Selasa, 23 Juni 2015

Yang tak sewajarnya...

Seorang cewek sedang duduk di bangku kelasnya. Dia sedang melamun. Di kelas, tinggl dia sendiri. Teman-temannya sudah pulang semua *Flashback on* “Aku cinta kamu, Fika. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya seorang cewek sambil mengutarakan perasaannya. “Tapi kan… kita sama-sama perempuan.” Jawab cewek yang satunya yang bernama Fika “Aku tau kok, ini gak wajar. Tapi cinta kan buta. Jadi gak mandang gender, usia, status sosial, jarak dan hal seperti itu.” Jelas cewek yang mengutarakan perasaannya tadi “Tapi Shalsa…” Fika masih ragu “Aku janji, aku akan melindungimu. Dan akan mencintaimu selamanya.” Cewek yang ternyata bernama Shalsa itupun berjanji. Fikapun mengangguk. Shalsapun memeluknya dengan erat. *Flashback off*  “Sudah 5 bulan kita berpacaran…” Gumam Shalsa

“Sayang! Kok kamu belum pulang?” Tanya Fika yang melihat Shalsa sendirian dalam kelas “Gak kok. Gak kenapa-kenapa.” Jawab Shalsa “Kita ke rumahmu ya sayang…” Ujar Fika dan Shalsa mengangguk kepadanya sambil tersenyum. Merekapun menuju ke rumah Shalsa yang berdekatan dengan sekolah mereka. Fikapun memegang tangan Shalsa “Jangan! Ini kan dimuka umum.” Protes Shalsa “Ayolah sayang. Kalau sama-sama cewek yang pegangan tangan, dianggap wajar kok.” Fika menenangkan Shalsa.

Sesampai dirumah Shalsa, Shalsa langsung membuka pintu dan masuk ke rumahnya “Ma! Aku pulang!” Teriak Shalsa “Ya!” Saut Mamanya dari dalam dapur. Merekapun melepas sepatu mereka dan naik ke tingkat dua. Karena kamar Shalsa ada di tingkat dua. Mereka berduapun masuk ke kamar Shalsa. “Sayang?” Tanya Fika “Ya sayang?” Tanya Shalsa balik “Gak ada yang tau tentang hubungan kita kan?” Tanya Fika ke Shalsa sambil menggemgam erat tangan Shalsa “Iya. Gak ada.” Jawab Shalsa “Yakin?” tanya Fika lagi kemudian mendekatkan mukanya dengan muka Shalsa “Iya” jawab Shalsa kemudian memejamkan matanya. Fikapun mencium bibirnya.

            Setelah itu mereka mengobrol dengan sangat lama. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Fikapun pamit pulang. Setelah Fika pergi, Mama Shalsa naik ke kamar Shalsa “Shalsa!!” Seru Mamanya “Ya Ma? Kenapa?” Tanya Shalsa “Lo ada hubungan apa sih dengan si Fika?” Tanya Mamanya “Gak ada Mama. Mama apaan sih, Gak mungkin gue pacaran dengan dia. Kan sama-sama cewek.” Ujar Shalsa mencoba tenang. Mamanyapun pergi dari kamar Shalsa ‘ada apaan sih ini? Apa mama curiga?’ tanya Shalsa dalam hati. Shalsapun mencoba untuk menenangkan pikirannya. ‘Maafkan aku Ma. Aku tau ini salah.’ Gumamnya dalam hati.

            Keesokan harinya, mereka berdua janjian di taman sekolah “Hai sayang!” sapa Fika “Hai juga sayang…” jawab Shalsa “Kok muka lo kusut gitu?” tanya Fika “Gak papa kok.” Jawab Shalsa “Ntar aku ke rumah kamu lagi ya,” ujar Fika “Terserah kamu sayang” jawab Shalsa dan Fikapun tersenyum padanya. “I love you Shalsa. You are the one baby…” ujar Fika ke Shalsa dan si Shalsa mencium pipi Fika.

            Setelah sepulang sekolah, merekapun ke rumah Shalsa lagi dan langsung naik ke kamar. Fikapun mendekati Shalsa “Shalsa…” ujar Fika dengan nada yang agak menggoda “Kamu kenapa sayang?” tanya Shalsa “Shalsa…” ujar Fika lagi kemudian mendekatkan mukanya ke muka Shalsa “perang bibir yuuukk…” ujarnya lagi kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Shalsa. Shalsa tercengang melihat hal itu. dia tak tau harus berbuat apa. Dia hanya bisa terdiam. Fikapun mulai melumat bibir Shalsa dengan lembut. Dan si Shalsa mulai terbiasa dengan lumatan di bibirnya dan mencoba untuk membalas. Dan akhirnya lumatan lembut itu menjadi ciuman ganas dan bergairah. Tanpa mereka ketahui, ternyata mamanya Shalsa sedang mengintip lewat lobang kunci di pintu kamar Shalsa


            Fikapun menuntun tangan Shalsa menuju gunung-gunung indah miliknya itu “Remas itu sayang!” seru Fika dan kemudian melanjutkan ciuman mereka. Shalsapun meremas gunung-gunung milik Fika. Fikapun mengerang “aaargh… enak sayangku.” Kemudian Fika membaringkan Shalsa dan menindihnya. Fikapun menggoyang-goyangkan badannya. Fikapun mulai melepas kancingnya satu persatu. Dan tiba-tiba Shalsa melepaskan ciumannya dan menghindari Fika. “Maaf. Aku gak bisa” ujar Shalsa “Kenapa sayang?” tanya Fika sambil mencium pipinya “Aku takut.” Jawab Shalsa. Fikapun menurutinya. “Maaf ya…” Fika merasa bersalah “Iya. Gak papa.” Jawab Shalsa sambil tersenyum “Aku pulang dulu ya…” Ujar Fika pamit ke Shalsa dan Shalsapun mengangguk. Kemudian mengantar Fika sampai pintu gerbang.

            Shalsapun masuk ke kamarnya. Dia gelisah, dia takut kalau mamanya mengetahui hal itu. Dia tau mamanya akan marah besar kalau tahu hal itu. Dia yakin mamanya akan menuju ke kamarnya. Tapi mamanya tak kunjung datang untuk memarahi Shalsa. Malam harinya, dia mencari mamanya. Tapi tak ada dirumah. Diapun tenang dan berpikir mungkin mama tidak ada dirumah. Diapun naik ke kamarnya lagi dan mencoba untuk tertidur.

            Keesokan harinya, Shalsa terbangun dan mendapati dia sudah ada diluar rumahnya. Bersama barang-barang, dan baju-bajunya yang terisi dalam kopernya. Diapun heran, dia mengetuk-ngetuk pintu “Ma! Bukain pintunya Ma! Ini apaan sih?” ujarnya sambil mengetuk-ngetuk pintu “Kamu bukan anak mama. Mama gak punya anak yang lesbi seperti kamu!” teriak mamanya dari dalam. Bagaikan petir, kata-kata dari mamanya barusan, menyambar hati Shalsa. Shalsapun menangis dan pergi meninggalkan rumah.

            Di jalan dia bertemu dengan Fika. “Fika!!” Sapa Shalsa dari kejauhan. Fikapun menoleh kebelakang dan mencari tahu siapa yang memanggilnya “Sayang? Kamu kok gak skolah?” tanya Fika ke Shalsa. Shalsapun memeluk Fika sambil menangis “Yuk kita kabur sayang. Mama aku sudah tau hubungan kita. Dan aku yakin mama aku bakal nyari kamu.” Seru Shalsa ke Fika “Trus kita lari kemana sayang?” tanya Fika “Suatu tempat yang terpencil.” Jawab Shalsa.

            Fikapun mencium bibir Shalsa “Aku tau kemana kita harus pergi.” Ujar Fika “Kemana sayang?” Tanya Shalsa “ikutin saja aku.” Jawab Fika. Fikapun memanggil taxi dan menyebutkan tempat tujuan mereka yang dimaksud Fika. “Semua akan baik-baik saja. Oke? Gak usah nangis. Everything is gonna be oke baby...” Fika menenangkan Shalsa.

            Dan setelah 1 jam 35 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang di maksud Fika. Fikapun menutup mata Shalsa dan menuntun Shalsa ke tempat yang ingin dia kasih lihat. “Jangan dulu dilihat ya sayang...” ujar Fika “Iya sayang.” Jawab Shalsa. Merekapun berjalan beberapa langkah “Sekarang buka mata kamu!” Seru Fika. Shalsapun membuka matanya “Ini... ini kan...”  Shalsa tak bisa berkata apa-apa. Ini adalah Danau yang sangat ingin mereka berdua kunjungi dari dulu “Disini, kita bebas sayang” ujar Fika kemudian memeluk Shalsa erat “I love you Fika” ujar Shalsa “Love you too.” Balas Fika kemudian mereka berciuman.

            Shalsapun melepaskan ciumannya “Apa ini tak boleh?” tanya Shalsa “Apa yang tak boleh Fika sayang?” Fika bertanya balik “Hubungan kita. Apa ini tak boleh Fika?” Tanya Shalsa lagi “Sebenarnya boleh. Tapi tak wajar sayang...” jawab Fika “Fika...” Ujar Shalsa kemudian memeluk Fika dengan sangat erat.

            “Ayolah sayang. Tak ada yang harus dipikirkan. Sekarang tinggal kita berdua disini. Tak akan ada lagi yang menentang.” Ujar Fika “Maafkanlah cinta kita ini yang tak terkabul Tuhan...” Fika berdoa. Merekapun menuju ke tepian danau. Disana ada perahu. “Kita naik perahu yuk sayang!” ujar Fika “Yuk sayang.” Ujar Shalsa sambil mengangguk. Merekapun naik keatas perahu. Fikapun mendayung perahu tersebut “Disini pemandangannya indah ya...” ujar Shalsa “Akhirnya kita bisa mendatangi tempat ini bersama ya sayang” ujarnya lagi “Aku sangat bahagia sayang.” Ujarnya lagi.

            “Kamu pasti capek ya sayang.” Ujar Shalsa, diapun memeluk Fika dari belakang dan tanpa sengaja memegang gunungnya “Maaf sayang. Aku gak sengaja.” Shalsa meminta maaf “Kamu menggodaku ya?” Tanya Fika “Gak sayang. Aku minta maaf.” Ujar Shalsa sambil meminta maaf lagi “Ayo. Remas lagi ini!” ujar Fika sambil menunjuk gunungnya itu “Aku tau kau mau sayang...” ujar Fika “Apa kau mau kita melakukannya disini?” tanya Fika dengan nada mengganggu “jangan sayang. Nanti kita tenggelam.” Jawab Shalsa “Baguslah. Kita buat film Titanic versi kita. Dan sekarang adalah adegan di mobil-mobil.” Ujar Fika lagi “Sayang jangan ah!” seru Shalsa “Aaah iyaiya. Aku Cuma bercanda sayang.” Ujar Fika kemudian mencium bibir Shalsa.

            Merekapun kembali ke daratan. “Ayo kita tidur!” Ajak Fika ke Shalsa “Iya sayang. Aku tau kamu capek. Jadi gak ada goyang goyangan ya..” ujar Shalsa kemudian tidur di karpet yang tersedia di kopernya. “Kamu bisa aja!” ujar Fika. Merekapun mencoba untuk tertidur. ‘Tuhan? Aku tahu ini tak wajar. Tapi sungguh... aku tak bisa dengan orang lain. Apakah ini tak boleh?’ tanya Shalsa dalam hatinya sebelum akhirnya dia tertidur.
           
            Keesokan harinya... mereka terbangun karena suara orang ribut. Dan ternyata itu adalah orang tua mereka sendiri. “Itu pasti salah anak kamu! Pasti anak kamu yang membuat anakku jadi lesbi seperti ini!” Ujar Mamanya Shalsa “Apa? Anak aku? Mungkin saja anakmu yang kegatalan.” Protes Mamanya Fika tak terima senang dengan apa yang dibilang mamanya Shalsa. “Pokoknya saya gak mau tau. Jauhin anak kamu dari anak aku! Dasar keluarga lesbi!” Umpat Mamanya Shalsa ke Mamanya Fika. Mereka saling menuduh dan mengumpat satu sama lain.

            “Hentikan! Ini semua salah aku. Aku lah yang menyukai Shalsa duluan. Dan aku yang membuatnya jadi begini. Dan merayunya untuk bercinta denganku di kamar Shalsa waktu itu.” Fika mengaku salah didepan orangtuanya dan didepan mamanya Shalsa “Cih! Sudah kuduga.” Ujar mamanya Shalsa sambil tersenyum “Apa kamu gila?” Mamanya Fika sama sekali tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh anaknya sendiri.

            “Kamu salah Fika! Itu tidak seperti itu! Akulah yang salah! Seandainya aku tak menerima cintanya. Pasti gak akan jadi seperti ini. Akulah yang salah. Karena aku tak menentangnya meskipun tau ini salah. Dan aku hanya mau-mau saja saat dia mengajakku untuk bercinta” jelas Shalsa “Fika tak salah sedikitpun. Akulah yang salah karena aku melayaninya. Seandainya tidak. Dia pasti bisa menahan nafsunya.” Shalsa membela Fika.
           
            “Sayang?” Fika terharu “Seandainya saja waktu Fika mengutarakan perasaannya padaku, aku menamparnya dan pergi meninggalkannya. Pasti tak akan jadi begini. Jadi sayalah yang salah.” Ujar Shalsa “Maafkan aku sayang...” ujar Shalsa meminta maaf kepada Fika “Aku tau, cinta itu buta. Tidak memperdulikan segalanya. Dan aku juga tau ini tak wajar. Karena melanggar kodrat manusia. Aku tak tau harus berpihak ke yang mana. Aku tak tahu. Aku menyayangi Fika. Dan aku tahu cinta ini tak akan terkabul meski harus memohon seperti apapun juga.” Jelas Shalsa.

            “Apa yang kamu katakan Sa?” Mamanya Shalsa tak tau harus berbuat apa lagi “Seandainya ini tak dilarang, kita pasti bisa terikat dalam ikatan cinta. Tapii sayang, itu hanyalah sebuah mimpi. Nyatanya, cinta ini sampai kapanpun takkan terkabul. Dan kita hanya bisa menyembunyikannya dalam hati. Aku hanya bisa berharap kepada takdir yang kejam ini berserah diri... karena cinta kita ini yang terlarang.” Jelas Shalsa lagi

            “Mama? Terima kasih telah melahirkanku. Terima kasih telah membesarkanku. Terima kasih atas segalanya. Maafkan aku, karena aku membuat mama kecewa. Dan Fika? Maafkan aku. Aku sayang padamu dan kamu juga sayang. Tapi kita tidak akan pernah bisa bersatu. Dan mungkin aku yang seharusnya pergi. Mama, aku mohon jangan menyalahkan Fika lagi. Karna akulah yang salah, maafkan aku Fika.” Ujar Shalsa lagi kemudian mengambil pisau dari dalam kopernya dan membunuh dirinya sendiri dengan menusuk jantungnya.
           
            “Shalsaaa!” Pekik Fika histeris “Anakku!” Mamanya Shalsa tak bisa berkata apa-apa “Maafkan aku.... Ma” ucap Shalsa sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Mamanya Shalsapun memeluk Shalsa yang telah bunuh diri itu. Fika hanya bisa menangis. Fika meminta maaf kepada mamanya Shalsa berulang-ulang kali. Sedangkan Mamanya Fika tak tau harus berbuat apa. Mamanya Shalsapun memaafkan Fika. Dan mereka membawa Shalsa ke rumah sakit. tapi sayangnya itu Shalsa sudah tak tertolong. Mamanya Shalsapun menganggap Fika sebagai anaknya dan hidup tenang dengan keluarga Fika.

“Maafkan aku.... Ma” ucap Shalsa sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Tidak ada komentar: