Minggu, 23 Agustus 2015

The Truth... :"Seandainya..."

Oke… Ini cerita ketiga dari serial the truth. Ini merupakan cerita dari tumpahan ide teman yang bernama Aulia Afifah. Buat Aulia, thanks ya udah ngasih ide. Oke, yang sebelumnya cerita Déjà vu di waktu senja itu, merupakan cerita karangan aku sendiri yang terinspirasi dari Fhira. Jadi buat Fhira makasih ya. Yang sebenarnya cerita itu mau di post bertepatan dengan ulang tahunnya tanggal 23 juli. Tapi gak sempat. Jadi diundur. Oke, ini cerita ketiga. Jadi nanti aka nada cerita terakhir di serial the truth ini. Selamat membaca…



“Kenalin! Dia teman aku. Namanya Rendi. Nah, Rendi… kenalin! Dia teman sekelasku, namanya Gita.” Ujar seorang cewek bernama Fero sambil memperkenalkan temannya yang bernama Rendi ke sahabatnya yang bernama Gita dan sebaliknya. “Halo Gita… salam kenal ya!” ujar Rendi sambil mengulurkan tangannya ke Gita “Halo juga rendi.” Jawab Gita singkat kemudian menjabat tangan Rendi yang dia ulurkan. “Dia satu skolah dengan kita loh! Dia 10 G.” ujar Fero ke Gita “Ooh… pantas. Soalnya mukanya kayak aku kenal.” Jawab Gita “Iya. Kebetulan gue anak basket. Ohiya, lo yang anggota pengurus mading itu kan?” Tanya Rendi ke Gita “Iya. Tau darimana?” Tanya Gita “Gue sering baca artikel lo. Kan disitu tertulis nama lo. Jadi gue tau. Artikel lo keren banget. Gue suka.” Jelas Rendi “Wah, makasih.” Ujar Gita sambil tersenyum senyum “Yaudah. Kita cabut dulu ya.” Ujar Fero pamit ke rendi. Merekapun pergi meninggalkan Rendi.
3 bulan kemudian… Rendi dan Gita semakin dekat. Mereka sering main bareng di sekolah, meskipun mereka tidak sekelas. Mereka sering SMS-an setiap hari. Dan perlahan-lahan Gita mulai nyaman dengan Rendi. Gita mulai menyadari kalau dia memiliki perasaan kepada Rendi. “Ya Tuhan… Kenapa setelah aku mulai merasa nyaman dengan Rendi, aku jadi berharap kepadanya? Apa ini pertanda kalau aku suka sama dia?” Gumamnya dalam hati. “Hy! Sudah lama nih. Kok udah gak ada kabar?” SMS masuk di hp Gita. Diapun teringat kalau dulu dia punya teman curhat namanya Dion. Dan dia udah jarang curhat ke Dion semenjak ada Rendi “Maaf ya. Aku lupa.” Gita membalas SMS Dion itu “Yaudah.” Balas Dion singkat.
“Aku mau curhat nih.” Balas Gita “Yaudah… Kamu kenapa?” Tanya Dion “Entah. Aku rasa aku sedang jatuh cinta sama seseorang.” Jawab Gita “Seseorangnya dekat ama kamu ya? Atau nggak?” Tanya Dion “Lumayan dekat sih.” Jawab Gita “Ooh, berarti cinta kamu dipicu oleh kedekatan kalian. Kamu belum kasih tau ke orangnya?” tanya Dion “Belum. Aku takut, kalau nanti aku kasih tau ke dia. Eeh dianya malah menghindar.” Balas Gita “Yaudah. Kamu tunggu aja waktu yang tepat buat kamu ungkapin. Ingat, perasaan itu kamu harus ungkapin. Dibanding di pendam, lebih baik kamu ungkapin. Kalau kamu ungkapin, masih ada 3 kemungkinan. Dia merasakan hal yang sama, Dia tidak merasakan hal yang sama tapi dia mengerti perasaan kamu. Dan dia malah menjauh. Sedangkan kalau kamu Cuma pendam, kamu akan nanggung sakit itu sendiri, dan kamu tidak jauh beda dari pengecut.” Balas Dion panjang lebar.
Oke thanks ya. Ngomong-ngomong, kamu pernah gak jatuh cinta?” tanya Gita “Pernah. Sekarang aku lagi jatuh cinta.” Balas Dion “Trus trus? Gimana?” Tanya Gita “Entahlah. Mungkin dia rasa kita lebih baik temanan aja. Lagipula dia gak suka sama aku. Dia sukanya sama orang lain.” Jelas Dion “Duuh, kasian yah. Be Strong ya Dion. Kamu pasti kuat.” Dion mencoba menenangkan Dion. Dan percakapan mereka malam itu, terhenti disitu. Dion duduk terdiam di kamarnya. Dia hanya bisa melihat percakapannya dengan Gita ‘Sampai kapan Gita? Aku harus menunggu sampai kapan? Supaya kamu mau melihat ke arahku? Ohia, pasti gak bakal. Tapi apa aku harus mengungkapkan identitasku sebenarnya? Kalau aku sebenarnya Goldi. Ketua pengurus mading yang merekrut kamu di kelompok itu?’ Gumam Dion dalam hati. Dia melihat jadwal besok, besok ada Rapat para pengurus mading. Dia harus bisa menyembunyikan kesedihannya itu. ‘Aku pasti bisa’ gumam Dion dalam hati.
“Besok sepulang sekolah, kita ketemuan yuk!!” SMS dari Rendi masuk “Dimana?” tanya Gita ke Rendi “Kafetaria yang di dekat taman kota.” Balas Rendi “Yaudah. Emangnya kenapa?” Tanya Gita “Ada deh. Pokoknya kamu datang aja.” Balas Rendi “Oke.” Balas Gita mengakhiri percakapan. Dia tersenyum-senyum dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Dan tanpa dia sadar, lamunannya itu membawanya ke dunia mimpi.
Besok sepulang sekolah… “Duh! Macet nih!” Gerutu Gita kesal saat memacu mobilnya di jalan. “Gimana nih kalau si Rendi nantinya duluan nyampe.” Ujar Gita panik. Tanpa pikir panjang, Gita memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya. Dia kemudian berlari menuju kafetaria. “Pokoknya aku harus jadi yang pertama nyampe. Aku gak mau kalau nantinya dia yang menunggu aku. Lebih baik aku yang menunggunya.” Gumamnya dengan semangat yang berkobar-kobar. Setelah 25 menit berlari, Akhirnya dia sampai di Kafetaria yang dimaksud. “Huaa… keringatan nih.” Ujar Gita. Diapun menuju kamar mandi yang ada di kafetaria kemudian melap keringatnya dan menggantinya baju seragamnya dengan baju ganti yang telah dia siapkan.
“Hai! Kamu sudah datang ya!” Sapa Gita ke Rendi yang baru saja muncul “Iya. Duh, udah lama ya?” tanya Rendi ke Gita “Gak kok. Ini juga baru nyampe.” Jawab Gita. Merekapun duduk. Gita tersenyum-senyum kemudian bertanya kepada Rendi “Ada apa?” tanya Gita “Apa?” tanya Rendi “Kan kamu ngajak aku ketemuan disini.” Ujar Gita mulai kesal “Ooh itu, aku mau bilang sesuatu.” Ujar Rendi “Mau bilang apa?” Tanya Gita “Mau bilang apa ya? Duuh… kok lupa sih.” Rendi malah balik nanya “Duh kok lupa sih?” tanya Gita “Maaf-maaf.” Ujar Rendi “Gini Gita… aku mau bilang sama kamu kalau aku sebenarnya…” “Wah… Hujan!!!” ujar Gita memotong pembicaraan Rendi. Diapun melongo’ menatap air-air hujan yang berjatuhan. Diapun sadar kalau Rendi tadi mau ngomong sesuatu “Tadi kamu mau ngomong apaan?” Tanya Gita “Diluar aja yuk!” seru Rendi “Yaudah.” Merekapun berjalan keluar kafe menuju teras depan kafetaria, “Aku mau bilang kalau sebenarnya…” ucap Rendi menggantungkan pembicaraannya “Sebenarnya apa?” tanya Gita “Sebenarnya aku Cuma seorang anak basket…” “Kalau itu aku juga sudah tau!” ujar Gita sambil memukul pundak Rendi“Aku cabut dulu ya. Tuh ada Fero, aku mau ke sekolah. Ada rapat pengurus mading. Bye” Ujar Gita pamit kemudian berlari menuju kearah Fero dan meninggalkan Rendi “Yaah… padahal belum selesai ngomong.” ujar Rendi
Malamnya, “Duuh! Tuh anak tadi malam mau ngomong apa sih sebenarnya?” tanya  Gita ke dirinya sendiri “Apa aku SMS aja ya?” “Rendi?” Gitapun mengirim SMS ke Rendi “Ya? Kenapa gita?” balasnya “Sebenarnya kamu tadi mau ngomong apaan?” tanya Gita “Oh yang tadi? Udah. Lupain aja.” Balas Rendi “Loh kok gitu?” tanya Gita dan sudah Rendi sudah tak membalasnya.
Keesokan harinya, Gita berjalan menuju kelasnya dan dia melihat kalau anak-anak basket lagi latihan. Dan diapun melihat Rendi. Gita ingin menyapanya. Tapi,”BRUKK!!!” “Aww!” pekik Gita saat bola basket terlempar mengenai kepalanya. Diapun jatuh pingsan. Rendi yang melihat kejadian itu langsung mendekati Gita dan mengangkat tubuh Gita yang terkulai lemas itu menuju UKS. Rendi yang melihat Gita terbaring lemas tak berdaya itu, membuatnya tak tahan. “Seandainya kamu tahu, kalau aku sebenarnya…” ucapannya terpotong karena ada yang memanggilnya dari luar. Dan ternyata yang memanggilnya itu Fero.
Rendipun beranjak dari tempatnya dan keluar dari UKS. Rendipun mendekati Fero, “Rendi. Kamu tau gak? Aku suka banget sama kamu. Kamu kok gak pernah melirik aku sama sekali?” tanya Fero “Apa kamu tak bisa mengerti diriku? Kenapa? Apa kamu tak memiliki debaran yang sama dengan yang aku rasakan? Apa kamu tidak merasakan apa-apa? Kalau begitu, tak bisakah kamu mengerti perasaanku?” tanya Fero ke Rendi “Tapi aku gak suka kamu.” Jawab Fero singkat “Kalau begitu, bagaimana caranya untuk membuatmu jatuh cinta padaku?” tanya Fero “Kamu tidak perlu melakukannya.” Jawab Rendi singkat “Tapi Rendi…” Feropun memeluk Rendi dengan eratnya saat itu “Seandainya… aku mati karenamu. Apa kamu akan mengingatku?” tanya Fero lagi “Untuk apa aku harus mengingatmu?” Rendi malah bertanya balik.
Feropun menangis. Dan dari dalam UKS yang pintunya sedikit terbuka, Gita melihat keluar, dan dia sangat terkejut melihat Fero memeluk Rendi sambil menangis. Hatinya terasa sakit melihat hal itu. “Apa ini? Dia menyukai Rendi?” tanya Gita kepada dirinya sendiri “Kenapa harus dia yang menyukai Rendi? Kenapa bukan orang lain?” Tanya Gita lagi “Gak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan meneruskan perasaanku ini, apapun yang terjadi. Toh, dia sendiri yang salah.” Gita mencoba menenangkan dirinya. Dia terpikir-pikir hal itu terus sebelum akhirnya dia tertidur di UKS.
Setelah beberapa lama tertidur, Gita dibangunkan oleh Rendi. Ternyata bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu. “Aku antar pulang ya…” ujar Rendi “Gak. Aku gak mau merepotkan kamu.” Jawab Gita “Anggap saja sebagai perminta maafan dari teman basket aku tadi.” Ujar Rendi “Yaudah deh.” Gitapun menyetujuinya. Rendi dan Gita berjalan menuju tempat parkir dan menaiki motor rendi. Rendipun memacu motornya dengan kecepatan yang maksimum. Merekapun berhenti di Kafetaria tempat mereka ketemuan dulu. Merekapun mengobrol-ngobrol sambil melahap pesanan mereka. Tapi tanpa mereka duga, hujan turun secara tiba-tiba. Merekapun segera menghabiskan pesanan mereka. Mereka berdiri di teras depan kafetaria sambil menunggu hujan yang mendadak itu berhenti.
‘Duh, kenapa aku jadi deg degan kayak gini.’ Gita membatin dalam hati ‘Apa dia merasakan kalau jantungku berdebar dengan cepat? Atau… apa mungkin dia merasakan debaran yang sama? Huuuft… seandainya dia merasakan hal yang sama.’ Batinnya lagi. Rendipun menghadapkan muka Gita ke mukanya. Diapun memegang pipi Gita, dan Gita menepisnya. Dan tangan Rendi jatuh ke dada Gita “Apa ini?” Tanya Rendi yang merasakan debaran yang sangat cepat di dada Gita “Apanya yang apa?” Tanya Gita “Kok jatung kamu berdebar-debar?” Tanya Rendi ‘Gawat!!!’ gumam Gita dalam hati “Ah perasaan kamu aja kali.” Gita mencari alasan “Kamu suka sama aku ya?” tanya Rendi “Loh kok malah nanya kayak gitu? Pede banget kamu.” Jawab Gita spontan “Siapa juga yang suka kamu” Gita berpura-pura. ‘Jadi dia suka sama Rendi ya.’ Gumam seseorang dari kejauhan yang tak lain adalah Fero “Udah ah! Aku mau pulang aja.” Ujar Gita “Gak mau diantar?” Tanya Rendi “Gak usah” jawab Gita singkat.
“Aku sebenarnya Goldi, Git!” SMS dari Dion masuk di HP Gita “Maaf sudah membohongimu. Aku juga tidak tau. Dan aku juga mau bilang kalau sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu” SMS masuk di HPnya tapi Gita tidak membalasnya “Kalau kamu gak balas juga gak papa. Aku memang menyedihkan.” SMS darinya masuk lagi. Gita hanya bisa termenung memikirkan itu. diapun berbaring di kasurnya ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ gumam Gita dalam hati. Banyak SMS masuk dari Goldi dan dia tidak mau membacanya. Dia tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya menyukai Rendi seorang. Dia juga merasa kecewa saat tahu kalau sebenarnya Dion yang menjadi teman curhatnya itu ternyata Rendi. Diapun termenung dikamarnya tanpa sadar diapun terlelap.
Keesokan harinya… “Fero!!!” Sapa Gita tapi Fero tidak menoleh ke arahnya. Dia malah terus berjalan “Kamu kenapa Fero? Cerita dong!” Tanya Gita “Ayo dong Fero. Cerita sama aku.” “Fero! Kita kan teman” ujar Gita lagi “Teman? Emang aku teman kamu?” Tanya Fero ke Gita “Ohh, maaf. Aku kira kamu menganggap aku teman. Padahal nggak, aku memang gak tau diri.” Ujar Gita ke Fero. Dia merasa tertusuk dengan kata-kata Fero tadi “Awalnya kita memang teman Git. Tapi sekarang gak lagi.” Ujar Fero ke gita “Kenapa?” Tanya Gita ke Fero. “Teman itu bukan pengkhianat.” Ujar Fero “Aku kan bukan pengkhianat” jawab Fero “Emang iya? Siapa bilang kamu bukan pengkhianat?” Tanya Fero kemudian terus berjalan meninggalkan Gita. Gita bingung apa yang terjadi pada Fero. Diapun mengalihkan padangannya dari Fero dan dia melihat Goldi ada di tingkat dua sedang memperhatikannya. Tatapan Goldi seakan menjelaskan kalau dia ingin minta maaf. Tapi Gita malah menatapnya tajam, seakan mengatakan “Aku kecewa sama kamu. Jangan muncul dihadapanku dulu!”. Kemudian pergi dari tempat itu.
“Apa dia sudah tahu kalau aku suka sama Rendi ya?” Tanya Gita. Diapun duduk sendirian di bangku di taman sekolahnya “Tapi kan dia sendiri yang salah, siapa suruh ngenalin Rendi ke aku.” “Seandainya dia memang suka sama Rendi, dia seharusnya gak ngenalin orang yang dia suka ke orang lain.” Gita berbicara kepada dirinya sendiri “Lalu, bagaimana dengan Goldi?” Tanya Gita kepada dirinya sendiri “Mungkin lebih baik aku dan dia berteman saja. Tapi aku masih kecewa sama dia. Tapi dia suka aku… apa aku harus melupakan Rendi? Dan menerima cinta Goldi?” Tanya Gita lagi “Aku harus curhat kepada siapa? Hmm…” tanya Gita lagi “Curhat sama aku saja” jawab seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi Gita.
Gitapun melihat keatas, Agak silau karena sinar matahari. Tapi akhirnya dia melihat wajah orang itu. “Rendi!???” Dia kaget saat tahu kalau Rendi, cowok yang dia suka ada didepannya “Kamu sudah daritadi?” Tanya Gita “Iya.” Jawab Rendi singkat “Apa kamu mendengarnya?” Tanya Gita “Tanpa disengaja, iya. Aku mendengar semuanya.” Jawab Rendi. Gitapun menunduk kepalanya. Dia malu karena isi hatinya telah diungkapkan secara tidak langsung “Gak papa kok. Aku juga suka sama kamu.” Ujar Rendi.
“Apa? Beneran?” Tanya Gita yang tak percaya dengan apa yang dia dengar  “Iya. Beneran.” Jawab Rendi “Tapi yang kamu berpelukan dengan Fero itu apa?” Tanya Gita “Ooh kamu melihatnya? Itu aku juga gak tau kalau dia bakal meluk aku. Sudah berapa kali dia memintaku untuk jadi pacarnya. Dan aku menolaknya terus. Karena aku cuma suka sama kamu.” Jelas rendi. Gita hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Rendi “Dan sekarang aku akan melanjutkan perkataanku waktu di kafetaria dulu yang tertunda.” Ujar Rendi “Emang kamu mau ngomong apa?” Tanya Gita “Sebenarnya aku cuma seorang anak basket… sedangkan kamu adalah pengurus mading yang artikelnya menjadi kesukaan para siswa-siswa. Karena itu aku sadar kalau kamu tidak akan suka orang sepertiku. Aku hanya orang yang bisa memantul mantulkan bola dan memasukkannya ke ring yang belum tentu akan masuk terus.”
“Bukan seperti kamu yang bisa menulis nulis artikel dan memasukkannya ke mading dan itu pasti jadi artikel terfavorit. Tapi aku juga punya hati, dan aku bisa menentukan sendiri dengan siapa aku seharusnya jatuh cinta. Dan aku jatuh cintanya sama kamu. Dan kamu juga punya hati. Jadi kamu berhak untuk memilih aku atau tidak. Aku tidak seperti kamu yang bisa merangkai kata-kata yang indah. Jadi aku hanya bisa mengatakan itu. Dan intinya adalah aku suka sama kamu.” Jelas Rendi panjang lebar. Gita hanya bisa terdiam mendengar perkataan rendi. Kemudian mereka berdua terdiam. Rendipun berjalan meninggalkan Gita. Tapi Gita menahannya “Aku mau jadi pacar kamu.” Kata-kata itu langsung keluar begitu saja dari mulut Gita. Rendipun berbalik dan melihatnya, diapun tersenyum.
Mereka berduapun berpacaran dengan sangat lama. Fero tahu kalau mereka pacaran. Dia tambah membenci Gita dan dia tidak pernah muncul lagi dihadapan Gita. Gitapun mulai memaafkan Goldi dan mulai berteman dengannya lagi. Gita sering curhat sama Goldi. Dan Goldi juga sudah punya pacar, adik kelasnya waktu SMP. Mereka menjadi sahabat. Dan Rendi belajar untuk menulis sesuatu sama Gita.

“Gimana?” Tanya Gita “Udah aku kirim sayang. Tinggal tunggu hasil.” Jawab Rendi “Sayang yakin udah gak ada kata-kata yang salah?” Tanya Gita “Iya” jawab Rendi “Sayang yakin mau jadi penulis nih?” tanya Gita “Iya sayang.” Jawab Rendi “Trus basket gimana?” Tanya Gita “Itu bisa jadi hobi sayang. Lagipula orang bisa berubah hanya karena cinta.” Jelas Rendi “Yaudah. Semangat ya sayang. Aku mendukungmu. Aku mau rapat pengurus mading dulu ya sayang.” Ujar Gita pamit “Iyaiya. Jangan nakal ya.” Pesan Rendi “Iya sayang. Emang kayak kamu.” Ucap Gita kemudian menjulurkan lidahnya kemudian pergi meninggalkan Rendi “Dasar. Awas ya, ntar aku gak beliin coklat lagi loh.” Ujar Rendi kemudian tertawa.

####

Minggu, 02 Agustus 2015

The Truth... : "Deja vu di waktu senja"





“I know you somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back

My Neighbors think I’m crazy
They don’t understand..”

Hari sudah mau berganti malam. Senja memamerkan warna jingga yang indahnya itu. seakan menjadi tanda bahwa hari segera berakhir. Aku masih belum pulang ke rumah. Aku masih terdiam di dalam kelas. Lagu Talking to the moon milik Bruno mars yang ku putar seakan menghipnotis aku. Membawaku ke dalam lamunan di waktu senja. Semua orang yang tadi ikut kegiatan ekskul sudah pulang semua. Tinggal aku yang di sekolah. Dan masih terjebak dalam lamunanku.

“Dul!! Kamu belum pulang?” tanya seseorang dari luar pintu kelas menyadarkanku dari lamunanku “Belum. Kamu sendiri gimana Ki? Belum pulang?” tanyaku pada temanku yang menanyaiku tadi yang bernama Rizki “Belum. Emang kenapa? Ada masalah ya?” Tanya Rizki “Gak. Aku hanya teringat masa lalu kok.” Jawabku “Ingat siapa? Pacar kamu ya?” tanya Rizki sambil mendekatiku “Bukan pacar. Lebih tepatnya, mantan. Kamu pernah baca ceritaku yang Kontroversi hati, kan?” tanyaku ke dia “Iya. Pernah. Banyak yang bilang ceritamu yang itu keren. Kenapa? Jangan bilang itu cerita nyata kamu ya?” tanya Rizki “Emang iya. Itu emang kenyataan di hidup aku.” Jawabku. Rizkipun duduk disampingku “Jadi, kalian sudah putus ya?” tanya Rizki “Ya. Katanya, meskipun hubungan ini di tahan, cepat atau lambat, kita bakal terpisah.” Jawabku “Kapan putusnya?” “Tanggal 27 bulan April 2015, Jam 2 siang lewat 1 menit lewat 27 detik” jawabku secara rinci “Trus kamu masih sayang sama dia?” tanyanya dan aku hanya terdiam.

*Flashback on* Aku duduk di depan pintu rumahku. Kebetulan itu hari pertama minggu tenang. Dan waktu itu aku sudah tinggal dengan Radha dan kakak aku. Aku duduk di depan pintu rumahku dengan Azizah yang kebetulan datang ke rumahku. HPku bergetar dan itu SMS dari Fhira yang nama kontaknya ku tulis “Assasins :*”. SMSnya sangat panjang, akupun membacanya. Isinya… ‘Aku minta maaf sebelumnya. Aku minta putus. Tapi aku mohon kamu jangan marah ya, aku minta putus karna aku ingin fokus belajar dulu.. sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya kalau selama ini aku gak pernah jadi yang terbaik buat kamu & aku minta maaf selama ini aku gak bisa jadi cewek yang kamu inginkan. #Sorry s’kaliii… aku harap kita berteman aja’.

Dan tak terasa, air mata aku menetes, aku terdiam sesaat. Kemudian aku membalas SMSnya… ‘Selama ini sayang sudah jadi yang terbaik buat aku. Meskipun sayang gak bisa jadi seperti yang aku inginkan. Tapi aku tetap sayang sama sayang’.  dan diapun membalasnya… ‘Aku minta maaf ya, sebenarnya ini sakit menurutku, tapi cepat atau lambat pasti kita tetap terpisah.. Makasih, karna kamu sudah jadi yang pertama kalinya masuk dihatiku. Makasih juga karna kamu sudah lakukan yang terbaik buatku.. Skali lagi aku minta maaf kalau aku punya salah..! Kamu adalah orang yang gak akan pernah aku lupakan.. :’(  Makasih ya, sudah pernah hadir dalam hidupku.’

Dengan cepat akupun membalas SMSnya.. ‘Cepat atau lambat, cepat entah kapan. 1 bulan atau bahkan 8 bulan. Lambatnya entah 1 tahun atau 8 tahun. Kenapa harus sekarang sayang? UN udah dekat. Pikiran aku jadi bertambah. Buat aku jadi gak semangat belajar buat UN. Membuat aku gila. Aku tau nantinya kita akan berpisah. Tapi jangan dulu skarang. Tapi teserah kamu sayang, kalau itu maumu.’ Dan aku sudah tidak membaca lagi balasannya. Aku terdiam dan menangis. Akupun menceritakannya kepada Azizah yang saat itu ada disampingku *Flashback off*

“Jadi kalian Cuma 4 bulan ya?” tanya Rizki “Ya. 4 bulan 1 minggu 1 hari 3 jam.” Jawabku rinci lagi yang membuat Rizki tertawa “Jadi ini kelanjutan dari ‘Kontroversi Hati’ ya?” tanyanya “Bisa dibilang begitu” jawabku singkat “Trus bagaimana dengan apel pertama kalian?” tanya Rizki ke aku “Waktu itu, dia masih belum terbiasa. Karna kata temannya dia itu anti banget ama cowok. Jadi waktu aku pegang tangannya. Dia malah menepisnya, trus bilang ‘apaan sih’. Naah waktu itu aku rasa mungkin dia belum terbiasa. Jadi aku biarkan dulu dia.” Jawabku “Ooh gitu” ujarnya “Dan kamu tau gak sih? Karna dia mutusin gue diwaktu-waktu dekat UN. Jadinya gue gak konsen belajar.” Jelasku “Ooh, jadi karna itu ya? NEM kamu rendah banget? Bahkann lebih rendah dari kakak kamu” Tanyanya “Ya begitulah. Tapi jujur ya, ak sayang banget sama dia.” Ujarku “Trus kenapa gak minta balikan aja?” Tanyanya “Gila kamu ya! Pastinya dia gak bisa. Orang yang belum berpengalaman kamu suruh LDR? Orang yang LDR aja gak mungkin bertahan lama. Apalagi orang yang lagi LDR itu belum berpengalaman” Jelasku ke dia “Iya juga ya.”.

Diapun meminjam HP Nokiaku “HP bersejarah tuh! SMSnya belum kuhapus-hapus.” Ujarku “Sampai segitunya?” tanyanya “Iya. Kalau gak percaya liat aja.” Jawabku “Nama kontaknya apa?” tanyanya “Asassin trus ada emotikon kissnya.” Jawabku dan diapun mencari percakapanku dengannya “Ohia, kalian pernah berantem ya?” Tanyanya “Gak sih. Tapi dia pernah ngambek sama aku.” Jawabku “Karna apa?” “Waktu itu aku ama dia dan teman-temannya pergi ke rumahnya. Nah, waktu itu aku sama temannya yang namanya Alya itu lagi ngobrol tentang film horor gitu. Nah, kamu kan tau sendiri kalau aku lagi ngomong serius banget itu, orang lain itu aku hiraukan. Nah, jadi waktu itu aku serius banget ngomong sama Alya. Trus si dianya aku hiraukan. Trus dianya ngambek. Waktu malam itu dianya ngambek. Aku minta maaf. Dia maafin, tapi kayaknya masih ngambek. Tapi esok-esoknya udah nggak.” Jelasku “Oh gitu. Tapi bagus juga ya, gak pernah berantem.” Ujarnya “Yap. Aku selalu mengalah kalau udah ada tanda-tanda mau berantem. Trus kalau lagi berdebat, dia yang selalu mengalah. Aku gak mau berantem sama dia. Karena takutnya putus lagi.” jelasku.

“Emang kalian pernah putus?” Tanya Rizki “Iya. Waktu itu aku lagi apel sama dia. Trus temannya moto-in kita pas lagi apel. Trus si Alya  upload foto itu di Fb. Trus ada yang komen foto itu. Entah siapa, tapi pastinya dia kenal sama si Fhira. Ada yang bilang mau dilaporin lah inilah itulah.” Ujarku “Trus aku takut. Aku jadi nggak bisa berpikir jernih. Refleks, aku langsung minta putus ke Fhira. Dan alasannya karena itu. Tapi setelah putus, aku menyesal. Aku mengumpati diriku sendiri. Aku bilang bodoh lah, gak bisa mikir, kekanak-kanakan lah. Pokoknya aku menyesal banget putusin dia.” Ujarku lagi “Jadi malamnya, aku ngajak dia balikan lagi. Akupun menekadkan diriku untuk tidak takut dengan hal itu lagi. Kita dulu mengalami masa-masa sulit dan kita bisa melewatinya bersama. Dan aku yakin, hal-hal seperti itu gak bakalan mengganggu lagi. Dan aku bertekad untuk tidak mau putusin dia lagi. Kecuali dia yang minta putus. Dan akhirnya kita balikan. Trus dia bilang kalau aku cepat banget berubah pikiran. Dan apapun itu, pokoknya aku tidak akan mengambil keputusan bodoh itu lagi.” ujarku lagi.

“Kayaknya si Fhira itu sayang banget sama kamu. Kamu lihat kan SMS yang dia mutusin lo? Kan ada yang dia bilang ’Aku minta maaf selama ini aku gak bisa jadi cewek yang kamu inginkan.’. Kamu tau gak artinya apa? Berarti dia mencintai kamu apa adanya dengan segala kekurangannya. Dia minta maaf karena dia tak bisa jadi seperti yang kamu inginkan. Tapi asal kamu tau aja, kalau cewek bilang kayak gitu, berarti dia sudah mencoba yang terbaik untuk kamu.” Ujarnya “Dan juga, hati dia sakit. Kan dia waktu itu bilang ‘Aku minta maaf ya, sebenarnya ini sakit menurutku, tapi cepat atau lambat pasti kita tetap terpisah... Nah dia sebenarnya masih ingin dengan kamu menjalin hubungan itu. Tapi dia harus menerima takdir, kalau kamu bakal pindah kesini. Atau artian lain, kamu bakal ninggalin dia selamanya. Meskipun dia masih ingin kamu disampingnya.” ujarnya lagi “Kok aku gak pernah berpikir sampai situ sih?” Tanyaku “Duh netes” ujarku sambil menghapus air mataku yang tak tersadar menetes “Santai aja bro! Laki-laki juga wajar nangis. Kan kita punya hati.” Ujar Rizki sambil menepuk pundakku “Thanks ya Ki!” jawabku sambil tersenyum “Itulah gunanya Sahabat” diapun tersenyum padaku.

Aku terkadang sering mendengarkan apa kata Fhira tentang aku dari temannya. Ada yang bilang kalau Fhira bilang aku unik. Jalan cepat banget trus kepalanya goyang-goyang. Hahahah XD Sebenarnya gak suka dibilang kayak gitu. Tapi biarlah, anggap aja itu ciri khas aku. Trus si Aini bilang kalau Fhira bilang aku adalah yang pertama dan terakhir. Mendengar hal itu seharusnya aku senang. Tapi aku malah sedih mendengar hal itu. Waktu awal-awal pacaran sama dia, aku sering banget ke kelasnya dia. Tapi lama-kelamaan aku udah malas. Kenapa? “Akakakak… Dule ke kelasnya Fhira. Dule dicuekin, Fhira pergi ama teman-temannya.” Mungkin kata-kata Nawir waktu itu yang bisa dijadikan alasan. Dan waktu 14 Februari (Hari Valentine ya?), aku ke kelasnya dia. Tapi aku gak bisa ngasih coklat ke dia. Dan waktu itu, kebetulan si Tilka (Sahabat baiknya Fhira) ngasih dia coklat. Aku merasa terpojokkan, apalagi ada temannya yang namanya **** bilang kayak gini “Masa’ sahabatnya ngasih coklat. Cowoknya gak ngasih coklat.” Dan aku hanya terdiam. Aku tak bisa, karena aku tidak punya uang waktu itu. Dan aku masih menyesalinya sampai sekarang.

Tiba-tiba lagu “Love hurts” milik Lee min ho yang jadi soundtrack di K-Drama “The heirs”pun terngiang. Ternyata Rizki yang mutar, “Lagu apaan nih?” tanya Rizki “Lagu bersejarah. Ini lagu yang sering aku dengarin waktu kontroversi hati melanda hatiku. Yaa… waktu aku ingin memiliki Fhira, tapi aku udah milik orang lain. Aku berpikir banget gimana caranya. Dan kadang aku sampai nangis mulu dan tak bisa tersenyum.” Jelasku  “Dan ada lirik terjemahannya, ada yang ‘Tak bisakah kau menungguku sedikit lebih lama?’. Aku ambil kalimat itu, dan waktu pertama kali aku SMS-an sama dia, aku bilang aku sudah tau semuanya. Aku minta maaf, dan aku bilang “Nga te bisa batunggu sa sadikit lebih lama?” yang hampir sama dengan lirik yang tadi” Jelasku lagi “Dan kata-kata itu pernah aku buat jadi status difb, dan sahabat aku, Indah komen kayak gini ‘Perempuan gak bisa menunggu lama.’ Dan aku juga tau. Tapi aku yakin kita bisa bersatu.” Ujarku.

“Kalau dilihat-lihat, kalian sudah melewati masa-masa yang sulit itu bersama. Seandainya kamu gak pindah. Aku yakin, kalian masih bisa bertahan.” Ujar Rizki dan aku hanya tersenyum. Aku kehabisan kata-kata. Aku teringat kembali… Fhira selalu buat status di SMS tapi gak pernah dikirim ke aku. Tapi teman aku yang kasih tau ke aku. Dan malam dimana itu adalah malam terakhir aku di luwuk, temanku bilang kalau Fhira buat status yang sedih kalau menurut teman aku.

*Flashback on* “Tunggu ya… aku kirimin!” ujar temanku. Dan ternyata status itu panjang banget. Akupun membaca statusnya Fhira yang dikirim temanku itu, ”~ Ada 2 orang yang membuat hidupku terasa berarti. 2 orang itu adalah sahabat & pacar saya sendiri (uups.. mantan maksudnya) –Waktu itu udah putus loh- .. Dan dua orang itu selalu mengajariku jadi yang terbaik dan bukan mengajariku yang buruk. Selama ini mereka yang selalu mengingatkanku saat aku salah, mengeluh dan jauh dari positif. Dan mereka berdua adalah orang yang sangat aku sayangi” ternyata masih ada sambungannya “Tapi sekarang diantara mereka berdua ada yang harus pergi jauh entah kemana..! -.- Sungguh ku tak rela melihatmu pergi, rasanya berat skali hati ini.. Apakah kita bisa bertemu kembali?.” Air mataku menetes ke lantai yang saat itu kebetulan lagi berbaring di teras rumahku sambil melihat teman-temanku pulang dari rumahku  yang kebetulan waktu itu kita ngumpul-ngumpul untuk yang terakhir kalinya dengan aku.

“Tapi kayaknya itu tidak akan mungkin terjadi… Tapi kali ini ku harus rela melepaskanmu walau itu perih rasanya. Semoga kamu baik-baik saja disana2, & Jaga dirimu, bahagiakanlah/banggakanlah kedua orang tuamu, jangan pernah sia-siakan mereka.. Semoga yang terbaik selalu menyertaimu.. WYATB Sipa..”  Dan aku mencoba untuk menenangkan diriku tapi tak bisa. Karena malam itu adalah baper’s night (?) Malamnya baper. Dan keesokan harinya, aku ingin ketemu dengan dia yang keterakhir kalinya. Aku mau pamit ke sekolah, bilang mau pamit ke guru-guru, tapi tujuan utamanya mau pamit ke Fhira. Tapi dia tidak mau, kita berdebat untuk yang terakhir kalinya, dan diapun memohon kepadaku untuk yang terakhir kalinya “Pliiis Sipa, mengalahlah kali ini saja.” Dan aku tak membalasnya dalam hati aku berpikir ‘Aku sudah terlalu banyak mengalah. Dan masa’ aku harus mengalah lagi kali ini?’ Dan akhirnya tidak jadi pergi ke sekolah. Karena waktu itu teman aku bilang Fhira tidak mau ketemu aku karena dia tidak ingin aku melihatnya, karena matanya bengkak karena menangisi aku semalaman. Aku kira itu hanya bercanda, tapi betul. Kakak sepupunya komen di status Fbku, dia bilang “Pantas, tiba-tiba ada orang china.” Pertamanya aku gak tau apa maksudnya, dan ternyata orang china yang dimaksud itu Fhira dan matanya itu. *Flashback off*

Matahari di waktu senja memancarkan sinar indahnya yang berwarna jingga dan menerangi langit di waktu senja. Secercah sinar mentari senja yang berwarna kejinggaan itu merembes masuk lewat jendela menerangi ruang kelas tempat dimana Aku dan Rizki berada. “Kamu pernah gak? Ngasih sesuatu ke dia?” Tanya Rizki “Gak. Aku ingin dia terbiasa dengan tidak diberikan sesuatu oleh seseorang. Biar dia gak matre’ gitu. Ohia, pernah sih aku mau kasih dia sesuatu. Waktu itu, di kelas aku ada yang jualan dompet. Trus aku beli, nah harganya pas-pasan sama uang jajan aku, 10.000. tapi gak papalah. Aku tetap beli. Tapi aku gak jadi kasih ke dia.” Jelasku “Trus dompetnya kamu apain?” tanya Rizki “Aku buang di tong sampah kelasku.” Jawabku enteng “Kenapa?” tanyanya “Masa’ cowok yang lain ngasih coklat, ngasih boneka atau apa. Aku Cuma ngasih dompet. Takutnya nanti teman-temannya bilang gini, “Eeh masa’ lo Cuma dikasih dompet. Gak romantis banget. Buang aja!!!” Aku juga punya yakin kalau dia gak suka.” Jelasku “Seandainya dia benar-benar sayang sama kamu, dia pasti nerima yang kamu kasih. Apapun itu.” ujar Rizki dan aku hanya terdiam menundukkan kepala.

“Yang ini, kalian ngomong apaan sih? Aku gak ngerti.” Ujar Rizki sambil memperlihatkan percakapanku dengan Fhira, “Oh yang ini. Waktu itu teman aku bilang ke aku, kalau Fhira maunya meskipun kita putus, dia mau kita tetap berkomunikasi, seperti teman biasa. Tapi waktu itu aku masih ingin menghilangkan perasaanku padanya. Tapi disisi lain, aku harus menyapanya. Dan akhirnya aku menyapanya dan sambil memukul bahunya. Dan ternyata itu sakit. Sesampainya dirumah aku bilang gini “Aku minta maaf ya,” dan dianya balas “Iya gak papa. Santai aja. Aku udah biasa kok.” “Tapi sorry banget ya,” dan dianya balas “Iya sipa.. Kenapa sih? Kok segitunya. Aku juga udah biasa kok”, “Sorry ya.. soalnya aku masih sakit.” Dan dia tidak tau apa maksudku “Maksudnya? Sakit apaan?” “Hati.” Balasku singkat dan balasannya “Biih, sadis ee..”.” Jelasku ke Rizki “untung kamu bilangnya kayak gitu. Gak yang sadis banget. Kan nanti dia sakit hati.” Ujar Rizki dan aku hanya tersenyum.

“I’m feeling like I’m famous
The talk of the town
They said I’ve gone mad
Yeah I’ve gone mad

But they don’t know what I know
Cause when the sun goes down
Someone talking back..
Yeah.. they’re talking back..”

Lagu Bruno mars masih terngiang “Trus gimana nih Ki?” tanyaku. Diapun mendekat padaku dan merangkulku, dia tersenyum padaku sebelum akhirnya memberikan solusi, “Gini Dul. Kalau kamu sayang dia. Kamu harus mengatakan itu kepadanya. Tapi kamu juga bilang kepadanya kalau kamu akan melupakan perasaan kamu. Dan kamu juga harus mencoba untuk mencari orang yang kamu suka. Dan kamu juga bilang ke dia, kamu harus bilang semoga dia baik-baik saja dan mendapat yang lebih sempurna daripada kamu. Dan kamu juga bilang ke dia, kalau kamu tidak akan melupakan dia. Dan, kamu harus bilang terima kasih ke dia.” “Makasih ya Ki.” Ujarku sambil tersenyum kepadanya “Itu gunanya sahabat dul..” ujarnya kemudian membalas senyumanku. Kitapun saling melebarkan senyuman dengan tangannya yang masih merangkulku.

 ‘Fhira? Makasih ya. Karena kamu, hidupku terasa sedikit berarti. Lihat kan? Aku tersenyum sekarang. Meskipun itu bukan berarti aku tidak apa-apa. Tapi aku akan mencoba untuk lebih kuat.’ Gumamku dalam hati. “I feel I’m in a fairytale, and I meet a girl who have a beautiful eyes. But, I realized… That it was only just a dream” gumamku “Aku ingin kamu tetap hidup seperti ini di umurmu yang ke tiga kelas. Semoga kamu mendapatkan seseorang yang mungkin lebih ganteng, lebih pintar atau lebih macho dari aku. Dan semoga kamu akan bahagia dengannya. Jadi, kamu perlahan akan lupa sama aku. Aku sadar kok, aku hanya menyiksa diriku sendiri dengan bertahan perasaan ini. Tapi, kamu jangan sekali-sekali menengok ke masa lalu kita. Aku ingin kamu lupa kalau kamu pernah denganku dan mengalami masa-masa yang sulit. Jadi, kalau kamu menangis. Mugkin aku gak bisa mengusap air matamu tapi itu buat laki-laki yang ada untukmu nantinya. Aku hanya bisa bilang “Jangan menangis” doang dari sini.

Aku sadar kalau aku dan dia memang selalu dihadapkan pada masa yang sulit. Saat dimana dia menyadari perasaannya saat aku sudah jadi milik orang lain, saat kita pernah berantem hanya karena sahabat, saat dimana kita tetap harus menyembunyikan hubungan kita karena takut ketahuan mamanya yang merupakan guru di sekolahku, Saat dimana dia cemburu karena aku sering dekat dengan Radha, saat dimana aku merasa bersalah karena tidak pernah bisa memberikannya sesuatu, saat dimana dia menangis, saat dimana dia sudah mulai berubah, saat dimana aku menunggunya hujan-hujanan dan dia gak ngasih kabar, saat dimana kita memang harus putus, saat dimana kita benar-benar akan terpisah, saat dimana aku tak bisa melihatnya disaat saat terakhir, dan saat dimana ada orang yang menyamar sebagai dirinya dan menggangguku, dan saat hati gue masih seperti sekarang ini. Sudah berhenti untuk berharap, tapi rasa itu masih tetap ada.



“I know you somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back

My Neighbors think I’m crazy
They don’t understand..”

Hari sudah mau berganti malam. Senja memamerkan warna jingga yang indahnya itu. seakan menjadi tanda bahwa hari segera berakhir. Aku masih belum pulang ke rumah. Aku masih terdiam di dalam kelas. Lagu Talking to the moon milik Bruno mars yang ku putar seakan menghipnotis aku. Membawaku ke dalam lamunan di waktu senja. Semua orang yang tadi ikut kegiatan ekskul sudah pulang semua. Tinggal aku yang di sekolah. Dan masih terjebak dalam lamunanku.

“Dul!! Kamu belum pulang?” tanya seseorang dari luar pintu kelas menyadarkanku dari lamunanku  ‘Ya Ampun. Déjà vu..!’ gumamku dalam hati “Belum. Kamu sendiri gimana Ki? Belum pulang?” tanyaku pada temanku yang menanyaiku tadi yang bernama Rizki “Belum. Emang kenapa? Ada masalah ya?” Tanya Rizki “Gak. Aku hanya teringat masa lalu kok.”