Jumat, 21 November 2014

~Between Summer And Winter~ : Monolog Sedih Hanyalah Milikku





Cerita terakhir dari seri “Between Summer and Winter”… cerita yang masih se-genre, yaitu kesedihan dan airmata. Dimana diantara Musim panas dan Musim dingin, ada musim gugur. Musim dimana daun berjatuhan. Bukan Cuma daun, musim dimana airmata berjatuhan, ketika kenangan indah di musim panas akan berlalu dengan cepat. Tinggallah kehampaan di musim gugur. Oke, di cerita ini, ada kata MONOLOG. Monolog itu sendiri kalau menurut gue… Drama sendiri. Semacam sebuah perkataan panjang dengan pengekspresian dan penghayatan yang nyata, dan pembawaannya lebih seperti drama. Kalau kata teman gue, niru orang gila -,- bicara sendiri #Whattefuck?

*** Lampupun di ruangan itupun mati…. Satu lampu pijar menyala, dan mengarah ke seorang gadis yang masih bernyanyi…

“Jikalau nanti diriku menghilang…
Tempat inipun ‘kan menjadi sepi….”

Semua lampupun menyala seketika

“Yang dulu sla~lu terdengar itulah…
Diriku si serangga langit yang jauh…”

Suara khas cewek itu makin mengundang tepuk tangan dan sorak-sorakan dari penonton di ruangan itu***

MONOLOG SEDIH HANYALAH MILIKKU


“Perkenalkan… nama aku Yuli dari kelas IX A. Suka Theater, Musik dan juga Sastra. Tau sedikit tentang alat music seperti piano dsb. Bisa acting dan tertarik sedikit sama dunia sastra” Ujar cewek bernama yuli tersebut pada sebuah pertemuan ekskul theater. Yuli merupakan siswi kelas 9 yang ikut ekskul Theater. Dia sangat pandai menguasai peran. Dan dia juga punya teman bernama Farid.

Farid adalah teman atau bisa dibilang juga sahabat yuli. Mereka berdua selalu bersama seperti kakak dan adik “Yul? SMS dari siapa? Kok nyengir kayak gitu?” Tanya Farid melihat Yuli yang senyum-senyum sendiri dari tadi “Nggak kok… kakak aku kirimin konsep lucu banget” Ujar Yuli berbohong “Ahh… kamu! Bohongnya ketahuan banget! Sejak kapan kamu punya kakak! Hayo… pasti cowoknya!” “Iyadeh.. aku nyerah!” Ujar Yuli sambil melambaikan bendera putih, tanda damai. Faridpun mengacak-ngacak rambut Yuli.

‘Hmm… kode terbalikku berhasil’ Batin Yuli dalam hati. “Kami masih dengan cowokmu itu ya?” Tanya Farid “Udah putus…” Jawab Yuli singkat “Kenapa bisa?” Tanya Farid lagi “Hmm.. gak tau tuh dia. Katanya mau fokus belajar. Padahal aku masih mau dengan dia” Ujar Yuli dengan mata berkaca-kaca ‘Bagus… Skenario B pun selesai!’ batin Yuli lagi dalam hati “Hmm… gitu yah? Aku turun berdukacita ya…” Jawab Farid ‘Kau bahkan tak ada reaksi senang sama sekali. Apakah kau memang tak ada rasa? Kamu tau gak sih? Aku mutusin cowokku hanya Karena kamu. Peka dikit napa sih’ batin Yuli lagi dalam hati.

“Hey!!! Kok melamun! Udah masuk nih! Yuk ke kelas!” Ajak Farid ke Yuli “Aaah *tersadar* ohiyaiya” Jawab Yuli kemudian langsung menuju ke kelas bersama Farid. Merekapun masuk ke kelas sebelum akhirnya Bu Diana, guru kesenian, masuk ke kelas. Materi yang diajarkan kali ini ialah tentang Monolog. Bu Dianapun menjelaskan tentang Monolog. Yuli yang sangat jago berMonologpun semangat untuk belajar.

“Bu! Aku bisa bermonolog!” Ujar Yuli sambil berdiri
“Oh ya? Coba tunjukkan! Ayo maju ke depan kelas!” Jawab Bu Diana

“Aku suka kepada dirimu…
Aku suka kepada dirimu…
Tapi kau bahkan tak menyadarinya
Kaupun terlihat sangat jauh

Aku menyadari kehadiranmu…
Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kau bahkan tak menyadari cintaku?
Entah apa lagi yang harus kuperbuat

Aku mulai merasa lelah
Sangat tak adil!
Aku selalu mencintaimu
Sedangkan kamu, hanya santai saja!

Seperti mimpi, aku bisa bertemu denganmu
Tapi aku tak bisa menyentuhmu…
Satu yang ingin kutanyakan sekarang…
Apakah kau menyadarinya???”

Monolog dari Yulipun berakhir dan disambut oleh tepuk tangan dari teman sekelas “Bagus, Yuli! Awal yang bagus!” Bu Diana memuji penampilan Yuli. Yuli hanya bisa tersenyum dan kembali ke tempat duduknya “Kamu tadi bagus…” Ujar Farid “Makasih…” Jawab Yuli dengan muka yang memerah ‘Monolog tadi itu untukmu loh. Seandainya kau sadar!’ batin Yuli dalam hati
 “Sayang yaa… cowok kamu gak bisa lihat monolog kamu tadi yang ternyata tertuju untuknya” ujar Farid “Ah iya” Jawab Yuli datar ‘sama sekali gak peka. Payah’ Batin Yuli dalam hati. Bu Dianapun menunjuk Yuli untuk latihan Monolog untuk tampil pada perpisahan kakak kelasnya minggu hari sabtu nanti. Kebetulan Bu Diana dan Yuli sangat dekat, karena Yuli merupakan murid kesayangan Bu Diana. Merekapun bersiap-siap untuk latihan monolog. Dan monologpun dibuat sendiri oleh Yuli.

“Bu? Bisa gak? Kalau nanti tampilnya… abis monolog aku sambung nyanyi” Tanya Yuli “Boleh sih. Kamu udah punya ide untuk monolog?” Tanya Bu Diana “Hmm… tentang cinta-cintaan boleh gak bu?” Yuli balik bertanya “Boleh… ceritanya seperti apa?” Tanya Bu Diana “Seorang cewek yang suka kepada seorang cowok. Tapi cowo tuh gak pernah peka, gak pernah ngerti. Sampai akhirnya si cewek merasa lelah untuk mencintai, tapi dia tidak boleh menyerah. Boleh gak, Bu?” Jelas Yuli “Oh… cinta tak terbalas. Tentu saja boleh!” Jawab Bu Diana.

Tentang perasaanku, aku tak tahu
Tak tahu harus kuadukan ke siapa
Bulanpun enggan bersinar
Seranggapun enggan Berbunyi

“Yul! Aku suka Kamu!” Ujar Farid

Tak ada yang mengerti!

“Aaah… lagi-lagi hanya khayalan! Bisa gak sih? Sehari saja, gak pikirin kamu! Aku lagi butuh ide untuk monolog -_- aaargh you make me very very angry!” Umpat Yuli disaat pikirannya terganggu dengan sosok Farid “Tapi… apakah aku bisa menyelesaikannya? Pasti aku bisa!”  Ujar Yuli dengan nada bersemangat.

Tak ada yang mengerti!
Untuk apa aku hidup?
Jika disampingku tak ada kamu
Satu-satunya yang ku cintai!

“Aku tak bisa hidup tanpamu!” Ujar Farid

Hidupku akan terasa hampa

“Aku harus menemuinya!” Ujarnya ketika menyerah. Dipikirannya hanya ada Farid dan Farid. Diapun menemui Farid di kantin, “Lihat ini!!! *Sambil menyodorkan kertas berisi monolog tadi*” Seru Yuli ke Farid “Apaan nih?” Tanya Farid bingung “Ini kertas monolog aku!” Jawab Yuli singkat “Tentang perasaanku, aku tak tahu, Tak tahu harus kuadukan ke siapa, Bulanpun enggan bersinar, Seranggapun enggan Berbunyi… Tak ada yang mengerti!, Untuk apa aku hidup?, Jika disampingku tak ada kamu, Satu-satunya yang ku cintai!... Hidupku akan terasa hampa…” Farid membaca isi monolog itu “Hubungannya ama aku apa?” Tanya Farid “Aku gak bisa berkonsentrasi!” Ujar Yuli “Trus?” Tanya Farid “Itu gara-gara kamu! Enyahlah!” Bentak Yuli sambil pergi meninggalkan Farid. Rasanya ingin menangis…

Yulipun mulai menjauh dari Farid. Yulipun merasa bersalah, seharusnya waktu itu dia tidak terlalu kasar sama Farid. Tapi apa boleh buat, nasi telah berubah jadi bubur. Tukang bubur juga udah naik haji. Jadi ya, gak bisa dibalikin. Dan itu sudah terlanjur terjadi. Yuli masih sayang sama Farid. Tapi dia sudah kelepasan. Dan Yulipun mulai membenci dirinya sendiri. Dan menyesali apa yang telah dia perbuat.

Yulipun makin saat tahu konser perpisahan akan digelar besok. Dia sudah selesai menulis naskahnya. Tinggal membawakannya dan mengekspresikannyalah yang akan dilatih. Dan dibarengkan dengan lagu “cinta serangga” yang akan dibawakan olehnya juga. Yuli berusaha untuk tidak stress dan tetap santai. Dan mencoba untuk menghapalkan liriknya dan menyetarakan lagunya dengan musik dari lagu tersebut.

Yulipun masih harus membayangkan Farid untuk bisa menjiwai peran monolognya tersebut. Supaya bisa kena feelnya, sebagai gadis sedih dengan cinta tak terbalasnya dan perasaan jengkel gadis tersebut. Faridpun sudah tak terlihat disini lagi. Entah dimana… tetapi Yuli sudah tak pernah lagi melihatnya. Dan itu yang membuat Yuli cemas ‘Aku suka kamu Rid! Sekarangpun masih suka!’ batin Yuli dalam hati.

KONSER PERPISAHAAN KELAS IX…



Seorang cewek keluar dari backstage… dan langsung mendapatkan sorakan dan tepuk tangan dari para penonton. Dan memulai monolognya…

“Tentang perasaanku, aku tak tahu
Tak tahu harus kuadukan ke siapa
Bulanpun enggan bersinar
Seranggapun enggan Berbunyi

Tak ada yang mengerti!
Untuk apa aku hidup?
Jika disampingku tak ada kamu
Satu-satunya yang ku cintai!

Hidupku akan terasa hampa
Tanpa dirimu dan tanpa cintamu
Dan aku akan menghilang
Lenyap tanpa kenangan

Aku akan menghilang karena aku telah lelah
Kamu sama sekali gak pernah memerhatikanku
Bahkan untuk melirikku 5 detik, itu mustahil rasanya
Dan yang terlebih menyakitkan, kau bahkan tak pernah peka

Dibawah sinar bulan yang mulai tenggelam
Aku tetap menantimu disini!
Hei! Jangan bercanda!
Aku telah menghabiskan waktuku untuk menantimu

Kenapa aku harus merasakan ini?
Kenapa aku harus menyukaimu? Ha?

Aku hanya bisa duduk termenung sekarang
Dan bertanya-tanya dalam hati
Apakah kau mendengar monolog sedihku?
Monolog sedih yang hanyalah milikku?

Apakah kau mendengarnya?
Ataukah kau menyadarinya!
Hei! Jangan bercanda!
Kau yang disana! Jawablah jika kau dengar!

Aku masih disini!
Tak tahukah kamu?
AKu masih menunggu… Sekarangpun aku masih suka!
Dan akan tetap suka.. meskipun ku kan menghilang…”

Musikpun mulai berbunyi… gadis tersebut mulai bernyanyi

“Tempat dimana serangga berbunyi
Apakah engkau mengetahuinya?
Didahan pepohonan taman yang
Mulai berubah menjadi gelap

Diriku yang kau kira hanya teman
Walau menangis disini sendiri
Tidak pernah dirimu sadari
Monolog sedih hanya milikku

Sebelum musim ini usai dan berganti
Ku ‘kan terbang ke suatu tempat
Berada disampingmu membuatku tersiksa
Cinta yang hanya sementara…

Sendiri mungkin… mungkin… mungkin
Oh teramat singkat kehidupan ini
Sendiri mungkin… mungkin… mungkin
Ingatlah kembali pernah ada masa
“Aku suka pada dirimu”
Di summer ke enam belas”

Lampupun di ruangan itupun mati…. Satu lampu pijar menyala, dan mengarah ke seorang gadis yang masih bernyanyi…

“Jikalau nanti diriku menghilang…
Tempat inipun ‘kan menjadi sepi….”

Semua lampupun menyala seketika

“Yang dulu sla~lu terdengar itulah…
Diriku si Serangga langit yang jauh…”

Suara khas cewek itu makin mengundang tepuk tangan dan sorak-sorakan dari penonton di ruangan itu

“Hari esok berbeda dengan hari ini
Akan sela~lu terasa sepi
Dulu aku berharap kau menemukannya
Cinta kecil yang satu arah…

Diriku mungkin… mungkin… mungkin
Tersesat dihutan dalam hati~ini
Diriku mungkin… mungkin… mungkin
Setidaknya tengok dan lihat ke sini
Tak terungkapkan dalam kata
Cinta jangkrik yang semu”

Musikpun berhenti dengan diiringi oleh tepuk tangan penonton. Dan disuatu sudut…
“Bagus Yul! Kamu sudah berjuang! Meskipun itu bukan untukku! Dan hatimu hanya untuk cowok kamu! Tapi aku masih tetap menyukaimu! Tak apa kalau ini tak terbalas! Aku hanya ingin kau merasakan bahwa aku mencintaimu! Meski kau tak bisa jadi milikku” Batin Farid dalam hati.

Yulipun tersenyum pepsodent dan bangga telah menampilkan yang maksimal. Diapun mengatakan bahwa itu semua untuk temannya, yang disukainya. Yang ternyata bernama Farid “Makasih untuk orang yang disana yang membuatku bisa menyelesaikan monolog ini dan membuatku bisa mengekspresikannya dengan bagus. Untuk seseorang disana, aku ingin mengatakan bahwa Aku Cinta Kamu”Jelas Yuli. “Dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal untuk kalian semua. Karena aku akan pindah, ikut orang tua aku ke bandung. Selamat tinggal semua~ makasih!” Tambah Yuli lagi.

3 Bulan kemudian…

“Perlahan-lahan bayangan kita dimakan oleh sang rembulan. Dan kita akan dilupakan seperti yang telah mendahului kita. Dan itu membuatku percaya! Suatu saat akan bisa bertemu dengannya!” Ujar Yuli saat sedang menulis status di facebooknya, “Kau harus menungguku!” Komen dari Farid langsung menjadi komen pertama di status itu.

Faridpun menelponnya “Kau dimana?” “Aku di ada diruang keluarga!” “Ohya? Coba lihat ada apa dibalik dibalik Rak buku di ruang keluarga situ!” “Ada apa emangnya?” Telponpun mati. Yuli yang penasaranpun segera melihat ada apa dibalik Rak Buku

“Peek-a-boo!” Sapa Farid mengagetkan Yuli saat Yuli melewatinya. “Farid?” Tanya Yuli “Ya! Ini aku!” Ujar Farid “Ini aku!” Tambah Farid “Ini aku Yul! Farid!” Tambah Farid lagi. Yulipun hanya bisa terisak dan memeluk sesosok pria yang dirindunya itu dengan kasih sayang. Dan kini jam dindingpun berhenti, Diberhentikan oleh kekuatan cinta. Kekuatan yang indah tapi membawa kemudharatan juga.



####

Minggu, 09 November 2014

~Between Summer And Winter~ : Langit Hitamlah Yang Akan Menjadi Saksinya



Langit Hitamlah Yang Akan Menjadi Saksinya



“Iya! Memang! Memang gue gak mau pacaran! Pacaran itu, rasanya seperti burung! Terkekang didalam sangkar! Tidak bisa terbang bebas! Dan maaf! Gue gak mau pacaran.” Ujar Dicky sambil berlari keluar kelas. Dicky emosi, mereka mengatakan Dicky gak laku, makanya belum dapat pacar. Dicky emang gak suka pacaran! Sumpah deh! Gak kayak mereka, yang pacaran hanya untuk status doang! Kenapa gak satu kali pacaran ama Facebook? Atau ama Twitter?

Dicky duduk di taman sekolah. Dan menanti dia, “Hai!” Sapa seorang gadis dari kejauhan  “Hai juga!” Jawabku “Kamu dari tadi ya nungguin aku? Dick?” Tanya Gadis itu “Iya, Acha!” Jawabku kepada gadis manis yang ternyata bernama Acha “Tumben! Gak pake kacamata!” Ujar Dicky “Oh ia, kelupaan! Di rumah!” Jawabnya lugu “Ohia, ke kantin yuk. Aku traktir!” Tambahnya “Ayuk!!!” Jawabku.

Merekapunpun berjalan menyusuri taman sekolah untuk menuju kantin. Hari itu, semua telihat aneh. Terlihat asing bagiku. Dicky merasa, Dicky berbeda dari yang lainnya. Tak menyatu dengan alam. Dan Dicky merasa, kalau kesuraman mengganggunya. Tapi Dicky harus menjauhkan pikiran itu. Dicky harus lebih tertuju pada masalah cinta tak abadi ini. Soalnya KRES banget!

Dicky terdiam memandang ke arahnya. Dengan pandangan itulah, dia menyadarinya “Hoi! Dick? Kok melamun! Kenapa sih?” Tanyanya “Gak kok. Gak papa, hanya saja aku merasa pusing.” Jelas Dicky “Kok pusing? Aku antarin UKS ya!” Ujarnya panic “Gak kok! Gak papa! Mungkin karena kemarin mati-matian buat belajar. Padahal udah stress banget, udah dipaksa. Jadi kayak gini deh.” Jelas Dicky lagi “Oh gitu yah” Jawabnya kemudian melanjutkan makannya.

Dicky menatap ke langit, Dicky masih heran, Dicky suka hujan! Tapi Dicky suka melihat Matahari, Bulan dan Bintang. Sedangkan Matahari tidak akan bisa muncul bersamaan dengan hujan, kalau mendung menutupinya. Begitu juga bulan dan bintang. Tapi kadang ada hujan menangis, dan Dicky percaya itu adalah sebuah pertanda. Pertanda apa ya? Mau tau? Kepo banget sih lo -,-

Tapi Dicky sebenarnya punya sebuah rahasia yang tak ingin ku kasih tau dulu. Karena Dicky tak ingin membuat semua jadi khawatir. Ya gitu deh, gak suka buat orang pada rempong hanya karena Dicky. Hahahahahah….  Merekapun yang kebetulan duduk bersama di kantin sekolah. Dicky bertanya-tanya dalam hati “Kenapa ya? Cinta ini terasa sangat sedih! Kres banget gitu!”

Malamnya… Gak ada bintang! Gak ada bulan! Karena langit mendung yang menghalangi pemandangan itu. Dickypun tak tahu! Dicky selalu berbicara kepada bulan! Bertanya “Kamu sedang apa? Dimana? Dengan siapa? Kenapa kamu gak pernah sadar? Apakah benar-benar tidak terlihat?” dan pertanyaan yang sama setiap harinya. Dan semuanya tertuju ke 1 orang… siapa lagi kalau bukan ACHA.

Dickypun melihat Acha sedang berjalan menuju sekolah. Acha berlarian dan tanpa sengaja dia tersandung dan terkena pecahan-pecahan botol. Terutama di bagian matanya, karena waktu itu di lupa pakai kacamata. Dicky yang melihat kejadian itu sampai strok! Gak nyangka bisa jadi kayak gitu. Dickypun membawanya ke rumah sakit. Dicky gak berani mengeluarkan beling-beling itu. karena Dicky takut.

3 jam Dicky menunggu di ruang tunggu
“Dok? Bagaimana keadaan teman saya, Dok?” Tanya Dicky ke dokter saat si dokter keluar dari ruangan tersebut “Maaf dek! Teman adek, mengalami kebutaan! Karena bagian korneanya rusak. Dan bisa diperbaiki, asalkan ada yang mau mendonorkan kornea.” Jelas pak dokter tersebut “Tapi, dok?” Ujar Dicky panic “Kami sudah melakukan yang semaksimal mungkin.” Kata dokter tersebut, sebelum akhirnya dia pergi.

Dicky masuk keruangan Acha dan memeluknya “Acha! Tenanglah! Dicky yakin sesegera mungkin. Kita akan mendapatkan donor korneanya. Dan Dicky yakin itu! sudah Acha! Jangan sedih lagi!” Ucap Dicky kepadanya seraya menenangkan. Dicky juga begitu terpuruk mendengar dia harus kebutaan. Tapi, apa daya Dicky? Ini memang harus terjadi. Dicky kasihan padanya “Ya Allah… tolong jaga dia! Jaga Acha, ya Allah! Orang yang kusayangi” batin Dicky dalam hati.

5 bulan berlalu…
Kini Acha sudah tidak lagi sekolah seperti biasanya. Dia sekarang mendapatkan bimbingan khusus dirumahnya. Dan Dicky, masih tetap mengunjunginya. Dicky sedikit menyimpan rasa kasian. Dan bulan ini… bulan November! Ulangtahun Acha sudah dekat! Dan dia berencana akan merayakannya. Dicky akan datang ke ulangtahunnya. Dan pastinya ingin membuat dia bahagia.

“Acha? Ulang tahun kamu sudah dekat ya! Lusa!” Ujar Dicky senang “Iya nih. Jadi gak sabar. Kamu datang ya!” Pinta Acha “Dicky pasti datang loh! Gak mungkin Dicky gak datang! Kamu kan sahabat aku!” Ujar Dicky ke Acha dan Acha hanya membalasnya dengan senyuman manisnya.

Sepulang dari rumah Acha, Dicky mengendarai motor. Dan segera menuju rumah sakit. Kepalaku pusing sekali. Entah kenapa, Dicky bisa pusing. Dicky segera masuk dan konsultasi ke dokter Dicky. Yang biasanya menangani Dicky. Dia berkata, “Dick! Mungkin ini sangat sulit dikatakan. Tapi otakmu sudah tak bisa tertolong. tapi saya akan mencoba untuk menyembuhkannya. Dengan operasi.” Jelas Pak Faisal, dokter Dicky.

Dicky sedikit tercengang… tetapi dia menyetujui. Diapun mau dioperasi. Meskipun itu membutuhkan 4 hari dirumah sakit. Dan tidak ada kemungkinan, dia bisa datang ke acara ulang tahun Acha. Dan di hari ulang tahun Acha… “Ma? Dicky mana ma? Kok aku gak dengar dia ngucapin selamat ke aku.” Tanya Acha ke ibunya “Mungkin si Dicky gak bisa datang. Ada keperluan, mungkin” Jawab ibunya. Achapun menunggu kedatangan Dicky yang mungkin gak akan datang.

Hingga 4 hari berlalu… operasi selesai. Tetapi belum menjamin otaknya bisa disembuhkan. Tetapi setidaknya dia masih bisa untuk mengucapkan kata-kata ke Acha. Diapun pergi ke rumah Acha.

Sesampainya dirumah Acha…  “Acha? Selamat ulang tahun ya! Maaf ya! Maaf aku gak bisa datang ke acara ulangtahun kamu. Maaf ya! Soalnya aku ada urusan” Jelas Dicky ke Acha “Apa lo bilang? Kalo lo ada urusan… setidaknya lo gak usah bilang LO AKAN DATANG dulu. Lo tau gak sih! Lo itu gak nepatin janji lo! Gue benci lo, Dicky” Umpat Acha panjang lebar. “Aku tahu… ini gak bisa dimaafkan. Tapi aku mau minta maaf, aku juga mau ngucapin selamat tinggal ke kamu!” Jelas Dicky.

“Memang ini gak bisa dimaafkan. Lo udah keterlaluan Dicky. Dan lo mau tinggalin gue? Setelah lo ngebuat gue sakit? Ha? Pergi aja! Kenapa harus pamit ke gue? Emang lo sapa? Ha? Sahabat kok gitu! Datang kalau ada perlu! Ciuh… gue bisa milah teman tau! Dan teman yang kayak sampah seperti lo! Harus dimusnahkan! Jadi, pergi lo dari sini! PERGI!!!” Kata-kata itu keluar dari mulut Acha, dan menggelegar di telinga Dicky.

Akhirnya tugas keterakhirnyapun selesai. Diapun kembali kerumah sakit. Dan bersedia untuk mendonorkan korneanya ke Acha. Dan juga menyumbangkan organ-organ tubuhnya yang penting. Ke yang membutuhkan. Dan itu mungkin sangat menyakitkan buat Dicky. Tapi Dicky juga tahu, kalau dia sudah tidak lama lagi……

……

“Wah!!! Aku sudah bisa melihat ma!” ujarnya terkagum-kagum saat perbannya dibuka. “Alhamdulillah ya Allah… Makasih ya Allah! Engkau memberikan yang terbaik untuk anakku. Makasih ya Allah.” Ujar ibunya Acha yang sangat senang anaknya dapat melihat lagi. “Boleh aku tahu, siapakah yang mendonorkan kornea untukku?” Tanya Acha “Kau boleh mengetahuinya. Di alamat ini……” Jawab Dokter tersebut sambil menunjukkan alamat tempat penguburan Dicky yang Acha tak tahu. Achapun segera menuju ke sana…

Sesampai di sana… Acha melihat segerombolan orang berdiri di sebuah kuburan. Achapun bertanya “Boleh tau, siapa yang meninggal?” Tanya Acha ke seorang ibu yang sedang terlihat bersedih hati “Tante?” Achapun tersentak kaget waktu menyadari, orang yang ditanyanya itu adalah ibunya Dicky. Achapun langsung menengok ke arah batu nisan.

“Dicky!!!! Gak!!! Gak mungkin!!!” ujarnya panic dan kaget. Air matanya mulai berjatuhan. Ternyata yang meninggal adalah Dicky, sahabatnya sendiri. “jadi??? Dia yang menyumbangkan kornea untukku?” Tanya Acha dalam hati.

Semua orang yang pergi melayat telah pulang kerumah satu per satu. Tinggallah Acha dan ibunya Dicky. Ibunya pun menghampirinya “Acha? Dicky punya surat. Dia menyuruh tante untuk memberikannya kepadamu nanti.” Jelas ibunya Dicky samba menyerahkan sepucuk surat untuk Acha

“Hay Acha? Apa kabar?
Baik-baik saja kan?
Aku sebenarnya masih ingin merayakan 1 hari bersamamu waktu aku kerumahmu itu
Tapi karena kamu menyuruhku pergi. Jadi aku harus pergi sekarang…
Maaf ya… tak bisa datang ke ulang tahun kamu…
Karena waktu itu aku harus operasi…
Meskipun kata dokter, otakku sudah tak bisa tertolong…

Aku juga mau bilang sesuatu kepadamu
‘Aku cinta kamu, Acha!’
Maaf ya, aku harus mencintaimu…
Aku tidak tau kenapa, dadaku selalu berdebar saat bersamamu.
Dan aku sungguh tak nyaman, karena tak ingin persahabatan kita hancur
Hanya karena perasaan ini

Maka, jagalah matamu! Anggaplah korneaku itu kenang-kenangan
Yang tak akan pernah kamu lupakan
Dan aku bangga, korneaku akan bisa melihat wajah cantikmu
Saat kau memandang ke cermin

Dan sekarang…
Langit hitamlah yang akan menjadi saksinya…
Saksi dari cinta tak abadi yang searah ini…
Selamat tinggal Acha…
Love you…… From Dicky”