“Bisakah Aku Mencontek Isi Hatimu?”
“Loh!
Ini HP siapa?” Tanya seorang cowok sambil melihat HP tersebut “Daripada hilang,
lebih baik gue amanin. Ntar aku harus cari pemiliknya” Dia berbicara sendiri
sambil memicingkan kacamatanya “Oke! Hari ini aku harus mengerjakan soal
tentang teorema phytagoras.” Dia berbicara sendiri lagi sambil mengeluarkan
buku-buku matematikanya beserta soal-soal matematikanya. Belum berapa lama dia
mengerjakan soal, ada seorang cewek yang berbicara padanya “Hei! Lo!” Ujar
cewek tersebut “Aku? Ada apa ya?”Tanya cowok tersebut “Kamu liat HP gue gak?”
Tanya cewek tersebut “Oh, jadi ini HP kamu ya?” Ujar cowok tersebut sambil
memberikan HP yang dimaksud cewek tersebut “Iyaiya. Makasih ya.” Cewek itu
berterima kasih “Tadi ketinggalan di meja. Daripada ada orang ambil. Jadi aku
amanin aja.” Jelas cowok tersebut “Ohia… makasih ya. Gue Riska” Cewek itu
ternyata bernama Riska “Aku Rio.” Jawab Cowok yang bernama Rio tersebut singkat
kemudian mengerjakan kembali soal matematikanya.
“Kok
aku gak bisa konsen mengerjakan sih? Malah kepikiran dia terus. Padahal aku gak
kenal dia sama sekali” Rio kesal karena Riska selalu dalam pikirannya dan
membuat dia tidak konsen mengerjakan matematikanya “Kalau begini, gimana mau
ngerjain soal. Huuft, Apa aku pulang aja ya?” Dia berbicara sendiri sambil
melihat jam “Udah jam 3 lewat 15.” Ujarnya “Tapi aku harus mengerjakan ini
dulu. Karena besok aku udah harus pindah ke materi bilangan berpangkat tak
sebenarnya.” Ujarnya lagi. Diapun kembali mengerjakan soal matematikanya
“Hasilnya adalah akar pangkat dari 196… jadi panjangnya t sama dengan 14 cm.”
ujarnya setelah mendapatkan jawaban nomor 24 “Trus yang ini hasilnya adalah
akar pangkat dari 400… jadi panjangnya r sma dengan 20.” Ujarnya lagi saat
mendapatkan jawaban nomor 25 “Selesai deh. Aku harus pulang.” Ujarnya sambil
mengemasi barang-barangnya.
Malamnya…
“Tadi aku ketemu dengan seorang cewek bernama Riska. Dia orangnya cantik. Dia
menghampiri aku waktu sehabis pulang les. HPnya hilang dan dia menanyakanku apakah
aku melihat HPnya. Dan akupun mengembalikan HPnya yang aku amankan karena aku
takut HP itu hilang. Aku baru pertama kali itu melihatnya. Aku merasa kalau aku
aneh, jadi aku tak berani menatap mukanya, aku hanya terus melanjutkan soal
matematikaku. Dia sangat manis. Dan saat dia pergi, entahlah! Aku selalu
kepikiran dia.” Rio menulis itu di buku Diary-nya.
Keesokan
harinya… “jadi untuk merasionalkannya harus dikalikan dengan bilanngan sekawan
ya…” ujar Rio sambil membaca buku matematika “Huuuft… hari ini agak susah deh
kayaknya.” Ujarnya lagi kemudian mulai mengerjakan soal matematikanya “Kalau
dilihat-lihat sih susah. Tapi pas dikerjain, ternyata gampang.” Ujarnya ketika
telah berhasil mendapatkan jawaban nomor 1. Tanpa tersadar Riopun memikirkan
Riska, dan diapun melupakan dengan soal-soal yang sedang dia kerjakan “hei!!!
Kok melamun!” Tegur seorang cewek yang ternyata Riska, membuat Rio tersadar
dari lamunan “Siapa yang melamun?” Tanya Rio “Emang tadi lo ngapain?” Tanya
Riska “Lagi mikir” Jawab Rio singkat “Mikirin apa hayo?” Tanya Riska mulai kepo
“Mikirin kamu Ris…” gumamnya dalam
hati “Mikirin ini nih! *nunjuk soal matematika* soalnya susah banget!” Jawab
Rio “Oooh gitu. gue boleh kan? Duduk disini?” Tanya Riska ke Rio “Boleh. Gak
papa. Duduk aja” jawab Rio “Kamu cantik
deh. Aku jadi merasa tidak pede kalau ada di dekatmu.” Gumam Rio dalam hati
“Hmm… aku lagi punya tugas nih. Tapi aku belum mengerti maksudnya. Bisa bantu
aku gak?” Pinta Riska “Tugas apa?” Tanya Rio “IPA.” Jawab Riska singkat “Ooh,
IPA ya. Tentang apa?” tanya Rio lagi “Itu tuh! Tentang persilangan-persilangan
gitu.” Jawab Riska “Ooh itu ya… gampang
tuh.” Batin Rio dalam hati.
