Kamis, 28 Mei 2015

Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?

“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”

“Huaaah! Akhirnya Les-nya selesai!” Seorang cewek menghela nafas lega “Tadi pusing banget. Kenapa sih? Harus ada matematika? Matematika itu kan susah. Huuft” Cewek tersebut menggerutu kesal “Loh? Kok gak ada?” Cewek tersebut panik saat sadar kalau HPnya tidak ada di kelas “Jangan bilang ketinggalan di tempat les tadi! Aaaargh…” Cewek tersebutpun pergi ke tempat les nya tadi. Sesampainya ditempat les-nya… Cewek tersebut melihat seorang cowok culun berkacamata sedang duduk sambil mengerjakan soal-soal matematika tapi dia tidak melihat HPnya di meja tempat dia duduk tadi “Hei! Lo!” Ujar cewek tersebut “Aku? Ada apa ya?”Tanya cowok tersebut “Kamu liat HP gue gak?” Tanya cewek tersebut “Oh, jadi ini HP kamu ya?” Ujar cowok tersebut sambil memberikan HP yang dimaksud cewek tersebut “Iyaiya. Makasih ya.” Cewek itu berterima kasih “Tadi ketinggalan di meja. Daripada ada orang ambil. Jadi aku amanin aja.” Jelas cowok tersebut “Ohia… makasih ya. Gue Riska” Cewek itu ternyata bernama Riska “Aku Rio.” Jawab Cowok tersebut singkat kemudian mengerjakan kembali soal matematikanya.
Di perjalanan pulang ke rumahnya… Riska tak sadar kalau dia sedang memikirkan Rio. Cowok cupu yang dia barusan temui tadi. “Loh! Kok malah mikirin dia sih!” Diapun tersadar kalau dari tadi memikirkan Rio “Padahal dia itu kuno banget. Gak tau style. Ciih… dia hidup zaman berapa sih?” Riska terus mengata-ngatai si Rio “Tapi, sebenarnya dia itu ganteng! Seandainya dia mencukur sedikit rambutnya dan melepaskan kacamatanya” Ujarnya lagi “Loh! Kok malah gini?” dia mulai bingung dengan dirinya sendiri “Dia kan sama sekali tidak keren. Trus bukan tipe idaman gadis-gadis di sekolah” ujarnya “Tapi kok… gue kayak suka sama dia ya?” Dia mulai bingung dengan perasaannya “Aaargh… mungkin hari ini gue gila!” umpatnya kemudian mempercepat langkahnya menuju rumahnya.
Keesokan harinya… “Fiaaaa!!!! Fia!!!” Riska memanggil nama temannya “Apaan sih?” Tanya temannya yang bernama Fia “Kamu tau Rio ya? Yang 9A itu…” Tanya Riska “Rio? Yang 9A? Ooh, tau. Kenapa?” Tanya Fia “Menurut kamu, dia orangnya gimana sih?” Tanya Riska “Kuno! Cupu! Gak keren! Gak gaul! Gak tau style!” jawab Fia “Iya ya! Benar juga!” Riska membenarkan “Kenapa? Kok kamu nanya-nanya tentang dia?”Tanya Fia “Aaah gak kok!” Jawab Riska “Kamu suka dia ya?” Tanya Fia “Apa? Gak mungkin! Aku gak mungkin suka dia” Jawab Riska “Trus kenapa mukamu merah?” Tanya Fia yang membuat Riska tak tau harus bilang apa “Ayo deh! Gak usah bohong!” Ujar Fia “Iyaiya! Aku ngaku. Aku suka dia, cinta pada pandangan yang pertama!” Riskapun mengaku “Apa? CINTA PADA PANDANGAN YANG PERTAMA? Kamu serius? Lo kan salah satu murid tercantik di sekolah kita” Tanya Fia “Iya. Entahlah aku selalu tersenyum-senyum saat memikirkan dia!” Jawab Riska “Dia itu sebenarnya ganteng loh!” Ujar Riska “Kamu bercanda?” Tanya Fia “Nggak! Aku serius. Seandainya kacamatanya dilepasin dan rambutnya dicukur dikit. Bakal ganteng tuh!” Ujar Riska “Trus kamu berani gak? Ngedekatin dia?” Tantang Fia “Beranilah” Ujarnya dengan penuh percaya diri
“Eh! Itu ada Rio.” Ujar Fia “Coba kamu dekatin dia.” Ujarnya lagi “Yaudah. Siapa takut.” Riska gak mau kalah. Riskapun menghampiri Rio yang sedang melamun saat mengerjakan tugas matematika “hei!!! Kok melamun!” Tegurnya, membuat Rio tersadar dari lamunan “Siapa yang melamun?” Tanya Rio “Emang tadi lo ngapain?” Tanya Riska “Lagi mikir” Jawab Rio singkat “Mikirin apa hayo?” Tanya Riska mulai kepo “Mikirin ini nih! *nunjuk soal matematika* soalnya susah banget!” Jawab Rio “Oooh gue kira mikirin aku” Gumam Riska dalam hati “Oooh gitu. gue boleh kan? Duduk disini?” Tanya Riska ke Rio “Boleh. Gak papa. Duduk aja” jawab Rio “Rio? Hari ini aku cantik kan? Ayo puji aku dong.” Gumam Riska dalam hati. Merekapun hanya terdiam “Hmm… aku lagi punya tugas nih. Tapi aku belum mengerti maksudnya. Bisa bantu aku gak?” Pinta Riska sambil memecahkan keheningan “Tugas apa?” Tanya Rio “IPA.” Jawab Riska singkat “Ooh, IPA ya. Tentang apa?” tanya Rio lagi “Itu tuh! Tentang persilangan-persilangan gitu.” Jawab Riska.
“Coba aku lihat?” Rio ingin melihat tugas yang dimaksud Riska tersebut “Oooh itu. jadi bunga merah (MM) disilangkan dengan bunga warna putih (mm). Nah keturunannya dapat bunga warna merah muda (Mm). Trus kalau keturunannya (Mm) itu disilangkan sesamanya (Mm). yang ditanya adalah perbandingan genotipe dan fenotipenya.  maka perbandingan genotipe keturunannya adalah MM : Mm : mm  = 1 : 2 : 1. Sedangkan perbandingan fenotipenya adalah Merah : Merah muda : Putih = 1 : 2 : 1.” Jelas Rio “Ooo gitu yah.” Riska mulai mengerti “Makasih ya” Ujar Riska. “Ternyata dia pintar banget” Puji Riska dalam hati. “Gue jadi malu kalau harus didekatnya. Gue kan bodoh. Dia gak bakalan suka cewek seperti gue.” Gumamnya lagi dalam hati. “Lo kalau di kelas juara berapa sih?” Tanya Riska “Bukannya sombong ya… tapi karena kamu tanya, aku harus jawab. Aku juara 1 terus.” Jawab Rio “Wow. Hebat banget! Lulus SMP nanti, lo mau masuk mana?” Tanya Riska “Hmm, aku di SMA 1. Kalau kamu?” Rio nanya balik “Aku di SMA 1 juga. Wah, jadi SMA kita ketemu lagi ya.” Ujar Riska “Iyaiya.” Jawab Rio kemudian melanjutkan mengerjakan soal matematikanya. “Gak nyangka. Bakal sama-sama dengan dia lagi.” Gumam Riska dalam hati.
“Eeeeh! Gue masuk ke kelas dulu ya!” Pamit Riska “Oh iyaiya.” Jawab Rio singkat. Riskapun balik ke kelasnya. Sesampainya di kelas, dia langsung menghampiri Fia “Fia!!!” “Ya? Kenapa?” Tanya Fia “Aku tadi udah dekatin dia loh!” Ujar Riska dengan bangganya “Ciee… trus gimana?” Tanya Fia “Dia itu pintar banget. Dia gak bakal mungkin suka cewek seperti aku.” Ujar Riska “Emang lo serius dengan dia? Lo kan salah satu murid paling cantik di sekolah kita. Ntar mereka bilang selera lo rendahan.” Ujar Da Fia “Coba kamu bayangin, seandainya kamu udah jadian dengan dia. Dan kalian kencan. Mungkin saat kencanpun dia masih sempat-sempatnya ngerjain matematika.” Ujarnya lagi “Iya juga sih!” Jawab Riska “Tapi itu sih gak papa menurut aku.” Tambah Riska “kalau masih sempat-sempatnya ngerjain matematika sih gak papa. Tapi kalau lo malah dicuekin? Gimana?” Tanya Fia “Percaya aja deh, dia gak bakal gitu.” Jawab Riska dengan tenang “Jadi? Gimana? Lo mau belajar juga? Biar pandai?” Tanya Fia “Iya juga yah. Dan akhirnya si Rio berpaling sama aku.” Jawab Riska “Aaargh! Lo kok hanya mikirin yang bagus-bagus sih? Bukannya mikirin dampak buruknya!” Ujar Fia “Yang diperlukan itu hanya yang bagus-bagusnya aja. Kalo dampak buruknya ada, anggap saja cobaan.” Jawab Riska enteng “Ah elu mah gitu orangnya.” Ujar Fia dan merekapun tertawa.
