Akhirnya kita masuk di serial musiman ke 3.
Dengan judul “The truth...”. Terkadang kejujuran adalah hal yang sangat
penting. Terkadang kita rela untuk berbohong, agar kita tidak menyakiti
perasaan orang tersebut. Karena mengetahui yang sebenarnya terkadang lebih
menyakitkan dibandingkan dibohongi. Tapi lebih baik kita jujur, karena meskipun
itu akan menyakiti perasaan orang lain, berbohong seperti apapun juga, lama
kelamaan pasti akan ditahu. Oke, di project serial musiman kali ini, aku sudah
meminta ide dari teman-teman aku. Jadi makasih buat temanku Azizah yang udah
memberikan ide untuk cerita ini. Terima kasih banyak buat Azizah. Oke selamat
membaca ya, cerita pertama dari serial ini...
Kamunya jahat!!!
Cuaca yang cerah di sore hari itu. Di
sebuah taman, ada seorang cowok yang sedang mendengarkan lagu. “Hai sayang!”
Ujar seorang cewek dari belakang sambil menutup mata seorang cowok yang tak
salah lagi adalah pacarnya “Hai juga sayang” jawab cowok tersebut “Ada apa
sayang?” tanya cowok tersebut ke pacarnya “Nando sayang... kamu lupa ya?” tanya
ceweknya “Emang ada apa sih Zahraku yang ku sayang?” tanya cowoknya itu yang
bernama Nando “Jadi kamu benar-benar lupa ya sayang?” ceweknya yang bernama
Zahra itu tak percaya pacarnya melupakan hari spesial mereka “Ini hari,
anniversary 7month kita sayang!” ujar Zahra “Ohia, aku lupa. Maaf ya sayang.
Aku beneran lupa sayang” Nandopun meminta maaf kepada zahra, karena dia merasa
bersalah “Au ah.. gelap!” Zahra mulai ngambek.
“Sayang.. jangan ngambek dong! Aku beneran
lupa.” Nando mencoba untuk membujuk Zahra. “Siapa suruh lupa! Makanya,jangan
lupa dong! Kan aku beneran ngambek!” Zahra mencoba melawan “Jangan marah dong.
Aku kan lupa sayang.” Nando masih mencoba membela diri. “Makanya jangan lupa
dong! Kan aku Cuma marah sayang!” Zahra masih gak mau kalah “Duuh, kok kamu
malam mutar-balikin kata aku. Yaudah deh... Aku nyerah” Nandopun menyerah, dia
tau kalau dia tidak bisa melawan lagi “Aku udah nyerah nih sayang. Sudah dong,
jangan ngambek lagi!” Seru Nando ke Zahra sambil mengelus-elus tangan Zahra.
Zahrapun mengangguk dan tersenyum kepada
Nando. “Jadi kita kemana nih?” Tanya Nando ke Zahra “Terserah kamu aja
sayang..” jawab Zahra. Nando dan Zahrapun naik ke motor Nando. Nando
mengendarai motornya dan melaju dengan cepat. Zahra yang dibonceng Nando jadi
takut “Sayang.. pelan-pelan ah. Kalau aku jatuh gimana dong!” ujar Zahra
“Yaudah peluk aja!” jawab Nando enteng “Gak mau ah. Kenapa aku harus meluk
kamu?” ujar Zahra tak suka, tapi ternyata tangannya sudah melingkar di pinggang
cowoknya itu.
Merekapun menuju ke sebuah cafe yang sangat
mewah. Nando memarkirkan motornya di tempat parkir. Dan mereka masuk ke dalam
cafe itu. Nandopun memanggil pelayan yang ada disitu untuk mencatat pesanan
mereka “Loh, mas Nando? Chika-nya mana? Ini siapa? Pacar baru mas ya?” Tanya
pelayan tersebut “Chika? Siapa itu Chika?” Tanya Zahra kebingungan “Siapa itu
Chika? Perasaan gue gak kenal orang nama Chika mas. Aah mas sembarangan ngomong
aja!” ujar Nando “Gak usah didengarin ya sayang..” ujar Nando sambil
mengelus-elus tangan Zahra. Dan Zahra hanya membalas dengan senyuman.
Setelah mereka memesan makanan. Mereka
hanya terdiam sambil menunggu pesanan mereka datang. “Sayang? Setelah ini, kita
ke taman yang tadi ya! Ada yang mau aku omongin!” ujar Zahra memecah keheningan
“Iya sayang.” Jawab Nando singkat. Akhirnya pesanan pun datang. Suasana hening
kembali. Mereka makan dalam keheningan. Suasana waktu itu sangatlah canggung.
Ketika selesai makan, Nandopun membayar biaya makan mereka. Zahra menunggu
Nando di depan cafe. Nandopun membawa motornya dan menemui Zahra yang sudah
menunggu di depan. Zahrapun naik ke motor Nando. Dan Nandopun mengendarai
motornya, menuju ke taman yang tadi “Kamu mau ngomong apaan sih sayang?” Tanya
Nando “Ntar! Nanti di taman aja.” Jawab Zahra.
Sesampainya di taman, mereka langsung duduk
di bangku-bangku “Oke sayang.. ini yang mau aku omongin. Tentang hubungan kita
sayang!” Ujar Zahra “Emang ada apa dengan hubungan kita sayang?” Tanya Nando ke
Zahra “Jawab jujur ya sayang... Siapa itu Chika? Siapa dia?” Tanya Zahra dengan
muka yang merah padam “Nggh... hmm... Sayang, kan aku udah bilang, gak usah di
dengarin yang tadi itu sayang. Dia itu Cuma teman aku kok!” Jelas Nando ke
Zahra “Teman? Tapi kok tadi kamu bilang ke pelayan, kalau kamu gak kenal dia.
Ada 2 jawaban berbeda. Yang betul mana sih? Atau jangan2 dia selingkuhan kamu
ya?” Tanya Zahra ke Nando. Nando tak tau harus berkata apa. “Jadi aku harus
dengar yang mana? Jawaban yang kamu bilang ke pelayan itu? Atau jawaban yang
kamu bilang ke aku? Atau jangan-jangan, seperti yang aku bilang tadi.” Ujar
Zahra.
“Sayang kok kamu gini sih? Kamu gak percaya
aku ya?” Tanya Nando ke Zahra “Gimana mau percaya. Aku aja ragu sama omongan
kamu. 2 jawaban yang berbeda. Harus percaya yang mana?” Tanya Zahra. Zahrapun
mengambil Hpnya yang ada di kantong celananya “Kalau gitu... kamu bisa jelasin
ini!!??” Ujar Zahra sambil memperlihatkan 2 screenshot yang menampilkan SMS
Nando dan Chika.
[
N : Sayang? Gimana? C : Gimana kalau
sebatas pelukan dan lumatan aja sayang. Aku takut berbuat yang lebih N : Tapi aku ingin berbuat lebih sayang. Kan
yang lebih itu yang enak C : Tapi aku
takut hamil]
[N
: Yaudah deh sayang. Sampai ketemu sebentar malam ya! Pastikan gak ada orang
dirumah kamu sayang. Kita akan berpesta
C : Oke sayang.]
“Gimana kamu mau jelasin itu?” Tanya Zahra
“Kamu selingkuh kan? Kamu pacaran dengan dia kan? Aku tahu sayang! Gak usah
diumpetin lagi. Udah banyak yang tahu! Kenapa sayang?” Tanya Zahra ke cowoknya
“Kamu jahat! Kamunya jahat! *menampar Nando* Kita putus sayang!” Zahra sudah
tak tahan. Dia minta putus dan pergi meninggalkan pacarnya. ‘Aku sayang banget sama kamu. Tapi kok gini
balasanmu? Kamunya jahat!’ gumam Zahra dalam hati sambil menangis. Zahrapun
berlari dari taman itu. Dia merasa sangat sakit hati. “Halo? Fi? Kamu lagi
dirumah ya?” Tanya Zahra di telpon “Iya.
Emang kenapa? Kamu kenapa? Kamu nangis ya?” tanya Fifi dari seberang “Aku
kesana ya Fi. Ceritanya panjang Fi. Ntar aku jelasin disana.” Jelas Zahra “Oke Ra! Aku tunggu nih!” jawab Fifi
kemudian mematikan panggilan itu.
Zahra berjalan ke rumah Fifi yang jaraknya
tidak jauh dari taman itu. Sesampai di rumah Fifi. Zahra mengetuk pintu rumah
Fifi. Fifipun membukakan pintunya dan mengajak Zahra masuk ke kamarnya. “Nah,
sekarang cerita. Kamu kenapa ra?” tanya Fifi “Nando fi... Nando!” jawab Zahra
“Nando lagi? Dia kenapa lagi sih?” tanya Fifi yang bosan dengan jawaban Nando.
Karena setiap Zahra menangis dan ditanya kenapa, jawabannya selalu itu “Dia
selingkuh fi..” jawab Zahra sambil terisak “Apa? Dia selingkuh!!!” Fifi kaget
mendengar jawaban Zahra. Karena biasanya dia nangis karena gak dijemput, gak
nepatin janji, gak diucapin anniversary. Tapi sekarang karena dia selingkuh
“Gimana ceritanya?” tanya Fifi.
Zahrapun menceritakan semuanya. Dari awal
dia membaca SMS Nando dengan Chika. Dan kejadian yang barusan di kafe itu.
kadang dia berhenti sebentar untuk meng-lap air mata dan melernya, kemudian dia
lanjut menceritakannya. “Yaudah! Besok aku bicara sama dia!” ujar Fifi “Kamu
mau bicara apa sama dia?” Tanya Zahra “Tentang perasaan kamu Zahra..” jawab
Fifi “Hmm, gimana?” tanya Zahra “Pokoknya kamu serahin aja ke aku. Gampang
kok..” ujar Fifi “Oke fi. Thanks ya, kamu memang sahabat baik aku.” Jawab Zahra
kemudian memeluk Fifi “Kamu juga” Fifipun membalas pelukan Zahra “Kamu tidur
aja disini, malam ini” ujar Fifi yang dibalas dengan anggukan Zahra.
Zahrapun tidur di rumah Fifi hari itu.
Mereka saling ngobrol sampai tak terasa jam sudah menunjukkan jam 10 malam.
Merekapun pergi tidur. Si Zahra masih belum bisa tertidur, tapi dia memaksanya.
*Flashback on* “Coba lo lihat foto ini
ra!” ujar Denis, teman Nando sambil memperlihatkan sesuatu “Apa-apaan ini? Gak
mungkin Nando selingkuh! Ini pasti editan!” Zahra tidak percaya “Kalau gak
percaya, liat aja di hpnya sendiri.” Ujar Denis lagi. Zahra sedikit percaya,
diapun membluetooth screenshot itu. Dan memastikan dengan yang di Hpnya Nando.
Dia mengambil hp itu secara diam-diam, dan dia sangat terkejut “Tidak mungkin!”
ujarnya saat melihatnya sendiri. Dan diapun mencoba untuk menyembunyikan itu.
dia menunggu waktu yang tepat. *Flashback off*.
Dan dari suatu tempat, seseorang juga
menangis. Entah dia menangis karena menyesal atau karena apa. “Maafin aku Ra..
aku salah. Aku sadar kok. Seharusnya aku gak selingkuh. Dan masalah tentang
kejadian yang terjadi di rumah Chika itu, aku benar-benar dikuasai nafsu.
Maafkan aku.” Ujar Nando yang sedang duduk sendiri di kamarnya. Tentang apa yang terjadi di rumah Chika itu,
terbayang-bayang di pikirannya. Tentang bagaimana dia bercinta dengan Chika.
Meskipun tidak sampai ke perbuatan yang lebih hina, tapi mereka sudah tak
berpakaian lagi. Dan mereka sudah tidak sadar apa yang terjadi saat itu. Nando
ingin melupakan hal itu tapi tidak bisa.
HP Zahra bergetar, Zahra segera mengambil Hpnya
dan melihat SMS dari siapa itu. Dan ternyata itu dari Nando. “Aku minta maaf
Ra. Aku tahu aku salah. Dan itu membuatmu sakit. Aku sekarang sadar. Aku janji
tidak akan mengulangi hal itu lagi. Jadi, tolong bantu aku untuk mengembalikan
semuanya.” Zahra hanya bisa terdiam membaca sms Nando itu. Selama ini, Nando
tidak pernah meminta maaf. Setiap mereka bertengkar, selalu Zahra yang minta
maaf. Bahkan jika Zahra memaksanya untuk minta maaf, dia tidak akan pernah mau.
Dan kali ini dia minta maaf dengan sendirinya.
Diapun membalas SMS dari Nando, “Oke. Aku maafin
kamu Nando.Tapi untuk mengembalikan semuanya ke keadaan semula, nanti
kupikir-pikir. Aku masih harus berpikir untuk balikan dengan kamu atau tidak”.
Setelah mengirim SMS itu Zahra mencoba untuk tertidur.
Keesokan harinya... Zahra terbangun dan
melihat kalau disampingnya sudah tidak ada Fifi. Zahrapun turun ke bawah. “Ma?
Fifi kemana ma?” tanya Zahra ke mamanya Fifi. Fifi dan Zahra sangat dekat. Jadi
mereka itu sudah seperti saudara. “Tadi Fifinya udah pergi. Katanya ada yang
penting.” Jawab mamanya Fifi ‘mungkin dia
pergi untuk berbicara sama Nando’ gumam Zahra dalam hati “Zahra? Ayo kita
sarapan dulu! Fifi udah sarapan duluan tadi.” Seru mamanya Fifi “Ohia ma.” Jawab
Zahra sambil mengangguk.
Dan di waktu yang sama di tempat yang
berbeda. Fifi sudah berdiri di depan pintu rumah Nando. “Nando! Cepetan keluar
do! Gue mau ngomong!” seru Fifi. Nandopun keluar “Apaan sih! Ribut-ribut
didepan rumah orang pagi-pagi gini.” Ujar Nando “Oke. Sini lo *narik tangan
Nando kemudian duduk di kursi yang ada di teras* Lo harus minta maaf sama Zahra
do!” ujar Fifi “Sudah. Dia udah maafin aku. Aku udah ngajak dia balikan. Tapi dia
belum ngasih jawabannya. Katanya dia mikir-mikir dulu.” Jelas Nando “Lagipula
kenapa sih lo pake acara acara selingkuh! Lo gak ngerti banget perasaan cewek!”
Ujar Fifi “Ya mau gimana lagi. kan udah terjadi Fi.” Jawab Nando enteng.
“Iya. Itu memang sudah terjadi. Tapi lo tau
gak sih? Cewek itu kalau udah sayang banget, dia bakal susah ngelepasinnya. Dan
kalau udah sayang banget, dia pasti percaya. Dan saat dia udah percaya, dan lo
hianati dia, rasanya sakit banget! Rasanya sakit nando! Lo gak tau hal itu!
Cowok gak tau tentang hal itu!” ujar Fifi. Nando hanya terdiam. Dia tahu kalau
saat itu, akan lebih baik kalau dia diam saja dan mendengarkan. “Dan kalau
cewek itu lagi sakit hati. Akan sangat sulit untuk menghilangi rasa sakitnya
itu. Tapi cewek itu bermuka dua. Kebanyakan tidak memperlihatkan kesedihannya,
karna mereka tidak mau dianggap lemah.” Jelas Fifi lagi.
“Lo ngertiin dong, perasaan cewek! Mereka
gak kayak kalian. Saat kalian tersakiti, beberapa jam atau bahkan beberapa
menit kemudian, kaliian bakal lupa masalah itu! Beda bro!! Kita gak sama kayak
kalian, jadi mengerti.” Jelas Fifi lagi “Kita memang tidak bisa mengerti
perasaan cewek. Karena kita tidak pernah merasakan jadi cewek. Jadi, apa yang
harus gue lakukan sekarang?” tanya Nando “Lo harus temui dia, dan lo bilang lo
menyesal dan lo minta balikan ke dia. Kebetulan dia ada di rumah gue. Buruan!!!”
Seru Fifi “Tapi gue baru bangun Fi!” ujar Nando “yaudah! Mandi sana!!!” Seru
Fifi menyuruh Nando mandi.
Dan di rumah Fifi, Mamanya Fifi dan Zahra
selesai sarapan. “Ma? Fifi kok lama banget?” Tanya Zahra ke mamanya Fifi “Mungkin
sebentar lagi Zahra. Lebih baik kamu nonton TV aja dulu. Sambil nunggu dia.” Saran
Mamanya Fifi. Zahrapun menonton TV. Mamanya Fifi pamit pergi ke pasar dan
nyuruh Zahra jaga rumah. Zahrapun menutup pintu dan lanjut menonton TV. Sudah
sangat lama dia menonton, dan diapun bosan. Fifi tak kunjung-kunjung datang.
Bel rumah Fifipun berbunyi ‘itu pasti
Fifi’ gumam Zahra dalam hati. Diapun membukakan pintu rumah Fifi.
“Kok kamu sih?” tanya Zahra “Maafin aku
Zahra. Aku tau aku salah. Aku menyesal. Aku sayang banget sama kamu. Maaf gak
ngertiin kamu. Karena kita gak ngerti perasaan wanita. Maafin atas semuanya.
Aku sayang banget sama kamu Zahra. Aku mau kita balikan.” Ujar Nando ke Zahra “Aku
sudah maafin kamu kok.” Jawab Zahra “Iya, aku tahu. Tapi aku tidak meminta
jawaban itu kali ini.” ujar Nando “Jadi? Kamu mau kita balikan?” tanya Zahra ke
Nando “Iya. Aku mau kita balikan. Aku janji, aku akan jadi cowok yang baik. Dan
aku akan mencoba untuk ngertiin kamu.” Ujar Nando “Maaf, dulu aku keras kepala.
Aku gak bisa ngertiin kamu. Aku sering buat kamu nangis. Aku menyesal. Aku
sudah belajar sekarang.” Ujarnya lagi dan tanpa tersadar air mata Nando menetes.
Zahra tertegun melihat Nando yang berbicara
seperti itu. Entah jurus apa yang Fifi katakan padanya, hingga dia bisa berkata
seperti itu. Padahal Zahra tau, Nando bukan orang yang suka sembarangan bilang
hal yang kayak begituan. Apalagi sampai meneteskan air mata seperti itu “Iya
deh. Aku mau.” Zahra akhirnya angkat bicara “Maafin aku juga ya.” Ujar Zahra “Iya
sayang.” Jawab Nando kemudian memeluk Zahra “Aku tau sangat sulit untuk
membuatmu melupakan hal itu. Tapi aku akan mencoba membuatmu melupakan hal itu.”
ujar Nando dan Zahra hanya bisa tersenyum. “Kita ke taman yuk!” seru Nando “Ayuk!”
Zahra mengangguk setuju. Merekapun pergi menuju taman. Fifi hanya bisa
senyum-senyum sendiri melihat adegan FTV mereka. ‘Lumayan.. dapat tontonan gratis’ gumamnya dalam hati kemudian
masuk ke dalam rumahnya. ‘Seandainya kamu
tau sayang... Aku sayang banget sama kamu. Tak akan ada yang lain’ gumam
Zahra dalam hati kemudian naik ke motor Nando sebelum akhirnya mereka pergi ke
taman.

