Kamis, 03 Desember 2015

Ajari aku move on


Oke, cerita AAMO ini aku buat dengan persetujuan Anggi, dan ada beberapa nama yang disamarkan demi kenyamanan privasinya. Cerita ini disetujui Anggi dalam keadaan sadar dan belum terpotong-potong *eh? Karena cerita memang khusus dia, untuk dia. Salah satu sahabatku yang… nun jauh disana, diujung dunia… *nyanyi , eeh kok malah nyanyi. Abaikan ah… ya buat sahabatku yang di sini *Ambil peta Indonesia, nunjuk Sulawesi tengah, kemudian ambil atlas, buka Sulawesi tengah dan nunjuk Luwuk*, huhuhu…
 
Ajari aku move on
“Sekarang kita berasa kayak orang asing aja…”

            Oke. Aku lagi berjalan melewati para fans-fansku. Hueek, sok artis banget. Aku sudah menjadi artis papan tulis sekarang, eeh maksudku artis papan atas. Dan sedang berjalan menuju lokasi konserku “Syiiif....” eeh ada yang memanggilku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu siapa yang memanggilku. “Syiiif...” ya, dia memanggilku lagi. Aku semakin pusing dan... aaargh “Syiiif...” suara itu menyadarkanku dari khayalan yang hanya setahun sekali (?), Anggi sudah ada dimejaku dan memamerkan senyum pepsodentnya dengan saus yang masih menempel di giginya (?). Ya, dia Anggi teman seperjuanganku sampai titik penghabisan, “Syifa...” dia memanggilku lagi. Dia senang memanggilku Syifa “Kenapa lagi sih?” “Aku dah putus ama dia” jawabnya.
            “WHAT!!? Beneran? Kamu putus ama dia?” Tanyaku. Hmm untuk kenyamanan privasi seseorang (Apaan seh, sok jenius banget kata-katanya), sebut saja Pacar Anggi yang udah putus itu Benn. Hahah, “Iya. Aku udah putus ama Benn.” Jawabnya “Kok kamu gak sedih? Kan dulu kamu ngejar-ngejar dia mulu ampe-ampe kesungkur di tangga gara-gara ngejar dia.” Hahah, aku mengungkit masa lalu yang mengada-ngada “Shit! Kapan aku kayak gitu *masang wajah bete*, Hmm tapi aku masih sayang ama dia syif.. tapi kok aku gak bisa nangis. Dan aku hanya bisa pasrah waktu kita putus” jelasnya panjang lebar. Aku mengambil aqua dan menyemburkan ke mukanya “tuh... dah ada air matanya. Hahahah...” dia hanya bisa ngelus dada. Aku dan dia emang agak gesrek. Kalau bersatu, yaa berasa kayak di RSJ. Tapi hari ini dia lagi gak gila
“Emang yang mutusin siapa sih?” tanyaku “Aku”, duuh pengen aku ketok tuh kepalanya. Minta putus tapi masih sayang “Hmm, dia kok gak minta balikan ya?” “Dia mungkin masih menyesal Anggi..” ujarku, tiba-tiba matanya berbinar-binar “Menyesal karena dah buat aku bete ya?” Tanyanya “Menyesal dah terima lu. Hahahah”, refleks dia ngambil sepatunya dan melemparnya. Dan aku bisa menghindar. Unfortunately, sepatu itu melayang ke arah kepsek yang kebetulan lewat. Mengetahui hal itu, aku dan Anggi disuruh habisin makanan dikantin, eeh maksudku mungutin sampah di sekolah sampai bersih.
“Okay, i’m sorry. Karena aku, kamu juga di hukum. But, inilah kita.” Ujarnya terlihat seperti pemulung yang merutuki nasibnya “You must got this punnishment! Not me!” aku ngambek, aku ingin melarikan diri. Tapi dia malah menarikku... “Let it go!!” , dia tetap menarikku “Let it go!!!!”, dia masih tetap menarikku “LET IT GOOO!!!”, dia mulai kesal “Lu mau aku lepasin atau lu mau jadi princess Elsa sih! Ribut banget!” dia melepaskanku tiba-tiba dan aku terjatuh. Dan dia membiarkanku terduduk di lapangan dengan tampang memprihatinkan. Ouuuh...
Keesokan harinya... “syif! Ajarin aku move on! Aku udah mencoba tapi gak berhasil” ujarnya “Emang apa yang udah kamu lakukan untuk move on?” tanyaku “Aku sudah menghapus nomornya. Menghapus semua foto-fotonya. Dan meng-unfollow semua akun yang dia punya.” Jelasnya “Trus?” tanyaku singkat “Hasilnya sia-sia, nomornya masih kuhapal. Voice notenya masih terngiang dan belum sempat kuhapus. Aku udah meng-unfoll semua akunya, tapi tetap saja aku stalk. Dan aku sudah menghapus foto-fotonya. Dan shitnya, foto-fotonya masih tersimpan di laptopku dan bahkan jadi wallpaper di laptopku.” Ujarnya. Wew, seperti itukah? Sungguh malang nasibmu
“Trus kamu sudah mengganti wallpaper laptopmu?” tanyaku dan dia mengangguk “Foto apa?” tanyaku “Fotoku dan dia” jawabnya. Njirrr, gesreknya mulai muncul dan ketidak connect-an pikirannya itu udah mulai muncul. “Oke... kenapa tidak minta balikan aja ke dia?” tanyaku “Kok aku sih? Harga diri aku ditaruh dimana?” tanyanya “Emang punya” jawabku kemudian memeletkan lidahku ke dia “Lu kayak anjing kalo gitu” “Heeh... species sendiri jangan disebutin” ujarku “SHIT!” umpatnya “Eh.. tuh Dani sana. Samperin tuh! Trus suruh dia narik tangan kamu” suruhku. Dan dengan kepolosan yang di sok-sok-an itu (Hah?), dia menghampiri Benn. Oke, dia mau juga dibodoh-bodohi.
Dia menyuruh Benn menarik tangannya. Tapi dia tidak mau. Dengan terpaksa, Anggilah yang menarik tangannya. Kemudian,  “Benn! Buruan ajak aku balikan! Buruan! Aku mau nangis nih!”, trus mantannya hanya menatapnya dengan pandangan yang terheran-heran. Aku hanya bisa ngakak melihat itu “Ayo! Gak usah malu-malu” ujar Anggi, dan si Benn menatapnya lagi kemudian pergi meninggalkannya begitu saja “SHIT!” umpat Anggi. “ckckck... ada juga ya, yang mau dibodoh-bodohi” ujarku sambil ngakak. Dan dia menatapku horor. Kemudian dunia menggelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku terbangun.. dan aku tersadar aku tidak lagi mengenakan seragam sekolahku. Apaan-apaan ini. Apa yang dia lakukan terhadapku! Oh My Ghost! Aku dipakaikan pakaian wanita dan didandani layaknya cewek. Its a nightmare. “Oh.. udah bangun ya? Jadi ceritanya lu nyamar trus pura-pura kamu mau ganggu aku, trus aku teriak minta tolong dan minta tolong ke Benn buat tolongin aku. Gimana?” tanyanya “Hmm… tapi kenapa harus dandan kayak perempuan sih -_- malu-maluin.” Jawabku “Tapi kamu cantik kayak gitu syif…” “Uuh Shut up!” aku kesal,iih mama... bagaimana nasib anakmu ini maaa… “Okelah. Aku mau” kitapun deal. Tirai 2 pun dibuka (Laah, emang Super deal apa!?), Kitapun bersiap-siap.
Anggipun naik ke atas, dan tak lama aku yang dengan penampilan layaknya bidadari turun dari surga.. Hm lebih tepatnya kayak pelacur hina -___- menyusul Anggi ke atas (Oke, Karena kelasnya dan kelas Benn ada di tingkat dua). Akupun menarik jilbab Anggi. Dan… “Heh! Kamu jadi perempuan jangan sok gatal dong!” ujarku “Apa-apaan sih! Heh! Tante, lu siapa sih?” Anggipun ber-acting “Heh! Emang kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sering sekali menggoda pelangganku!?” aku mulai menghayati peranku “Emang pelanggan tante siapa? Emang ada yang mau sama tante-tante kayak lu? Yang ada mereka jijik tau” Dan akupun mulai menarik-narik rambut Anggi.
Oke, ini absurd banget. Dan kebetulan Benn lewat, “Benn! Itu dia! Dia pelangganku!” Aku menunjuk kearah Benn yang menatapku terheran-heran “Benn! Tolong aku Benn! Tolong aku! Tante-tante ini akan menyakitiku Benn!” Ujar Anggi yang hanya dibiarkan berlalu saja oleh Benn. Benn dengan cueknya masuk ke kelas dan membiarkan aku dan Anggi yang berkelahi layaknya Julia perez dan Dewi persik. Aargh its so awkward. Aku dan Anggipun lari.
“Udah deh! Move on aja. Gak usah berharap-harap. Malu-maluin banget. Apalagi yang kayak tadi” aku mulai kesal “Nih! Caranya move on… kamu harus mencoba mencari kesibukan.” Ujarku “Kamu harus mencoba mencari dunia yang baru Anggi…” tambahku lagi “Kalau gak… kamu harus membuatnya membencimu. Kalau dia membencimu, pasti kamu akan termotivasi buat move on dari dia dengan sendirinya” tambahku lagi “Tapi gimana syiiif?” tanyanya. Hm, aku terdiam. Entahlah, lagi gak mood gesrek-gesrekan nih.
“Kamu pasti bisa move on. Dan aku tahu. Kita itu akan move on sendirinya, jadi tidak usah pikirkan apapun cara untuk move on. Karena semakin kau memikirkan move on mu. Secara tidak langsung kamu memikirkan Benn. Dan kamu pasti semakin baper dan makin gak rela  buat lepasin. Jadi apa gunanya kalau gitu?” jelasku lagi. Dia hanya terdiam. Akupun menuju ke aula, dan kemudian keluar dari pintu samping aula yang membawa kita ke sesuatu yang aku juga gak tahu apa. Untuk membuat kalian tidak pusing, sebut aja Koridor (Aku juga gak yakin). Dan kemudian duduk di atas dinding pembatas koridor itu yang membuatku dapat melihat lapangan sekolahku yang luas yang dipenuhi murid-murid dengan aktivitasnya sendiri.
Aku menarik nafasku perlahan dan mengeluarkannya dari mulut. Dan sekilas melihat ke bawah. Aku hanya bisa memasang senyuman tumpul yang seakan-akan ingin mengatakan kalau aku baik-baik saja, tetapi senyuman tumpul itu tidak akan bisa meyakinkan seseorang. Aku menatap Anggi dalam. Anggi menahan tanganku “Aku yang gagal move on syiif… aku yang patah hati syiif… aku yang udah gak punya semangat hidup… kok malah kamu yang mau bunuh diri!?” tanyanya. Dan aku menatapnya horror, lebih horror dari wajah mantan. Aku menatapnya tajam, lebih tajam dari sindiran mantan. Hahah… bercanda.
“Siapa yang mau bunuh diri? Aku emang kayak gini kalau galau. Kok lu mikirnya sampai situ sih. Yaudah, lu aja yang bunuh diri!” akupun mendorongnya untuk melakukan apa yang tadi dia lakukan. Tapi dia tidak mau. Dan terjadilah adegan aku pemaksaan dan Benn yang kebetulan lewat di bawah melihat ke arah kami yang di atas kemudian tersenyum. “Aaww.. Syif? Apa yang terjadi? Kenapa dia senyum padaku?” tanyanya “Karena dia sadar kalau mantannya yang satu ini ternyata benar…” ucapku “benar apa?” tanyanya dengan mata berbinar-binar “Benar-benar gilanya. Hahahah” ucapku sambil tertawa lepas. Diapun ngambek.
“Aku sudah tak yakin harus berbuat apa lagi.” Ujar Anggi “Emang kamu udah ngelakuin apa aja? Gak ada! Lebih baik hapus kenanganmu bersama Benn!” seruku ke dia. Diapun mengangguk. “Nanti akan kucoba” ujarnya. “Yuuk makan” kita berduapun pergi ke kantin bersama-sama. Aku mencoba untuk membuatnya melupakan mantannya itu.
Beberapa hari kemudian… “Oke! Anggi… kita harus cari cara untuk membuat dia membencimu!” ujarku berapi-api dan dengan kilatan mata yang menggelegar (?). akupun browsing di google tentang itu. “Eeh Anggi! Nih liat. Keren-keren tuh cara-caranya. Ada yang bikin artwork di mobilnya mantan. Ada yang merobohkan rumah mantannya…” “Itu terlalu berbahaya syif! Apalagi itu rumah orang tuanya, bukan rumahnya sendiri” ujar anggi “Hm, terus ada yang jual mantannya di Bukalapak.com hahah… tertarik gak?” tanyaku ke dia “Hahah… gak nyangka gimana ekspresi Benn kalau tahu dia aku jual.” Jawabnya dengan mengepal-ngepalkan temannya.
“atau kita datangi sebuah klub malam, dan menjualnya disitu. Hahahah…” tambah Anggi “Yaa… terserah kamulah. Yang penting kamu senang. Heheheh…” ujarku, dan kuliat di keala Anggi ada 2 tanduk iblis tumbuh. Wew, akupun mulai merasa nuansa horror menyelimuti kelas. Anggipun keluar kelas sambil loncat-loncatan *eh? Abaikan. Akupun membuka facebook ku, dan lagi-lagi dapat komen dari teman-teman karena terlalu banyak update status. Hmhmhm, they just know my name. Not about my story. So, they judge me like that! F*ck them all. Aku cuek aja. Aku mah gitu orangnya.
Oke, bicara tentang Benn. Benn ini adik kelasku dengan Anggi. Ingatlah Benn, kau juniorku! Benn ini pacar kedua Anggi. Oops, salah. MANTAN kedua Anggi. Dan waktu Anggi putus ama yang pertama, Dia juga susah move on. Udah ah, gak usah dibahas. Menurut Anggi, Benn agak mirip ama Fandy Christian. Aku aja bingung darimana miripnya. Aku dari jauh sampai dekat bahkan dekatnya sambil pakai kacamata min, masih belum bisa melihat kesamaannya LOL. Benn itu biasanya kalau pulang…. Ah sudahlah. Itu aib dan aku gak suka membongkar aib. Walau itu kadang buat aku tersenyum puas. Wahahahah… Dulu aku punya teman yang suka sama Benn, tapi udah nyerah. Benn gak peka-peka. Benn emang payah. Benn mah gitu orangnya.
Oke. Sekarang Anggi lagi termenung sambil menatap keluar jendela kelas, tempat merembesnya cahaya matahari yang sangat menyehatkan. Dia murung lagi, padahal barusan dah aku hilangin galaunya “Hey! Whats wrong with you? Anggi! You must stop it!” ujarku “I know. I try to stop it. But I can’t. I can’t move on. Barusan, aku berpapasan ama dia di tangga. Dan aku teringat waktu aku sering berpapasan ama dia waktu pacaran. Dia pasti langsung ngasih jalan buat aku. But, he has changed’ jelasnya. Akupun menyeka air matanya dengan tisu toilet yang aku ambil buat persediaan kalau makan di kantin nanti “Udah Anggi. Sabar” ujarku sambil menepuk-nepuk pundaknya “Sekarang kita berasa kayak orang asing aja. Berpapasan trus mata saling pandang, dia gak mau lagi ngasih jalan buat aku. Malah tadi dia labrak aku karena ngehalang jalannya katanya.” Anggipun mencoba untuk tenang. Dan aku membantunya. Semua memang perlu waktu. Aku rindu saat dia dulu sering makan upil. Eeh… kapan ya? Ohiya baru sadar… itu kan hobinya kalian yang lagi baca ini. Udah ah, ntar malah dibacok ama readers. Hmhmhm…
“Bentar tanggal 10 syif… annivfailedku dengan Benn. Aku jadi keingat dia lagi kalau ingat itu. Ohiya, bukannya itu annivfailedmu juga dengan si…” “Udah. Gak usah dibahas. Masa lalu tuh” aku langsung memotong ucapannya. Bukannya malas bahas mantan. Tapi aku malas aja kalau dia udah bahas masa lalu ku. Huhuhu… masa lalu biarlah masa lalu… jangan kau ungkit jangan ingatkan aku.. Kok malah nyanyi seeh -_- abaikan. Aku mengingat kalau aku udah gak lama di Luwuk, ini mungkin beberapa bulan terakhir di Luwuk. Aku gak tahu apa aku bisa meninggalkan mereka. Tapi mau tak mau, yaa aku harus meninggalkan mereka.
“Kalau nanti kamu pergi… kamu pasti bakal dapat teman baru” Ujarnya. Oke, dia mulai membahas masalahku “Iya ya. Tapi tetap aja, susah dapat teman gila seperti kamu. Teman seperjuangan sampai titik darah penghabisan” ujarku “Aku bakal rindu kegilaannmu” dia mulai berkaca-kaca “Aku juga. Ntar gak ada teman yang bisa makan upil lagi dong” ujarku “Sejak kapan aku makan upil -___- au ah” ujarnya. Kitapun menyanyi lagu When I’m gone yang jadi soundtrack di pitch perfect 1 & 2. Okelah, aku malah baper trus mewek.
Beberapa bulan kemudian…
“Syif?” SMS masuk di HPku, dan itu dari Anggi. Duh aku rindu dia. Rindu banget. Heheheh… btw, Anggi aku mau ngomong sesuatu. Gantungan kunci yang mau kamu kirim ke kita, sampai sekarang gak nyampe-nyampe. Oke, abaikan. “Ya? Kenapa?” akupun membalas SMSnya. Dan ternyata dia udah mengikuti saranku. Dia harus mempunyai orang baru. Dia harus mencoba berpacaran dengan seseorang, dan menaruh perasaan padanya. Karena lama-kelamaan perasaan pada mantannya itu akan hilang. Heheheh…
Aku senang saat tahu Anggi sudah mencoba. Ya, dia setidaknya bisa untuk bersikap lebih dewasa sedikit. Dan aku harap dia bisa move on secepatnya. Anggi pacaran dengan… Hmm demi kenyamanan privasi, sebut saja namanya Refa. Dia berpacaran dengan Refa dan mencoba untuk menyayanginya. Aku yakin kok kalau aku pasti bisa. Dan sekarang tinggallah aku disini yang belum bisa move on, karena hubunganku dengannya berakhir beberapa saat sebelum aku pindah. OH MY GHOOOOST!!!
Bersambung
TBC part 2


Tidak ada komentar: