Musim panas
terkadang mengajarkan kita. Mengajarkan kita untuk tegar dan sedikit bersikap
dewasa. Membuat kita tau, bagaimana sebenarnya kepahitan hidup ini. Karena
tidak ada yang selama hidupnya dipenuhi dengan kebahagian. Pasti banyak cobaan
yang menghadang. Dan setelah musim panas berlalu, kita pasti akan mendapatkan
pelajaran.
Summer Already Gone With You
Part 2
“Aku akan baik-baik saja kok Dyth. Karena aku
kuat!”
Di bandara… “Dyth? Lo kalo udah nyampe
disana, jangan lupain kita ya,” Ujar Ferdi “Iya ya Dyth! Jangan lupa ama kita
ber-enam,” Tambah Arif “Iya. Ingat ya, kita sering main dirumah pantai. Main
kejar-kejaran, Main sembunyi tepuk, pokoknya semuanya deh! Jangan dilupa ya!,”
Ujar Reni “Iya friends! Gue gak bakalan lupain kalian. Kita kan udah temanan
dari dulu. Gue bakal ingat semua. Makasih ya, udah mau jadi teman gue selama
ini!” ujar Adyth “Iyaiya” Jawab mereka semua kompak “DYTH!!! TUNGGU!!!” Teriak
Cia sambil berlari “Maaf yaaa… gue telat,” ucap Cia “Gue tadi masih ke rumah
Tata,” Tambah Cia “Dia gak bisa datang,” Tambah Cia lagi “Iyadeh gakpapa,”
Jawab Adyth singkat. “Dia bilang gini *sambil berbisik ke Adyth* Katanya
hubungan kalian cukup sampai disini aja. Soalnya dia gak bisa LDR,” Jelas Cia
“Yaudah,” Jawab Adyth singkat.
“Ayo Dyth! Pesawatnya udah mau berangkat!”
Ujar Mamanya Adyth “Ohia Ma!” Jawab Adyth singkat “Teman-teman? Gue udah mau
pergi nih. Good bye ya…,” Ucap Adyth sambil melambaikan tangan. Dia hanya bisa
memandang kosong semua temannya sambil melambaikan tangannya. “Good bye, Ta”
Gumam Adyth dalam hati. “Aah… Adyth sudah pergi. Sekarang tinggal kita
ber-enam.” Ujar Devi “And as we know, Tidak akan sama tanpa semua orang disini.
Jadi, kita ber-enam tidak akan sama seperti waktu kita ber-tujuh,” Tambah Devi
“Tapi Dev, suatu saat nanti kita bakal terbiasa. Ayolah…,” Ujar Cia “Andai saja
Tata ada disini.” Ucap Reni “Tata gak bakalan disini!” Jawab Cia “Yaudah! Kita
ke rumah pantai yuuk!” Seru Ferdi “Lain kali aja deh! Kali ini kita istirahat
dulu aja Ferd!” Protes Devi “Iya! Teman baru aja pindah, lo udah mau
senang-senang! Lo berarti bersenang-senang diatas kesedihan orang Ferd!”
Sambung Cia “Yeah! That’s right! Punya hati nurani kan? Masa’ kek gitu!”
Arifpun ikut-ikutan “Udah ah! Malah pada ribut! Kasian tuh si Ferdi!” Renipun
angkat bicara “Ciih! MUNAFIK LO!” Umpat Cia dalam hati “Yaudah sekarang kita
bubar aja dulu!” Seru Devi. Semuanyapun balik kerumah masing-masing.
“Momen yang indah” Ujar Tata saat melihat
foto-foto yang ada di Kamera Polaroid Tata. Tata selalu mengabadikan
momen-momen indah di kamera itu. “Itu berlalu begitu cepat. Tanpa disadari.”
Tambah Tata lagi. Tatapun keluar dari rumahnya. Dia mau pergi ke rumah pantai
untuk menenangkan perasaannya. Tapi dia heran kenapa ada banyak orang
berkerumun disitu. “APA???” Tata tercengang saat tahu rumah pantai itu
terbakar. Diapun segera mengambil HPnya dari saku celana. Dan segera mengirim
SMS ke teman-temannya “Guys!!! Rumah pantai kita terbakar!!!”. Banyak balasan
dari temannya. Dia hanya bisa mengirim SMS ini “Lebih baik kalian cepat kemari!
Aku didepan minimarket yang dekat pantai itu.”
Ferdi, Arif, Cia, Devi dan Renipun sudah
ada di minimarket tempat Tata menunggu “TATA!!!” Sapa mereka “Sebenarnya,
kenapa rumah pantai ini terbakar?” tanya Cia “Aku juga gak tau, Ci! Waktu aku
mau jalan ke rumah pantai. Aku heran kenapa banyak orang berkerumun disekitar
situ. Eeeh aku kaget waktu ada yang berteriak “Ayo! Padamkan apinya cepat!”.
Dan aku sadar ternyata rumah pantai itu terbakar.” Jelas Cia. “Duuh disana kan
masih ada barang-barang kita.” Ujar Devi “Pasti semuanya habis terbakar!”
sambung Arif “Disitu kan ada banyak kenang-kenangan” Tambah Devi
“Kenang-kenangan?” Tatapun teringat sesuatu.
*Flasback
on* “Ta?” “Ya? Knapa?” Tanya Tata “Itu tuh, Ada Es krim di dagumu.” Jawab Adyth
“Oh ya?” Tanya Tata “Iya. Ini!!! *sambil memberikan sapu tangan* pakai ini
saja!!” Seru Adyth “*Meng-lap Es krim yang ada di dagunya* Makasih ya Dyth!”
Ujar Tata “Iya… sama-sama. Sapu tangannya ambil aja! Kenang-kenangan dari aku
tuh!” Ujar Adyth “Adyth apaan sih! Ngasih kenang-kenangan yang romantis dikit
bisa gak? Kok Cuma sapu tangan.” Tata kesal “Oh, jadi kamu mau apa? Es krim?
Kalau aku kasih kamu es krim, itu mah bukan kenang-kenangan. Pasti satu hari
langsung habis semua es krim yang aku kasih ke kamu. Gimana mau dikenang kalau
kayak gitu!” Jelas Adyth “Ciee… Ngambek ya? Aku kan Cuma bercanda” Bujuk Cia ke
Adyth “Au ah… gelap!” *Flashback off*
“Hei! Kok malah melamun! Ntar kesambet
loh!” Ujar Ferdi membuyarkan lamunan Tata “Ihh apa-apaan sih. Siapa juga yang
melamun.” Tata membela diri “Tuuh tadi jelas-jelas lo ngelamun” Ferdi
meyakinkan “Aah gak ah! Perasaan lo aja kaleee…” Bantah Tata “Udah ah! Kalian
kok malah ribut!” Tegur Reni ke mereka berdua dengan sinisnya “Biasa aja kale”
Ledek Ferdi.
Orang-orang yang ada di sekitar rumah
pantai itu telah berhasil memadamkan api yang ada di rumah pantai itu. dan
membawa keluar barang-barang yang ada didalamnya. Tata, Cia, Reni, Devi, Ferdi
dan Arifpun mendekati tumpukan barang itu. “Oh tidak!!! Topi pantaiku terbakar,
baju hawaiku!!!” Pekik Ferdi “Semuanya terbakar… PSP gue, PVP gue, Tablet gue,
Powerbank gue, Samsung gue dan bahkan I-Phone gue! Semuanya terbakar!!!” Pekik
Arif juga dengan nada datar “Aaah Arif sih! Barang-barang eletronik malah
dibawah kesini! Gak takut apa dicuri!” Ujar Cia “APA!!??? Bedak gue!!! Lipstik
gue!!! Kotak make-up gue! Pelentik bulu mata gue! Peralatan maskeran gue!!
Terbakar juga? Huaaaaaa…” Pekik Cia saat melihat peralatan make-upnya juga
terbakar “Situ juga! Ngapain sih! Bawa-bawa make-up disini!” Sindir Arif
“Semuanya punya gue dan punya Reni juga terbakar!” Ucap Devi “Loh, kok punya
gue gak ada?” Tata panik “Apa yang gak ada, Ta!?” Tanya Cia “Itu tuh… Kotak
akuarium mini punyaku itu!” Jawab Tata “Oh, akurium yang ini? *sambil
memperlihatkan akuarium punya Tata*” Tanya seorang pria yang mengeluarkan
barang-barang dari rumah pantai itu “Cuma ini yang tidak terbakar.” Tambah pria
besar tersebut “Iya. Yang itu. Huuuft, syukurlah gak terbakar.” Tata menghela
nafas lega.
“Kok Cuma barang Tata yang gak terbakar?”
Tanya Reni “Ta? Lo ya? Yang bakar rumah pantai kita?” Tanya Reni lagi “Apa?
Aku? Aku gak mungkin tega membakar rumah pantai kita!” Jawab Tata “Betul juga
kata Reni. Kan lo sendiri yang pertama tau kalau rumah pantai kita terbakar!
Berarti lo yang membakarnya!” Ujar Devi mendukung Reni “Gak! Aku juga baru tau
tadi. Aku kan yang SMS kalian kalau rumah pantai kita terbakar. Kalau aku yang
bakar, gak mungkin aku sebarkan masalah ini!” Bantah Tata “Betul tuh! Yang Tata
bilang” Cia membela Tata “Munafik banget! Bilang aja kalo lo ngebakar rumah
pantai kita karena lo gak terima dengan kepergian cowok lo!” Ferdipun angkat
bicara “Apa? Jadi kamu pacaran dengan Adyth?” Tanya Arif “Wow! Hebat ya! Kalian
pacaran diam-diam. Dan lo juga diam-diam membakar Rumah pantai kita!” Reni
makin memanasi “*Menampar Reni* Ada buktinya aku yang membakarnya? Ada
buktinya? Apa ada foto? Kalau gak ada jangan asal nuduh deh! Aku gak suka orang
bermuka dua! Gak tau harus menampar muka mana duluan! Tapi aku sudah menampar
mukamu yang satunya! *Menampar Reni lagi* Dan aku sudah menampar kedua mukanya!
Kamu nuduh aku supaya pelaku aslinya tidak terlihat kan?” Tanya Tata “APA???”
Semuanya kaget “SEMUA!!! KITA KUMPUL DI RUMAH GUE! DI KAMAR GUE!” Ujar Cia
membubarkan kekacauan ini.
Di kamar Cia… “Oke! Semuanya, aku ingin
jujur kalau sebenarnya aku pacaran sama Adyth. Sudah sangat lama. Dan aku
merahasiakannya dari kalian. Kenapa aku merahasiakannya? Supaya persahabatan
kita gak hancur. Tapi masih ada juga yang menghancurkannya. Dan bahkan
memfitnah aku dengan membakar rumah pantai kita dan meninggalkan jejak
kecurigaan seakan-akan akulah yang membakarnya.” Jelas Tata “Jadi kamu tau
pelaku aslinya?” Tanya Arif “Tanya ama Reni! Dia juga tau!” “Apa-apaan sih ini!
Kok malah tunjuk-tunjukan?” Tanya Devi “Pelakunya itu tau tentang hubungan
antara Tata dan Adyth. Dan dia juga suka sama Tata. Jadi… dia cemburu terhadap
hal itu! Diapun meneror Tata. Dan bahkan dia ingin membuat Tata terpojok dengan
peristiwa yang menimpa rumah pantai kita” Jelas Cia “Jadi pelakunya Ferdi ya?”
Tanya Devi “Apa? Bukan! Bukan gue pelakunya!” Bantah Ferdi “Tapi kan lo tau
hubungan antara Adyth dan Tata.” Ujar Devi “Salah Dev! Pelakunya adalah…
perempuan! Dia menyukai Tata. Dia lesbi” Tambah Cia lagi “APA????” Tanya Devi,
Ferdi dan Arif kaget “Dan dia adalah orang yang kutampar tadi” Tambah Tata
sambil menunjuk Reni.
“Reni? Jadi lo pelakunya ya?” Tanya Arif
“Gue gak percaya! Ada pengkhianat juga di antara kita!” Ujar Devi “Udah deh!
Lebih baik kita keluarin dia aja dari kita.” Saran Ferdi “Maaf ya, Ta! Udah
menuduh kamu.” Ujar Devi “Iya. Gak papa kok. Wajar aja, namanya juga manusia.”
Jawab Tata “Gue juga minta maaf” Ujar Ferdi. Reni menangis dan keluar dari
rumah Cia. “Biarkan saja dia. Akan lebih bagus lagi kalau tidak ada pengganggu
di antara kita.” Ujar Cia “Oke!!! Kan Adyth yang ternyata ketua dari kelompok
kita udah pindah. Jadi aku serahin jabatan ketua itu ke Tata.” Tambah Devi
“Benar juga tuh!” Ujar Ferdi “Aaah apaan sih. Heheheh, aku gak terlalu sih
kalau harus jadi ketua. Yang penting aku punya sahabat seperti kalian” Ujar
Tata “Hahahahah… kita juga kok” Ujar Arif “Sekarang tinggal kita berlima……”
Kata Tata “Dan aku harap esok dan seterusnya juga kita tetap berlima.” Tambah
tata lagi “Ayo! Kita rayakan pesta dadakan!” Seru Cia “Ayo!!!!”
Merekapun berpesta di rumah Cia. Hari itu
mungkin adalah hari yang memberatkan bagi mereka. Kepergian Adyth yang harus
ikut orang tuanya ke Bali. Terbakarnya rumah pantai mereka. Dan adanya Reni si
pengkhianat diantara mereka. Tapi mereka sanggup menjalaninya. Dari bertujuh,
merekapun tinggal berlima. Dua telah gugur. Tapi mereka akan tetap
bersama-sama. Mereka hidup dengan tenang dan mendapatkan tempat tongkrongan
baru. Yaitu villa khusus untuk mereka. Dan mereka sangat berterima kasih,
karena itu adalah pemberian orang tuanya Cia. Merekapun sangat senang dengan
tempat tongkrongan baru mereka. Tapi ini belum selesai. Masih ada yang
terlupakan…
“Gak terasa ya. Udah lama kamu udah
ninggalin aku. Hmm… aku terlalu egois ya? Heheheh… Aku ralat deh. Udah lama ya…
kamu ninggalin kita. Ninggalin Aku, Cia, Devi, Ferdi dan Arif.” Gumam Tata
dalam hati “Aku masih sering liat-liat foto-foto kita bertujuh dan video-video
kenangan kita yang di kamera aku. Aku sedih karena itu telah berakhir. Tapi aku
senang skali itu pernah terjadi” Gumam Tata lagi “Jujur deh! Aku belum bisa
ngelupain kamu. Aku masih sayang sama kamu. Tapi aku akan baik-baik saja.
Karena aku kuat. Aku akan berusaha untuk bisa melakukan semuanya tanpamu” Tata masih
bergumam di dalam hati “Sebenarnya yang tak bisa kulupakan adalah kenangan
kita. Bukan kamu yang membuat kenangan itu. Karena sedih, senang, canda, tawa,
duka, dan bahagia ada didalam kenangan itu.”
“Dyth? Aku mau ke rumah pantai kok. Mau
ngenang masa-masa kita. Aku tau kok. Flashback itu menyakitkan. Tapi tak
apalah. Kamu masih ingat aku kan?” Tanya Tata sambil berjalan menuju pantai.
Tapi dia terhenti saat melihat papan tanda larangan masuk tertera disitu. Dia
sangat sedih. Mungkin dia memang tak seharusnya mengingat hari-hari bersama
Adyth “Mungkin Tuhan ingin aku untuk melupakannya. Dan aku percaya, Tuhan punya
rencana yang terbaik” gumam Tata dalam hati. Dia harus melupakan hari-hari saat
dia dan Adyth berjemuran di pasir pantai, saat saat mereka main kejar-kejaran,
dan membuat istana pasir “Itu adalah kenangan yang indah” ujar Tata. Tak terasa
air matanya mengalir, “Dia telah pergi bersama kenangan di musim panas. Dan
sekarang tinggallah aku dan rasa sakit di hati ini” gumam Tata di dalam hati.
Tatapun beranjak pergi.
Musim panas terkadang mengajarkan kita.
Mengajarkan kita untuk tegar, bersikap kuat dan sedikit bersikap dewasa untuk
menjalani kehidupan. Membuat kita tau, bagaimana sebenarnya kepahitan hidup
ini. Karena tidak ada yang selama hidupnya dipenuhi dengan kebahagian. Pasti
banyak cobaan yang menghadang. Dan setelah musim panas berlalu, kita pasti akan
mendapatkan pelajaran. Pelajaran yang mungkin sangat berarti bagi kita.