Riopun
melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.”
Ujar Rio dan kemudian menghilang ‘Ya.
Kamu benar, Rio. Aku maafkan kamu kok. Aku tau, aku gak bisa egois. Aku memang
suka kamu. Tapi aku gak bisa memaksakan kamu mencintaiku. Dan gak papa kalau
kamu tidak bisa. Aku mengerti kok.’ Gumam Riska dalam hati sambil menangis.
Diapun masuk
ke kelas… ‘Aku sudah melakukannya. Aku
sudah melakukannya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku. Kepada Dia. Aku tau ini
akan seperti ini. Tapi aku akan baik-baik saja, Karena aku kuat. Dia tadi
memberiku sebuah pelukan. Pelukan hangat sebagai seorang teman. Karena dia
hanya menganggapku sebagai teman dan tak lebih. Aku menangis. Aku sedih. Aku
telah melakukan hal yang sangat sulit dan sekarang aku harus menghadapi yang
akan terjadi. Bagaimanapun itu…’ gumam Riska dalam hati. Entahlah, dia
sudah tak pernah lagi melihat senyumannya yang pernah membuat hati Riska
berdebar. Tapi Riska harus menjalani hari-hari yang sulit tersebut. “Dan kini,
akupun tersadar, aku kehilangan dia” tulisnya di sebuah buku catatannya.
“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”
Riopun
melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.”
Ujar Rio ‘Maafkan aku. Aku terlalu
penakut untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Aku memang suka kamu. Tapi aku
gak mau kamu bilang begituan hanya karena kamu tau kalau aku suka sama kamu.
Mungkin cuma pelukan istimewa tadi yang bisa kuberikan padamu. Aku sadar kok
kalau kamu gak suka aku. Aku akan menghilang dari hidup kamu. Selamat tinggal’
Gumamnya dalam hati.
Dan setelah
kejadian itu, Rio sudah tak muncul lagi didepan Riska. Dia selalu bersembunyi
dari Riska ‘Aku terlalu payah. Inilah
akhir cinta pertamaku’ gumamnya dalam hati “Dan kini, akupun tersadar,
kalau aku masih sayang sama dia.” tulisnya di sebuah buku catatannya. Rio terus menerus menghindar dari Riska. Rio merasa
kalau dirinya adalah pengecut. Karena
dia tak bisa melakukan hal yang di lakukan oleh Riska waktu itu.
Meskipun dia menghindar, dia tak bisa juga membohongi perasaannya sendiri kalau
dia benar-benar merindukan Riska.
5 bulan
lamanya Rio menghindar dari Riska… Mereka telah lulus SMP dan sudah menjadi
murid SMA 1. Rio mendapat peringkat 1 ujian nasional di seluruh sekolah di
Indonesia. Terkadang Rio merindukan Riska. Dia masih menyesal, karna tak bias mengungkapkan perasaannya dulu. Dan dia masih menyesal,
karna memilih untuk menghindar. Dan saat itu di kantin, Rio melihat Riska duduk
sambil memakan makanan yang dipesannya. Riopun ingin menghampiri Riska. Dia
merasa udah cukup untuk menghindarinya.
“Hai! Sudah lama ya!” Sapa Rio ke Riska, Riskapun menoleh kearah Rio “Maaf!
Lo siapa ya? Apa gue kenal lo?” Tanya Riska “hadeeeh... ternyata gue berubah
drastis. Lo aja sampe gak ngenalin gue. Gue Rio” Ujar Rio ke Riska “Apa?” Tanya
Riska seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rio yang dulu sangat KUNO
dengan rambut acak-acakan dan memakai kacamata, sekarang terlihat COOL dengan
gaya rambut yang keren dan tanpa kacamata lagi. Riopun tersenyum melihat Riska
yang seakan tak percaya dengan penampilannya. “Sudah lama ya! Udah 5 bulan gue
menghindar dari lo!” Rio memecah “Aah.. iyaiya. Lo darimana sih? Kok pake
acara-acara menghilang sih!” Tanya Riska “Kenapa? Lo rindu ya sama gue?” Tanya
Rio ke Riska “Eeeh ke-PD-an banget. Siapa juga yang rindu ama lo!” Riska sok
cuek “Ooh... jadi gitu ya, gak rindu sama gue. Yaudah, gue menghilang lagi ya!”
ujar Rio “Jangan dong!!!” Seru Riska ke Rio. Dan mereka berduapun tertawa “Kamu
masih lucu kayak dulu!” Rio mengacak-ngacak rambut Riska.
“Seandainya... gue bisa ngeulang waktu” ujar Rio “Gue bakal ulang saat
dimana lo ngungkapin perasaan lo!” Ujar Rio lagi “Emangnya kenapa dengan saat
itu?” Tanya Riska “Ada sesuatu yang gue sesali sampai saat ini. Dan membuat gue
berpikir ‘Kenapa gue gak lakuin hal yang sama dengan yang Riska lakuin?’. Gue
waktu itu memang pemalu. Dan gue adalah pengecut, karna gue gak bisa
mengungkapkan perasaan gue. Padahal waktu itu, gue udah bertekad untuk
mengungkapkan perasaan. Tapi mungkin gue terlalu nervous dan waktu itu gue
sedang salting, jadi gak bisa melakukan hal yang sama” Ujar Rio panjang dan
lebar “Dan sampai sekarang gue masih menyesalinya” Tambahnya lagi.
“Seandainya...” ujar Rio *Flashback
On* Riopun meninggalkan Riska yang
masih di kantin, dan tak lama kemudian ada sebuah suara yang membuat Rio
berbalik dan mencari sumber suara tersebut “Rio!!! Gue mau ngomong
sebentar!!!” Dan ternyata itu Riska.
Riopun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak.
Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?”
Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio.
‘Dia pasti bercanda’ gumamnya dalam
hati. Riopun memeluk Riska erat. *Flashback Off* “Seandainya waktu itu, gue bilang ‘Gue juga suka sama lo
Ris!’. Pasti kita bisa bersatu. Tapi itu sudah terlambat. Gue sangat menyesal
karna menyia-nyiakan kesempatan itu.” Jelas Rio panjang lebar.
“Lo gak salah kok. Hal seperti itu wajar buat lo. Karna lo masih belum
berpengalaman waktu itu. Dan sekarang gue masih menunggu kok. Menunggu lo
mengungkapkan perasaanmu. Karna gue masih memberi lo kesempatan.” Ujar Riska ke
Rio “Ini cinta. Banyak hal yang tak masuk akal dalam hal percintaan. Karena
cinta tak menggunakan logika. Lo gak bisa menggunakan otak lo buat cinta. Tapi
lo harus menggunakan ini! *Menunjuk hati* karna ini tentang perasaan. Bukan
tentang logika” jelas Riska ke Rio.
“Lo emang bisa menghindar dari gue. Lo emang bisa menjauh. Lo bisa
melakukan apa aja. Tapi lo gak bisa membohongi perasaan lo sendiri kalo lo
benar-benar sayang.” Jelas Riska. Rio hanya bisa terdiam mendengarkan
penjelasan Riska. Riopun memakai kacamatanya lagi “Lo kenapa?” Tanya Riska ke
Rio tapi Rio tak menjawab. Riskapun mengambil kacamata Rio dan melihat mata Rio
berkaca-kaca “Sorry, Ris. Gue gak bisa tahan. Gue pengen nangis.” Ujar Rio dan
air matanyapun jatuh “Menangis saja. Mungkin itu bisa membuatmu tenang.”
Riskapun membiarkan Rio menangis.
“Gue tau kalau lo suka sama gue. Waktu itu istirahat. Gue dipanggil teman
gue yang di 9A. Trus waktu itu gue liat ada catatan ‘Dan kini,
akupun tersadar, kalau aku masih sayang sama dia’ di buku catatan lo. Dan dibawahnya ada tulisan ‘Love you Riska.’. Dari
situ gue tau kalau lo suka sama gue. Makanya sampai sekarang gue masih nunggu
lo.” Jelas Riska ke Rio. Riopun menenangkan dirinya “Jadi lo sampai sekarang
masih nunggu gue? Lo masih ngasih gue kesempatan?” Tanya Rio ke Riska “Iya.”
Jawab Riska singkat “Gue gak bakal sia-siain itu.” ujar Rio “Yaudah. Anggap saja
lo dan gue belum saling tau perasaan masing-masing. Dan anggap saja gue belum
ungkapin perasaan gue. Jadi lo harus cabut karena lo mau ke kelas. Oke?” Jelas
Riska “Oke.”
Riopun
meninggalkan Riska yang masih di kantin, Riskapun
memanggil Rio dari kejauhan “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!” Riopun menghampiri Riska “Gue gak tau apa gue
harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue harus mengatakannya” Jelas
Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka sama lo Rio” Ujar Riska tanpa
basa-basi “Gue juga Ris. Sebenarnya gue juga suka sama
lo.” Ujar Rio. “Jadi, lo mau gak jadi pacar gue?” Tanya Rio ke Riska. Riskapun
tersenyum dan mengangguk. Riopun memeluk Riska erat.
Merekapun berpacaran. Riska dan Riopun berpegangan tangan menuju taman. ‘gue ralat deh kata-kata gue yang... ‘Aku terlalu
payah. Inilah akhir cinta pertamaku’. Gue tidak payah. Gue sebenarnya kuat. Dan
ini bukanlah akhir. Ini barulah permulaan.’ Gumam Rio dalam hati. HP Riopun
bergetar... itu adalah panggilan dari Andre “Tunggu sebentar ya..” Ujar Rio ke
Riska kemudian mengangkat panggilannya “Halo Andre... Kenapa lo?” Tanya Rio “Gue udah jadian.” Jawab Andre dari
seberang “Oh ya? Selamat ya!!! Gue juga udah jadian sama Riska. Lo jadian sama
siapa?” Tanya Rio ke Andre “Gue jadian sama Fia.” Jawab Andre dari seberang
“Fia? Fia siapa?” Tanya Rio “Lo dimana sekarang?” Tanya Rio “Di kantin.” Jawab
Andre dari seberang. Riopun mematikan panggilan itu “Kita kesana yuk!!!” Seru
Rio ke Riska.
Rio dan Riskapun menuju ke tempat Andre... Dan Riska sangat terkejut
“FIA???” Fia yang sedang duduk dengan Andrepun mencari sumber suara itu dan dia
melihat Riska “RISKA!!!” “Jadi kalian saling kenal ya?” Tanya Andre ke Riska
dan Fia “Dia sahabat aku sayang. Eeeh Riska! Apa yang lo lakukan dengannya?
Jangan bilang kalian jadian?” Tanya Fia ke Riska “Gak! Kita gak pacaran.” Jawab
Riska singkat “Tapi kok kalian pegangan tegangan?” Tanya Riska sambil nyengir
sendiri “Iyaiya. Kita pacaran. Lo sendiri kok bisa pacaran sama dia?” Riskapun
balik tanya ke Fia “Ceritanya panjang.” Jawab Fia “Yaudah. Karena hari ini gue
dengan Fia dan Lo *Nunjuk Rio* dengan Riska jadian. Jadi gue traktir kalian.”
Ujar Andre. Andrepun mentraktir mereka di kantin karena itu adalah hari jadian
mereka ber-empat. Mereka selalu merayakan Anniversary mereka bersamaan. Mereka
ber-empat-pun selalu berbawaan, selalu bersama dan mereka ber-empat sangat
akur.