotipe dan fenotipenya.  maka perbandingan genotipe keturunannya adalah MM : Mm : mm  = 1 : 2 : 1. Sedangkan perbandingan fenotipenya adalah Merah : Merah muda : Putih = 1 : 2 : 1.” Jelas Rio “Ooo gitu yah.” Riska mulai mengerti “Makasih ya” Ujar Riska. “Ternyata dia pintar banget” Puji Riska dalam hati. “Gue jadi malu kalau harus didekatnya. Gue kan bodoh. Dia gak bakalan suka cewek seperti gue.” Gumamnya lagi dalam hati. “Lo kalau di kelas juara berapa sih?” Tanya Riska “Bukannya sombong ya… tapi karena kamu tanya, aku harus jawab. Aku juara 1 terus.” Jawab Rio “Wow. Hebat banget! Lulus SMP nanti, lo mau masuk mana?” Tanya Riska “Hmm, aku di SMA 1. Kalau kamu?” Rio nanya balik “Aku di SMA 1 juga. Wah, jadi SMA kita ketemu lagi ya.” Ujar Riska “Iyaiya.” Jawab Rio kemudian melanjutkan mengerjakan soal matematikanya. “Gak nyangka. Bakal sama-sama dengan dia lagi.” Gumam Riska dalam hati.
“Eeeeh! Gue masuk ke kelas dulu ya!” Pamit Riska “Oh iyaiya.” Jawab Rio singkat. Riskapun balik ke kelasnya. Sesampainya di kelas, dia langsung menghampiri Fia “Fia!!!” “Ya? Kenapa?” Tanya Fia “Aku tadi udah dekatin dia loh!” Ujar Riska dengan bangganya “Ciee… trus gimana?” Tanya Fia “Dia itu pintar banget. Dia gak bakal mungkin suka cewek seperti aku.” Ujar Riska “Emang lo serius dengan dia? Lo kan salah satu murid paling cantik di sekolah kita. Ntar mereka bilang selera lo rendahan.” Ujar Da Fia “Coba kamu bayangin, seandainya kamu udah jadian dengan dia. Dan kalian kencan. Mungkin saat kencanpun dia masih sempat-sempatnya ngerjain matematika.” Ujarnya lagi “Iya juga sih!” Jawab Riska “Tapi itu sih gak papa menurut aku.” Tambah Riska “kalau masih sempat-sempatnya ngerjain matematika sih gak papa. Tapi kalau lo malah dicuekin? Gimana?” Tanya Fia “Percaya aja deh, dia gak bakal gitu.” Jawab Riska dengan tenang “Jadi? Gimana? Lo mau belajar juga? Biar pandai?” Tanya Fia “Iya juga yah. Dan akhirnya si Rio berpaling sama aku.” Jawab Riska “Aaargh! Lo kok hanya mikirin yang bagus-bagus sih? Bukannya mikirin dampak buruknya!” Ujar Fia “Yang diperlukan itu hanya yang bagus-bagusnya aja. Kalo dampak buruknya ada, anggap saja cobaan.” Jawab Riska enteng “Ah elu mah gitu orangnya.” Ujar Fia dan merekapun tertawa.
Malamnya… “Duuuh… kok gue kepikiran Rio mulu yah? Kok gue jadi kayak gini sih? Dia itu kan gak ada bagus-bagusnya. Hanya saja… dia ganteng. Yap dia ganteng seandainya dia mencukur rambutnya dan melepas kacamatanya. Aaaargh yaampun. Gue yakin, artis koreapun bakalan kalah.” Riska berbicara sendiri “Tapi? Apa gue harus mengungkapkan perasaan gue ya?” Tanya Riska “Kan sakit, kalo dia ternyata gak suka gue.” pikirnya “Tapi gue gak peduli! Gue harus bisa!!!! Gak peduli cinta gue terbalas atau gak! Tapi gue harus  bisa!!! RISKA PASTI BISAA!!!” Ujar Riska dengan semangat yang menggebu-gebu “RISKA!!! Kamu bicara sama siapa tuh?” Tanya Mamanya Riska dari bawah “Gak kok ma! Cuma acting doang.” Jawabnya sambil nyengir sendiri dalam kamar
Riskapun  menemui wali kelasnya Ibu? Apa nilaiku tinggi? Apa aku bisa juara 1? Apa nilaiku pling tinggi dari seluruh murid di Indonesia? Apa aku bisa dikategorikan siswa pintar dan jenius? Apa aku bisa masuk kelas akselerasi?” Tanya Riska ke wali kelasnya “Apa kamu gila? Nilai kamu yang dibawah rata-rata itu kamu bilang pintar? Kamu bisa naik ke kelas IX ini aja, ibu masih meragukannya” Ujar Ibu Vina, wali kelasnya ‘Duuuh gimana nih? Gueterlalu bodoh. Apa gue harus les privat ya? Biar gue juara dan bisa membuat si Rio berpaling pada gue. Tapi kayaknya mustahil deh.’ Gumam Riska dalam hati ‘Rio? BISAKAH AKU MENCONTEK ISI HATIMU? Sekali aja! Cuma mau liat aja, Apa ada nama aku di hatimu atau gak. Tapi Rio gak bakal suka gue. Gue emang populer. Tapi Rio gak terlalu tertarik ama orang popular sepertiku. Dia tidak tertarik hal lain selain pelajaran.’ Gumamnya lagi.
Riskapun terlihat tak bersemangat. Dia tampak putus asa, karena tak ada cara lain yang bisa dia lakukan untuk membuat Rio berpaling padanya “Apa beneran tak ada yang bisa ge lakukan untuk bisa pintar?” Tanyanya sambil duduk termenung di meja kantin “Aaah gue benar benar gila.” Ujarnya “Kamu kenapa?” Tanya seseorang yang ternyata Rio “Aku boleh duduk disini gak?” Tanyanya sambil memicingkan kacamatanya “*Menoleh kearah Rio* Oh lo ya. Gue kirain siapa. Duduk aja” Jawab Riska “Makasih” Ujar Rio “Sama-sama” Balas Riska sambil tersenyum. Riopun tersenyum ‘Duuuh senyumannya itu tuh’ gumam Riska dalam hati. “Ohia, tumben!” Riskapun memecah suasana yang hening sesaat “Tumben apaan?” Tanya Rio bingung “Mana buku lo? Biasanya kan, lo ngerjain matematika mulu.” Ujar Riska “Ohia, aku lupa. Soalnya lagi gak mood.”Jawabnya “oooh gitu ya. Emang kalau belajar harus tergantung mood kamu ya?” Tanya Riska “Nggak juga sih. Tapi ini hari, aku ngerasa ada yang lain gitu” Jawab Rio “ooh gitu…” “Udah ya… aku mau ke kelas. Daaah…” Rio pamit sama Riska “Oke… Daah!” balas Riska ‘Kok Cuma sebentar doang? Gue kan baru mau ngomong’ gumam Riska dalam hati.
Riskapun mengejar Rio, “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!”  teriaknya dari kejauhan membuat Rio berbalik untuk mencari sumber suara itu. Dan ternyata itu Riska. Diapun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio. Riopun terkejut dan memeluk Riska erat. Riskapun menangis dalam pelukan. Tapi pelukan itu tak berlangsung lama. Riopun melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.” Ujar Rio dan kemudian menghilang ‘Ya. Kamu benar, Rio. Aku maafkan kamu kok. Aku tau, aku gak bisa egois. Aku memang suka kamu. Tapi aku gak bisa memaksakan kamu mencintaiku. Dan gak papa kalau kamu tidak bisa. Aku mengerti kok.’ Gumam Riska dalam hati sambil menangis.
Diapun masuk ke kelas… ‘Aku sudah melakukannya. Aku sudah melakukannya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku. Kepada Dia. Aku tau ini akan seperti ini. Tapi aku akan baik-baik saja, Karena aku kuat. Dia tadi memberiku sebuah pelukan. Pelukan hangat sebagai seorang teman. Karena dia hanya menganggapku sebagai teman dan tak lebih. Aku menangis. Aku sedih. Aku telah melakukan hal yang sangat sulit dan sekarang aku harus menghadapi yang akan terjadi. Bagaimanapun itu…’ gumam Riska dalam hati. Dan setelah kejadian itu, Riska sudah tak pernah lagi melihat Rio. Entahlah, dia sudah tak pernah lagi melihat senyumannya yang pernah membuat hati Riska berdebar. Tapi Riska harus menjalani hari-hari yang sulit tersebut. “Dan kini, akupun tersadar, aku kehilangan dia” tulisnya di sebuah buku catatannya.


Selasa, 19 Mei 2015

Summer Already Gone With You Part 2



Musim panas terkadang mengajarkan kita. Mengajarkan kita untuk tegar dan sedikit bersikap dewasa. Membuat kita tau, bagaimana sebenarnya kepahitan hidup ini. Karena tidak ada yang selama hidupnya dipenuhi dengan kebahagian. Pasti banyak cobaan yang menghadang. Dan setelah musim panas berlalu, kita pasti akan mendapatkan pelajaran.
Summer Already Gone With You
Part 2
“Aku akan baik-baik saja kok Dyth. Karena aku kuat!”

Di bandara… “Dyth? Lo kalo udah nyampe disana, jangan lupain kita ya,” Ujar Ferdi “Iya ya Dyth! Jangan lupa ama kita ber-enam,” Tambah Arif “Iya. Ingat ya, kita sering main dirumah pantai. Main kejar-kejaran, Main sembunyi tepuk, pokoknya semuanya deh! Jangan dilupa ya!,” Ujar Reni “Iya friends! Gue gak bakalan lupain kalian. Kita kan udah temanan dari dulu. Gue bakal ingat semua. Makasih ya, udah mau jadi teman gue selama ini!” ujar Adyth “Iyaiya” Jawab mereka semua kompak “DYTH!!! TUNGGU!!!” Teriak Cia sambil berlari “Maaf yaaa… gue telat,” ucap Cia “Gue tadi masih ke rumah Tata,” Tambah Cia “Dia gak bisa datang,” Tambah Cia lagi “Iyadeh gakpapa,” Jawab Adyth singkat. “Dia bilang gini *sambil berbisik ke Adyth* Katanya hubungan kalian cukup sampai disini aja. Soalnya dia gak bisa LDR,” Jelas Cia “Yaudah,” Jawab Adyth singkat.
“Ayo Dyth! Pesawatnya udah mau berangkat!” Ujar Mamanya Adyth “Ohia Ma!” Jawab Adyth singkat “Teman-teman? Gue udah mau pergi nih. Good bye ya…,” Ucap Adyth sambil melambaikan tangan. Dia hanya bisa memandang kosong semua temannya sambil melambaikan tangannya. “Good bye, Ta” Gumam Adyth dalam hati. “Aah… Adyth sudah pergi. Sekarang tinggal kita ber-enam.” Ujar Devi “And as we know, Tidak akan sama tanpa semua orang disini. Jadi, kita ber-enam tidak akan sama seperti waktu kita ber-tujuh,” Tambah Devi “Tapi Dev, suatu saat nanti kita bakal terbiasa. Ayolah…,” Ujar Cia “Andai saja Tata ada disini.” Ucap Reni “Tata gak bakalan disini!” Jawab Cia “Yaudah! Kita ke rumah pantai yuuk!” Seru Ferdi “Lain kali aja deh! Kali ini kita istirahat dulu aja Ferd!” Protes Devi “Iya! Teman baru aja pindah, lo udah mau senang-senang! Lo berarti bersenang-senang diatas kesedihan orang Ferd!” Sambung Cia “Yeah! That’s right! Punya hati nurani kan? Masa’ kek gitu!” Arifpun ikut-ikutan “Udah ah! Malah pada ribut! Kasian tuh si Ferdi!” Renipun angkat bicara “Ciih! MUNAFIK LO!” Umpat Cia dalam hati “Yaudah sekarang kita bubar aja dulu!” Seru Devi. Semuanyapun balik kerumah masing-masing.
“Momen yang indah” Ujar Tata saat melihat foto-foto yang ada di Kamera Polaroid Tata. Tata selalu mengabadikan momen-momen indah di kamera itu. “Itu berlalu begitu cepat. Tanpa disadari.” Tambah Tata lagi. Tatapun keluar dari rumahnya. Dia mau pergi ke rumah pantai untuk menenangkan perasaannya. Tapi dia heran kenapa ada banyak orang berkerumun disitu. “APA???” Tata tercengang saat tahu rumah pantai itu terbakar. Diapun segera mengambil HPnya dari saku celana. Dan segera mengirim SMS ke teman-temannya “Guys!!! Rumah pantai kita terbakar!!!”. Banyak balasan dari temannya. Dia hanya bisa mengirim SMS ini “Lebih baik kalian cepat kemari! Aku didepan minimarket yang dekat pantai itu.”
Ferdi, Arif, Cia, Devi dan Renipun sudah ada di minimarket tempat Tata menunggu “TATA!!!” Sapa mereka “Sebenarnya, kenapa rumah pantai ini terbakar?” tanya Cia “Aku juga gak tau, Ci! Waktu aku mau jalan ke rumah pantai. Aku heran kenapa banyak orang berkerumun disekitar situ. Eeeh aku kaget waktu ada yang berteriak “Ayo! Padamkan apinya cepat!”. Dan aku sadar ternyata rumah pantai itu terbakar.” Jelas Cia. “Duuh disana kan masih ada barang-barang kita.” Ujar Devi “Pasti semuanya habis terbakar!” sambung Arif “Disitu kan ada banyak kenang-kenangan” Tambah Devi “Kenang-kenangan?” Tatapun teringat sesuatu.
*Flasback on* “Ta?” “Ya? Knapa?” Tanya Tata “Itu tuh, Ada Es krim di dagumu.” Jawab Adyth “Oh ya?” Tanya Tata “Iya. Ini!!! *sambil memberikan sapu tangan* pakai ini saja!!” Seru Adyth “*Meng-lap Es krim yang ada di dagunya* Makasih ya Dyth!” Ujar Tata “Iya… sama-sama. Sapu tangannya ambil aja! Kenang-kenangan dari aku tuh!” Ujar Adyth “Adyth apaan sih! Ngasih kenang-kenangan yang romantis dikit bisa gak? Kok Cuma sapu tangan.” Tata kesal “Oh, jadi kamu mau apa? Es krim? Kalau aku kasih kamu es krim, itu mah bukan kenang-kenangan. Pasti satu hari langsung habis semua es krim yang aku kasih ke kamu. Gimana mau dikenang kalau kayak gitu!” Jelas Adyth “Ciee… Ngambek ya? Aku kan Cuma bercanda” Bujuk Cia ke Adyth “Au ah… gelap!” *Flashback off*
“Hei! Kok malah melamun! Ntar kesambet loh!” Ujar Ferdi membuyarkan lamunan Tata “Ihh apa-apaan sih. Siapa juga yang melamun.” Tata membela diri “Tuuh tadi jelas-jelas lo ngelamun” Ferdi meyakinkan “Aah gak ah! Perasaan lo aja kaleee…” Bantah Tata “Udah ah! Kalian kok malah ribut!” Tegur Reni ke mereka berdua dengan sinisnya “Biasa aja kale” Ledek Ferdi.
Orang-orang yang ada di sekitar rumah pantai itu telah berhasil memadamkan api yang ada di rumah pantai itu. dan membawa keluar barang-barang yang ada didalamnya. Tata, Cia, Reni, Devi, Ferdi dan Arifpun mendekati tumpukan barang itu. “Oh tidak!!! Topi pantaiku terbakar, baju hawaiku!!!” Pekik Ferdi “Semuanya terbakar… PSP gue, PVP gue, Tablet gue, Powerbank gue, Samsung gue dan bahkan I-Phone gue! Semuanya terbakar!!!” Pekik Arif juga dengan nada datar “Aaah Arif sih! Barang-barang eletronik malah dibawah kesini! Gak takut apa dicuri!” Ujar Cia “APA!!??? Bedak gue!!! Lipstik gue!!! Kotak make-up gue! Pelentik bulu mata gue! Peralatan maskeran gue!! Terbakar juga? Huaaaaaa…” Pekik Cia saat melihat peralatan make-upnya juga terbakar “Situ juga! Ngapain sih! Bawa-bawa make-up disini!” Sindir Arif “Semuanya punya gue dan punya Reni juga terbakar!” Ucap Devi “Loh, kok punya gue gak ada?” Tata panik “Apa yang gak ada, Ta!?” Tanya Cia “Itu tuh… Kotak akuarium mini punyaku itu!” Jawab Tata “Oh, akurium yang ini? *sambil memperlihatkan akuarium punya Tata*” Tanya seorang pria yang mengeluarkan barang-barang dari rumah pantai itu “Cuma ini yang tidak terbakar.” Tambah pria besar tersebut “Iya. Yang itu. Huuuft, syukurlah gak terbakar.” Tata menghela nafas lega.
“Kok Cuma barang Tata yang gak terbakar?” Tanya Reni “Ta? Lo ya? Yang bakar rumah pantai kita?” Tanya Reni lagi “Apa? Aku? Aku gak mungkin tega membakar rumah pantai kita!” Jawab Tata “Betul juga kata Reni. Kan lo sendiri yang pertama tau kalau rumah pantai kita terbakar! Berarti lo yang membakarnya!” Ujar Devi mendukung Reni “Gak! Aku juga baru tau tadi. Aku kan yang SMS kalian kalau rumah pantai kita terbakar. Kalau aku yang bakar, gak mungkin aku sebarkan masalah ini!” Bantah Tata “Betul tuh! Yang Tata bilang” Cia membela Tata “Munafik banget! Bilang aja kalo lo ngebakar rumah pantai kita karena lo gak terima dengan kepergian cowok lo!” Ferdipun angkat bicara “Apa? Jadi kamu pacaran dengan Adyth?” Tanya Arif “Wow! Hebat ya! Kalian pacaran diam-diam. Dan lo juga diam-diam membakar Rumah pantai kita!” Reni makin memanasi “*Menampar Reni* Ada buktinya aku yang membakarnya? Ada buktinya? Apa ada foto? Kalau gak ada jangan asal nuduh deh! Aku gak suka orang bermuka dua! Gak tau harus menampar muka mana duluan! Tapi aku sudah menampar mukamu yang satunya! *Menampar Reni lagi* Dan aku sudah menampar kedua mukanya! Kamu nuduh aku supaya pelaku aslinya tidak terlihat kan?” Tanya Tata “APA???” Semuanya kaget “SEMUA!!! KITA KUMPUL DI RUMAH GUE! DI KAMAR GUE!” Ujar Cia membubarkan kekacauan ini.
Di kamar Cia… “Oke! Semuanya, aku ingin jujur kalau sebenarnya aku pacaran sama Adyth. Sudah sangat lama. Dan aku merahasiakannya dari kalian. Kenapa aku merahasiakannya? Supaya persahabatan kita gak hancur. Tapi masih ada juga yang menghancurkannya. Dan bahkan memfitnah aku dengan membakar rumah pantai kita dan meninggalkan jejak kecurigaan seakan-akan akulah yang membakarnya.” Jelas Tata “Jadi kamu tau pelaku aslinya?” Tanya Arif “Tanya ama Reni! Dia juga tau!” “Apa-apaan sih ini! Kok malah tunjuk-tunjukan?” Tanya Devi “Pelakunya itu tau tentang hubungan antara Tata dan Adyth. Dan dia juga suka sama Tata. Jadi… dia cemburu terhadap hal itu! Diapun meneror Tata. Dan bahkan dia ingin membuat Tata terpojok dengan peristiwa yang menimpa rumah pantai kita” Jelas Cia “Jadi pelakunya Ferdi ya?” Tanya Devi “Apa? Bukan! Bukan gue pelakunya!” Bantah Ferdi “Tapi kan lo tau hubungan antara Adyth dan Tata.” Ujar Devi “Salah Dev! Pelakunya adalah… perempuan! Dia menyukai Tata. Dia lesbi” Tambah Cia lagi “APA????” Tanya Devi, Ferdi dan Arif kaget “Dan dia adalah orang yang kutampar tadi” Tambah Tata sambil menunjuk Reni.
“Reni? Jadi lo pelakunya ya?” Tanya Arif “Gue gak percaya! Ada pengkhianat juga di antara kita!” Ujar Devi “Udah deh! Lebih baik kita keluarin dia aja dari kita.” Saran Ferdi “Maaf ya, Ta! Udah menuduh kamu.” Ujar Devi “Iya. Gak papa kok. Wajar aja, namanya juga manusia.” Jawab Tata “Gue juga minta maaf” Ujar Ferdi. Reni menangis dan keluar dari rumah Cia. “Biarkan saja dia. Akan lebih bagus lagi kalau tidak ada pengganggu di antara kita.” Ujar Cia “Oke!!! Kan Adyth yang ternyata ketua dari kelompok kita udah pindah. Jadi aku serahin jabatan ketua itu ke Tata.” Tambah Devi “Benar juga tuh!” Ujar Ferdi “Aaah apaan sih. Heheheh, aku gak terlalu sih kalau harus jadi ketua. Yang penting aku punya sahabat seperti kalian” Ujar Tata “Hahahahah… kita juga kok” Ujar Arif “Sekarang tinggal kita berlima……” Kata Tata “Dan aku harap esok dan seterusnya juga kita tetap berlima.” Tambah tata lagi “Ayo! Kita rayakan pesta dadakan!” Seru Cia “Ayo!!!!”
Merekapun berpesta di rumah Cia. Hari itu mungkin adalah hari yang memberatkan bagi mereka. Kepergian Adyth yang harus ikut orang tuanya ke Bali. Terbakarnya rumah pantai mereka. Dan adanya Reni si pengkhianat diantara mereka. Tapi mereka sanggup menjalaninya. Dari bertujuh, merekapun tinggal berlima. Dua telah gugur. Tapi mereka akan tetap bersama-sama. Mereka hidup dengan tenang dan mendapatkan tempat tongkrongan baru. Yaitu villa khusus untuk mereka. Dan mereka sangat berterima kasih, karena itu adalah pemberian orang tuanya Cia. Merekapun sangat senang dengan tempat tongkrongan baru mereka. Tapi ini belum selesai. Masih ada yang terlupakan…
“Gak terasa ya. Udah lama kamu udah ninggalin aku. Hmm… aku terlalu egois ya? Heheheh… Aku ralat deh. Udah lama ya… kamu ninggalin kita. Ninggalin Aku, Cia, Devi, Ferdi dan Arif.” Gumam Tata dalam hati “Aku masih sering liat-liat foto-foto kita bertujuh dan video-video kenangan kita yang di kamera aku. Aku sedih karena itu telah berakhir. Tapi aku senang skali itu pernah terjadi” Gumam Tata lagi “Jujur deh! Aku belum bisa ngelupain kamu. Aku masih sayang sama kamu. Tapi aku akan baik-baik saja. Karena aku kuat. Aku akan berusaha untuk bisa melakukan semuanya tanpamu” Tata masih bergumam di dalam hati “Sebenarnya yang tak bisa kulupakan adalah kenangan kita. Bukan kamu yang membuat kenangan itu. Karena sedih, senang, canda, tawa, duka, dan bahagia ada didalam kenangan itu.”
“Dyth? Aku mau ke rumah pantai kok. Mau ngenang masa-masa kita. Aku tau kok. Flashback itu menyakitkan. Tapi tak apalah. Kamu masih ingat aku kan?” Tanya Tata sambil berjalan menuju pantai. Tapi dia terhenti saat melihat papan tanda larangan masuk tertera disitu. Dia sangat sedih. Mungkin dia memang tak seharusnya mengingat hari-hari bersama Adyth “Mungkin Tuhan ingin aku untuk melupakannya. Dan aku percaya, Tuhan punya rencana yang terbaik” gumam Tata dalam hati. Dia harus melupakan hari-hari saat dia dan Adyth berjemuran di pasir pantai, saat saat mereka main kejar-kejaran, dan membuat istana pasir “Itu adalah kenangan yang indah” ujar Tata. Tak terasa air matanya mengalir, “Dia telah pergi bersama kenangan di musim panas. Dan sekarang tinggallah aku dan rasa sakit di hati ini” gumam Tata di dalam hati. Tatapun beranjak pergi.
Musim panas terkadang mengajarkan kita. Mengajarkan kita untuk tegar, bersikap kuat dan sedikit bersikap dewasa untuk menjalani kehidupan. Membuat kita tau, bagaimana sebenarnya kepahitan hidup ini. Karena tidak ada yang selama hidupnya dipenuhi dengan kebahagian. Pasti banyak cobaan yang menghadang. Dan setelah musim panas berlalu, kita pasti akan mendapatkan pelajaran. Pelajaran yang mungkin sangat berarti bagi kita.