Langit Hitamlah Yang Akan Menjadi Saksinya
“Iya! Memang! Memang gue gak mau pacaran!
Pacaran itu, rasanya seperti burung! Terkekang didalam sangkar! Tidak bisa
terbang bebas! Dan maaf! Gue gak mau pacaran.” Ujar Dicky sambil berlari keluar
kelas. Dicky emosi, mereka mengatakan Dicky gak laku, makanya belum dapat
pacar. Dicky emang gak suka pacaran! Sumpah deh! Gak kayak mereka, yang pacaran
hanya untuk status doang! Kenapa gak satu kali pacaran ama Facebook? Atau ama
Twitter?
Dicky duduk di taman sekolah. Dan menanti
dia, “Hai!” Sapa seorang gadis dari kejauhan
“Hai juga!” Jawabku “Kamu dari tadi ya nungguin aku? Dick?” Tanya Gadis
itu “Iya, Acha!” Jawabku kepada gadis manis yang ternyata bernama Acha “Tumben!
Gak pake kacamata!” Ujar Dicky “Oh ia, kelupaan! Di rumah!” Jawabnya lugu
“Ohia, ke kantin yuk. Aku traktir!” Tambahnya “Ayuk!!!” Jawabku.
Merekapunpun berjalan menyusuri taman sekolah
untuk menuju kantin. Hari itu, semua telihat aneh. Terlihat asing bagiku. Dicky
merasa, Dicky berbeda dari yang lainnya. Tak menyatu dengan alam. Dan Dicky
merasa, kalau kesuraman mengganggunya. Tapi Dicky harus menjauhkan pikiran itu. Dicky
harus lebih tertuju pada masalah cinta tak abadi ini. Soalnya KRES banget!
Dicky terdiam memandang ke arahnya. Dengan
pandangan itulah, dia menyadarinya “Hoi! Dick? Kok melamun! Kenapa sih?”
Tanyanya “Gak kok. Gak papa, hanya saja aku merasa pusing.” Jelas Dicky “Kok
pusing? Aku antarin UKS ya!” Ujarnya panic “Gak kok! Gak papa! Mungkin karena
kemarin mati-matian buat belajar. Padahal udah stress banget, udah dipaksa.
Jadi kayak gini deh.” Jelas Dicky lagi “Oh gitu yah” Jawabnya kemudian
melanjutkan makannya.
Dicky menatap ke langit, Dicky masih heran,
Dicky suka hujan! Tapi Dicky suka melihat Matahari, Bulan dan Bintang. Sedangkan
Matahari tidak akan bisa muncul bersamaan dengan hujan, kalau mendung
menutupinya. Begitu juga bulan dan bintang. Tapi kadang ada hujan menangis, dan
Dicky percaya itu adalah sebuah pertanda. Pertanda apa ya? Mau tau? Kepo banget
sih lo -,-
Tapi Dicky sebenarnya punya sebuah rahasia
yang tak ingin ku kasih tau dulu. Karena Dicky tak ingin membuat semua jadi
khawatir. Ya gitu deh, gak suka buat orang pada rempong hanya karena Dicky.
Hahahahahah…. Merekapun yang kebetulan
duduk bersama di kantin sekolah. Dicky bertanya-tanya dalam hati “Kenapa ya?
Cinta ini terasa sangat sedih! Kres banget gitu!”
Malamnya… Gak ada bintang! Gak ada bulan!
Karena langit mendung yang menghalangi pemandangan itu. Dickypun tak tahu! Dicky
selalu berbicara kepada bulan! Bertanya “Kamu sedang apa? Dimana? Dengan siapa?
Kenapa kamu gak pernah sadar? Apakah benar-benar tidak terlihat?” dan
pertanyaan yang sama setiap harinya. Dan semuanya tertuju ke 1 orang… siapa
lagi kalau bukan ACHA.
Dickypun melihat Acha sedang berjalan menuju
sekolah. Acha berlarian dan tanpa sengaja dia tersandung dan terkena
pecahan-pecahan botol. Terutama di bagian matanya, karena waktu itu di lupa
pakai kacamata. Dicky yang melihat kejadian itu sampai strok! Gak nyangka bisa
jadi kayak gitu. Dickypun membawanya ke rumah sakit. Dicky gak berani
mengeluarkan beling-beling itu. karena Dicky takut.
3 jam Dicky menunggu di ruang tunggu
“Dok? Bagaimana keadaan teman saya, Dok?”
Tanya Dicky ke dokter saat si dokter keluar dari ruangan tersebut “Maaf dek!
Teman adek, mengalami kebutaan! Karena bagian korneanya rusak. Dan bisa
diperbaiki, asalkan ada yang mau mendonorkan kornea.” Jelas pak dokter tersebut
“Tapi, dok?” Ujar Dicky panic “Kami sudah melakukan yang semaksimal mungkin.”
Kata dokter tersebut, sebelum akhirnya dia pergi.
Dicky masuk keruangan Acha dan memeluknya
“Acha! Tenanglah! Dicky yakin sesegera mungkin. Kita akan mendapatkan donor
korneanya. Dan Dicky yakin itu! sudah Acha! Jangan sedih lagi!” Ucap Dicky
kepadanya seraya menenangkan. Dicky juga begitu terpuruk mendengar dia harus
kebutaan. Tapi, apa daya Dicky? Ini memang harus terjadi. Dicky kasihan padanya
“Ya Allah… tolong jaga dia! Jaga Acha, ya Allah! Orang yang kusayangi” batin
Dicky dalam hati.
5 bulan berlalu…
Kini Acha sudah tidak lagi sekolah seperti
biasanya. Dia sekarang mendapatkan bimbingan khusus dirumahnya. Dan Dicky,
masih tetap mengunjunginya. Dicky sedikit menyimpan rasa kasian. Dan bulan ini…
bulan November! Ulangtahun Acha sudah dekat! Dan dia berencana akan merayakannya.
Dicky akan datang ke ulangtahunnya. Dan pastinya ingin membuat dia bahagia.
“Acha? Ulang tahun kamu sudah dekat ya!
Lusa!” Ujar Dicky senang “Iya nih. Jadi gak sabar. Kamu datang ya!” Pinta Acha
“Dicky pasti datang loh! Gak mungkin Dicky gak datang! Kamu kan sahabat aku!” Ujar
Dicky ke Acha dan Acha hanya membalasnya dengan senyuman manisnya.
Sepulang dari rumah Acha, Dicky mengendarai
motor. Dan segera menuju rumah sakit. Kepalaku pusing sekali. Entah kenapa, Dicky
bisa pusing. Dicky segera masuk dan konsultasi ke dokter Dicky. Yang biasanya
menangani Dicky. Dia berkata, “Dick! Mungkin ini sangat sulit dikatakan. Tapi
otakmu sudah tak bisa tertolong. tapi saya akan mencoba untuk menyembuhkannya.
Dengan operasi.” Jelas Pak Faisal, dokter Dicky.
Dicky sedikit tercengang… tetapi dia
menyetujui. Diapun mau dioperasi. Meskipun itu membutuhkan 4 hari dirumah
sakit. Dan tidak ada kemungkinan, dia bisa datang ke acara ulang tahun Acha.
Dan di hari ulang tahun Acha… “Ma? Dicky mana ma? Kok aku gak dengar dia ngucapin
selamat ke aku.” Tanya Acha ke ibunya “Mungkin si Dicky gak bisa datang. Ada
keperluan, mungkin” Jawab ibunya. Achapun menunggu kedatangan Dicky yang
mungkin gak akan datang.
Hingga 4 hari berlalu… operasi selesai.
Tetapi belum menjamin otaknya bisa disembuhkan. Tetapi setidaknya dia masih
bisa untuk mengucapkan kata-kata ke Acha. Diapun pergi ke rumah Acha.
Sesampainya dirumah Acha… “Acha? Selamat ulang tahun ya! Maaf ya! Maaf
aku gak bisa datang ke acara ulangtahun kamu. Maaf ya! Soalnya aku ada urusan”
Jelas Dicky ke Acha “Apa lo bilang? Kalo lo ada urusan… setidaknya lo gak usah
bilang LO AKAN DATANG dulu. Lo tau gak sih! Lo itu gak nepatin janji lo! Gue
benci lo, Dicky” Umpat Acha panjang lebar. “Aku tahu… ini gak bisa dimaafkan.
Tapi aku mau minta maaf, aku juga mau ngucapin selamat tinggal ke kamu!” Jelas
Dicky.
“Memang ini gak bisa dimaafkan. Lo udah
keterlaluan Dicky. Dan lo mau tinggalin gue? Setelah lo ngebuat gue sakit? Ha?
Pergi aja! Kenapa harus pamit ke gue? Emang lo sapa? Ha? Sahabat kok gitu!
Datang kalau ada perlu! Ciuh… gue bisa milah teman tau! Dan teman yang kayak
sampah seperti lo! Harus dimusnahkan! Jadi, pergi lo dari sini! PERGI!!!”
Kata-kata itu keluar dari mulut Acha, dan menggelegar di telinga Dicky.
Akhirnya tugas keterakhirnyapun selesai.
Diapun kembali kerumah sakit. Dan bersedia untuk mendonorkan korneanya ke Acha.
Dan juga menyumbangkan organ-organ tubuhnya yang penting. Ke yang membutuhkan.
Dan itu mungkin sangat menyakitkan buat Dicky. Tapi Dicky juga tahu, kalau dia
sudah tidak lama lagi……
……
“Wah!!! Aku sudah bisa melihat ma!” ujarnya
terkagum-kagum saat perbannya dibuka. “Alhamdulillah ya Allah… Makasih ya
Allah! Engkau memberikan yang terbaik untuk anakku. Makasih ya Allah.” Ujar
ibunya Acha yang sangat senang anaknya dapat melihat lagi. “Boleh aku tahu,
siapakah yang mendonorkan kornea untukku?” Tanya Acha “Kau boleh mengetahuinya.
Di alamat ini……” Jawab Dokter tersebut sambil menunjukkan alamat tempat
penguburan Dicky yang Acha tak tahu. Achapun segera menuju ke sana…
Sesampai di sana… Acha melihat segerombolan
orang berdiri di sebuah kuburan. Achapun bertanya “Boleh tau, siapa yang
meninggal?” Tanya Acha ke seorang ibu yang sedang terlihat bersedih hati “Tante?”
Achapun tersentak kaget waktu menyadari, orang yang ditanyanya itu adalah
ibunya Dicky. Achapun langsung menengok ke arah batu nisan.
“Dicky!!!! Gak!!! Gak mungkin!!!” ujarnya
panic dan kaget. Air matanya mulai berjatuhan. Ternyata yang meninggal adalah
Dicky, sahabatnya sendiri. “jadi??? Dia yang menyumbangkan kornea untukku?”
Tanya Acha dalam hati.
Semua orang yang pergi melayat telah pulang
kerumah satu per satu. Tinggallah Acha dan ibunya Dicky. Ibunya pun
menghampirinya “Acha? Dicky punya surat. Dia menyuruh tante untuk memberikannya
kepadamu nanti.” Jelas ibunya Dicky samba menyerahkan sepucuk surat untuk Acha
“Hay
Acha? Apa kabar?
Baik-baik
saja kan?
Aku
sebenarnya masih ingin merayakan 1 hari bersamamu waktu aku kerumahmu itu
Tapi
karena kamu menyuruhku pergi. Jadi aku harus pergi sekarang…
Maaf
ya… tak bisa datang ke ulang tahun kamu…
Karena
waktu itu aku harus operasi…
Meskipun
kata dokter, otakku sudah tak bisa tertolong…
Aku
juga mau bilang sesuatu kepadamu
‘Aku
cinta kamu, Acha!’
Maaf
ya, aku harus mencintaimu…
Aku
tidak tau kenapa, dadaku selalu berdebar saat bersamamu.
Dan
aku sungguh tak nyaman, karena tak ingin persahabatan kita hancur
Hanya
karena perasaan ini
Maka,
jagalah matamu! Anggaplah korneaku itu kenang-kenangan
Yang
tak akan pernah kamu lupakan
Dan
aku bangga, korneaku akan bisa melihat wajah cantikmu
Saat
kau memandang ke cermin
Dan
sekarang…
Langit
hitamlah yang akan menjadi saksinya…
Saksi
dari cinta tak abadi yang searah ini…
Selamat
tinggal Acha…
Love
you…… From Dicky”

