Cerita terakhir dari seri “Between Summer
and Winter”… cerita yang masih se-genre, yaitu kesedihan dan airmata. Dimana
diantara Musim panas dan Musim dingin, ada musim gugur. Musim dimana daun
berjatuhan. Bukan Cuma daun, musim dimana airmata berjatuhan, ketika kenangan
indah di musim panas akan berlalu dengan cepat. Tinggallah kehampaan di musim
gugur. Oke, di cerita ini, ada kata MONOLOG. Monolog itu sendiri kalau menurut
gue… Drama sendiri. Semacam sebuah perkataan panjang dengan pengekspresian dan
penghayatan yang nyata, dan pembawaannya lebih seperti drama. Kalau kata teman
gue, niru orang gila -,- bicara sendiri #Whattefuck?
*** Lampupun di ruangan itupun mati…. Satu
lampu pijar menyala, dan mengarah ke seorang gadis yang masih bernyanyi…
“Jikalau
nanti diriku menghilang…
Tempat
inipun ‘kan menjadi sepi….”
Semua lampupun menyala seketika
“Yang
dulu sla~lu terdengar itulah…
Diriku
si serangga langit yang jauh…”
Suara khas cewek itu makin mengundang tepuk
tangan dan sorak-sorakan dari penonton di ruangan itu***
MONOLOG SEDIH HANYALAH MILIKKU
“Perkenalkan… nama aku Yuli dari kelas IX
A. Suka Theater, Musik dan juga Sastra. Tau sedikit tentang alat music seperti
piano dsb. Bisa acting dan tertarik sedikit sama dunia sastra” Ujar cewek
bernama yuli tersebut pada sebuah pertemuan ekskul theater. Yuli merupakan
siswi kelas 9 yang ikut ekskul Theater. Dia sangat pandai menguasai peran. Dan
dia juga punya teman bernama Farid.
Farid adalah teman atau bisa dibilang juga
sahabat yuli. Mereka berdua selalu bersama seperti kakak dan adik “Yul? SMS
dari siapa? Kok nyengir kayak gitu?” Tanya Farid melihat Yuli yang
senyum-senyum sendiri dari tadi “Nggak kok… kakak aku kirimin konsep lucu
banget” Ujar Yuli berbohong “Ahh… kamu! Bohongnya ketahuan banget! Sejak kapan
kamu punya kakak! Hayo… pasti cowoknya!” “Iyadeh.. aku nyerah!” Ujar Yuli
sambil melambaikan bendera putih, tanda damai. Faridpun mengacak-ngacak rambut
Yuli.
‘Hmm… kode terbalikku berhasil’ Batin Yuli
dalam hati. “Kami masih dengan cowokmu itu ya?” Tanya Farid “Udah putus…” Jawab
Yuli singkat “Kenapa bisa?” Tanya Farid lagi “Hmm.. gak tau tuh dia. Katanya
mau fokus belajar. Padahal aku masih mau dengan dia” Ujar Yuli dengan mata
berkaca-kaca ‘Bagus… Skenario B pun selesai!’ batin Yuli lagi dalam hati “Hmm…
gitu yah? Aku turun berdukacita ya…” Jawab Farid ‘Kau bahkan tak ada reaksi
senang sama sekali. Apakah kau memang tak ada rasa? Kamu tau gak sih? Aku
mutusin cowokku hanya Karena kamu. Peka dikit napa sih’ batin Yuli lagi dalam
hati.
“Hey!!! Kok melamun! Udah masuk nih! Yuk ke
kelas!” Ajak Farid ke Yuli “Aaah *tersadar* ohiyaiya” Jawab Yuli kemudian
langsung menuju ke kelas bersama Farid. Merekapun masuk ke kelas sebelum
akhirnya Bu Diana, guru kesenian, masuk ke kelas. Materi yang diajarkan kali ini
ialah tentang Monolog. Bu Dianapun menjelaskan tentang Monolog. Yuli yang
sangat jago berMonologpun semangat untuk belajar.
“Bu! Aku bisa bermonolog!” Ujar Yuli sambil
berdiri
“Oh ya? Coba tunjukkan! Ayo maju ke depan
kelas!” Jawab Bu Diana
“Aku suka kepada dirimu…
Aku suka kepada dirimu…
Tapi kau bahkan tak menyadarinya
Kaupun terlihat sangat jauh
Aku menyadari kehadiranmu…
Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kau bahkan tak menyadari cintaku?
Entah apa lagi yang harus kuperbuat
Aku mulai merasa lelah
Sangat tak adil!
Aku selalu mencintaimu
Sedangkan kamu, hanya santai saja!
Seperti mimpi, aku bisa bertemu denganmu
Tapi aku tak bisa menyentuhmu…
Satu yang ingin kutanyakan sekarang…
Apakah kau menyadarinya???”
Monolog dari Yulipun berakhir dan disambut
oleh tepuk tangan dari teman sekelas “Bagus, Yuli! Awal yang bagus!” Bu Diana
memuji penampilan Yuli. Yuli hanya bisa tersenyum dan kembali ke tempat
duduknya “Kamu tadi bagus…” Ujar Farid “Makasih…” Jawab Yuli dengan muka yang
memerah ‘Monolog tadi itu untukmu loh. Seandainya kau sadar!’ batin Yuli dalam
hati
“Sayang yaa… cowok kamu gak bisa lihat monolog
kamu tadi yang ternyata tertuju untuknya” ujar Farid “Ah iya” Jawab Yuli datar
‘sama sekali gak peka. Payah’ Batin Yuli dalam hati. Bu Dianapun menunjuk Yuli
untuk latihan Monolog untuk tampil pada perpisahan kakak kelasnya minggu hari
sabtu nanti. Kebetulan Bu Diana dan Yuli sangat dekat, karena Yuli merupakan
murid kesayangan Bu Diana. Merekapun bersiap-siap untuk latihan monolog. Dan
monologpun dibuat sendiri oleh Yuli.
“Bu? Bisa gak? Kalau nanti tampilnya… abis
monolog aku sambung nyanyi” Tanya Yuli “Boleh sih. Kamu udah punya ide untuk
monolog?” Tanya Bu Diana “Hmm… tentang cinta-cintaan boleh gak bu?” Yuli balik
bertanya “Boleh… ceritanya seperti apa?” Tanya Bu Diana “Seorang cewek yang
suka kepada seorang cowok. Tapi cowo tuh gak pernah peka, gak pernah ngerti.
Sampai akhirnya si cewek merasa lelah untuk mencintai, tapi dia tidak boleh
menyerah. Boleh gak, Bu?” Jelas Yuli “Oh… cinta tak terbalas. Tentu saja
boleh!” Jawab Bu Diana.
Tentang
perasaanku, aku tak tahu
Tak
tahu harus kuadukan ke siapa
Bulanpun
enggan bersinar
Seranggapun
enggan Berbunyi
“Yul! Aku suka Kamu!” Ujar Farid
Tak
ada yang mengerti!
“Aaah… lagi-lagi hanya khayalan! Bisa gak
sih? Sehari saja, gak pikirin kamu! Aku lagi butuh ide untuk monolog -_- aaargh
you make me very very angry!” Umpat Yuli disaat pikirannya terganggu dengan
sosok Farid “Tapi… apakah aku bisa menyelesaikannya? Pasti aku bisa!” Ujar Yuli dengan nada bersemangat.
Tak
ada yang mengerti!
Untuk
apa aku hidup?
Jika
disampingku tak ada kamu
Satu-satunya
yang ku cintai!
“Aku tak bisa hidup tanpamu!” Ujar Farid
Hidupku
akan terasa hampa
“Aku harus menemuinya!” Ujarnya ketika
menyerah. Dipikirannya hanya ada Farid dan Farid. Diapun menemui Farid di
kantin, “Lihat ini!!! *Sambil menyodorkan kertas berisi monolog tadi*” Seru
Yuli ke Farid “Apaan nih?” Tanya Farid bingung “Ini kertas monolog aku!” Jawab
Yuli singkat “Tentang perasaanku, aku tak tahu, Tak tahu harus kuadukan ke siapa, Bulanpun enggan bersinar, Seranggapun
enggan Berbunyi… Tak ada yang mengerti!, Untuk apa aku hidup?, Jika disampingku
tak ada kamu, Satu-satunya yang ku cintai!... Hidupku akan terasa hampa…” Farid
membaca isi monolog itu “Hubungannya ama aku apa?” Tanya Farid “Aku gak bisa
berkonsentrasi!” Ujar Yuli “Trus?” Tanya Farid “Itu gara-gara kamu! Enyahlah!”
Bentak Yuli sambil pergi meninggalkan Farid. Rasanya ingin menangis…
Yulipun mulai menjauh dari Farid. Yulipun
merasa bersalah, seharusnya waktu itu dia tidak terlalu kasar sama Farid. Tapi
apa boleh buat, nasi telah berubah jadi bubur. Tukang bubur juga udah naik
haji. Jadi ya, gak bisa dibalikin. Dan itu sudah terlanjur terjadi. Yuli masih
sayang sama Farid. Tapi dia sudah kelepasan. Dan Yulipun mulai membenci dirinya
sendiri. Dan menyesali apa yang telah dia perbuat.
Yulipun makin saat tahu konser perpisahan
akan digelar besok. Dia sudah selesai menulis naskahnya. Tinggal membawakannya
dan mengekspresikannyalah yang akan dilatih. Dan dibarengkan dengan lagu “cinta
serangga” yang akan dibawakan olehnya juga. Yuli berusaha untuk tidak stress
dan tetap santai. Dan mencoba untuk menghapalkan liriknya dan menyetarakan
lagunya dengan musik dari lagu tersebut.
Yulipun masih harus membayangkan Farid untuk
bisa menjiwai peran monolognya tersebut. Supaya bisa kena feelnya, sebagai
gadis sedih dengan cinta tak terbalasnya dan perasaan jengkel gadis tersebut.
Faridpun sudah tak terlihat disini lagi. Entah dimana… tetapi Yuli sudah tak
pernah lagi melihatnya. Dan itu yang membuat Yuli cemas ‘Aku suka kamu Rid!
Sekarangpun masih suka!’ batin Yuli dalam hati.
KONSER PERPISAHAAN KELAS IX…
Seorang cewek keluar dari backstage… dan
langsung mendapatkan sorakan dan tepuk tangan dari para penonton. Dan memulai
monolognya…
“Tentang perasaanku, aku tak tahu
Tak tahu harus kuadukan ke siapa
Bulanpun enggan bersinar
Seranggapun enggan Berbunyi
Tak ada yang mengerti!
Untuk apa aku hidup?
Jika disampingku tak ada kamu
Satu-satunya yang ku cintai!
Hidupku akan terasa hampa
Tanpa dirimu dan tanpa cintamu
Dan aku akan menghilang
Lenyap tanpa kenangan
Aku akan menghilang karena aku telah lelah
Kamu sama sekali gak pernah memerhatikanku
Bahkan untuk melirikku 5 detik, itu
mustahil rasanya
Dan yang terlebih menyakitkan, kau bahkan
tak pernah peka
Dibawah sinar bulan yang mulai tenggelam
Aku tetap menantimu disini!
Hei! Jangan bercanda!
Aku telah menghabiskan waktuku untuk
menantimu
Kenapa aku harus merasakan ini?
Kenapa aku harus menyukaimu? Ha?
Aku hanya bisa duduk termenung sekarang
Dan bertanya-tanya dalam hati
Apakah kau mendengar monolog sedihku?
Monolog sedih yang hanyalah milikku?
Apakah kau mendengarnya?
Ataukah kau menyadarinya!
Hei! Jangan bercanda!
Kau yang disana! Jawablah jika kau dengar!
Aku masih disini!
Tak tahukah kamu?
AKu masih menunggu… Sekarangpun aku masih
suka!
Dan akan tetap suka.. meskipun ku kan
menghilang…”
Musikpun mulai berbunyi… gadis tersebut
mulai bernyanyi
“Tempat
dimana serangga berbunyi
Apakah
engkau mengetahuinya?
Didahan
pepohonan taman yang
Mulai
berubah menjadi gelap
Diriku
yang kau kira hanya teman
Walau
menangis disini sendiri
Tidak
pernah dirimu sadari
Monolog
sedih hanya milikku
Sebelum
musim ini usai dan berganti
Ku
‘kan terbang ke suatu tempat
Berada
disampingmu membuatku tersiksa
Cinta
yang hanya sementara…
Sendiri
mungkin… mungkin… mungkin
Oh
teramat singkat kehidupan ini
Sendiri
mungkin… mungkin… mungkin
Ingatlah
kembali pernah ada masa
“Aku
suka pada dirimu”
Di
summer ke enam belas”
Lampupun di ruangan itupun mati…. Satu
lampu pijar menyala, dan mengarah ke seorang gadis yang masih bernyanyi…
“Jikalau
nanti diriku menghilang…
Tempat
inipun ‘kan menjadi sepi….”
Semua lampupun menyala seketika
“Yang
dulu sla~lu terdengar itulah…
Diriku
si Serangga langit yang jauh…”
Suara khas cewek itu makin mengundang tepuk
tangan dan sorak-sorakan dari penonton di ruangan itu
“Hari
esok berbeda dengan hari ini
Akan
sela~lu terasa sepi
Dulu
aku berharap kau menemukannya
Cinta
kecil yang satu arah…
Diriku
mungkin… mungkin… mungkin
Tersesat
dihutan dalam hati~ini
Diriku
mungkin… mungkin… mungkin
Setidaknya
tengok dan lihat ke sini
Tak
terungkapkan dalam kata
Cinta
jangkrik yang semu”
Musikpun berhenti dengan diiringi oleh
tepuk tangan penonton. Dan disuatu sudut…
“Bagus Yul! Kamu sudah berjuang! Meskipun
itu bukan untukku! Dan hatimu hanya untuk cowok kamu! Tapi aku masih tetap
menyukaimu! Tak apa kalau ini tak terbalas! Aku hanya ingin kau merasakan bahwa
aku mencintaimu! Meski kau tak bisa jadi milikku” Batin Farid dalam hati.
Yulipun tersenyum pepsodent dan bangga
telah menampilkan yang maksimal. Diapun mengatakan bahwa itu semua untuk
temannya, yang disukainya. Yang ternyata bernama Farid “Makasih untuk orang
yang disana yang membuatku bisa menyelesaikan monolog ini dan membuatku bisa
mengekspresikannya dengan bagus. Untuk seseorang disana, aku ingin mengatakan
bahwa Aku Cinta Kamu”Jelas Yuli. “Dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal
untuk kalian semua. Karena aku akan pindah, ikut orang tua aku ke bandung. Selamat
tinggal semua~ makasih!” Tambah Yuli lagi.
3 Bulan kemudian…
“Perlahan-lahan bayangan kita dimakan oleh
sang rembulan. Dan kita akan dilupakan seperti yang telah mendahului kita. Dan
itu membuatku percaya! Suatu saat akan bisa bertemu dengannya!” Ujar Yuli saat
sedang menulis status di facebooknya, “Kau harus menungguku!” Komen dari Farid
langsung menjadi komen pertama di status itu.
Faridpun menelponnya “Kau dimana?” “Aku di
ada diruang keluarga!” “Ohya? Coba lihat ada apa dibalik dibalik Rak buku di
ruang keluarga situ!” “Ada apa emangnya?” Telponpun mati. Yuli yang
penasaranpun segera melihat ada apa dibalik Rak Buku
“Peek-a-boo!” Sapa Farid mengagetkan Yuli
saat Yuli melewatinya. “Farid?” Tanya Yuli “Ya! Ini aku!” Ujar Farid “Ini aku!”
Tambah Farid “Ini aku Yul! Farid!” Tambah Farid lagi. Yulipun hanya bisa terisak
dan memeluk sesosok pria yang dirindunya itu dengan kasih sayang. Dan kini jam
dindingpun berhenti, Diberhentikan oleh kekuatan cinta. Kekuatan yang indah
tapi membawa kemudharatan juga.
####