“Coba
aku lihat?” Rio ingin melihat tugas yang dimaksud Riska tersebut “Oooh itu.
jadi bunga merah (MM) disilangkan dengan bunga warna putih (mm). Nah
keturunannya dapat bunga warna merah muda (Mm). Trus kalau keturunannya (Mm)
itu disilangkan sesamanya (Mm). yang ditanya adalah perbandingan genotipe dan
fenotipenya. maka perbandingan genotipe
keturunannya adalah MM : Mm : mm = 1 : 2
: 1. Sedangkan perbandingan fenotipenya adalah Merah : Merah muda : Putih = 1 :
2 : 1.” Jelas Rio “Ooo gitu yah.” Riska mulai mengerti “Makasih ya” Ujar Riska.
“Lo kalau di kelas juara berapa sih?” Tanya Riska lagi “Bukannya sombong ya…
tapi karena kamu tanya, aku harus jawab. Aku juara 1 terus.” Jawab Rio “Wow.
Hebat banget! Lulus SMP nanti, lo mau masuk mana?” Tanya Riska “Hmm, aku di SMA
1. Kalau kamu?” Rio nanya balik “Aku di SMA 1 juga. Wah, jadi SMA kita ketemu
lagi ya.” Ujar Riska “Iyaiya.” Jawab Rio kemudian melanjutkan mengerjakan soal
matematikanya. “Jadi kita sama-sama SMA 1
ya. Bertemu lagi deh…” Gumam Rio dalam hati “Tapi dia pasti tidak suka cowok cupu sepertiku.” Gumamnya lagi
dalam hati.
“Eeeeh!
Gue masuk ke kelas dulu ya!” Pamit Riska “Oh iyaiya.” Jawab Rio singkat.
Riskapun balik ke kelasnya. “Kenapa
dadaku bergetar saat dia di dekatku? Kenapa aku harus malu saat dia di dekatku?
Apa yang terjadi dengan perasaanku? Aku belum pernah merasakan yang kayak
gini.” Gumam Rio dalam hati “Ya
Tuhan? Apa sebenarnya yang terjadi padaku?” Gumamnya lagi. Riopun terlupa
dengan soal Matematikanya. “Hei! Kok malah melamun lo?” Tanya seorang cowok
membuyarkan lumanan Rio “Eeeh, Andre. Ada apa, ndre?” Tanya Rio “Seharusnya
yang tanya ‘ada apa’ itu gue, bukan lo. Ada apa sih? Kok melamun?” Tanya cowok
tersebut yang ternyata bernama Andre “Masalah apa sih? Cerita dong!” Ujar Andre
lagi “Masalah cewek.” Jawab Rio singkat “Apa? Cewek? Jadi lo lagi jatuh cinta ya?”
Tanya Andre “Nggak. Aku gak lagi jatuh cinta. Hanya saja…” Ucapan Rio terpotong
“Itu sama aja Rio! Emang siapa sih orangnya?” Tanya Andre “Riska.” Jawab Rio
“Apa? Riska? Lo gak salah? Dia kan salah satu siswa paling cantik di sekolah
kita” Pekik Andre “Aku tahu kok” Jawab Rio singkat “Trus? Gimana?” Tanya Andre
“Aku sadar kok, dia gak bakal suka orang sepertiku. Jadi lebih baik ku lupakan
saja.” Jelas Rio ke Andre “Lo yakin?” Tanya Andre “Kurang yakin sih.” Jawab Rio
“Berusaha aja dulu… Biar Cuma sedikit” Ujar Andre “Nanti ku coba deh.” “Gitu
dong! Itu baru sahabat gue!” Ujar Andre “Thanks ya, ndre! Aku ke perpustakaan
dulu ya?” Ujar Rio ke Andre “Ngapain kesitu?” Tanya Andre “Aku mau minjam buku
Fisika.” Jawab Rio “Inilah Albert Einstein di masa depan!” Ujar Andre sambil
merangkul Rio “Apaan sih. Masih pintaran dia dibanding aku.” Rio merasa kurang
nyaman dengan sebutan ‘Albert Einstein di masa depan’ itu. diapun pergi menuju
perpustakaan.
‘Lebih
baik kupendam saja rasa ini. Memang sih nyesek… daripada harus ku ungkapkan dan
ternyata dia gak suka. Kan lebih nyesek lagi…’ Gumam Rio dalam hatinya ‘Tapi
apa aku sanggup? Aku bahkan belum pernah merasakan. Ini baru yang pertama
kalinya…’ Gumamnya lagi ‘Dia kan cewek popular. Dan dia gak bakal pernah suka
cowok culun sepertiku’ Gumamnya lagi sambil memicingkan kacamatanya. Diapun
sampai di perpustakaan sekolahnya… “Buku Fisikanya dimana? Sudah dipindah ya?”
Rio bingung saat melihat buku-buku fisika sudah tidak ada lagi di tempat biasa
buku fisika. ‘Ini buku apa ya?’ tanyanya dalam hati ‘DUNIA REMAJA??’ tanyanya
lagi ‘kok ada buku seperti itu di perpustakaan?’ tanyanya lagi dalam hati hati.
Diapun terdiam saat melihat sebuah buku dengan judul ‘Cara Menyembunyikan
perasaan’. “Apa aku harus membaca buku ini?” Tanyanya pada dirinya sendiri
“Mungkin iya” Jawabnya kemudian keluar dari perpustakaan.
Malamnya…
“Apa aku harus membaca ini?.” Rio masih bertanya-tanya sambil memegang buku
yang dia pinjam tadi dari perpustakaan “Apa aku harus menyembunyikan
perasaanku?” Tanya Rio “Mungkin akan lebih baik kalo aku mencobanya dulu. Aku
harus mengungkapkannya” pikirnya “Tapi aku kan orangnya pemalu.” Ujar Rio “Apa
ini cobaan buat aku? Jadi ini ya? Rasanya cinta pertama? Selalu berdebar-debar
dan membuat hari-hari jadi kacau” ujarnya lagi “Aku harus mencobanya dulu.” Ujar Rio ‘Hmmm… entahlah. Aku tak tau harus
menggunkan rumus yang mana yang bisa menyelesaikan persamaan antara aku dan
dia. Aku tak tau harus menggabungkan unsur-unsur apa, sehingga bisa membuat
sebuah pengakuan cinta. Aku harus memindahkan ruas yang mana? Sehingga aku dan
dia bersatu? Aku harus bagaimana?.’ Gumam Rio ‘Apa aku harus melakukan observasi-observasi untuk menyelesaikan
rumusan masalah ini? Dan membuat hipotesa dari penelitian cintaku ini? Trus apa
yang bisa menjadi kesimpulannya? Aku benar-benar tak tau. Hmm… Riska? Bisakah
aku mencontek isi hatimu? Hanya sekali saja. Aku akan menggunakancara apapun
hanya untuk itu.’ gumamnya lagi
Keesokan
harinya… dia berjalan menuju kantin dan melihat Riska sedang termenung ‘Apakah ini saatnya?’ Riopun menghampiri Riska “Kamu kenapa?” Tanya
Rio “Aku boleh duduk disini gak?” Tanyanya lagi sambil memicingkan kacamatanya
“*Menoleh kearah Rio* Oh lo ya. Gue kirain siapa. Duduk aja” Jawab Riska
“Makasih” Ujar Rio “Sama-sama” Balas Riska sambil tersenyum. Riopun tersenyum
“Ohia, tumben!” Riskapun memecah suasana yang hening sesaat “Tumben apaan?”
Tanya Rio bingung “Mana buku lo? Biasanya kan, lo ngerjain matematika mulu.”
Ujar Riska “Ohia, aku lupa. Soalnya lagi gak mood.”Jawabnya ‘Loh kok malah bilang kayak gitu. kan gak
masuk akal’ gumam Rio dalam hati “oooh gitu ya. Emang kalau belajar harus
tergantung mood kamu ya?” Tanya Riska “Nggak juga sih. Tapi ini hari, aku
ngerasa ada yang lain gitu” Jawab Rio ‘Kok
aku jadi salah tingkah kayak gini sih? Lebih baik nanti lain kali aja deh’ gumamnya
lagi “ooh gitu…” jawab Riska singkat “Udah ya… aku mau ke kelas. Daaah…” Rio
pamit sama Riska “Oke… Daah!” balas Riska
Riopun meninggalkan Riska yang masih di
kantin, dan tak lama kemudian ada sebuah suara yang membuat Rio berbalik dan
mencari sumber suara tersebut “Rio!!! Gue mau ngomong sebentar!!!” Dan ternyata itu Riska. Riopun menghampiri
Riska “Gue gak tau apa gue harus mengatakannya atau tidak. Tapi kayaknya gue
harus mengatakannya” Jelas Riska “Kamu mau ngomong apa?” Tanya Rio “Gue suka
sama lo Rio” Ujar Riska tanpa basa-basi “Apa???” Tanya Rio. ‘Dia pasti bercanda’ gumamnya dalam
hati. Riopun memeluk Riska erat. Tapi pelukan itu tak berlangsung lama. Riopun
melepaskan pelukan Riska dan pergi meninggalkan Riska sendiri “Maafkan aku.”
Ujar Rio ‘Maafkan aku. Aku terlalu
penakut untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Aku memang suka kamu. Tapi aku
gak mau kamu bilang begituan hanya karena kamu tau kalau aku suka sama kamu.
Mungkin cuma pelukan istimewa tadi yang bisa kuberikan padamu. Aku sadar kok
kalau kamu gak suka aku. Aku akan menghilang dari hidup kamu. Selamat tinggal’
Gumamnya dalam hati
Dan
setelah kejadian itu, Rio sudah tak muncul lagi didepan Riska. Dia selalu
bersembunyi dari Riska ‘Aku terlalu
payah. Inilah akhir cinta pertamaku’ gumamnya dalam hati “Dan kini, akupun
tersadar, kalau aku masih sayang sama dia.” tulisnya di sebuah buku catatannya.