Malamnya… “Duuuh… kok gue kepikiran Rio mulu yah? Kok gue jadi kayak gini sih? Dia itu kan gak ada bagus-bagusnya. Hanya saja… dia ganteng. Yap dia ganteng seandainya dia mencukur rambutnya dan melepas kacamatanya. Aaaargh yaampun. Gue yakin, artis koreapun bakalan kalah.” Riska berbicara sendiri “Tapi? Apa gue harus mengungkapkan perasaan gue ya?” Tanya Riska “Kan sakit, kalo dia ternyata gak suka gue.” pikirnya “Tapi gue gak peduli! Gue harus bisa!!!! Gak peduli cinta gue terbalas atau gak! Tapi gue harus  bisa!!! RISKA PASTI BISAA!!!” Ujar Riska dengan semangat yang menggebu-gebu “RISKA!!! Kamu bicara sama siapa tuh?” Tanya Mamanya Riska dari bawah “Gak kok ma! Cuma acting doang.” Jawabnya sambil nyengir sendiri dalam kamar
Riskapun  menemui wali kelasnya Ibu? Apa nilaiku tinggi? Apa aku bisa juara 1? Apa nilaiku pling tinggi dari seluruh murid di Indonesia? Apa aku bisa dikategorikan siswa pintar dan jenius? Apa aku bisa masuk kelas akselerasi?” Tanya Riska ke wali kelasnya “Apa kamu gila? Nilai kamu yang dibawah rata-rata itu kamu bilang pintar? Kamu bisa naik ke kelas IX ini aja, ibu masih meragukannya” Ujar Ibu Vina, wali kelasnya ‘Duuuh gimana nih? Gueterlalu bodoh. Apa gue harus les privat ya? Biar gue juara dan bisa membuat si Rio berpaling pada gue. Tapi kayaknya mustahil deh.’ Gumam Riska dalam hati ‘Rio? BISAKAH AKU MENCONTEK ISI HATIMU? Sekali aja! Cuma mau liat aja, Apa ada nama aku di hatimu atau gak. Tapi Rio gak bakal suka gue. Gue emang populer. Tapi Rio gak terlalu tertarik ama orang popular sepertiku. Dia tidak tertarik hal lain selain pelajaran.’ Gumamnya lagi.
Riskapun terlihat tak bersemangat. Dia tampak putus asa, karena tak ada cara lain yang bisa dia lakukan untuk membuat Rio berpaling padanya “Apa beneran tak ada yang bisa ge lakukan untuk bisa pintar?” Tanyanya sambil duduk termenung di meja kantin “Aaah gue benar benar gila.” Ujarnya “Kamu kenapa?” Tanya seseorang yang ternyata Rio “Aku boleh duduk disini gak?” Tanyanya sambil memicingkan kacamatanya “*Menoleh kearah Rio* Oh lo ya. Gue kirain siapa. Duduk aja” Jawab Riska “Makasih” Ujar Rio “Sama-sama” Balas Riska sambil tersenyum. Riopun tersenyum ‘Duuuh senyumannya itu tuh’ gumam Riska dalam hati. “Ohia, tumben!” Riskapun memecah suasana yang hening sesaat “Tumben apaan?” Tanya Rio bingung “Mana buku lo? Biasanya kan, lo ngerjain matematika mulu.” Ujar Riska “Ohia, aku lupa. Soalnya lagi gak mood.”Jawabnya “oooh gitu ya. Emang kalau belajar harus tergantung mood kamu ya?” Tanya Riska “Nggak juga sih. Tapi ini hari, aku ngerasa ada yang lain gitu” Jawab Rio “ooh gitu…” “Udah ya… aku mau ke kelas. Daaah…” Rio pamit sama Riska “Oke… Daah!” balas Riska ‘Kok Cuma sebentar doang? Gue kan baru mau ngomong’ gumam Riska dalam hati.
Riskapun mengejar Rio, “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!”  teriaknya dari kejauhan membuat Rio berbalik untuk mencari sumber suara itu. Dan ternyata itu Riska. Diapun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio. Riopun terkejut dan memeluk Riska erat. Riskapun menangis dalam pelukan. Tapi pelukan itu tak berlangsung lama. Riopun melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.” Ujar Rio dan kemudian menghilang ‘Ya. Kamu benar, Rio. Aku maafkan kamu kok. Aku tau, aku gak bisa egois. Aku memang suka kamu. Tapi aku gak bisa memaksakan kamu mencintaiku. Dan gak papa kalau kamu tidak bisa. Aku mengerti kok.’ Gumam Riska dalam hati sambil menangis.
Diapun masuk ke kelas… ‘Aku sudah melakukannya. Aku sudah melakukannya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku. Kepada Dia. Aku tau ini akan seperti ini. Tapi aku akan baik-baik saja, Karena aku kuat. Dia tadi memberiku sebuah pelukan. Pelukan hangat sebagai seorang teman. Karena dia hanya menganggapku sebagai teman dan tak lebih. Aku menangis. Aku sedih. Aku telah melakukan hal yang sangat sulit dan sekarang aku harus menghadapi yang akan terjadi. Bagaimanapun itu…’ gumam Riska dalam hati. Dan setelah kejadian itu, Riska sudah tak pernah lagi melihat Rio. Entahlah, dia sudah tak pernah lagi melihat senyumannya yang pernah membuat hati Riska berdebar. Tapi Riska harus menjalani hari-hari yang sulit tersebut. “Dan kini, akupun tersadar, aku kehilangan dia” tulisnya di sebuah buku catatannya.


Tidak ada komentar: