“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”
“Huaaah!
Akhirnya Les-nya selesai!” Seorang cewek menghela nafas lega “Tadi pusing
banget. Kenapa sih? Harus ada matematika? Matematika itu kan susah. Huuft”
Cewek tersebut menggerutu kesal “Loh? Kok gak ada?” Cewek tersebut panik saat
sadar kalau HPnya tidak ada di kelas “Jangan bilang ketinggalan di tempat les
tadi! Aaaargh…” Cewek tersebutpun pergi ke tempat les nya tadi. Sesampainya
ditempat les-nya… Cewek tersebut melihat seorang cowok culun berkacamata sedang
duduk sambil mengerjakan soal-soal matematika tapi dia tidak melihat HPnya di
meja tempat dia duduk tadi “Hei! Lo!” Ujar cewek tersebut “Aku? Ada apa
ya?”Tanya cowok tersebut “Kamu liat HP gue gak?” Tanya cewek tersebut “Oh, jadi
ini HP kamu ya?” Ujar cowok tersebut sambil memberikan HP yang dimaksud cewek
tersebut “Iyaiya. Makasih ya.” Cewek itu berterima kasih “Tadi ketinggalan di
meja. Daripada ada orang ambil. Jadi aku amanin aja.” Jelas cowok tersebut
“Ohia… makasih ya. Gue Riska” Cewek itu ternyata bernama Riska “Aku Rio.” Jawab
Cowok tersebut singkat kemudian mengerjakan kembali soal matematikanya.
Di
perjalanan pulang ke rumahnya… Riska tak sadar kalau dia sedang memikirkan Rio.
Cowok cupu yang dia barusan temui tadi. “Loh! Kok malah mikirin dia sih!” Diapun
tersadar kalau dari tadi memikirkan Rio “Padahal dia itu kuno banget. Gak tau
style. Ciih… dia hidup zaman berapa sih?” Riska terus mengata-ngatai si Rio
“Tapi, sebenarnya dia itu ganteng! Seandainya dia mencukur sedikit rambutnya
dan melepaskan kacamatanya” Ujarnya lagi “Loh! Kok malah gini?” dia mulai
bingung dengan dirinya sendiri “Dia kan sama sekali tidak keren. Trus bukan
tipe idaman gadis-gadis di sekolah” ujarnya “Tapi kok… gue kayak suka sama dia
ya?” Dia mulai bingung dengan perasaannya “Aaargh… mungkin hari ini gue gila!”
umpatnya kemudian mempercepat langkahnya menuju rumahnya.
Keesokan
harinya… “Fiaaaa!!!! Fia!!!” Riska memanggil nama temannya “Apaan sih?” Tanya
temannya yang bernama Fia “Kamu tau Rio ya? Yang 9A itu…” Tanya Riska “Rio? Yang
9A? Ooh, tau. Kenapa?” Tanya Fia “Menurut kamu, dia orangnya gimana sih?” Tanya
Riska “Kuno! Cupu! Gak keren! Gak gaul! Gak tau style!” jawab Fia “Iya ya!
Benar juga!” Riska membenarkan “Kenapa? Kok kamu nanya-nanya tentang dia?”Tanya
Fia “Aaah gak kok!” Jawab Riska “Kamu suka dia ya?” Tanya Fia “Apa? Gak
mungkin! Aku gak mungkin suka dia” Jawab Riska “Trus kenapa mukamu merah?”
Tanya Fia yang membuat Riska tak tau harus bilang apa “Ayo deh! Gak usah
bohong!” Ujar Fia “Iyaiya! Aku ngaku. Aku suka dia, cinta pada pandangan yang
pertama!” Riskapun mengaku “Apa? CINTA PADA PANDANGAN YANG PERTAMA? Kamu
serius? Lo kan salah satu murid tercantik di sekolah kita” Tanya Fia “Iya.
Entahlah aku selalu tersenyum-senyum saat memikirkan dia!” Jawab Riska “Dia itu
sebenarnya ganteng loh!” Ujar Riska “Kamu bercanda?” Tanya Fia “Nggak! Aku
serius. Seandainya kacamatanya dilepasin dan rambutnya dicukur dikit. Bakal
ganteng tuh!” Ujar Riska “Trus kamu berani gak? Ngedekatin dia?” Tantang Fia
“Beranilah” Ujarnya dengan penuh percaya diri
“Eh!
Itu ada Rio.” Ujar Fia “Coba kamu dekatin dia.” Ujarnya lagi “Yaudah. Siapa
takut.” Riska gak mau kalah. Riskapun menghampiri Rio yang sedang melamun saat
mengerjakan tugas matematika “hei!!! Kok melamun!” Tegurnya, membuat Rio
tersadar dari lamunan “Siapa yang melamun?” Tanya Rio “Emang tadi lo ngapain?”
Tanya Riska “Lagi mikir” Jawab Rio singkat “Mikirin apa hayo?” Tanya Riska
mulai kepo “Mikirin ini nih! *nunjuk soal matematika* soalnya susah banget!”
Jawab Rio “Oooh gue kira mikirin aku”
Gumam Riska dalam hati “Oooh gitu. gue boleh kan? Duduk disini?” Tanya Riska ke
Rio “Boleh. Gak papa. Duduk aja” jawab Rio “Rio?
Hari ini aku cantik kan? Ayo puji aku dong.” Gumam Riska dalam hati.
Merekapun hanya terdiam “Hmm… aku lagi punya tugas nih. Tapi aku belum mengerti
maksudnya. Bisa bantu aku gak?” Pinta Riska sambil memecahkan keheningan “Tugas
apa?” Tanya Rio “IPA.” Jawab Riska singkat “Ooh, IPA ya. Tentang apa?” tanya
Rio lagi “Itu tuh! Tentang persilangan-persilangan gitu.” Jawab Riska.
“Coba
aku lihat?” Rio ingin melihat tugas yang dimaksud Riska tersebut “Oooh itu.
jadi bunga merah (MM) disilangkan dengan bunga warna putih (mm). Nah
keturunannya dapat bunga warna merah muda (Mm). Trus kalau keturunannya (Mm)
itu disilangkan sesamanya (Mm). yang ditanya adalah perbandingan genotipe dan
fenotipenya. maka perbandingan genotipe
keturunannya adalah MM : Mm : mm = 1 : 2
: 1. Sedangkan perbandingan fenotipenya adalah Merah : Merah muda : Putih = 1 :
2 : 1.” Jelas Rio “Ooo gitu yah.” Riska mulai mengerti “Makasih ya” Ujar Riska.
“Ternyata dia pintar banget” Puji
Riska dalam hati. “Gue jadi malu kalau
harus didekatnya. Gue kan bodoh. Dia gak bakalan suka cewek seperti gue.” Gumamnya
lagi dalam hati. “Lo kalau di kelas juara berapa sih?” Tanya Riska “Bukannya
sombong ya… tapi karena kamu tanya, aku harus jawab. Aku juara 1 terus.” Jawab
Rio “Wow. Hebat banget! Lulus SMP nanti, lo mau masuk mana?” Tanya Riska “Hmm,
aku di SMA 1. Kalau kamu?” Rio nanya balik “Aku di SMA 1 juga. Wah, jadi SMA
kita ketemu lagi ya.” Ujar Riska “Iyaiya.” Jawab Rio kemudian melanjutkan
mengerjakan soal matematikanya. “Gak
nyangka. Bakal sama-sama dengan dia lagi.” Gumam Riska dalam hati.
“Eeeeh!
Gue masuk ke kelas dulu ya!” Pamit Riska “Oh iyaiya.” Jawab Rio singkat. Riskapun
balik ke kelasnya. Sesampainya di kelas, dia langsung menghampiri Fia “Fia!!!”
“Ya? Kenapa?” Tanya Fia “Aku tadi udah dekatin dia loh!” Ujar Riska dengan
bangganya “Ciee… trus gimana?” Tanya Fia “Dia itu pintar banget. Dia gak bakal
mungkin suka cewek seperti aku.” Ujar Riska “Emang lo serius dengan dia? Lo kan
salah satu murid paling cantik di sekolah kita. Ntar mereka bilang selera lo
rendahan.” Ujar Da Fia “Coba kamu bayangin, seandainya kamu udah jadian dengan
dia. Dan kalian kencan. Mungkin saat kencanpun dia masih sempat-sempatnya
ngerjain matematika.” Ujarnya lagi “Iya juga sih!” Jawab Riska “Tapi itu sih
gak papa menurut aku.” Tambah Riska “kalau masih sempat-sempatnya ngerjain
matematika sih gak papa. Tapi kalau lo malah dicuekin? Gimana?” Tanya Fia
“Percaya aja deh, dia gak bakal gitu.” Jawab Riska dengan tenang “Jadi? Gimana?
Lo mau belajar juga? Biar pandai?” Tanya Fia “Iya juga yah. Dan akhirnya si Rio
berpaling sama aku.” Jawab Riska “Aaargh! Lo kok hanya mikirin yang bagus-bagus
sih? Bukannya mikirin dampak buruknya!” Ujar Fia “Yang diperlukan itu hanya
yang bagus-bagusnya aja. Kalo dampak buruknya ada, anggap saja cobaan.” Jawab
Riska enteng “Ah elu mah gitu orangnya.” Ujar Fia dan merekapun tertawa.
Malamnya…
“Duuuh… kok gue kepikiran Rio mulu yah? Kok gue jadi kayak gini sih? Dia itu
kan gak ada bagus-bagusnya. Hanya saja… dia ganteng. Yap dia ganteng seandainya
dia mencukur rambutnya dan melepas kacamatanya. Aaaargh yaampun. Gue yakin,
artis koreapun bakalan kalah.” Riska berbicara sendiri “Tapi? Apa gue harus
mengungkapkan perasaan gue ya?” Tanya Riska “Kan sakit, kalo dia ternyata gak
suka gue.” pikirnya “Tapi gue gak peduli! Gue harus bisa!!!! Gak peduli cinta
gue terbalas atau gak! Tapi gue harus
bisa!!! RISKA PASTI BISAA!!!” Ujar Riska dengan semangat yang menggebu-gebu
“RISKA!!! Kamu bicara sama siapa tuh?”
Tanya Mamanya Riska dari bawah “Gak kok ma! Cuma acting doang.” Jawabnya sambil
nyengir sendiri dalam kamar
Riskapun menemui wali kelasnya Ibu? Apa nilaiku
tinggi? Apa aku bisa juara 1? Apa nilaiku pling tinggi dari seluruh murid di
Indonesia? Apa aku bisa dikategorikan siswa pintar dan jenius? Apa aku bisa
masuk kelas akselerasi?” Tanya Riska ke wali kelasnya “Apa kamu gila? Nilai
kamu yang dibawah rata-rata itu kamu bilang pintar? Kamu bisa naik ke kelas IX
ini aja, ibu masih meragukannya” Ujar Ibu Vina, wali kelasnya ‘Duuuh gimana nih? Gueterlalu bodoh. Apa gue
harus les privat ya? Biar gue juara dan bisa membuat si Rio berpaling pada gue.
Tapi kayaknya mustahil deh.’ Gumam Riska dalam hati ‘Rio? BISAKAH AKU MENCONTEK ISI HATIMU? Sekali aja! Cuma mau liat aja,
Apa ada nama aku di hatimu atau gak. Tapi Rio gak bakal suka gue. Gue emang
populer. Tapi Rio gak terlalu tertarik ama orang popular sepertiku. Dia tidak
tertarik hal lain selain pelajaran.’ Gumamnya lagi.
Riskapun
terlihat tak bersemangat. Dia tampak putus asa, karena tak ada cara lain yang
bisa dia lakukan untuk membuat Rio berpaling padanya “Apa beneran tak ada yang
bisa ge lakukan untuk bisa pintar?” Tanyanya sambil duduk termenung di meja
kantin “Aaah gue benar benar gila.” Ujarnya “Kamu kenapa?” Tanya seseorang yang
ternyata Rio “Aku boleh duduk disini gak?” Tanyanya sambil memicingkan
kacamatanya “*Menoleh kearah Rio* Oh lo ya. Gue kirain siapa. Duduk aja” Jawab Riska
“Makasih” Ujar Rio “Sama-sama” Balas Riska sambil tersenyum. Riopun tersenyum ‘Duuuh senyumannya itu tuh’ gumam Riska
dalam hati. “Ohia, tumben!” Riskapun memecah suasana yang hening sesaat “Tumben
apaan?” Tanya Rio bingung “Mana buku lo? Biasanya kan, lo ngerjain matematika
mulu.” Ujar Riska “Ohia, aku lupa. Soalnya lagi gak mood.”Jawabnya “oooh gitu
ya. Emang kalau belajar harus tergantung mood kamu ya?” Tanya Riska “Nggak juga
sih. Tapi ini hari, aku ngerasa ada yang lain gitu” Jawab Rio “ooh gitu…” “Udah
ya… aku mau ke kelas. Daaah…” Rio pamit sama Riska “Oke… Daah!” balas Riska ‘Kok Cuma sebentar doang? Gue kan baru mau
ngomong’ gumam Riska dalam hati.
Riskapun
mengejar Rio, “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!” teriaknya dari kejauhan membuat Rio berbalik
untuk mencari sumber suara itu. Dan ternyata itu Riska. Diapun menghampiri
Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue
harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka
sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio. Riopun terkejut dan
memeluk Riska erat. Riskapun menangis dalam pelukan. Tapi pelukan itu tak
berlangsung lama. Riopun melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska
sendiri “Maafkan aku.” Ujar Rio dan kemudian menghilang ‘Ya. Kamu benar, Rio. Aku maafkan kamu kok. Aku tau, aku gak bisa
egois. Aku memang suka kamu. Tapi aku gak bisa memaksakan kamu mencintaiku. Dan
gak papa kalau kamu tidak bisa. Aku mengerti kok.’ Gumam Riska dalam hati
sambil menangis.
Diapun
masuk ke kelas… ‘Aku sudah melakukannya.
Aku sudah melakukannya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku. Kepada Dia. Aku tau
ini akan seperti ini. Tapi aku akan baik-baik saja, Karena aku kuat. Dia tadi
memberiku sebuah pelukan. Pelukan hangat sebagai seorang teman. Karena dia
hanya menganggapku sebagai teman dan tak lebih. Aku menangis. Aku sedih. Aku
telah melakukan hal yang sangat sulit dan sekarang aku harus menghadapi yang
akan terjadi. Bagaimanapun itu…’ gumam Riska dalam hati. Dan setelah
kejadian itu, Riska sudah tak pernah lagi melihat Rio. Entahlah, dia sudah tak
pernah lagi melihat senyumannya yang pernah membuat hati Riska berdebar. Tapi
Riska harus menjalani hari-hari yang sulit tersebut. “Dan kini, akupun
tersadar, aku kehilangan dia” tulisnya di sebuah buku catatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar