Oke, cerita AAMO ini aku buat dengan persetujuan
Anggi, dan ada beberapa nama yang disamarkan demi kenyamanan privasinya. Cerita
ini disetujui Anggi dalam keadaan sadar dan belum terpotong-potong *eh? Karena cerita
memang khusus dia, untuk dia. Salah satu sahabatku yang… nun jauh disana,
diujung dunia… *nyanyi , eeh kok malah nyanyi. Abaikan ah… ya buat sahabatku
yang di sini *Ambil peta Indonesia, nunjuk Sulawesi tengah, kemudian ambil
atlas, buka Sulawesi tengah dan nunjuk Luwuk*, huhuhu…
Ajari aku move on
“Sekarang kita berasa kayak orang asing
aja…”
Oke. Aku lagi
berjalan melewati para fans-fansku. Hueek, sok artis banget. Aku sudah menjadi
artis papan tulis sekarang, eeh maksudku artis papan atas. Dan sedang berjalan
menuju lokasi konserku “Syiiif....” eeh ada yang memanggilku. Aku menengok ke
kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu siapa yang memanggilku. “Syiiif...” ya,
dia memanggilku lagi. Aku semakin pusing dan... aaargh “Syiiif...” suara itu
menyadarkanku dari khayalan yang hanya setahun sekali (?), Anggi sudah ada
dimejaku dan memamerkan senyum pepsodentnya dengan saus yang masih menempel di
giginya (?). Ya, dia Anggi teman seperjuanganku sampai titik penghabisan,
“Syifa...” dia memanggilku lagi. Dia senang memanggilku Syifa “Kenapa lagi
sih?” “Aku dah putus ama dia” jawabnya.
“WHAT!!?
Beneran? Kamu putus ama dia?” Tanyaku. Hmm untuk kenyamanan privasi seseorang
(Apaan seh, sok jenius banget kata-katanya), sebut saja Pacar Anggi yang udah
putus itu Benn. Hahah, “Iya. Aku udah putus ama Benn.” Jawabnya “Kok kamu gak
sedih? Kan dulu kamu ngejar-ngejar dia mulu ampe-ampe kesungkur di tangga
gara-gara ngejar dia.” Hahah, aku mengungkit masa lalu yang mengada-ngada
“Shit! Kapan aku kayak gitu *masang wajah bete*, Hmm tapi aku masih sayang ama
dia syif.. tapi kok aku gak bisa nangis. Dan aku hanya bisa pasrah waktu kita
putus” jelasnya panjang lebar. Aku mengambil aqua dan menyemburkan ke mukanya
“tuh... dah ada air matanya. Hahahah...” dia hanya bisa ngelus dada. Aku dan
dia emang agak gesrek. Kalau bersatu, yaa berasa kayak di RSJ. Tapi hari ini
dia lagi gak gila
“Emang yang mutusin siapa sih?” tanyaku
“Aku”, duuh pengen aku ketok tuh kepalanya. Minta putus tapi masih sayang “Hmm,
dia kok gak minta balikan ya?” “Dia mungkin masih menyesal Anggi..” ujarku,
tiba-tiba matanya berbinar-binar “Menyesal karena dah buat aku bete ya?”
Tanyanya “Menyesal dah terima lu. Hahahah”, refleks dia ngambil sepatunya dan
melemparnya. Dan aku bisa menghindar. Unfortunately, sepatu itu melayang ke
arah kepsek yang kebetulan lewat.
Mengetahui hal itu, aku dan Anggi disuruh habisin makanan dikantin, eeh
maksudku mungutin sampah di sekolah sampai bersih.
“Okay, i’m sorry. Karena aku, kamu juga di
hukum. But, inilah kita.” Ujarnya terlihat seperti pemulung yang merutuki
nasibnya “You must got this punnishment! Not me!” aku ngambek, aku ingin
melarikan diri. Tapi dia malah menarikku... “Let it go!!” , dia tetap menarikku
“Let it go!!!!”, dia masih tetap menarikku “LET IT GOOO!!!”, dia mulai kesal
“Lu mau aku lepasin atau lu mau jadi princess Elsa sih! Ribut banget!” dia
melepaskanku tiba-tiba dan aku terjatuh. Dan dia membiarkanku terduduk di
lapangan dengan tampang memprihatinkan. Ouuuh...
Keesokan harinya... “syif! Ajarin aku move
on! Aku udah mencoba tapi gak berhasil” ujarnya “Emang apa yang udah kamu lakukan
untuk move on?” tanyaku “Aku sudah menghapus nomornya. Menghapus semua
foto-fotonya. Dan meng-unfollow semua akun yang dia punya.” Jelasnya “Trus?”
tanyaku singkat “Hasilnya sia-sia, nomornya masih kuhapal. Voice notenya masih
terngiang dan belum sempat kuhapus. Aku udah meng-unfoll semua akunya, tapi
tetap saja aku stalk. Dan aku sudah menghapus foto-fotonya. Dan shitnya,
foto-fotonya masih tersimpan di laptopku dan bahkan jadi wallpaper di
laptopku.” Ujarnya. Wew, seperti itukah? Sungguh malang nasibmu
“Trus kamu sudah mengganti wallpaper
laptopmu?” tanyaku dan dia mengangguk “Foto apa?” tanyaku “Fotoku dan dia”
jawabnya. Njirrr, gesreknya mulai muncul dan ketidak connect-an pikirannya itu
udah mulai muncul. “Oke... kenapa tidak minta balikan aja ke dia?” tanyaku “Kok
aku sih? Harga diri aku ditaruh dimana?” tanyanya “Emang punya” jawabku
kemudian memeletkan lidahku ke dia “Lu kayak anjing kalo gitu” “Heeh... species
sendiri jangan disebutin” ujarku “SHIT!” umpatnya “Eh.. tuh Dani sana. Samperin
tuh! Trus suruh dia narik tangan kamu” suruhku. Dan dengan kepolosan yang di
sok-sok-an itu (Hah?), dia menghampiri Benn. Oke, dia mau juga dibodoh-bodohi.
Dia menyuruh Benn menarik tangannya. Tapi
dia tidak mau. Dengan terpaksa, Anggilah yang menarik tangannya. Kemudian, “Benn! Buruan ajak aku balikan! Buruan! Aku
mau nangis nih!”, trus mantannya hanya menatapnya dengan pandangan yang
terheran-heran. Aku hanya bisa ngakak melihat itu “Ayo! Gak usah malu-malu”
ujar Anggi, dan si Benn menatapnya lagi kemudian pergi meninggalkannya begitu
saja “SHIT!” umpat Anggi. “ckckck... ada juga ya, yang mau dibodoh-bodohi”
ujarku sambil ngakak. Dan dia menatapku horor. Kemudian dunia menggelap dan aku
tak ingat apa-apa lagi.
Aku terbangun.. dan aku tersadar aku tidak
lagi mengenakan seragam sekolahku. Apaan-apaan ini. Apa yang dia lakukan
terhadapku! Oh My Ghost! Aku dipakaikan pakaian wanita dan didandani layaknya
cewek. Its a nightmare. “Oh.. udah bangun ya? Jadi ceritanya lu nyamar trus
pura-pura kamu mau ganggu aku, trus aku teriak minta tolong dan minta tolong ke
Benn buat tolongin aku. Gimana?” tanyanya “Hmm… tapi kenapa harus dandan kayak
perempuan sih -_- malu-maluin.” Jawabku “Tapi kamu cantik kayak gitu syif…”
“Uuh Shut up!” aku kesal,iih mama... bagaimana nasib anakmu ini maaa… “Okelah.
Aku mau” kitapun deal. Tirai 2 pun dibuka (Laah, emang Super deal apa!?),
Kitapun bersiap-siap.
Anggipun naik ke
atas, dan tak lama aku yang dengan penampilan layaknya bidadari turun dari
surga.. Hm lebih tepatnya kayak pelacur hina -___- menyusul Anggi ke atas (Oke,
Karena kelasnya dan kelas Benn ada di tingkat dua). Akupun menarik jilbab
Anggi. Dan… “Heh! Kamu jadi perempuan jangan sok gatal dong!” ujarku “Apa-apaan
sih! Heh! Tante, lu siapa sih?” Anggipun ber-acting “Heh! Emang kamu pikir aku
tidak tahu kalau kamu sering sekali menggoda pelangganku!?” aku mulai
menghayati peranku “Emang pelanggan tante siapa? Emang ada yang mau sama
tante-tante kayak lu? Yang ada mereka jijik tau” Dan akupun mulai menarik-narik
rambut Anggi.
Oke, ini absurd
banget. Dan kebetulan Benn lewat, “Benn! Itu dia! Dia pelangganku!” Aku
menunjuk kearah Benn yang menatapku terheran-heran “Benn! Tolong aku Benn!
Tolong aku! Tante-tante ini akan menyakitiku Benn!” Ujar Anggi yang hanya
dibiarkan berlalu saja oleh Benn. Benn dengan cueknya masuk ke kelas dan
membiarkan aku dan Anggi yang berkelahi layaknya Julia perez dan Dewi persik.
Aargh its so awkward. Aku dan Anggipun lari.
“Udah deh! Move on
aja. Gak usah berharap-harap. Malu-maluin banget. Apalagi yang kayak tadi” aku
mulai kesal “Nih! Caranya move on… kamu harus mencoba mencari kesibukan.”
Ujarku “Kamu harus mencoba mencari dunia yang baru Anggi…” tambahku lagi “Kalau
gak… kamu harus membuatnya membencimu. Kalau dia membencimu, pasti kamu akan
termotivasi buat move on dari dia dengan sendirinya” tambahku lagi “Tapi gimana
syiiif?” tanyanya. Hm, aku terdiam. Entahlah, lagi gak mood gesrek-gesrekan
nih.
“Kamu pasti bisa
move on. Dan aku tahu. Kita itu akan move on sendirinya, jadi tidak usah
pikirkan apapun cara untuk move on. Karena semakin kau memikirkan move on mu.
Secara tidak langsung kamu memikirkan Benn. Dan kamu pasti semakin baper dan
makin gak rela buat lepasin. Jadi apa
gunanya kalau gitu?” jelasku lagi. Dia hanya terdiam. Akupun menuju ke aula,
dan kemudian keluar dari pintu samping aula yang membawa kita ke sesuatu yang
aku juga gak tahu apa. Untuk membuat kalian tidak pusing, sebut aja Koridor
(Aku juga gak yakin). Dan kemudian duduk di atas dinding pembatas koridor itu
yang membuatku dapat melihat lapangan sekolahku yang luas yang dipenuhi
murid-murid dengan aktivitasnya sendiri.
Aku menarik nafasku
perlahan dan mengeluarkannya dari mulut. Dan sekilas melihat ke bawah. Aku
hanya bisa memasang senyuman tumpul yang seakan-akan ingin mengatakan kalau aku
baik-baik saja, tetapi senyuman tumpul itu tidak akan bisa meyakinkan
seseorang. Aku menatap Anggi dalam. Anggi menahan tanganku “Aku yang gagal move
on syiif… aku yang patah hati syiif… aku yang udah gak punya semangat hidup…
kok malah kamu yang mau bunuh diri!?” tanyanya. Dan aku menatapnya horror,
lebih horror dari wajah mantan. Aku menatapnya tajam, lebih tajam dari sindiran
mantan. Hahah… bercanda.
“Siapa yang mau
bunuh diri? Aku emang kayak gini kalau galau. Kok lu mikirnya sampai situ sih.
Yaudah, lu aja yang bunuh diri!” akupun mendorongnya untuk melakukan apa yang
tadi dia lakukan. Tapi dia tidak mau. Dan terjadilah adegan aku pemaksaan dan
Benn yang kebetulan lewat di bawah melihat ke arah kami yang di atas kemudian
tersenyum. “Aaww.. Syif? Apa yang terjadi? Kenapa dia senyum padaku?” tanyanya
“Karena dia sadar kalau mantannya yang satu ini ternyata benar…” ucapku “benar
apa?” tanyanya dengan mata berbinar-binar “Benar-benar gilanya. Hahahah” ucapku
sambil tertawa lepas. Diapun ngambek.
“Aku sudah tak
yakin harus berbuat apa lagi.” Ujar Anggi “Emang kamu udah ngelakuin apa aja?
Gak ada! Lebih baik hapus kenanganmu bersama Benn!” seruku ke dia. Diapun
mengangguk. “Nanti akan kucoba” ujarnya. “Yuuk makan” kita berduapun pergi ke
kantin bersama-sama. Aku mencoba untuk membuatnya melupakan mantannya itu.
Beberapa hari
kemudian… “Oke! Anggi… kita harus cari cara untuk membuat dia membencimu!”
ujarku berapi-api dan dengan kilatan mata yang menggelegar (?). akupun browsing
di google tentang itu. “Eeh Anggi! Nih liat. Keren-keren tuh cara-caranya. Ada
yang bikin artwork di mobilnya mantan. Ada yang merobohkan rumah mantannya…”
“Itu terlalu berbahaya syif! Apalagi itu rumah orang tuanya, bukan rumahnya
sendiri” ujar anggi “Hm, terus ada yang jual mantannya di Bukalapak.com hahah…
tertarik gak?” tanyaku ke dia “Hahah… gak nyangka gimana ekspresi Benn kalau
tahu dia aku jual.” Jawabnya dengan mengepal-ngepalkan temannya.
“atau kita datangi
sebuah klub malam, dan menjualnya disitu. Hahahah…” tambah Anggi “Yaa… terserah
kamulah. Yang penting kamu senang. Heheheh…” ujarku, dan kuliat di keala Anggi
ada 2 tanduk iblis tumbuh. Wew, akupun mulai merasa nuansa horror menyelimuti
kelas. Anggipun keluar kelas sambil loncat-loncatan *eh? Abaikan. Akupun
membuka facebook ku, dan lagi-lagi dapat komen dari teman-teman karena terlalu
banyak update status. Hmhmhm, they just
know my name. Not about my story. So, they judge me like that! F*ck them all.
Aku cuek aja. Aku mah gitu orangnya.
Oke, bicara tentang
Benn. Benn ini adik kelasku dengan Anggi. Ingatlah Benn, kau juniorku! Benn ini
pacar kedua Anggi. Oops, salah. MANTAN kedua Anggi. Dan waktu Anggi putus ama
yang pertama, Dia juga susah move on. Udah ah, gak usah dibahas. Menurut Anggi,
Benn agak mirip ama Fandy Christian. Aku aja bingung darimana miripnya. Aku
dari jauh sampai dekat bahkan dekatnya sambil pakai kacamata min, masih belum
bisa melihat kesamaannya LOL. Benn itu biasanya kalau pulang…. Ah sudahlah. Itu
aib dan aku gak suka membongkar aib. Walau itu kadang buat aku tersenyum puas.
Wahahahah… Dulu aku punya teman yang suka sama Benn, tapi udah nyerah. Benn gak
peka-peka. Benn emang payah. Benn mah gitu orangnya.
Oke. Sekarang Anggi
lagi termenung sambil menatap keluar jendela kelas, tempat merembesnya cahaya
matahari yang sangat menyehatkan. Dia murung lagi, padahal barusan dah aku
hilangin galaunya “Hey! Whats wrong with you? Anggi! You must stop it!” ujarku
“I know. I try to stop it. But I can’t. I can’t move on. Barusan, aku
berpapasan ama dia di tangga. Dan aku teringat waktu aku sering berpapasan ama
dia waktu pacaran. Dia pasti langsung ngasih jalan buat aku. But, he has
changed’ jelasnya. Akupun menyeka air matanya dengan tisu toilet yang aku ambil
buat persediaan kalau makan di kantin nanti “Udah Anggi. Sabar” ujarku sambil
menepuk-nepuk pundaknya “Sekarang kita berasa kayak orang asing aja. Berpapasan
trus mata saling pandang, dia gak mau lagi ngasih jalan buat aku. Malah tadi
dia labrak aku karena ngehalang jalannya katanya.” Anggipun mencoba untuk
tenang. Dan aku membantunya. Semua memang perlu waktu. Aku rindu saat dia dulu
sering makan upil. Eeh… kapan ya? Ohiya baru sadar… itu kan hobinya kalian yang
lagi baca ini. Udah ah, ntar malah dibacok ama readers. Hmhmhm…
“Bentar tanggal 10
syif… annivfailedku dengan Benn. Aku jadi keingat dia lagi kalau ingat itu.
Ohiya, bukannya itu annivfailedmu juga dengan si…” “Udah. Gak usah dibahas. Masa
lalu tuh” aku langsung memotong ucapannya. Bukannya malas bahas mantan. Tapi aku
malas aja kalau dia udah bahas masa lalu ku. Huhuhu… masa lalu biarlah masa
lalu… jangan kau ungkit jangan ingatkan aku.. Kok malah nyanyi seeh -_-
abaikan. Aku mengingat kalau aku udah gak lama di Luwuk, ini mungkin beberapa
bulan terakhir di Luwuk. Aku gak tahu apa aku bisa meninggalkan mereka. Tapi
mau tak mau, yaa aku harus meninggalkan mereka.
“Kalau nanti kamu
pergi… kamu pasti bakal dapat teman baru” Ujarnya. Oke, dia mulai membahas
masalahku “Iya ya. Tapi tetap aja, susah dapat teman gila seperti kamu. Teman seperjuangan
sampai titik darah penghabisan” ujarku “Aku bakal rindu kegilaannmu” dia mulai
berkaca-kaca “Aku juga. Ntar gak ada teman yang bisa makan upil lagi dong”
ujarku “Sejak kapan aku makan upil -___- au ah” ujarnya. Kitapun menyanyi lagu When I’m gone yang jadi soundtrack di
pitch perfect 1 & 2. Okelah, aku malah baper trus mewek.
Beberapa bulan
kemudian…
“Syif?” SMS masuk
di HPku, dan itu dari Anggi. Duh aku rindu dia. Rindu banget. Heheheh… btw,
Anggi aku mau ngomong sesuatu. Gantungan kunci yang mau kamu kirim ke kita,
sampai sekarang gak nyampe-nyampe. Oke, abaikan. “Ya? Kenapa?” akupun membalas
SMSnya. Dan ternyata dia udah mengikuti saranku. Dia harus mempunyai orang
baru. Dia harus mencoba berpacaran dengan seseorang, dan menaruh perasaan
padanya. Karena lama-kelamaan perasaan pada mantannya itu akan hilang. Heheheh…
Aku senang saat
tahu Anggi sudah mencoba. Ya, dia setidaknya bisa untuk bersikap lebih dewasa
sedikit. Dan aku harap dia bisa move on secepatnya. Anggi pacaran dengan… Hmm
demi kenyamanan privasi, sebut saja namanya Refa. Dia berpacaran dengan Refa
dan mencoba untuk menyayanginya. Aku yakin kok kalau aku pasti bisa. Dan sekarang
tinggallah aku disini yang belum bisa move on, karena hubunganku dengannya
berakhir beberapa saat sebelum aku pindah. OH MY GHOOOOST!!!
Bersambung
TBC part 2
TBC part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar